
"Indira Anarawati Anindya, itulah yang kami cari!"
Hujan ribuan kelopak bunga mawar beraneka warna yang sebelumnya menghiasi suasana hati Dira, sehingga membentuk gurat-gurat wajah yang dipenuhi oleh kebahagiaan, kini seketika berubah menjadi hujan batu meteor yang sukses memporak-porandakan hati dan juga pikirannya.
Terperanjat, itulah bahasa tubuh yang ditampakkan oleh wanita itu. Hingga hanya menyisakan sebuah keterpakuan yang memberikan sinyal kepada bibirnya untuk menganga lebar dan kedua bola matanya terbelalak sempurna.
"S-Saya...?" ucap Dira terbata sembari menunjuk batang hidungnya sendiri.
Salah seorang polisi yang bernama Huda itu menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Iya Bu, kami datang kemari untuk mencari ibu Indira Anarawati Anindya."
"Mengapa saya yang Anda cari Pak? Mengapa bukan wanita ini?" cecar Dira sembari menunjuk ke arah Mara yang berdiri sampingnya. "Bukankah wanita ini yang telah melakukan upaya pembunuhan terhadap Oma Widuri? Tapi mengapa saya yang Anda cari?"
Kini justru Mara lah yang terperanjat, karena di hadapan polisi ini pun kakak iparnya ini masih saja menuduhnya sebagai dalang di balik terpelesetnya oma Widuri di dapur.
"Mbak Dira bicara apa? Yang dicari bapak polisi ini mbak Dira, bukan aku!"
Gemas juga Mara karena sejak oma Widuri terpeleset di dapur, dirinyalah yang dirong-rong oleh tuduhan Dira yang tidak memiliki bukti itu. Tidak ingin berpanjang lebar, Mara mencoba untuk mencari tahu maksud kedatangan polisi di pagi hari ini. "Pak, sebenarnya ada kejahatan apa yang dilakukan oleh kakak ipar saya ini, sampai Bapak-bapak mencarinya?"
"Kami mencari ibu Dira atas laporan kejahatan dalam upaya penggelapan uang di PT WUW. Bukan hanya penggelapan, manipulasi dan mark-up juga telah dilakukan oleh beliau, sehingga membuat kebangkrutan perusahaan milik bapak Raharja dan ibu Widuri."
Jika sebelumnya Dira seakan dihujani oleh ribuan batu meteor, kini datang lagi hujan batu gunung Merapi yang berjatuhan tatkala salah satu gunung yang masih aktif itu tengah bererupsi. Keterkejutan yang sebelumnya sedikit terpangkas, kini muncul kembali. Hingga membuat tubuh wanita itu remuk redam bak remahan rempeyek kacang. (Mon maap, authornya sedikit hiperbola dalam mendeskripsikan betapa hancurnya hati Dira, hihihihihi 😅)
"Laporan macam apa itu Pak? Bapak jangan coba-coba untuk memfitnah saya ya. Bisa saya tuntut balik, Bapak-bapak ini. Dan bisa jadi Bapak-bapak lah yang akan mendekam di dalam penjara akibat pencemaran nama baik."
Kedua polisi dan Mara sama-sama saling melempar pandangan. Tanpa diberi aba-aba ketiga orang yang terlibat langsung dalam pembicaraan dengan Dira ini sama-sama memijit-mijit pelipis masing-masing. Pusing, mencerna ucapan Dira yang semakin terdengar tidak masuk akal ini.
"Ibu Dira, daripada kita ribut di tempat ini, mari Ibu ikut kami ke kantor. Di sana bisa Ibu jelaskan dengan detail apa yang sebenarnya telah terjadi."
"Tapi saya tidak mau ke sana Pak. Saya tidak bersalah. Mara lah yang seharusnya Anda tangkap terlebih dahulu. Karena kejahatannya jauh lebih fatal, yaitu melakukan upaya pembunuhan terhadap Oma Widuri!"
Dua orang polisi itu mendekat ke arah Dira dan dengan gerak cepat menyergap tubuh wanita itu. "Mohon kerjasamanya ya Bu. Nanti bisa ibu jelaskan di kantor!"
"Pak.... Saya tidak mau ditangkap!"
***
Dira yang didampingi oleh Mara dan mbok Darmi telah tiba di kantor polisi. Meski wanita itu berdasarkan laporan telah melakukan sebuah kejahatan, namun sungguh Mara tidak tega jika tidak mendampingi sang kakak ipar untuk memenuhi panggilan polisi itu. Hingga ia memilih untuk ikut ke kantor polisi.
Dira berada di salah satu ruangan bersama salah seorang penyidik. Sedangkan Mara dan mbok Darmi menunggu di luar ruangan. Mendudukkan tubuh mereka di atas kursi kursi kayu panjang yang memang telah tersedia di sana.
"Sayang!"
Suara bariton yang tetiba terdengar, membuyarkan lamunan wanita yang tengah hamil tua itu. Ia menggiring kedua bola matanya untuk menatap ke arah sumber suara. Seutas senyum manis seketika terbit di bibir wanita itu.
