
Satu langkah....
Dua langkah....
Tiga langkah....
Grubukk... Grubukk... Grubukk....!!!
Ayunan langkah kaki wanita yang bermaksud untuk mengambil minuman di dapur itu sejenak terhenti tatkala indera pendengarannya menangkap gelombang suara sebuah benda yang terjatuh di halaman belakang. Niat hati ingin mengambil air putih di dapur seketika ia urungkan dan memilih untuk berbalik badan. Ia mencoba untuk mendekati sumber arah suara itu.
Meong .. Meong... Meong...
"Ya ampun, ternyata kalian yang membuat jemuran pakaian ini ambruk hingga terjatuh seperti ini?"
Kedua bola mata Mara menatap lekat dua ekor kucing berwarna putih yang sedang berlarian. Entah dari mana asal kucing itu namun sepertinya si jantan sedang melakukan upaya pendekatan kepada si betina.
"Hei kucing jantan! Jika kamu ingin mendekati si kucing cantik ini harus calm down, jangan terkesan terburu-buru seperti itu. Lihatlah, si cantik ini justru takut bukan?"
Mara justru sibuk berdialog dengan dua kucing itu yang seketika membuatnya lupa bahwa dari kamar ia bermaksud untuk menikmati udara malam namun sebelumnya ingin ke dapur mengambil air minum karena kerongkongannya terasa begitu kering. Sedangkan dua kucing itu hanya menatap wajah Mara dengan wajah yang sukar untuk diartikan.
Mara sedikit membungkuk, berupaya untuk bisa mengusap bulu kucing yang terlihat begitu lembut itu. Sungguh di luar dugaan Mara, kedua binatang lucu itu hanya diam saja tatkala jemari tangannya menyentuh tubuh mereka.
"Kalau mau pacaran, jangan berisik ya. Diam-diam saja. Kalau seperti ini kalian bisa ketahuan dan jika sampai merubuhkan sesuatu lagi, pasti akan membuat semua penghuni rumah ini terkejut. Jadi....."
Gedebuk!!! Aaahhhhhhhhhhh!!!
Mara terkesiap tatkala mendengar suara teriakan dari arah dapur. Ia tegakkan kembali tubuhnya dan bermaksud untuk mendekat ke arah sumber suara.
"Oma????!!!"
Kedua bola mata Mara terbelalak sempurna tatkala dari kejauhan melihat oma Widuri sudah terkapar di atas lantai. Jantungnya seakan berdegup kencang tatkala melihat keadaan Oma yang sudah terkapar itu.
__ADS_1
"S-Sayang... Sakit!" rintih Oma Widuri sembari memegangi kepalanya karena terbentur lantai.
Wanita berusia senja itu mengerjabkan mata, namun semakin lama rasa pening itu semakin kian terasa mendera hingga pada akhirnya tak sadarkan diri.
Ia bergegas ingin menolong sang oma, namun...
Klik....
Dapur yang sebelumnya dalam keadaan temaram kini seketika berubah terang benderang tatkala bola lampu di tempat ini menyala sempurna.
"Astaga Mara! Apa yang kamu lakukan terhadap Oma?"
Dira sedikit terkejut tatkala mengetahui bahwa yang menjadi korban tumpahan minyak bukanlah Mara namun justru sang oma. Namun sebisa mungkin ia menguasai rasa keterkejutannya itu, sehingga tidak menimbulkan sebuah kecurigaan.
"Mbak Dira ... a-aku tidak melakukan apapun. Aku lihat Oma sudah seperti ini!"
Tap... Tap... Tap...
Derap langkah kaki beberapa orang terdengar semakin mendekat ke arah area dapur. Mereka sama-sama membelalakkan mata tatkala melihat apa yang tersaji di tempat ini.
"Nyonya besar!"
Dewa, Wisnu dan pak Kasim sama-sama menjangkau tubuh oma Widuri yang sudah terkapar di lantai dan tidak sadarkan diri. Pastinya dengan raut wajah yang dipenuhi oleh kekhawatiran dan ketakutan yang luar biasa.
"Ada apa ini? Mengapa Oma bisa terjatuh seperti ini?" pekik Dewa dengan suara lantang namun sangat jelas bahwa dalam ucapannya itu tersimpan sebuah rasa cemas yang begitu besar.
"Ini gara-gara istrimu Wa. Istrimu yang sudah membuat Oma terjatuh seperti ini!"
Tidak hanya Mara dimana tuduhan itu mengarah kepadanya. Wisnu, Dewa, Kasim dan mbok Darmi pun ikut terkejut setengah mati mendengar ucapan Dira.
"Mas ... demi Tuhan aku tidak melakukan hal itu. Aku tidak tahu apa-apa. Aku baru saja dari halaman belakang dan tiba-tiba mendengar teriakan Oma. Setelah itu aku datang kemari dan aku lihat Oma sudah terjatuh seperti ini."
