
Suasana ruas jalan yang sebelumnya sedikit lenggang, kini mulai sedikit terlihat lebih ramai. Satu persatu orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian, mulai mendekat ke arah sumber suara yang memekak telinga itu. Mereka seakan begitu penasaran dengan apa yang tengah terjadi.
"Pak Damar!!"
Dewa yang tengah tersungkur di tepi jalan terkejut setengah mati tatkala pandangan matanya menangkap sebuah bayangan sosok lelaki yang begitu familiar di dalam otaknya. Lelaki itu juga ikut tersungkur tak jauh dari tempatnya, namun sepertinya ia terluka parah karena motor yang tiba-tiba melintas dengan kecepatan tinggi menabrak tubuhnya. Hampir satu tahun Dewa tidak bersua dengan lelaki itu namun ia mengenal betul sosok lelaki itu.
Dengan terseok-seok Dewa mencoba untuk bangkit dan mendekati Damar yang tergeletak di tengah jalan sembari menahan rasa sakitnya itu.
"Pak Damar.... "
Dewa sudah tidak kuasa menahan bulir-bulir bening yang berkumpul di pelupuk matanya. Melihat mantan security di rumahnya itu dipenuhi oleh darah segar di bagian wajah dan tangannya, seakan membuat hatinya dipenuhi oleh rasa ngilu dan nyeri.
Damar, yang masih berada dalam posisi sadar menyunggingkan senyum termanis yang ia miliki. Meski tubuhnya terasa remuk redam, namun ada rasa bahagia yang ia rasakan. "Tuan Dewa.... Maafkan saya."
Hanya kata itulah yang mampu keluar dari bibir Damar. Rasa bersalah yang tiada pernah berujung. Dan mungkin beribu-ribu kali ia mengucapkan kalimat itu tidak akan pernah mengubah dan mengembalikan akan apa yang pernah terjadi. Namun setidaknya ada satu hal yang ia lakukan untuk bisa menebus segala kesalahan yang telah ia lakukan di waktu yang telah lalu.
"Pak, aku sudah memaafkanmu. Bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit."
Damar hanya tersenyum simpul. "Terimakasih banyak karena Anda sudah memaafkan saya Tuan. Semoga setelah ini hidup Tuan selalu bahagia."
Perlahan, kelopak mata Damar terpejam dan tak membutuhkan waktu lama lelaki itu mulai hilang kesadarannya.
"Mas Dewaaaaaaaa!!!"
Dewa menoleh ke arah sumber suara. Terlihat sang istri setengah berlari menuju ke arahnya. Hal itulah yang sempat membuat Dewa begitu khawatir jika sampai terjadi sesuatu dengan kandungan istrinya ini. "Sayang, jangan berlari-lari!"
"Mas.... !!!"
Mara menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan sang suami. Ia peluk tubuh suaminya ini dengan erat seakan tidak ingin untuk ia lepaskan begitu saja. Mara menangis sesenggukan di dalam dekapan tubuh lelakinya ini.
__ADS_1
"Sayang, jangan menangis. Aku baik-baik saja."
"Tapi aku tadi melihatmu tersungkur di tepi jalan Mas, seperti terluka parah."
"Bukan Sayang, bukan aku. Pak Damar lah yang sudah menolongku."
"Mas, lelaki itu?"
Mara sedikit mengerutkan keningnya, tidak begitu paham siapa gerangan lelaki yang telah berhasil menyelamatkan suaminya ini.
"Dia pak Damar, Sayang. Nanti aku ceritakan kepadamu ya. Sekarang biarkan aku meminta bantuan untuk membawa pak Damar ke rumah sakit."
Dewa melerai sedikit pelukannya. Lelaki itu mulai meminta bantuan kepada orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian untuk segera membawa Damar ke rumah sakit.
Seakan paham dengan apa yang diucapkan oleh Dewa, orang-orang yang berada di sekitar tempat ini gegas membawa Damar ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
Berjarak lima puluh meter dari tempat Damar tersungkur, terlihat sebuah sepeda motor yang sebelumnya melaju dengan kecepatan tinggi juga ikut ambruk di tengah jalan. Terlihat, seorang wanita juga tengah menahan rasa sakitnya karena tertimpa motor yang ia kendarai.
"Dita?!"
Dewa dan Mara memekik bersamaan menyebut sebuah nama milik seorang wanita yang tidak asing lagi di penglihatan mereka.