"Mas Dewa!"
Mara bermaksud untuk bangkit dari posisi duduknya. Namun buru-buru Dewa menggelengkan kepalanya sebagai sebuah isyarat agar sang istri tetap dalam posisinya. Dewa duduk di samping Mara dan kemudian menarik tubuh wanita itu untuk ia bawa ke dalam dekapannya.
"Maafkan aku karena sudah terlalu lama meninggalkanmu Sayang, kamu baik-baik saja bukan?" ucap Dewa sembari mengecup pucuk kepala istri tercintanya ini dengan intens.
__ADS_1
"Mas ... oma? Bagaimana keadaan Oma? Oma baik-baik saja kan?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari Dewa, Mara justru menimpali sang suami dengan pertanyaan lain.
Dewa tersenyum getir. Kondisi oma pasti akan membuat istrinya ini begitu shock, namun sebisa mungkin Dewa menutupi itu semua. "Oma pasti akan baik-baik saja Sayang...."
"Mas, bawa aku ke rumah sakit. Aku ingin melihat keadaan oma, Mas."
Dewa mengusap-usap punggung istrinya ini, mencoba untuk menenangkannya. "Iya Sayang, nanti kamu pasti akan aku antar untuk menemui Oma. Namun saat ini biarkan aku menyelesaikan urusan kak Dira terlebih dahulu ya. Setelah itu aku akan membawamu ke rumah sakit."
"Wa, di mana Dira?" ucap Wisnu yang tetiba datang menghampiri adik dan juga istrinya itu.
"Kak Dira ada di dalam. Apa kak Wisnu benar-benar sudah siap untuk bertemu dengannya?"
"Seperti apa yang telah terucap dari mulutku Wa. Aku akan mengikuti seluruh proses hukum yang berjalan. Meski Dira adalah istriku, namun jika ia bersalah, pasti aku akan mendukung semua jalur yang sudah kamu pilih."
Dewa mengangguk perlahan. Ada sedikit rasa sesak yang tetiba menggelayuti hatinya. Ternyata antara dirinya dan sang kakak, sama-sama memiliki nasib yang kurang beruntung dengan pernikahan pertama yang mereka jalani.
Dewa memandang wajah istrinya ini. "Sayang, kamu dan juga mbok Darmi tunggu di sini terlebih dahulu ya. Biar aku dan kak Wisnu ke dalam sebentar. Setelah itu baru kita menjenguk Oma di rumah sakit."
"Iya Mas."
***
"Apa-apaan ini Wa? Mengapa kamu membuat laporan palsu seperti itu? Mengapa kamu menuduhku tanpa bukti. Dan kamu Mas, mengapa kamu diam saja melihat adikmu menjebloskan aku ke dalam penjara seperti ini? Ayo lakukan sesuatu Mas! Aku tidak mau mendekam di sini!"
Dira berteriak lantang tatkala melihat Dewa dan sang suami memasuki ruang penyidik. Wanita itu nampak tidak terima dengan apa yang ia alami saat ini. Ia tidak ingin sisa hidupnya dihabiskan di balik jeruji besi, yang pastinya akan menjadi tempat paling buruk di hidupnya yang selalu sempurna ini.
"Aku tidak menyangka jika kamu tega melakukan hal ini kepada keluargaku, Dir. Selama ini kurang apa kamu hidup bersamaku? Hampir semua keinginan yang kamu mau yang berkaitan dengan materi tidak ada satu pun yang tidak aku kabulkan untukmu, namun apa yang menjadi balasanmu? Kamu membalas kebaikanku, kebaikan oma dengan kesakitan dan kehancuran seperti ini."
Lolos sudah setetes kristal bening dari pelupuk mata Wisnu. Dadanya terasa begitu sesak dan bergemuruh seakan dihantam oleh batu-batu besar.
"Mas, kamu bicara apa? Aku tidak melakukan apapun Mas. Dewa pasti hanya ingin memfitnahku. Karena ia tidak ingin jika harta oma dibagi dua dengan kita."
Dira kembali mengeluarkan argumentasinya untuk membela diri. Namun semakin ia berupaya untuk membela diri, justru semakin nampak seperti wanita bo*doh saja.
"Hentikan sandiwaramu Dir! Aku sudah sangat muak mendengarnya. Kamu tidak ingat bahwa ada salah satu saksi yang kelak akan memberatkanmu!" ucap Wisnu yang nampak begitu tersulut emosi.
Dira terkesiap. Dahinya sedikit mengerut. "Saksi? Saksi apa Mas?"
Wisnu menoleh ke arah pintu ruangan ini. Dengan sedikit berteriak ia memanggil seseorang yang masih berada di luar ruangan. "Wibawa, masuklah!"
Ceklek....
