
"Dewa!"
Dewa yang sebelumnya meletakkan kepalanya di atas kepala Mara, kini sedikit ia dongakkan. Pandangan matanya mengedar ke arah sumber suara. Dan seketika kedua bola matanya membulat sempurna.
"Om Arman, Dita!"
Tidak hanya Dewa, Krisna pun juga ikut terkejut dengan kemunculan mantan mertua dan mantan istri bosnya ini. Hampir dua jam acara ini digelar, namun baru detik ini dua orang itu menampakkan batang hidung mereka. Dewa gegas beranjak dari posisi duduknya. Memasang wajah sesantai mungkin, untuk menyamarkan segala bentuk keterkejutannya.
"Selamat atas pernikahanmu, Wa. Semoga ini merupakan pernikahanmu yang terakhir. Hingga maut memisahkan kalian berdua."
Arman mengulurkan tangannya. Bermaksud untuk memberikan selamat kepada sang mantan menantu. Dewa yang sebelumnya terlihat meragu akan apa yang dilakukan oleh Arman, terlihat sedikit menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan. Namun, pada akhirnya lelaki itu menyambut uluran tangan sang mantan mertua.
Dewa tersenyum simpul. "Terimakasih banyak untuk doanya Om. Aku pastikan, ini merupakan pernikahan Dewa yang terakhir." Dewa mengedarkan pandangannya ke arah sang istri yang masih berada dalam posisi duduk anteng di atas kursi pelaminan. "Sayang, ayo berdiri, salaman dulu sama om Arman!"
Mara mengangguk patuh. Ia berdiri di sisi Dewa dan mulai menjabat tangan Arman.
"Ternyata kamu jauh lebih cantik daripada yang ada di dalam foto. Semoga kebahagiaan senantiasa menyertai kehidupan rumah tangga kalian berdua!"
Mara mengangguk pelan. "Aamiin, terimakasih banyak Om!" Mara yang sebelumnya menatap lekat wajah Arman, kembali menautkan pandangannya ke arah sang suami. "Mas, om Arman ini siapa?"
Dewa hanya mengulas seutas senyum di bibirnya. Lelaki itu semakin mengeratkan lingkar lengan tangannya di pinggang sang istri. "Om Arman ini adalah papa dari wanita yang berada di sampingnya ini, Sayang!"
Arman tersenyum getir mendengar sang mantan menantu bahkan tidak sudi untuk menyebut nama anaknya bahkan menyebut posisi sang anak sebagai mantan istrinya. Namun Arman sangat mengerti, bahwa yang dilakukan sang anak benar-benar sangat keterlaluan, sehingga tidak mengherankan jika sang mantan menantu sedikit pun tidak mengakui kehadiran sang anak.
Ada sesuatu yang mencubit hati lelaki paruh baya itu tatkala melihat sang menantu telah kembali mendapatkan kebahagiannya. Tetiba sebentuk rasa yang sulit ia jabarkan, datang menggelayuti hatinya. Mungkin sebuah rasa marah untuk merutuki kebodohan sang anak karena telah berbuat kesalahan yang sangat fatal. Dan mungkin rasa menyesal karena ia tidak ikut andil menjaga anaknya agar tetap berada di dalam jalan yang benar.
Seandainya saja Dita tidak bermain api, pasti saat ini ia masih hidup tenang di dalam rumah Dewa. Dan pastinya Dewa akan mencurahkan rasa cinta yang ia miliki untuk Dita dengan rasa cinta yang teramat besar. Aaaahhhh... Apa gunanya berandai-andai? Jika kenyataan seperti ini yang dialami oleh Dita? Kesalahan yang dilakukannya memang fatal, tidak mungkin jika Dita bisa kembali ke sisi Dewa.
Dahi Mara sedikit mengerut sembari menatap sesosok wanita dengan gaun pesta berwarna hitam dengan menampakkan sebagian dadanya. "Memang wanita ini siapa Mas?"
Dewa sedikit tersentak, karena memang pada dasarnya ia belum sempat memperlihatkan foto Dita di depan sang istri, jadi wajar saja jika istrinya ini tidak tahu siapa Arman dan anaknya.
"Wanita ini Dita, Sayang!"
"Dita?" Kedua bola mata Mara nampak berotasi. Wanita itu seperti mengingat-ingat sebuah nama yang tidak asing di indera pendengarannya. Namun tak selang lama. "Oohhh... Mbak ini mantan istrimu ya Mas?"
__ADS_1
Dewa hanya mengangguk pelan. "Iya Sayang. Ini adalah mantan istriku!"
Dita hanya bisa berdiri canggung. Sama seperti yang dirasakan oleh sang papa, wanita itu juga terlihat seperti merasakan sesuatu yang sulit untuk ia ungkapkan. Melihat sang suami duduk di atas pelaminan seperti ini, seakan membuat memory otaknya untuk mengulang apa yang pernah terjadi di masa lalu.
Tidak hanya itu. Saat ini wajah Dewa terlihat semakin berseri dan aura ketampanannya semakin terpancar jelas. Berbeda jauh dari ekspektasinya. Ia berpikir, mantan suaminya ini akan terpuruk namun kenyataannya justru berbanding terbalik.
"Selamat atas pernikahanmu ya Mas!"
Akhirnya, lengan tangan Dita terulur untuk memberikan ucapan selamat kepada mantan suaminya ini. Meskipun degup jantung yang bersemayam di dalam rongga dadanya terdengar bertalu-talu, sebisa mungkin ia menahan semua gemuruh itu.
