
"Terimakasih banyak Anda telah bersedia menjadi saksi akan apa yang terjadi di lorong hotel tadi, Tuan!"
Sembari duduk di bangku taman kecil yang berada di bagian belakang hotel, gadis pembawa sayur sup itu terlihat meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa begitu kaku karena kesibukannya di hari ini. Gadis itu nampak melepas penat dan lelah yang menggelayuti tubuhnya. Tidak mengherankan, acara resepsi pernikahan Dewa dan Mara merupakan salah satu acara besar, yang membuatnya begitu sibuk hingga lupa untuk sejenak mengistirahatkan tubuhnya. Dengan duduk di bangku taman sembari menikmati angin malam seperti ini, rasa-rasanya akan memudahkannya untuk bisa mendapatkan kembali tenaganya yang hampir terkuras habis.
Krisna yang berdiri memunggungi sang gadis sembari menikmati kolam air mancur kecil yang berada di hadapannya, hanya bisa tersenyum simpul. "Kamu tidak perlu berterimakasih, karena itu semua sudah menjadi kewajibanku untuk membela seseorang yang tidak bersalah. Karena memang pada kenyataannya kamu tidaklah bersalah."
"Tapi setidaknya karena kehadiran Anda lah yang mungkin membuat saya tidak jadi dipecat dari pekerjaan saya di sini. Dan rasanya saya memang harus banyak-banyak mengucapkan rasa terima kasih kepada Anda."
Krisna menyunggingkan sedikit senyumnya meskipun tidak terlihat di mata sang gadis. "Kamu tidak perlu banyak-banyak mengucapkan terimakasih. Sekali saja sudah cukup."
"Tapi menurut saya memang seperti itu. Anda sudah melakukan suatu hal yang teramat membantu saya, sehingga sudah selayaknya saya banyak-banyak mengucapkan terimakasih kepada Anda."
Entah apa yang dialami oleh gadis itu. Ia merasa berhutang budi kepada lelaki yang tengah berdiri memunggunginya ini. Sehingga hanya dengan banyak-banyak mengucapkan rasa terima kasih, ia baru bisa terlepas dari hutang budi itu.
Krisna semakin tergelak mendengar kegigihan gadis ini. Tanpa permisi, sebuah ide yang cukup cemerlang tiba-tiba terbesit di dalam otaknya. "Daripada kamu banyak-banyak mengucapkan terimakasih yang bisa jadi hanya akan membuat mulutmu berbusa, lebih baik kamu melakukan dua hal untukku. Dengan dua hal itu, bisa kamu gunakan untuk membalas budi jika kamu merasakan berhutang budi kepadaku."
"Apa itu Tuan? Pasti akan saya lakukan, karena memang saya tidak terbiasa dengan hutang budi kepada orang lain."
Krisna membalikkan badannya. Perlahan, ia mengayunkan langkah kakinya untuk mendekat ke arah gadis pembawa sayur sup itu. Tanpa basa-basi, Krisna mendaratkan bokongnya di sisi sang gadis.
Gadis itu sedikit terkejut dan terkesiap. Dia tidak terbiasa duduk berdua bersama seorang laki-laki seperti ini. Terlebih lelaki ini adalah lelaki asing yang baru saja ia temui. Sungguh, posisi seperti ini hanya membuat jantung gadis ini berdegup kencang tiada beraturan.
Krisna melengkungkan senyum di bibirnya layaknya bulan sabit di pergantian bulan. Meskipun tidak terlalu terlihat, namun jika dilihat secara seksama lelaki hampir berusia kepala empat itu memiliki lesung di tulang pipinya. Lesung itulah yang membuat wajah lelaki itu terlihat semakin manis.
Krisna menghela nafas dalam kemudian perlahan ia hembuskan. "Yang pertama, beri tahu aku siapa namamu!"
Gadis pembawa sayur sup itu hanya tersenyum simpul. Ternyata hanya sebuah permintaan sederhana seperti inilah yang diinginkan oleh lelaki ini. Gadis itu mengulurkan tangannya. "Sekar. Nama saya Sekar!"
Krisna menyambut uluran tangan gadis bernama Sekar itu dan kini keduanya dalam posisi berjabat tangan. "Aku Krisna. Senang berkenalan denganmu Sekar!"
__ADS_1
Sekar hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan. Sepertinya gadis itu dilanda oleh rasa malu karena dalam posisi sedekat ini dengan lelaki yang baru dikenalnya..
"Lalu, apa hal kedua yang harus saya lakukan untuk bisa membayar hutang budi saya itu?"
Untuk menguasai sedikit rasa gugupnya, Sekar mencoba untuk mengangkat pembahasan lain. Ia ingat jika ada dua hal yang menjadi keinginan Krisna dan sepertinya gadis itu terlihat begitu penasaran.
