
Krisna tersenyum simpul. "Ya, aku yang akan bersaksi bahwa gadis ini tidak bersalah sama sekali!"
Tubuh Dita seketika terperanjat tatkala mengetahui bahwa Krisna akan bersaksi atas tragedi sayur sup itu. Ia ingat betul bahwa hanya Krisna lah yang mengetahui dengan detail apa yang sebenarnya terjadi. Dita berpikir posisi seperti ini akan sangat merugikan dirinya.
"Apa-apaan kamu Kris! Kamu sama sekali tidak mengetahui dengan pasti apa yang terjadi. Jadi, mana bisa kamu bersaksi atas kejadian itu!"
Niat Krisna untuk menjadi saksi, benar-benar membuat kaki Dita sedikit bergetar. Wanita itu teramat takut jika pada akhirnya, kesalahan yang ia limpahkan kepada gadis itu hanya akan menjadi sebuah bumerang dan akan mempermalukan dirinya sendiri. Namun, sebisa mungkin Dita memasang wajah tenang, untuk menyamarkan rasa takut yang sudah perlahan menjalar ke dalam hatinya.
Krisna tersenyum miring. Setengah tahun menjadi istri Dewa, Krisna paham betul bagaimana watak dari wanita ini. Ia selalu saja membela diri tanpa mau disalahkan meskipun dia sendiri lah yang berada dalam posisi bersalah.
"Sepasang mataku masih berfungsi normal dan aku juga berada dalam kesadaran sepenuhnya. Aku melihat kamulah yang tidak fokus memperhatikan sekelilingmu dan pada akhirnya kamu menabrak gadis ini!"
"Jangan asal berbicara kamu Kris!" Dita kembali menautkan pandangannya ke arah manager hotel. "Pak, jangan percaya dengan apa yang dikatakan oleh lelaki ini. Dia adalah pembual. Di sini saya adalah korban, dan saya minta Bapak segera memecat pegawai ini!"
Krisna semakin tergelak. Berada di situasi terjepit seperti ini justru semakin membuat Dita seperti orang bo*doh yang tidak dapat berpikir jernih. "Ta, apakah kamu lupa jika di tempat itu, ada CCTV yang terpasang? Jika memang kamu masih bersikeras memposisikan dirimu tidak bersalah, mari kita sama-sama melihat rekamannya. Dengan begitu manager hotel ini bisa segera memutuskan apa yang harus ia lakukan."
Bak dihujani oleh ribuan kerikil, kepala Dita terasa semakin pening. Dia tidak berpikir panjang bahwa di tempat itu pastinya ada CCTV yang terpasang. Sepasang mata Dita semakin membola bahkan hampir keluar dari tempatnya bersemayam. "K-kamu...?!"
Krisna semakin mengeraskan tawanya. "Sekarang aku berikan pilihan kepadamu. Kamu tetap melanjutkan permasalahan ini atau kamu hentikan sampai di sini?"
Dita semakin terkesiap. Ia benar-benar telah tersudut tidak ada sedikitpun celah untuk membela diri. Wanita itu membuang nafas kasar seakan menumpahkan segala kekesalan yang ia rasakan. "Baiklah, aku akan hentikan sampai di sini. Aku tidak akan memperpanjangnya lagi."
Krisna mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bagus. Tapi sebelum kamu meninggalkan tempat ini, ada dua hal yang harus kamu lakukan!"
Dita terperangah. Tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh lelaki ini. "Apa maksudmu?"
Krisna tergelak. "Tenang saja, dua hal ini tidaklah sulit, jadi aku rasa, kamu sanggup untuk melakukannya."
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan, hah?!"
"Minta maaflah kepada gadis ini. Karena kamu telah menuduhnya melakukan sesuatu yang sama sekali bukan merupakan kesalahannya."
Dita mendengkus kesal. Tidak ingin berlama-lama berada di tempat ini, ia pun mengulurkan tangannya untuk meminta maaf kepada gadis belia ini. "Maaf!"
Gadis pembawa sayur sup yang sedari tadi hanya terdiam melihat sebuah drama yang begitu mengasyikkan antara Krisna dan juga Dita mulai menyambut tangan Dita. "Saya maafkan, Nyonya!"
Dita menepis telapak tangannya. Kemudian ia usap-usapkan di pakaian yang ia kenakan, seakan bersalaman dengan gadis pembawa sayur sup itu bisa mengakibatkan telapak tangannya kotor dan tidak halus lagi.
"Bagus," ucap Krisna. Lelaki itu menjeda sejenak ucapannya dan kembali bersuara. "Apakah kamu siap untuk melakukan hal kedua?"
