
"Pa, tolong keluarkan aku dari sini. Aku tidak mau membusuk di dalam penjara seperti ini, Pa!"
Dengan sekat jeruji besi, Arman dan Dita saling bertatap muka. Satu minggu setelah lelaki paruh baya itu mendapati sebuah kabar bahwa sang anak telah mendekam di balik jeruji, ia baru meluangkan waktu dan menyempatkan diri untuk menjenguk anak semata wayangnya ini. Arman sengaja melakukan hal itu agar putrinya ini sadar dengan kesalahan yang telah ia perbuat.
Sejak kedatangan sang papa, wanita yang tak lain mantan istri Dewa itu terus menerus berteriak histeris, memaksa Arman untuk membebaskannya dari penjara. Namun berkali-kali wanita itu meronta, berkali-kali pulalah ia hanya mendapatkan sebuah penolakan dari Arman.
"Ta, Papa tidak akan pernah dan tidak akan mungkin untuk mengeluarkanmu keluar dari sini. Ini semua sudah menjadi konsekuensi yang harus kamu tanggung di saat kamu berupaya untuk melakukan kejahatan itu!"
"Apakah Papa tega melihatku membusuk di dalam jeruji besi seperti ini? Apakah Papa tega melihatku diperlakukan buruk oleh sesama narapidana di sini? Aku sungguh tersiksa Pa. Aku tersiksa!"
Air mata Dita mengalir deras menyusuri sudut pipinya. Entah air mata apa yang keluar dari jendela hatinya itu. Mungkin sebuah air mata penyesalan namun bisa juga hanya air mata buaya untuk mencoba mengetuk pintu hati sang papa agar mau mengeluarkannya dari dalam penjara.
Arman menggelengkan kepalanya sebagai pertanda tidak menyetujui permohonan sang anak. "Papa minta maaf Ta, karena untuk kali ini Papa tidak bisa memenuhi permintaanmu. Sebelumnya sudah Papa ingatkan berkali-kali jangan lakukan sesuatu di luar batas. Sudah cukup kesalahan fatal yang pernah kamu lakukan di masa lalu, namun kamu seakan abai dengan apa yang Papa ucapkan."
Arman menarik nafas dalam seakan meraup oksigen sebanyak-banyaknya yang tersedia di ruangan ini. "Sekarang, pertanggung jawabkan semua yang telah kamu lakukan Ta. Beruntung, karena Tuhan masih membiarkanmu untuk tetap hidup setelah kamu mencoba untuk mencelakai mantan suamimu. Itu artinya kamu masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri."
Arman membalikkan tubuhnya. Ia bermaksud untuk meninggalkan tempat ini. "Semoga setelah kejadian ini, kamu bisa benar-benar berubah Ta. Jika memang sudah waktunya kamu untuk keluar dari tempat ini, pulanglah ke rumah. Papa akan senantiasa menunggumu!"
"Papa.....!!!!" teriak Dita tatkala bayangan tubuh sang Papa sudah mulai menghilang dari pandangan matanya. Sekeras apapun ia berupaya untuk memohon kepada sang papa, tetap saja tidak dapat meruntuhkan niat lelaki paruh baya itu untuk mengeluarkannya dari dalam penjara.
Arman berjalan gontai dengan kepala tertunduk. Seakan dihujam oleh puluhan anak panah tak kasat mata, Arman merasa begitu miris melihat kondisi sang anak yang tengah berada di balik sel tahanan. Matanya memanas dan satu sudut relung hatinya tiada henti menyalahkan dirinya sendiri karena telah gagal dalam mendidik dan membesarkan sang putri.
"Maafkan aku yang telah gagal dalam membesarkan dan mendidik putri kita, istriku!" lirih Arman sembari meninggalkan lapas tempat Dita berada.
***
"Dasar wanita bo*doh! Hanya membersihkan closet seperti ini saja kamu tidak bisa? Dasar tidak berguna!"
"Aaahhhhh... Sakit!"
__ADS_1
Dita memekik kesakitan tatkala rambutnya dijambak oleh salah satu penghuni lapas yang merupakan teman satu sel nya. Wanita itu terlihat tambun dengan tatto yang menghiasi lengan tangannya. Rambutnya yang ikal, panjang dan dibiarkan tergerai seakan menambah kesan horor yang terpancar dari wajahnya.
"Dasar wanita tidak berguna. Ditempat seperti ini saja kehadiranmu tidak memberikan manfaat, lalu bagaimana di tempat yang lain?"
Ucapan wanita berbadan tambun itu sukses membuat Dita tersulut emosi. Ia menatap lekat wajah wanita itu seakan menantangnya. "Jaga mulutmu. Jangan coba-coba kamu melawanku. Karena aku bisa membuatmu hanya tinggal nama saja!"
