
"Oma ... bolehkah Wisnu masuk?"
Sembari membawa sebuah nampan yang berisi jus apel dan beberapa potong puding coklat, Wisnu mencoba mengetuk pintu kamar oma Widuri di jam sepuluh pagi ini. Kakak kandung Dewa itu sedikit khawatir karena semenjak sarapan pagi tadi, sang oma sama sekali tidak keluar dari kamar.
Oma Widuri yang tengah bersandar di head board ranjang, selonjoran sembari membaca sebuah majalah mengedarkan pandangannya ke arah pintu. Rasanya masih sangat malas jika harus bertemu dengan cucunya ini, namun dalam hati terdalamnya, ia juga tidak tega jika harus bersikap acuh terhadap Wisnu. Dan akhirnya...
"Masuklah! Pintu tidak aku kunci!"
Wisnu perlahan memutar kenop pintu kamar milik oma Widuri dan dengan hati-hati, ia mulai memasuki kamar sang oma. Ia letakkan nampan yang ia bawa di atas nakas, kemudian ia daratkan bokongnya di tepi ranjang milik oma Widuri.
"Oma sedang apa? Kok sedari tadi Wisnu lihat Oma sama sekali tidak keluar kamar?"
"Aku sedang malas keluar kamar!"
Oma Widuri menimpali pertanyaan Wisnu sama sekali tidak menautkan pandangannya ke arah sang cucu. Ia bahkan masih tetap fokus dengan majalah yang tengah ia baca.
Wisnu mencoba untuk membuka pembicaraan dengan oma Widuri namun ia hanya bisa tersenyum kecut saat mendapati respon dari sang oma yang terasa begitu dingin itu.
"Mau Wisnu pijit Oma? Seperti dulu saat kaki Oma sering Wisnu pijit?"
Wisnu merupakan salah seorang laki-laki yang pantang menyerah. Meski respon oma Widuri masih terdengar dingin, namun Wisnu tetap percaya jika tidak lama lagi kebekuan hati oma Widuri akan segera mencair. Maka dari itu, ia akan melakukan berbagai cara agar hati sang oma bisa luluh kembali.
"Tidak perlu. Aku tidak capek!"
Senyum getir masih terbit di bibir Wisnu. Namun tangannya mulai terulur dan meraih kaki sang oma untuk ia pijit. Dengan penuh kelembutan, ia mulai memijit-mijit kaki sang oma yang kebetulan dalam posisi selonjoran itu.
"Wisnu ingat, dulu Oma sering sekali meminta Wisnu untuk memijit kaki Oma selepas Oma pulang dari pabrik." Sorot mata Wisnu mulai sedikit menerawang, teringat akan masa-masa yang telah lalu. "Bahkan tidak hanya Oma, almarhum opa pun juga begitu. Jika Oma dan opa meminta pijit bersamaan itu artinya Wisnu dan Dewa harus berbagi tugas. Namun lebih sering, Wisnu yang mendapatkan jatah memijit Oma."
__ADS_1
Wisnu terkekeh lirih, masih sambil intens memijit kaki oma Widuri. Teringat masa-masa indah yang sudah lama berlalu. Sedangkan oma Widuri hanya terdiam tak merespon apapun.
"Wisnu ingat, dulu Wisnu dan Dewa selalu berebut untuk memijit Oma dan tidak mau memijit kaki opa karena opa selalu saja protes ketika kami memijit kakinya. Kata opa, kami tidak pantas menjadi seorang laki-laki karena tenaga kami begitu lemah. Opa mengatakan pijitan Wisnu dan Dewa sama sekali tidak terasa. Jika sudah seperti itu Wisnu pasti selalu mencurangi Dewa. Di kala Wisnu suit dengan Dewa, pasti jari Wisnu keluarkan lebih lambat dari Dewa, dengan begitu Wisnu bisa selalu menang. Dan artinya yang kalah lah yang mendapat jatah memijit kaki opa."
Tanpa terasa, setetes kristal bening lolos dari pelupuk mata Wisnu. Sungguh masa-masa yang begitu membahagiakan. Sejak dulu oma Widuri dan opa lah yang menggantikan peran papa dan juga mamanya yang telah tiada. Jika teringat akan hal itu, Wisnu benar-benar merasa teramat bersalah karena sempat meninggalkan oma Widuri.
"Wisnu paham bahwa keputusan Wisnu meninggalkan Oma di lima tahun yang lalu merupakan keputusan yang keliru. Untuk itu, saat ini izinkan Wisnu untuk menebus semuanya Oma." Wisnu menghela nafas panjang dan perlahan ia hembuskan. "Wisnu kembali kemari sama sekali tidak ada niat untuk mengambil alih perusahaan dan pabrik yang sudah kembali berjaya di tangan Dewa. Wisnu hanya ingin memperbaiki semua kesalahan yang mungkin di mata Oma sudah sangat fatal. Namun Wisnu percaya bahwa suatu saat nanti Oma pasti akan memaafkan Wisnu."
Oma Widuri masih diam seribu bahasa. Meski bibirnya tidak sanggup mengatakan apapun, namun dalam dadanya sungguh terasa begitu bergemuruh. Ucapan cucunya ini sungguh bisa menembus keangkuhan yang sempat merajai hatinya.