__ADS_1
"Bohong! Istrimu itu pembohong besar Wa. Dia lah yang sudah mencelakai Oma. Lihatlah, ada tumpahan minyak goreng di lantai ini. Istrimu sengaja menumpahkan minyak ini untuk mencelakai Oma!"
"Mbak, jaga bicaramu! Tuduhanmu itu benar-benar tidak ada buktinya sama sekali..."
"Alaaaahhhh alasan kamu saja Ra! Di tempat ini sebelumnya hanya ada kamu dan juga Oma jadi bisa dipastikan bahwa kamu lah yang mencelakai Oma!" Dira menggiring bola matanya ke arah Dewa dan juga Wisnu dan menatap wajah mereka dengan tatapan lekat. "Mas Wisnu, Dewa, segera lapor ke polisi. Karena di rumah ini ada seorang penjahat yang membahayakan keselamatan kita semua."
"Ini tidak bisa dibiarkan. Siapapun yang dengan sengaja mencelakai Oma, aku pastikan akan membusuk di dalam penjara!" kelakar Dewa dengan nada penuh ancaman.
Mara terperangah. Air matanya mulai tumpah ruah menghiasi wajah cantiknya. Seperti tertikam sebuah pisau tak kasat mata yang menusuk dalam jantungnya mendapat tuduhan keji seperti ini. Mbok Darmi yang kebetulan berada di samping Mara hanya bisa mendekap nyonya mudanya ini seakan mentransfer kekuatan dan memberikan sugesti bahwa semua akan baik-baik saja.
"Mas ... aku sungguh tidak melakukan hal itu. Demi Tuhan aku sama sekali tidak melakukan apa yang dituduhkan oleh mbak Dira. Percayalah kepadaku Mas, percayalah!"
Mara menatap wajah suaminya ini dengan tatapan sendu seakan memohon sang suami mempercayai semua ucapannya.
"Stop drama murahanmu itu Ra! Cih, ternyata perilakumu tidak sepolos wajahmu. Kamu sama dengan wanita di luar sana yang berpura-pura baik hanya untuk mengincar harta oma. Sehingga membuatmu tega untuk mencelakai oma seper......"
"Sudah cukup! Ini mengapa malah jadi ribut seperti ini? Wa, ayo lekas kita bawa Oma ke rumah sakit. Aku khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Oma!"
Ucapan Wisnu sukses memangkas ucapan Dira. Lelaki itu khawatir jika terlalu lama berdebat di tempat ini justru membuat kondisi sang oma semakin parah. Ia pun bermaksud mengajak Dewa untuk segera ke rumah sakit. Dengan hati-hati, ia dan juga Kasim membopong tubuh oma Widuri dan segera membawanya ke rumah sakit. Sedangkan Dewa berjalan di belakang tubuh kakak dan penjaga rumahnya itu.
"Camkan kata-kataku ini. Aku tidak akan segan-segan menjebloskan ke dalam penjara siapapun yang sudah membuat oma seperti ini. Dan akan aku pastikan, dia akan menjemput kematiannya di dalam sana!" ucap Dewa sembari menatap wajah Mara dan Dira secara bergantian dengan sorot mata membidik. Kemudian, ia kembali mengayunkan langkah kakinya untuk bersegera keluar dari rumah ini.
Tangis pilu terdengar jelas keluar dari bibir Mara. Bukan jantungnya yang terasa berdenyut nyeri, namun perutnya pun juga seakan ikut merasakan sensasi rasa itu. Berkali-kali wanita itu memegangi perutnya untuk sedikit menghilangkan rasa itu.
Tamat sudah riwayatmu Ra. Setelah ini kamu pasti akan mendekam di dalam penjara, karena aku yang akan menjadi saksi yang pastinya akan memberatkanmu. Dan itu artinya aku bisa mendapatkan kembali kasih sayang Oma dan harta oma akan jatuh kepadaku, hahahaha...
Dewa yang masih berada tidak jauh dari area dapur sejenak menghentikan langkah kakinya. Sedikit ia menoleh ke arah sang istri yang terlihat sesenggukan di dekapan mbok Darmi.
Sesungguhnya aku tidak tega melihatmu bersedih seperti itu Sayang. Namun aku terpaksa harus melakukan ini untuk menggiring wanita ular itu masuk ke dalam perangkapku. Aku percaya padamu Sayang. Bahwa kamu tidak melakukan perbuatan itu. Karena kamu adalah Mara-ku. Seorang wanita berhati malaikat yang tidak mungkin melakukan kejahatan seperti itu. Sabar sebentar Sayang. Jika aku belum bisa menjebloskan wanita ular itu ke dalam penjara, sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa tenang.
.
__ADS_1
.
. bersambung...