"Apa sebenarnya mau kamu Kris? Aku sudah minta maaf kepada gadis ini dan dia pun juga telah memaafkanku, jadi aku rasa semua sudah selesai."
Krisna menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak semudah itu Ta. Kamu sudah melakukan sebuah fitnah yang secara tidak langsung mempermalukan gadis ini. Jadi, ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan!"
"Aaaarggghh...." Dita sedikit berteriak frustrasi. Krisna benar-benar membuatnya terserang darah tinggi secara tiba-tiba. "Cepat katakan, aku harus melakukan apa untuk bisa segera pergi dari tempat ini?"
Gadis pembawa sayur sup, Dita, dan manager hotel itu sama-sama terkejut setengah mati. Sepasang mata milik masing-masing sama-sama membulat sempurna.
"Apaaaaaaaa???!!" ucap mereka bersamaan.
***
"Dewa sudah booking kamar hotel, Oma. Jadi Dewa dan Mara akan bermalam di sini."
Oma Widuri hanya berdecak lirih, mendengar rencana Dewa yang ingin bermalam di hotel. "Apa alasan kamu mengajak cucu menantuku menginap di sini, Wa?"
Dewa tersenyum kikuk. Ia ingin menghabiskan malam ini dengan bermesraan dengan sang istri di hotel yang pastinya akan terasa jauh lebih romantis. Namun jika ia utarakan hal itu pastinya sang oma akan marah-marah karena tidak memberi kesempatan kepada cucu menantunya ini untuk beristirahat.
__ADS_1
Tiba-tiba senyum simpul terbit di bibir lelaki berusia tiga puluh tujuh tahun itu. "Mara pasti sangat kelelahan, Oma, dan pastinya ingin segera beristirahat. Jadi daripada Dewa dan Mara melakukan perjalanan jauh dari hotel sampai rumah, ada baiknya kami langsung berisitirahat di hotel saja. Tinggal naik lift setelah itu sampai di dalam kamar." Dewa melirik ke arah Mara yang berdiri di sampingnya. "Benar begitu kan Sayang?"
Mara hanya memasang wajah bingung. Ia benar-benar tidak tahu dengan rencana sang suami untuk bermalam di hotel. Karena memang Dewa tidak mengatakan apa-apa. Mara menatap lekat netra Dewa. Wanita itu seakan memberikan sebuah isyarat harus menjawab apa. Tanpa sepengetahuan Oma, Dewa mengerlingkan sebelah matanya ke arah Mara sembari mengangguk pelan, memintanya untuk mengiyakan apa yang menjadi ucapannya.
"Sayang, mengapa kamu diam saja? Apakah benar jika kamu kelelahan? Dan ingin segera beristirahat?" ucap oma Widuri meminta sebuah jawaban.
"I-iya Oma. Mara benar-benar merasa lelah dan ingin segera beristirahat," dengan sedikit gugup, Mara menyetujui apa yang diucapkan oleh sang suami.
Oma Widuri menghela nafas dalam dan perlahan ia hembuskan. "Hhmmmmm, baiklah kalau begitu. Jika kalian ingin bermalam di hotel, Oma persilakan. Namun ingat, paling lambat besok sore, kalian harus segera pulang ke rumah!"
Dewa tersenyum lebar. Akhirnya, angan-angannya untuk bisa menghabiskan waktu bersama sang istri di hotel bisa terwujud juga. "Baik Oma. Dewa berjanji, besok sore Dewa pasti sudah sampai di rumah."
"Hmmmmm... Terserah kalian saja. Dasar pengantin baru, tidak ingin sedetikpun menghabiskan waktu untuk tidak berdua-duaan."
Dewa tergelak. "Sama seperti Oma saat menjadi pengantin baru, dulu kan?"
Oma Widuri hanya mengendikkan bahunya. "Ya, memang seperti itulah adanya."
.
.
. bersambung....
Bonus bocoran novel setelah DeRa tamat... Hihihihihi
Sebuah novel yang akan bercerita tentang Seroja Ayu Anjani dan Fakhru Miftahul Haq. Tokoh sentral ada pada Seroja, jadi cenderung menitikberatkan pada kehidupan wanita itu. Untuk judul besok ketika rilis saja ya Kak, untuk saat ini masih saya rahasiakan... Jika ada yang ingin tahu cuplikan prolognya, silakan diintip di IG saya... hihihihihi 😅😅
__ADS_1
Mohon doanya, agar sebelum akhir tahun, novel ini bisa rilis dan mohon doanya, agar susunan kalimat dan diksi yang berada di dalam novel ini jauh lebih sempurna dari novel-novel saya sebelumnya...😘