Ya, wanita itu tidak lain adalah Dita. Niat hati ingin mencelakai Dewa namun ternyata na'as, justru ia sendirilah yang celaka. Akibat tidak dapat mengendalikan laju motor yang ia bawa, pada akhirnya ia menabrak mobil sedot WC yang tengah melintas dan sukses membuat tubuhnya tertimbun oleh sesuatu yang berbau menyengat dan pastinya sangat menjijikkan.
"Aaaarggghh... Sialaann! Ini sungguh menjijikkan!"
Dita memekik meluapkan segala amarahnya. Tubuhnya sudah dipenuhi oleh sesuatu yang begitu menjijikkan berwarna kuning kecoklatan. Bahkan wajahnya pun juga dihiasi oleh sesuatu yang menjijikkan itu.
"Waahh, wah, wah, wanita ini nih yang mengendarai motor ugal-ugalan. Ayo kita bawa ke kantor polisi. Sepertinya ia memiliki niat buruk untuk mencelakai seseorang!" ucap salah satu pemuda yang berada di sekitar tempat ini.
__ADS_1
"Eh, tapi wanita ini kotor dan bau sekali. Aku tidak mau untuk membawanya ke kantor polisi, bisa-bisa badanku juga ikut bau!" timpal salah seorang temannya.
"Hmmmmm benar juga apa yang kamu katakan. Ahhhh begini saja, ayo segera ambil air, kita guyur sama-sama wanita ini!"
Ucapan pemuda itu berhasil menggerakkan tubuh orang-orang yang berada di sekitar untuk segera mengambil air. Tak selang lama, mereka kembali dengan membawa ember dan....
Byuuurrr..... Byuuurrr.... Byuuurrr.....
Orang-orang yang berkerumun itu mulai mengguyur tubuh Dita dengan air yang mereka bawa. Apa yang mereka lakukan sukses membuat Dita gelagapan seketika.
"Aaaaaahhh... Apa yang kalian lakukan? Mengapa kalian mengguyur tubuhku???"
"Untuk membersihkan tubuh Anda, Nyonya. Agar tidak dipenuhi oleh noda dosa!" timpal salah seorang lelaki dengan asal.
"Siallllaaaannnnn.... Kalian mau mempermainkan aku, hah?!!!"
"Tentu tidak Nyonya. Kami justru bermaksud untuk membawa Anda ke tempat yang yang jauh lebih baik untuk Anda." Pemuda itu menjeda sejenak ucapannya dan menautkan pandangannya ke arah teman-temannya. "Ayo segera bawa wanita ini ke kantor polisi. Sepertinya wanita ini memang memiliki niat buruk untuk mencelakai seseorang."
Orang-orang itu mendekat ke arah Dita. Mereka membuat posisi Dita dalam keadaan berdiri sempurna untuk segera mereka bawa ke kantor polisi. Dewa dan Mara hanya bisa terpaku melihat apa yang menimpa wanita yang hampir menjadi duri dalam rumah tangga yang telah mereka bangun. Mereka tidak menyangka jika wanita itu akan mengalami hal tragis seperti ini.
Dita yang melihat sang mantan suami berdiri berdampingan dengan istri barunya hanya bisa menatap keduanya dengan tatapan yang sukar untuk diartikan. Ada rasa kecewa karena yang menjadi rencananya ini gagal total. Namun saat ini tidak ada yang dapat ia lakukan selain berpasrah untuk di bawa ke kantor polisi.
"Tiga bulan wanita itu mencoba berlari dan bersembunyi dari kejaran polisi pada akhirnya ia tertangkap juga," ucap Dewa lirih sembari melihat tubuh Dita yang mulai menghilang dari pandangan matanya.
Mara menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. "Kita tidak perlu bersusah payah membalas semua kejahatan yang telah dilakukan oleh wanita itu, pada akhirnya wanita itu menemukan balasannya sendiri."
Dewa tersenyum penuh syukur, karena Tuhan masih menyelamatkannya melalui Damar. Lelaki itu sedikit membungkukkan tubuhnya dan mengecup perut Mara yang sudah membuncit itu. "Hampir saja Papa tidak dapat menunaikan janji Papa untuk selalu menemanimu, namun ternyata Tuhan masih menyayangi Papa dengan menyelamatkan Papa dari niat buruk wanita itu."
.
__ADS_1
.
. bersambung... 😘😘😘😘