Dewa menatap lekat penampilan sang mantan istri dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pakaian yang dikenakan oleh Dita ini, sedikit membuatnya teringat akan saat-saat pertama ia menjalani kehidupan berumah tangga bersama Dita. Pakaian yang dikenakan oleh Dita ini merupakan salah satu pakaian favoritnya.
Namun adegan ranjang yang pernah dilakukan oleh sang mantan istri dan mantan security di rumahnya tiba-tiba terlintas dalam benaknya, dan hanya menyisakan sebuah rasa benci dan kecewa yang begitu luar biasa.
"Terimakasih!" Dewa celingak-celinguk seperti mencari seseorang. "Di mana Damar? Mengapa dia tidak ikut menghadiri acara ini?"
Dita tiba-tiba menundukkan kepalanyadan memasang wajah sendu. Tanpa membuang banyak waktu mantan istri Dewa itu memeluk tubuh Dewa dengan erat. "Maafkan aku Mas, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal pernah melakukan ini semua terhadapmu. Ternyata aku begitu mencintaimu dan tidak sanggup untuk menggeser namamu dari dalam relung hatiku."
Dewa, Mara, Krisna bahkan Arman sendiri begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Dita. Mereka sama sekali tidak menyangka jika Dita akan memeluk tubuh Dewa seperti itu.
Tubuh Dewa memberontak. Ia sedikit mendorong tubuh Dita agar terlepas dari pelukannya. "Jaga sikapmu Ta! Tidak sepantasnya kamu melakukan hal seperti ini!"
Kali ini Mara lah yang terlihat begitu terkejut mendengar ucapan Dita. Sedangkan Dewa hanya bergeming. Dalam pikirannya, Dita sudah seperti wanita gila. Jadi apapun yang ia ucapkan pasti tidak akan pernah didengar olehnya.
"Mas...."
"Mbak!"
Ucapan Dita terpangkas tatkala Mara memanggil namanya. Wanita itu menoleh ke arah Mara. "Ya?"
Mara hanya tersenyum simpul. Meskipun ada perasaan tidak rela melihat sang suami dipeluk oleh mantan istrinya, namun ia berusaha untuk mengendalikan semua. "Saya rasa, waktu Anda untuk memberikan ucapan selamat kepada kami sudah habis. Bisakah Anda kembali ke tempat semula?"
Dita terkesiap mendengar Mara mengucapkan hal itu. "K-kamu?"
Mara tersenyum sinis. "Saat ini saya lah yang menjadi istri mas Dewa, jadi saya mohon jaga sikap Anda. Jangan sampai saya berpikir jika Anda merupakan salah satu wanita perebut suami orang yang berkeliaran di kota ini."
Dita berdecih. "Tahu apa kamu tentang mas Dewa? Aku yang lebih lama hidup bersama mas Dewa. Jadi aku tahu jika mas Dewa masih mencintaiku."
__ADS_1
Dengan santai, Mara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ohhhhh seperti itu? Lalu apa yang akan Anda lakukan saat tahu bahwa mas Dewa masih mencintai Anda?"
Dita tergelak lirih. "Aku akan berusaha untuk kembali mendapatkan mas Dewa!"
"Dita! K-kamu......?!"
Hampir saja Dewa mencaci maki mantan istri yang tidak tahu malu ini. Namun, gegas Mara mengusap-usap dada Dewa berupaya untuk meredam amarah yang mungkin sudah menguasai jiwa suaminya ini.
Mara kembali menatap lekat wajah Dita. "Anda ingin mendapatkan kembali mas Dewa?"
Dita mengangguk mantap. "Iya, akan aku upayakan itu!"
Mara tergelak. "Sebelum Anda memiliki niat itu, silakan perbaiki bentuk pay*dara milik Anda yang terlihat mengendur seperti itu atau mungkin memperbesar ukurannya. Karena mas Dewa hanya tertarik dengan wanita yang memiliki bentuk dada seperti milik saya ini!"
Mata Dita terbelalak sempurna. Tidak menyangka jika istri baru mantan suaminya ini berani mengatakan hal itu. "K-kamu...?"
Mara semakin tergelak. "Saya juga heran, Anda belum pernah menyusui tapi mengapa bentuk pay*dara Anda sudah mengendur seperti itu? Atau apakah itu efek sering diremas dan dinikmati oleh lelaki yang bukan merupakan suami Anda?"
Dita semakin mati gaya. Berlama-lama di tempat ini justru semakin membuatnya naik darah. Wanita itu terdengar mendengkus dan mulai mengayunkan kakinya untuk menjauh dari tempat ini. Namun baru beberapa saat ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba...
Brukkkk!!!! Aaaaaahhh.....
Mata semua tamu undangan yang berada di ballroom ini memandang ke satu titik yang sama. Sebuah titik di mana Dita terlihat terjengkang karena tidak bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya akibat heels tinggi yang ia pakai. Dan seketika ballroom ini dipenuhi oleh riuh gelak tawa para tamu undangan yang terdengar menggema.
"Hahahaha... Sakitnya tidak seberapa, tapi malunya itu loh....!!"
Salah seorang tamu terdengar berceletuk asal yang justru semakin menjadikan suasana ballroom ini riuh dengan gelak tawa. Dewa, Mara, Krisna juga ikut terbahak. Mereka tidak menyangka jika akan ada hiburan geratis seperti ini.
"Siallllaaaannnnn!!!"
.
.
. bersambung...
Visual Dita
__ADS_1