
"Mas, ini sebenarnya kita mau kemana? Hampir delapan jam kita berada di dalam mobil tapi belum sampai juga!"
Sinar keemasan dari ufuk timur mulai terpancar. Menembus kaca mobil yang dikemudikan oleh Dewa dan seketika memberikan rasa hangat tatkala menyentuh kulit. Mara masih duduk setia di sisi kemudi sang suami pastinya sembari memangku Nendra yang terlihat terlelap dalam tidurnya.
Dewa hanya mengulum senyumnya yang semakin membuat istrinya itu penasaran. "Sebentar lagi kamu pasti akan tahu Sayang. Sabar ya."
Mara hanya mendengus lirih. Sudah sejak pukul sebelas malam suaminya ini mengajaknya untuk melakukan perjalanan jauh. Beruntung Nendra tidak rewel. Justru putranya itu malah seperti menikmati perjalanan ini. Sesekali Nendra hanya menangis, namun setelah ia berikan ASI, bayi berusia tiga bulan itu langsung terdiam dan kembali ia lanjutkan tidurnya.
Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang mengganjal di pikiran Mara. Pasalnya sejak kemarin pagi suasana rumah sudah hening. Mbok Darmi, pak Kasim, dan Wisnu tiba-tiba menghilang. Entah kemana mereka pergi. Dan setelah itu sang suami memaksanya untuk segera melakukan perjalanan ini, yang entah kemana yang menjadi tujuan suaminya ini.
Pandangan mata Mara menyapu suasana sekitar. Nampak barisan-barisan pohon jati yang menjulang tinggi. Dihiasi oleh sinar mentari yang masuk di sela-sela pohon itu, seakan semakin menambah suasana dramatis yang begitu terasa.
Mara membelalakkan mata tatkala ia mulai sedikit tersadar kemana suaminya ini akan membawanya pergi. "Mas... Apakah kita akan ke...."
Dewa tergelak lirih sembari menganggukkan kepalanya pelan. "Akhirnya kamu sadar kemana aku akan membawamu pergi Sayang."
"Mas... bukankah ini jalan menuju curug, yang menjadi tempat pertama kita bertemu?"
"Ya, aku akan membawamu ke tempat pertama kita dipertemukan, Sayang."
Namun dahi Mara justru nampak mengerut karena ada sedikit yang berbeda dari suasana jalan yang berada di sekitar sini. Mobil Dewa yang saat itu hanya bisa berhenti di tepi jalan, kini bisa leluasa masuk ke area lahan-lahan jati ini. Bagaimana tidak bisa masuk jika salah satu bagian area lahan jati ini sengaja dibuat ruas jalan untuk bisa menjangkau curug itu berada.
Dan mata Mara semakin terbelalak, membulat sempurna tatkala di hadapannya telah berdiri dengan kokoh sebuah rumah, masih dengan konsep minimalis namun terlihat begitu mewah.
"Mas.... ini?"
Dewa menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah ini. Ia raih jemari tangan sang istri dan ia kecup sekilas bibir Mara yang terlihat lembab itu. "Selamat datang di rumah masa depan kita Sayang. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu, bersama anak-anak kita, di kota ini!"
Mara tidak dapat berkata apapun. Hatinya terlampau bahagia mendapatkan kejutan yang diberikan oleh suaminya ini. Hingga tidak ada bahasa tubuh yang bisa ia tunjukkan selain air mata bahagia yang mengalir deras dari jendela hatinya.
"Mas.... Kapan kamu mempersiapkan ini semua? Mengapa kamu tidak pernah memberitahu aku?"
Dewa menyentil hidung mungil istrinya ini dengan gemas. "Bagaimana mungkin aku memberitahumu Sayang? Jika aku beri tahu namanya bukan kejutan lagi, hemmmmm."
"Tapi ini sungguh indah Mas. Bagaimana bisa kamu mempersiapkan ini semua?"
Sorot mata Mara masih menatap takjub dengan pesona yang dihadirkan oleh rumah ini. Di depan rumah ini terlihat begitu asri dan di sisinya terlihat keindahan curug yang benar-benar berhasil menghipnotis penglihatannya.
"Kamu lupa jika ini dunia halunya mbak Rasti, Sayang? Di dunia halunya mbak Rasti, apapun bisa terjadi Sayang. Biasalah, dia kan tukang halu, haaahaa haaahhaa."
"Husss... Jangan seperti itu Mas. Bisa ditumpuk pakai sandal sama mbak Rasti kamu, Mas!"
