Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 29 : Mendadak Viral


__ADS_3


"Astaga... Ternyata ada korban tenggelam di laut, dan mereka terdampar di pantai ini."


"Namun kalau mereka korban tenggelam, mengapa hanya sebagian tubuh mereka yang basah?"


"Coba periksa, apakah dua orang ini masih hidup atau tidak?"


Suara-suara di sekeliling yang terdengar begitu riuh dan mulai merembet masuk ke dalam syaraf-syaraf indera pendengaran, membuat ketenangan gadis belia yang tengah tidur lelap itu sedikit terusik. Kedua bola matanya bergerak-gerak meskipun masih dalam keadaan terpejam. Sedikit demi sedikit kedua jendela yang ada pada tubuh gadis itu terbuka. Dan ia terperanjat seketika tatkala melihat kerumunan bapak-bapak sudah mengerubunginya.


Sontak, gadis yang sebelumnya dalam posisi berbaring itu langsung menegakkan tubuhnya. Ia terduduk di atas hamparan pasir pantai dan mulai meraih sepenuhnya kesadarannya.


"Bapak-bapak ini sedang apa? Mengapa berkerumun seperti ini?"


Dengan mengucek-ucek mata dan sembari meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku, dan sesekali menguap dengan polos Mara menanyakan hal itu kepada kumpulan bapak-bapak di depannya ini.


"Mbak, apakah Mbak ini baik-baik saja? Sejak kapan Mbak dan suami Mbak ini tenggelam di laut lalu terdampar di pantai ini?"


Salah seorang nelayan yang baru saja pulang dari melaut menanyakan hal itu kepada Mara. Ia terlihat sedikit prihatin dengan apa yang dialami oleh gadis belia dan juga lelaki yang ia anggap sebagai suaminya ini.


"Tenggelam? Terdampar?"


Salah satu nelayan itu mengangguk. "Iya Mbak, bukankah Mbak dan suami Mbak ini tenggelam lalu terdampar di pantai ini? Namun sungguh kalian berdua benar-benar berjodoh dan kekuatan cinta kalian begitu kuat. Kalian tenggelam bersamaan dan bisa terdampar di tempat yang sama pula."


Dahi Mara sedikit mengerut dan kedua alisnya saling bertaut. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Memory otaknya seketika bekerja penuh. Ia teringat saat-saat ia merayakan hari ulangtahunnya bersama dengan Dewa, setelah itu mereka tiduran di tepi pantai, setelah itu mereka berciuman dan Mara sudah tidak lagi mengingat apa yang terjadi.


"Tapi Pak, kami tidak tenggelam ataupun terdampar. Semalam kami menikmati suasana di pantai ini dan tiba-tiba kami ketiduran."


Dewa, sang duda sedikit perjaka yang masih dalam keadaan pingsan itu sedikit terusik. Kesadarannya seolah ditarik paksa oleh suara bising yang terdengar di sekelilingnya. Perlahan kedua bola mata pria itu terbuka dan betapa terkejutnya ia ketika ia melihat kumpulan bapak-bapak sudah mengerubunginya. Dewa ikut terduduk di samping Mara.


"Ini ada apa? Mengapa banyak orang di sini?" Dewa melontarkan sebuah pertanyaan kepada orang-orang di hadapannya ini dengan penuh kebingungan.


"Tuan, apa Tuan tidak ingat dengan apa yang terjadi kepada kita semalam?"


Dewa turut memutar memory otaknya. Kejadian-kejadian semalam seakan menari-nari di dalam otaknya. Matanya terbelalak tatkala ia mengingat jika telah dihampiri oleh ibu dari gadis di sampingnya ini. "A-Aku sepertinya pi..."

__ADS_1


"Nah, ini suaminya sudah bangun," ucap salah seorang nelayan. Ia sedikit berdecak. "Hei Mas, Sampeyan ini kalau memang tidak memiliki banyak uang untuk menyewa hotel ya jangan mengajak istrinya tidur di tepi pantai seperti ini. Apa Sampeyan tidak kasihan dengan istri Sampeyan ini? Ia sampai kedinginan."


"Bapak ini bicara apa? Siapa yang tidak banyak memiliki uang sehingga tidak bisa menyewa hotel? Bahkan untuk membeli satu hotelnya sekali pun saya mampu, Pak. Bahkan saya ini adalah pemilik PT WUW yang terkenal itu." ucap Dewa mencoba menyanggah ucapan salah satu nelayan itu.


Nelayan yang terlihat masih muda dan sedikit up to date dengan perkembangan zaman itu tersenyum sinis. "Mana ada pemilik PT WUW yang begitu terkenal itu mengajak istrinya tidur di tepi pantai seperti ini? Atau Sampeyan ini salah satu lelaki yang begitu pelit dan perhitungan kepada istri? Sampai-sampai tidur di alam terbuka seperti ini?"


Mara dan Dewa saling melempar pandangan. Keduanya sama-sama mengendikkan bahu dan tersenyum kikuk. Pastinya saat ini tidak ada yang percaya jika Dewa adalah pemilik PT WUW yang begitu terkenal karena keadaannya memang sangat memprihatikan.


Salah satu nelayan yang membawa ponsel, perlahan merogoh sakunya. Ia keluarkan ponsel yang ada di dalam saku, diam-diam mengambil gambar Dewa dan juga Mara kemudian ia jadikan tranding topic di beberapa media sosial yang ia miliki. Ia menggunakan tagar #Bos PT WUW yang mendadak melarat. Bidikan kamera yang begitu pas, sehingga sangat meyakinkan jika saat ini bos PT WUW itu memang mendadak melarat. Terlebih wajahnya yang terlihat menyedihkan.