Wisnu menatap lamat-lamat wajah wanita yang begitu ia cintai ini, tentunya dengan seutas senyum manis yang terbit di bibirnya. "Wisnu mengerti bahwa tidak akan mudah bagi Oma untuk memaafkan Wisnu, namun Wisnu percaya suatu saat nanti Oma pasti akan kembali memberikan senyum yang Oma miliki untuk Wisnu." Karena sama sekali tidak mendapatkan respon apapun dari sang Oma, Wisnu memutuskan untuk segera keluar dari kamar ini. Lelaki itu beranjak dari posisi duduknya. "Wisnu bawakan jus apel dan puding coklat kesukaan Oma. Nanti jangan lupa dimakan ya Oma. Wisnu pamit kembali ke kamar dulu, Oma!"
Satu langkah...
Dua langkah...
Tiga langkah...
Tangan Wisnu yang sudah terulur untuk memutar kenop pintu, ia hempaskan lagi. Ia membalikkan badannya dan kembali menatap wajah sang oma. "Ya Oma? Apa ada yang Oma perlukan? Biar Wisnu yang mengambilnya!"
Mata Oma Widuri memanas, hingga membentuk sebuah genangan di pelupuk matanya. Tanpa menunggu waktu lama genangan itu mulai mengalir, membanjiri pipinya. Sebesar apapun sang cucu melakukan sebuah kesalahan, ia tidak bisa membencinya. Karena di dalam tubuh sang cucu juga mengalir darah darinya. Dan satu hal yang tidak dapat diingkari oleh oma Widuri, bahwa ia juga teramat merindukan cucunya ini.
Oma Widuri merentangkan kedua tangannya. "Kemarilah! Peluk Oma! Oma merindukanmu, Nak!"
Seakan tidak percaya, namu inilah yang terjadi. Oma Widuri telah membuka hatinya untuk memaafkan Wisnu. Air mata bahagia pun tiada henti mengalir deras dari pelupuk mata Wisnu. Bahagia, karena ia bisa kembali membuka pintu hati sang oma.
Gegas, Wisnu menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan oma Widuri. "Terimakasih sudah memaafkan Wisnu, Oma. Terimakasih!"
__ADS_1
Oma Widuri hanya mengangguk perlahan sembari mengusap lembut punggung Wisnu. "Berjanjilah bahwa kamu tidak akan pernah meninggalkan Oma lagi, Nak!"
"Wisnu berjanji Oma. Wisnu berjanji!"
***
"Aargggghh ... Jika seperti ini, posisiku akan semakin sulit!"
Dira mengacak rambutnya sedikit kasar sembari mondar-mandir layaknya setrikaan di depan jendela kamar. Ujung kuku di salah satu jarinya hampir rusak dan patah karena sedari tadi ia menggigitnya dengan kuat. Sambil memutar otak bagaimana caranya agar ia mendapatkan harta warisan dari oma Widuri dalam jumlah yang besar.
Dira semakin nampak frustrasi tatkala ia mencoba mengadukan apa yang telah dilakukan oleh Mara terhadapnya di toko kue tadi di hadapan oma Widuri ternyata hanya mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Aku percaya pada cucu menantuku bahwa ia tidak akan sampai melakukan hal itu jika tidak ada alasannya. Aku justru malah curiga kepadamu Dir, bisa jadi kamulah yang menjadi sebab Mara menamparmu."
Ucapan oma Widuri benar-benar semakin membuat istri dari Wisnu itu berada di ujung tanduk. Niat hati ingin memprovokasi oma Widuri agar membenci Mara, hasil yang ia terima justru sebaliknya. Wanita berusia senja itu sama sekali tidak terprovokasi oleh ucapan Dira.
Dira yang sebelumnya terlihat sibuk mondar-mandir, mulai mendaratkan bokongnya di atas sofa kecil yang berada di dalam kamar. Kakinya tiada henti ia hentakkan di lantai sehingga menimbulkan bunyi tuk, tuk, tuk, dari hells yang masih membalut kakinya. Wajahnya juga nampak begitu kacau seakan menjadi tanda jika ia tengah kebingungan.
"Ternyata wanita itu benar-benar sudah mendapatkan tempat yang spesial di hati oma. Dan bisa jadi itu juga karena saat ini Mara tengah mengandung, yang akan menjadi cucu buyut pertama oma dan pastinya akan sangat disayang dan mendapatkan perlakuan khusus dari oma."
Dira membuang nafas kasar. Untuk kali ini otaknya harus ia paksa untuk bekerja keras agar menemukan solusi dari kepelikan yang ia alami ini.
"Jika aku bisa menyingkirkan Mara dan juga anak yang berada di dalam kandungannya, warisan oma pasti akan jatuh ke tanganku." Tetiba senyum seringai muncul dari bibir wanita itu. "Kali ini aku akan membuat wanita dan anak itu menghilang untuk selamanya. Ya, jika memang wanita itu tidak bisa menghilang, setidaknya bayi yang ada di dalam kandungan Mara lah yang harus menghilang terlebih dahulu!"
Bak dihujani oleh tetes-tetes air langit, Dira merasakan semangatnya kembali berkobar. Ia yang sebelumnya akan menyerah karena respon oma Widuri yang bahkan sama sekali tidak terprovokasi, kini mulai kembali bersemangat. Ia beranjak dari posisi duduknya dan kemudian melenggang pergi meninggalkan kamar.
.
__ADS_1
.
. bersambung...