"Hahahaha haahaahaa biarkan saja Sayang. Setidaknya novel kita ini sudah membuat mbak Rasti mendapatkan cuan untuk bisa membeli Boba. Kasihan dia, karena tiap hari cuma minum es teh doang."
"Ini kamu bicara apa sih Mas? Cuan, cuan apa?"
"Hahahaha biarkan nanti dijelaskan sama mbak Rasti sendiri di part ucapan terimakasih ya Sayang... Sekarang ayo kita masuk. Di dalam, semua sudah menunggu kedatangan kita."
"Semua? Siapa Mas?"
"Ayolah kita ke dalam!"
***
"Ya Tuhan Mas... Ini benar-benar kejutan yang membahagiakan!"
Entah untuk keberapa kalinya netra Mara terbelalak sempurna melihat kejutan demi kejutan yang diberikan oleh suaminya ini. Setelah kejutan bahwa ia akan tinggal di bumi Jogja lagi, lalu sebuah rumah mewah yang di bangun di dekat curug, kini Mara semakin terkesima dengan orang-orang yang hadir di halaman belakang rumah baru miliknya ini. Tidak hanya Krisna, Sekar, Wisnu, pak Kasim, dan mbok Darmi. Di halaman belakang rumah miliknya ini juga hadir para tamu istimewa.
"Mara... Dewa.. Terimakasih banyak untuk undangan syukuran rumah baru kalian ya!!!"
Mara tersenyum bahagia dengan kedatangan tamu-tamu spesialnya ini. Tamu-tamu yang didominasi oleh kaum wanita-wanita cantik yang sampai saat ini masih setia menemani perjalanan hidup di novel ini.
Ada kak Novi Aryani, kak Eni Fuad, kak Andin Kirana, kak Dina Mardhina, kak Candra Rahma, kak Feni Mom Syahwa, kak Agustin, kak Pice Korvina, kak Hariono mbak Lula, kak Mirawati Ira, kak Alya Zahra, kak Ummu Athiyyah, kak Aisha, kak Sri Waltiyah, kak Ahmad Affa, kak Novi Hartati, Kak Luluk Farida, kak Uki Hitaru, kak Ni'mat Santoso, kak TasyaAyudialnara, kak Dyandra, kak Desi Aryani, kak Suherni Eni, kak Siyah Fadly, kak Sri Astuti Rusli, kak Ratih Komala, kak Mamahnya Erika, kak Nina R'yani, kak Sri Rahayu, kak Oki Amar, kak Trendy Saputro MP, kak Yanuaris Kasfier, kak Bundane Syical, kak Prasmiwari, kak Martina Tya, kak Ai, kak Santi Susilowati, kak Mier, dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Dari komentar kakak-kakak itulah yang membuat Mara merasa jika novel ini selalu ramai dan bernyawa. Tidak terasa sebentar lagi ia akan berpisah dengan kakak-kakak kece badai ini yang selalu membuatnya bersemangat dalam menjalankan perannya.
__ADS_1
"Terimakasih banyak untuk Kakak-kakak semua yang berkenaan hadir memenuhi undangan dari mas Dewa ini ya... Silakan dinikmati hidangannya."
"Aahhhh tidak perlu kamu suruh, aku pasti akan menghabiskan semua, Ra. Bahkan aku sudah membawa Tupperware untuk membungkus makanan-makanan ini," ucap kak Novi Aryani sembari menunjukkan rantang Tupperware miliknya.
"Ahaahaahhaa silakan dibawa pulang Kak, nanti jika kurang, bisa minta ke mas Dewa lagi."
"Aahhhh itu sudah pasti Ra. Kapan lagi mau minta makan sama duda kaya raya itu, ya kan?"
"Kak Novi tolong diralat ucapannya ya. Aku sudah bukan duda lagi. Saat ini aku sudah menjadi lelaki yang paling bahagia karena telah menemukan belahan dada... eh maksudku belahan jiwaku!" timpal Dewa yang tidak terima jika masih dikatakan duda oleh salah satu pembaca setianya ini.
"Huh, kamu itu masih saja memiliki otak mesum, Om. Mau ngucapin belahan jiwa kok jadi belahan dada," sungut kak Novi yang sontak membuat yang ada di ruangan ini terbahak.
Di sudut ruangan yang lain, Krisna terlihat tengah memperhatikan pergerakan seorang wanita yang begitu mesra dengan lelaki yang ada di sampingnya.
"Mas, apa yang kamu lihat? Mengapa sedari tadi kamu menatap lekat ke arah wanita cantik yang digandeng oleh suaminya itu?"