Pintu ruangan penyidik terbuka dan Wibawa terlihat mengayunkan kakinya untuk mendekat ke arah beberapa orang yang sudah berada di dalam ruangan ini. Kehadiran Wibawa sukses membuat kedua bola mata Dira terbelalak seakan ingin lepas dari tempatnya bersemayam. Tubuhnya seakan lemas seketika tatkala melihat seorang laki-laki yang menurut kabar yang ia dengar telah mati di tangan orang-orang yang menjadi suruhannya, kini justru nampak baik-baik saja. Bahkan tidak ada kurang satu apapun.
"Wibawa?"
Wibawa hanya mengangguk samar. "Iya Bu, saya datang kemari untuk menjadi saksi atas apa yang telah Ibu perbuat di lima tahun yang lalu."
__ADS_1
Dira menggelengkan kepalanya, seakan tidak percaya jika keberuntungan tidak berpihak kepadanya. Ia kembali menatap wajah Wisnu dengan raut wajah memohon untuk dibebaskan. "Mas, tolong keluarkan aku dari sini Mas. Ini semua rekayasa yang telah dilakukan Wibawa. Aku tidak bersalah sama sekali!"
Satu persatu orang yang berada di tempat ini menjadi sasaran Dira untuk lepas dari kesalahan yang telah ia lakukan.
"Drama apa lagi yang kamu mainkan Kak? Lebih baik Kakak menjalani ini semua sesuai dengan hukum yang berjalan. Dan jangan melakukan sesuatu yang justru semakin memberatkan kak Dira!"
"Aku tidak melakukan hal itu Wa. Aku tidak melakukan!" ucap Dira dengan lantang.
"Baiklah jika kak Dira ingin lepas dari jeratan kasus yang terjadi di lima tahun yang lalu. Lalu bagaimana dengan ini?"
Dewa mengulurkan ponsel miliknya ke arah Dira. Buru-buru ia raih ponsel itu. Untuk kesekian kalinya mata wanita itu terbelalak sempurna tatkala melihat apa yang ada di dalam ponsel milik adik iparnya ini.
Dewa menoleh ke arah penyidik. "Pak, selain melaporkan kakak ipar saya ini atas penggelapan uang yang mengakibatkan kerugian besar PT WUW, saya juga ingin membuat laporan bahwa kakak ipar saya ini melakukan sebuah upaya mencelakai istri saya."
"Maksud pak Dewa bagaimana? Bisa dijelaskan secara detail?"
"Di dalam ponsel milik saya ini terdapat file rekaman CCTV yang ada di rumah. Di dalam rekaman itu jelas terlihat bahwa kakak ipar saya ini dengan sengaja menumpahkan minyak goreng untuk mencelakai istri saya. Namun pada kenyataannya yang menjadi korban adalah oma saya hingga membuat beliau kritis."
"Baik Pak, akan kami proses secepatnya."
"Benar-benar wanita jahat kamu Dir. Aku tidak menyangka jika aku menikahi wanita ular sepertimu!" timpal Wisnu seakan meluapkan seluruh amarahnya.
"Mas, tolong ampuni aku. Aku tidak akan lagi melakukan hal ini. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu, Mas. Tapi tolong bebaskan aku!"
Dirasa tidak ada lagi yang dapat ia lakukan karena posisinya saat ini benar-benar tersudut, Dira memohon sebuah pengampunan dari suaminya ini. Sedangkan Wisnu nampak semakin acuh tak menggubris sama sekali.
"Jalani apa yang sepatutnya harus kamu jalani Dir. Mungkin ini juga akan menjadi batas dari rasa sabar yang aku miliki sebagai seorang suami untukmu. Perihal penggelapan uang yang kamu lakukan hingga membuat apa yang telah dirintis oleh oma dan opa bangkrut mungkin bisa aku maafkan. Namun tindakanmu yang membuat wanita yang paling berharga di dalam hidupku meregang nyawa seperti saat ini, sungguh tidak dapat aku maafkan."
"Mas, apa maksud dari ucapanmu itu?"
Wisnu menghela nafas dalam kemudian perlahan ia hembuskan. "Aku sudah meminta pengacaraku untuk mengurus perceraian kita." Wisnu menatap lekat wajah istrinya ini dengan lekat. "Indira Anarawati Anindya, kita bercerai saja!"
Dira semakin terkejut setengah mati. Ia menggelengkan kepalanya seakan tiada percaya bahwa ini semua bertubi-tubi ia alami. "Tidak Mas, aku tidak mau. Tolong ampuni aku Mas. Dan jangan kamu ceraikan aku. Aku berjanji akan...."
Ceklek....
"Tuan Dewa ... Nyonya Mara, Tuan. Nyonya Mara!"
"Mbok Darmi bicara apa? Apa yang terjadi pada istriku?"
"Nyonya Mara akan melahirkan, Tuan!"
"Apa????"
.
.
. bersambung...
__ADS_1
Update ke-2 done! Bagaimana? Sudah sesuai dengan keinginan para pembaca semua?? hihihihihi semoga iya ya kak...😅😅
Apakah ada yang mau saya berikan sedikit cuplikan tentang Seroja? Jika ada yang mau, tulis di kolom komentar ya Kak 😅😅