Krisna kembali tersenyum simpul. "Sebelum aku beritahu hal kedua yang harus kamu lakukan, ada sebuah pertanyaan yang harus kamu jawab terlebih dahulu."
"Pertanyaan apa itu Tuan?"
"Apakah kamu sudah memiliki kekasih?"
Sekar terkesiap. Gadis itu menatap wajah Krisna dengan tatapan yang sukar untuk diartikan. Gadis itu nampak berpikir keras, apa hubungannya antara hal kedua yang harus ia lakukan dengan pertanyaan yang dilontarkan lelaki ini? Namun pada akhirnya, Sekar menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Tuan. Saya tidak memiliki kekasih!"
Sebuah jawaban singkat dan sederhana namun sukses membuat hati Krisna dipenuhi oleh kelopak-kelopak bunga asmara. Ia merasa ini merupakan awal yang baik untuk bisa lebih mengenal gadis bernama Sekar ini.
Dua bola mata milik Sekar terbelalak. "Jalan-jalan?"
Krisna mengangguk. "Ya, aku ingin kamu menemaniku jalan-jalan. Bagaimana? Kamu tidak keberatan bukan?"
"T-tapi...."
"Ssstttt.. Jangan mengatakan apapun. Sekarang berikan nomor ponselmu, besok aku akan menjemputmu di rumahmu." Krisna mengeluarkan ponsel yang ia simpan di saku celananya. "Berapa nomor ponsel kamu? Biar aku save di ponselku."
Sekar menghela nafas dalam. Ia pun memberikan nomor ponselnya kepada Krisna. Tak selang lama, ponsel milik Sekar yang berdering. Sederet angka nampak jelas terpampang di layar ponselnya. Dahi Sekar sedikit mengerut karena nomor ponsel itu tidak ia kenal sama sekali.
"Itu nomor ponselku, di simpan ya! Besok, kamu akan aku kabari, kapan kamu harus bersiap-siap untuk menemaniku jalan-jalan!"
"Baiklah Tuan!"
__ADS_1
Tidak ada yang dirasakan oleh Krisna selain perasaan bahagia dalam hatinya. Pertama kali ia melihat Sekar berani menentang Dita, ia merasa bahwa Sekar merupakan salah satu gadis yang berbeda dengan gadis-gadis di luar sana. Keberanian gadis itu semakin membuat keistimewaan yang ada dalam dirinya terpancar dengan jelas.
Krisna kembali fokus pada layar ponsel yang berada di dalam genggamannya. Jemarinya menari-nari di atas layar dan mengetikkan kata untuk menyimpan nomor kontak Sekar. 'Jodohku', nama itulah yang Krisna gunakan untuk menyimpan nomor kontak Sekar.
***
"Mas, turunkan aku! Malu Mas!"
Mara sedikit meronta tatkala sang suami membopongnya ala bridal style menyusuri lorong-lorong hotel. Semenjak keluar dari ballroom, suaminya ini tanpa basa-basi langsung membopong tubuhnya, yang membuat wanita itu terkejut setengah mati.
"Diam Sayang. Daripada kamu meronta seperti itu lebih baik kamu pegangan erat. Bisa jatuh jika kamu tidak pegangan!"
"Tapi malu Mas! Lihatlah orang-orang yang berpapasan dengan kita. Mereka menatap kita dengan tatapan aneh!"
Mara benar-benar malu. Ia ingat bagaimana tatapan orang-orang yang berada di dalam satu lift yang sama dengannya melihat ke arahnya. Tatapan mereka sulit untuk dibaca namun sukses membuatnya malu, sangat-sangat malu.
Dewa tersenyum simpul. Lelaki itu terlihat bersemangat melangkahkan kakinya untuk menuju kamar yang sudah ia booking sembari membopong tubuh sang istri yang masih berbalut gaun pengantin ini.
"Tidak perlu malu Sayang. Mereka justru iri akan kemesraan kita. Jadi kamu jangan terlalu berpikir yang tidak-tidak."
"T-tapi Mas...."
Cup...
Sebuah kecupan Dewa daratkan di bibir tipis sang istri. "Istriku ini berisik sekali! Sebentar lagi kita akan sampai di kamar. Dan di dalam sana nanti, kamu boleh lanjutkan ke-berisikan-mu ini, Sayang. Tentunya berisik dengan *******-******* sensual yang semakin membuat gelora asmara kita semakin memuncak!"
Kedua bola mata Mara terbelalak sempurna. Wanita itu memukul-mukul dada bidang sang suami. "Mas Dewaaaaaaaa....!!!"
.
.
__ADS_1
. bersambung...