Kehadiran Sekar yang tiba-tiba, sukses membuat Krisna terperanjat. Sorot mata yang sebelumnya ia gunakan untuk menatap seorang wanita yang hampir saja menjadi istrinya, kini ia geser untuk menatap wanita yang tengah hamil besar yang berdiri di sisinya.
"Namanya Dyandra, Sayang. Aku mengenalnya di pesta pernikahan Dewa di kota ini. Hampir saja dia menjadi istriku, tapi ternyata mbak Rasti menyiapkan kamu sebagai jodohku."
"Ohh aku kira siapa Mas."
Krisna tersenyum simpul. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya. Ia kecup perut Sekar yang sudah membesar ini. "Sayang... Kapan kamu akan lahir? Papa sudah tidak sabar untuk segera bertemu denganmu!"
"Sabar ya Pa, sebentar lagi ...." Sekar menjeda sejenak ucapannya tatkala perutnya terasa begitu mulas. "Mas... Sepertinya aku akan melahirkan. Perutku mulas sekali Mas."
Krisna terkesiap. Ia tegakkan kembali tubuhnya. "Apa Sayang? Kamu mau melahirkan?"
"Aaahhhh.... Sakit sekali Mas. Perutku benar-benar mulas.. Huhhh... haah... huhhh.. Haahh...." (ini kenapa jadi kayak orang kepedesan sih Kar?🙄)
"Aduuduuuuhduhhh ini bagaimana Sayang? Apa yang harus aku lakukan? Apa kamu akan melahirkan di rumah Dewa ini?" (ini mengapa jadi oon semua sih? Gak Dewa, gak Krisna, semua pada konyol menghadapi istri mereka yang mau melahirkan, ya salam...😌)
"Mas, bawa aku ke rumah sakit Mas! Kalau terlalu lama bisa brojol di sini beneran anak kita ini!"
"Oke, oke Sayang. Aku akan mencari bantuan."
Bruk!!!
Baru beberapa langkah Krisna meninggalkan Sekar, tiba-tiba tubuh Sekar ambruk. Hal itulah yang membuat orang-orang yang berada di ruangan ini memperhatikan ke arah sumber suara itu.
"Sayang!!!"
"Ya ampun, ini ada apa Kris?" ucap Dewa dengan raut wajah yang dipenuhi oleh kekhawatiran.
"Aduuhhhh Mas.... Sakit...." racau Sekar sembari mengusap-usap perutnya.
"Sekar melahirkan Wa. Tapi ini bagaimana? Anakku sepertinya tidak sabar untuk segera keluar."
Dewa nampak berpikir keras. Namun seketika ingatannya tertuju pada kak Pice Korvina yang saat itu menangani persalinan Ellana di novel Bingkai Surga untuk Ellana. Dan kebetulan saat ini kak Pice Korvina juga hadir di tempat ini.
"Kak, tolong bantu persalinan istri asisten pribadiku ini ya. Kasihan dia jika harus sampai ke rumah sakit, karena jarak rumah sakit dengan rumah ini lumayan jauh."
Kak Pice Korvina yang sekaligus sebagai dokter kandungan itupun sejenak berpikir, namun pada akhirnya. "Baiklah, tolong siapkan kamar untuk persalinan Sekar ya Om. Aku akan membantu proses persalinannya."
"Baik, Kak. Terimakasih banyak."
***
Gelap malam mulai merangkak menggantikan hari yang sebelumnya terang benderang. Drama kelahiran putri Krisna dan Sekar dan juga acara syukuran rumah baru milik Dewa telah usai. Dan kini hanya tinggal menyisakan keheningan yang membalut rumah besar ini.
Krisna dan Sekar telah kembali ke kediamannya yang berada tidak jauh dari rumah Dewa. Sedangkan Wisnu, lelaki itu mengajak mbok Darmi dan pak Kasim untuk menginap di salah satu resort yang berada di dekat pantai yang ada di kota ini.
"Mas... Masuk yuk, udara semakin dingin loh, nanti kamu masuk angin!"
Dewa yang tengah duduk santai sembari menikmati suasana malam, sedikit tersentak tatkala sang istri tiba-tiba datang menghampirinya.
__ADS_1
Dewa menyambut kedatangan sang istri dengan senyum yang merekah di bibirnya. "Nendra sudah tidur Sayang?"
"Iya Mas... Sepertinya dia kelelahan, langsung tertidur pulas dia."