"Cih lagakmu! Kamu tidak sadar bahwa tempat ini adalah neraka bagimu? Aku pastikan kamu akan mati perlahan di tempat ini!"
"Aaaaaahhh!!!"
Dita kembali memekik kesakitan tatkala wanita bertubuh tambun itu semakin kuat menjambak rambutnya.
"Rasakan ini!"
Dug... Dug... Dug... Brukkkk!!!
"Aaaaaahhh sakit!!!"
"Ini hanya sebuah peringatan untukmu. Jika kamu benar-benar berani melawanku, aku pastikan kamu akan segera masuk ke liang lahat."
Wanita bertubuh tambun itu mulai mengayunkan kakinya untuk meninggalkan Dita. Sedangkan Dita, hanya bisa meringis menahan rasa sakit yang tetiba menjalar di tubuhnya. Terlebih bagian kepala, yang sebelumnya terbentur di tembok.
"Aaaarggghh.... Sialaaaaannn!!!";
Wanita itu hanya bisa mengumpat. Sekeras apapun usahanya untuk mengumpat, sama sekali tidak akan pernah bisa mengembalikan keadaan.
***
Bumi masih berputar pada porosnya. Hari-hari yang dilalui oleh Dita di dalam penjara seakan benar-benar akan membunuhnya perlahan. Semakin hari tubuh wanita itu terlihat semakin kurus. Matanya terlihat sayu sebagai sebuah tanda bahwa ia tidak pernah mengistirahatkan tubuhnya dengan benar. Terdapat bekas-bekas lebam juga di pipi dan pelipisnya, sebagai pertanda bahwa ia sering diperlakukan buruk oleh teman-teman sesama narapidana si rutan ini.
__ADS_1
Mengetahui bahwa Dita seringkali diperlakukan buruk oleh teman-temannya, maka sipir lapas itu memutuskan untuk memindahkan Dita. Kini, di dalam ruangan itu, ia nampak sendirian untuk menanti kebebasannya.
"Sayang!"
Dita yang tengah duduk di pojok ruangan dengan memeluk kedua kakinya, menenggelamkan wajah nya di sela-sela lutut, sedikit terkejut dengan suara seseorang yang tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan sayang.
Ia dongakkan sedikit kepalanya dan terlihat seorang lelaki berbadan tegap mendekat ke arahnya. "M-Mas Damar?"
Dita mulai bangkit dari posisi jongkoknya dan kini ia dalam posisi berdiri. Perlahan, ia pun mendekat ke arah jeruji besi yang menjadi sekat kehidupan yang saat ini ia jalani dengan kehidupan bebas di luar sana.
Lelaki yang tak lain adalah Damar itu hanya mengulas sedikit senyumnya. Ia melangkahkan kakinya untuk memangkas jarak yang terbentang diantara dirinya dengan wanita yang sampai saat ini sungguh masih tetap ia cintai.
"Apa kabarmu Sayang?" ucap Damar mencoba untuk membuka pembicaraan.
Dita hanya tersenyum sinis. "Tidak perlu aku jawab, kamu pasti sudah mengetahuinya bukan? Aku lah wanita yang paling menyedihkan saat ini. Hidupku terbelenggu di balik jeruji besi ini!"
"Sabar Sayang, ini adalah satu teguran dari Tuhan untukmu. Dan semoga ini semua bisa menjadi penebus segala kesalahan yang pernah kamu lakukan."
Dita tersenyum miring, mencoba menyembunyikan semua rasa yang bergejolak dalam dadanya. "Aku sungguh sudah tidak peduli laki dengan kehidupanku selanjutnya. Karena ragaku telah mati di tempat ini!"
Sekuat apapun wanita itu mencoba untuk bersikap tegar namun tetap saja air mata itu yang berbicara. Damar yang melihat wanita itu menangis, gegas ia usap air mata itu dengan selembar tisu yang ia bawa.
"Kamu masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Sayang. Bahkan setelah kamu selesai menjalani masa tahanan ini, kamu bisa kembali membuka lembaran hidup yang baru."
Air mata Dita semakin deras mengalir. "Apa yang kamu harapkan dari seorang penjahat seperti aku ini? Kelak ketika aku keluar dari tahanan, orang-orang akan memanggilku dengan mantan narapidana."
Damar mengulas sedikit senyumnya sembari menatap lekat wajah wanita yang ada di hadapannya ini. "Aku hanya memiliki satu keyakinan bahwa kamu bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi Sayang. Jalanilah masa tahananmu ini dengan penuh kesabaran. Aku akan selalu menunggumu hingga kamu keluar dari tempat ini."
.
__ADS_1
.
. bersambung...