Dewa menghela nafas dalam. "Sudahlah Pak, saya tidak perlu menjelaskan apapun karena kenyataannya kami ketiduran di tempat ini. Dan kami sebenarnya juga menginap di resort yang ada di sana."


Para kumpulan nelayan itu juga saling melempar pandangan. Sepertinya kali ini mereka mau tak mau harus percaya dengan apa yang diucapkan oleh lelaki ini. Terlebih kedua orang ini juga dalam keadaan baik-baik saja, sehingga tidak ada hal yang harus mereka lakukan untuk menolong kedua orang ini.


"Baiklah kalau begitu Mas. Sekarang kembalilah ke tempat Sampeyan berada. Untung saja semalam kalian tidak digigit ikan paus. Kalau sampai digigit ikan paus bisa berakhir hidup kalian." Nelayan itu menjeda ucapannya. "Ayo kita segera pulang. Mas dan Mbak ini dalam keadaan baik-baik saja, dan kita tidak perlu melakukan apapun untuk membantunya."


Pada akhirnya kumpulan para nelayan itu melenggang pergi meninggalkan Mara dan juga Dewa. Sedangkan sepasang manusia itu hanya bisa terkikik geli.


"Mengapa semalam Tuan juga ikut tertidur di sini? Bukan malah membangunkan saya? Kalau Tuan membangunkan saya pasti tidak akan seperti ini bukan?"


Mara sedikit terkejut. "Pingsan? Mengapa Tuan bisa sampai pingsan? Perasaan saat kita makan malam, Tuan banyak menghabiskan makanan. Tapi mengapa sampai bisa pingsan?"


Dewa menghela nafas dalam sembari mengacak rambutnya asal. "Aku pingsan bukan karena kelaparan, tapi karena didatangi oleh ibumu."


Mara semakin terkejut. "Apa? Didatangi ibu? Untuk apa ibu mendatangi Tuan?"


Dewa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tidak mungkin juga ia mengatakan jika ibu gadis ini mendatanginya untuk menghentikan perbuatan mesumnya. "Ibumu memintaku untuk mengajakmu kembali ke resort namun karena aku sudah ketakutan, aku malah pingsan."


"Ppffftt... Ternyata Tuan itu penakut!"


Dewa terkesiap. "Hei siapa bilang aku penakut? Aku hanya terkejut tiba-tiba didatangi oleh makhluk tak kasat mata."


Mara sedikit membuang nafas kasar. "Ibu sepertinya merindukan saya. Sepertinya saya memang harus menengok rumah ibu."


"Aku temani!" ucap Dewa bersemangat.

__ADS_1


***


"Krisnaaaaa..... Lihatlah, apa yang dilakukan oleh bos mu ini?"


Di tempat yang berbeda, terlihat oma Widuri memasuki ruangan Krisna yang merupakan asisten pribadi sang cucu. Oma Widuri sedikit terkejut dengan berita yang tengah tranding topic di media sosial yang ia lihat. Terlebih ini menyangkut nama PT WUW.


Krisna yang tengah sibuk dengan pekerjaannya sedikit terkejut dengan kedatangan oma Widuri yang tiba-tiba. Ia sejenak menghentikan pekerjaannya dan menyambut kedatangan oma Widuri.


"Ada apa Oma? Mengapa Oma terlihat heboh seperti itu?"


Oma Widuri menyodorkan ponsel ke arah Krisna dan langsung dilihat oleh sang asisten. "Lihatlah, sebenarnya Dewa berada di Jogja itu untuk apa? Apa dia ingin menjadi si Bolang yang tidur di alam bebas seperti itu?"


Dahi Krisna mengernyit. "Iya juga ya Oma, mengapa Dewa tidur di tepi pantai seperti ini? Apakah ia sudah kehabisan uang selama berada di Jogja."


"Dan kamu tahu, Dewa tidur berdua dengan seorang wanita. Apakah wanita itu kekasih baru Dewa?"


Krisna mengendikkan bahu. "Krisna rasa bukan, Oma. Oma tahu sendiri bukan jika Dewa itu begitu mencintai Dita? Jadi Krisna rasa tidak secepat itu Dewa langsung mendapatkan pengganti."


Oma mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi aku ingin jika Dewa bisa segera move on dari wanita ular itu Kris." Oma Widuri kembali mengambil ponselnya dan menatap lekat wajah wanita yang bersama sang cucu itu. Dan seutas senyum terbit di bibirnya.


"Oma? Mengapa Oma senyum-senyum sendiri? Oma tidak memiliki gangguan jiwa bukan?"


Pletak!!!


Oma Widuri menyentil kepala Krisna. "Dasar cucu tidak ada akhlak."


"Aduuduuuuhduhhh sakit Oma!"


Oma Widuri menghela nafas dalam. "Sepertinya wanita ini adalah wanita baik-baik. Dari fotonya saja aku bisa menilai jika wanita ini adalah wanita penuh ketulusan dan kasih sayang." Oma Widuri menautkan pandangannya ke arah Krisna. "Kris, susul Dewa. Dan pastikan Dewa kembali ke Bogor dengan membawa wanita itu!"


"Apa???"


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2