"Kemarilah Sayang!" titah Dewa sembari menepuk-nepuk pangkuannya.
Dahi Mara sedikit mengerut. "Maksudnya bagaimana Mas?"
"Duduklah di pangkuanku Sayang!"
"Tapi Mas...."
"Hmmmmm... aku tidak menerima sebuah penolakan ya Sayang."
Mara menyerah. Ia turuti permintaan suaminya ini dan mulai mendaratkan bokongnya di atas pangkuan Dewa. Posisi Mara saat ini membelakangi tubuh Dewa, hingga lelaki itu bisa dengan bebas memeluk tubuh sang istri dari belakang.
"Sayang... Terimakasih banyak," ucap Dewa sembari mengeratkan lingkar lengan tangannya di pinggang sang istri. Ia letakkan kepalanya di ceruk leher Mara, dan ia hirup harum aroma tubuh istrinya ini.
"Terimakasih? Untuk apa Mas?"
"Untuk semua yang telah kamu berikan untukku. Semua tahu, bahwa kamu adalah seorang gadis muda nan cantik jelita, namun kamu menjatuhkan pilihanmu untuk menjadi pendamping hidup duda tua seperti aku ini."
Mara hanya terkikik geli mendengar ucapan suaminya ini. "Aku bisa apa Mas, jika memang goresan skenario mbak Rasti menakdirkan aku untuk menjadi pendamping hidupmu. Meski usia kita terpaut jauh, namun aku benar-benar tidak bisa mengingkari bahwa..."
Dahi Dewa kini yang mengerut karena Mara sengaja menggantung ucapannya. "Bahwa apa Sayang?"
"Bahwa aku benar-benar telah Terjerat Cinta Sang Duda, Mas. Dan duda itu adalah kamu. Rangga Danabrata Dewandaru."
"Sungguh, aku benar-benar tidak menyangka jika akan mendapatkan seorang pengganti sepertimu Sayang. Aku berjanji, akan menghabiskan hidupku ini hanya untuk bersamamu!"
"Aku pun juga begitu Mas. Akan terus berada di sisimu untuk mendampingimu."
Hembusan sang bayu diiringi suara gemericik air curug seakan menambah keintiman malam hari ini. Tangan Dewa yang sebelumnya melingkar di perut sang istri, perlahan mulai merayap masuk ke dalam kaos tipis yang dikenakan oleh istrinya ini. Tanpa basa-basi, Dewa mulai *******-***** kedua benda sintal milik sang istri yang terlihat semakin montok itu.
"Emmmphhh....Mas...."
Selalu saja seperti ini. Perbuatan Dewa sukses membuat Mara mendesah lirih. Semakin hari permainan suaminya ini semakin lihai saja, seakan membuatnya terbang ke atas awan.
"Rasa-rasanya sudah lama aku tidak menikmati tubuhmu Sayang... Bagaimana kalau kita lakukan di sini?"
Pernyataan konyol macam apa itu? Padahal baru dua hari yang lalu Dewa mendapatkan jatah bercinta. Bisa-bisanya ia mengatakan sudah lama. Belum sempat dijawab oleh Mara, Dewa bangkit dari posisi duduknya. Ia rebahkan tubuh Mara di atas lantai balkon ini.
Seperti seekor singa yang kelaparan, Dewa mulai melancarkan aksinya. Mencumbu tubuh sang istri dengan penuh keintiman.
Lenguhan demi lenguhan mulai keluar dari bibir sepasang suami istri itu. Nafas mereka juga terdengar memburu seakan dipenuhi oleh hasrat yang bergelora.
Dewa menyibak rok yang dipakai oleh sang istri dan bermaksud untuk melakukan penetrasi itu. Tatkala lembah milik Mara terekspos dengan sempurna, Dewa mulai menanggalkan celananya dan terlihat senjata miliknya itu sudah menegang dan siap untuk bertempur.
Dengan perlahan, Dewa menggesekkan miliknya di lembah milik sang istri yang sudah terasa sedikit basah itu. Dan ketika hampir memasuki lembah milik istrinya ini, tiba-tiba....
"Oeeeee... Oeeeee... Oeee...."
Tangisan Nendra sukses membuyarkan semuanya. Kedua orang itu hanya bisa saling menatap dan kemudian sama-sama tertawa.
"Aahhhh.. ternyata putraku itu tidak bisa diajak kompromi...."
Mara hanya tergelak sembari sekilas mengecup bibir suaminya ini. "Yang sabar ya Bos... Hahaha haahaahaa."
.
.
.
T A M A T
__ADS_1