
Mari kita ber-halu ria! Kita pasti rindu akan suasana sebelum masa pandemi seperti ini bukan? Anggap saja di part ini pandemi belum menyerang ya Kak. Jadi kita bisa berkumpul bersama. Tentunya sembari kita langitkan pinta semoga ujian negeri kita ini segera berakhir. Aamiin, aamiin, aamiin ya rabbal alamiin...
...❤️❤️❤️❤️...
Matahari perlahan mulai tergelincir. Hendak berpamitan kepada para penduduk bumi untuk menenggelamkan wajahnya di ufuk barat. Siluet senja mulai terlukis jelas dengan menghadirkan warna jingga yang begitu terlihat memanjakan mata.
Pesta masih belum usai. Ini kali kedua Dewa dan Mara duduk bersanding di pelaminan, menjadi raja dan ratu sehari untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Setelah karyawan perusahaan PT WUW dan juga semua relasi telah selesai memberikan ucapan selamat dan doa untuk kedua mempelai, kini saatnya mereka menunggu kehadiran para tamu istimewa yang dijadwalkan akan segera tiba di tempat. Jika tadi keduanya memakai gaun pengantin dengan warna putih, kini mereka berganti mengenakan pakaian dengan warna gold.
Tiga buah meja prasmanan telah tersaji dengan beraneka ragam menu hidangan yang sangat memanjakan lidah. Semua masakan khas Jogja terlihat berderet di sana yang pastinya dapat memanjakan lidah bagi para tamu istimewa.
Sepasang pengantin itu masih terlihat cantik dan gagah. Meski hampir seharian mereka berada di tempat ini, namun tidak sedikitpun mengurangi binar-binar kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka. Sembari menikmati alunan musik akustik dengan lagu-lagu romantis, para tamu seakan ikut larut dalam suasana seperti ini.
"Sayang, sepertinya yang kita tunggu sudah tiba."
Dewa berbisik lirih di telinga Mara sembari menautkan pandangannya ke arah luar area tempat resepsi.
"Benarkah Mas? Di mana mereka Mas?"
"Itu mereka!" ucap Dewa sembari menunjuk ke arah para tamu yang didominasi oleh para kaum wanita yang terlihat berbondong-bondong menuju area resepsi.
Mara menautkan pandangannya ke arah telunjuk tangan Dewa. Kedua bola matanya terbelalak dan membulat sempurna. Bibirnya menganga lebar ketika melihat kumpulan wanita-wanita cantik dengan kebaya berwarna gold mulai melangkahkan kaki mereka menuju tempat resepsi.
"S-Sebanyak itu?"
Dewa menganggukkan kepalanya. "Iya, memang sebanyak itu. Ini akan menjadi tugas berat untuk kita Sayang."
Dahi Mara sedikit mengerut. "Tugas berat? Maksudnya bagaimana Mas?"
"Ya, tugas berat untuk membuat mereka semua baper akut tentang cerita cinta kita. Dan rasa-rasanya kita harus terus bersikap romantis untuk membuat mereka larut dalam ke-baperan itu."
Gadis yang telah resmi menyandang gelar seorang istri itu hanya terkikik geli. "Kamu ini bisa saja, Mas."
Dewa beranjak dari posisi duduknya. Ia ulurkan tangannya untuk menyambut tangan sang istri. "Ayo kita sambut mereka. Karena mereka semua adalah para tamu istimewa, maka kita juga harus menyambut kedatangan mereka dengan istimewa pula."
"Ayo Mas!"
Keduanya berjalan beriringan, bergandengan tangan dengan senyum merekah yang tiada henti menghilang dari bibir. Sepasangan kekasih yang baru saja resmi menjadi sepasang suami-istri itu terlihat begitu bahagia mendapatkan kehormatan seperti ini, pastinya dengan kehadiran para pembaca setia yang hingga detik ini tidak pernah berhenti memberikan dukungan mereka.
"Aaaaaaa... Dewa!!!!"
Dewa tersenyum lebar tatkala mendengarkan teriakan wanita-wanita cantik sembari mendekat ke arahnya.
"Aaaaaahhh... Selamat datang Kakak-kakak semua. Bagaimana perjalanannya? Lancar?"
"Pasti lancar dong, dalam satu kedipan mata, kita sudah bisa sampai di tempat ini, Mas!"
"Syukurlah kalau begitu Kak." Dewa menoleh ke arah sang istri. "Sayang, mau aku perkenalkan satu persatu wanita-wanita cantik ini?"
Mara mengangguk mantap. "Tentu Mas."
"Nah mereka ini merupakan wanita-wanita hebat teman sesama penulis mbak Rasti Yulia, Sayang."
"Benarkah? Siapa saja itu Mas?"
"Dengar baik-baik ya." Dewa mengambil nafas dan mulai mengabsen satu persatu wanita-wanita cantik ini. "Ada kak Hulapao dengan karya berjudul Semesta untuk langit dan bumi. Ada kak Ayu Widia dengan karya berjudul Mantan jadi Besan. Ada kak Penulis Jelata dengan karya berjudul Kutunggu jandamu. Ada kak Meelysha Eksprisa dengan karya berjudul Mengejar Cinta Siti. Ada kak Riza dengan karya berjudul As Soon As Possible. Ada kak Arthi Aurora dengan karya berjudul Wedding Disaster. Ada kak Nofi Kahza dengan karya berjudul Oh Baby, Love Me, Please!. Ada kak Momy_Met dengan karya berjudul Biarkan aku mencintaimu. Ada kak Hesti Heryanti dengan karya berjudul Mengintip Jodohku. Ada kak Mutoharoh dengan karya berjudul Membuatmu Cinta kepadaku. Ada kak Just-x dengan karya berjudul Storge. Dan ada kak Kamila Azmi Rokhit dengan karya berjudul Tentang Rasa."
Mara tersenyum ke arah para penulis hebat itu. "Hai Kakak-kakak semua. Terimakasih banyak untuk dukungannya selama ini ya. Semoga semakin sukses dengan karya-karya hebat kakak semua."
"Terimakasih Ra. Selamat menempuh hidup baru ya. Semoga pernikahan kalian ini langgeng hingga maut memisahkan."
Layaknya grup paduan suara, rekan sesama author ini mengucapkan doa-doa untuk mempelai.
"Ah iya, mbak Rasti Yulia mengapa tidak nampak Wa?" tanya salah seorang penulis yang bernama kak Penulis Jelata.
Dewa mengulas sedikit senyumnya. "Tenang Kak, mbak Rasti nanti juga akan muncul. Dia sedikit pusing menghitung pengeluaran untuk acara pernikahan tokohnya ini. Tapi tenang saja, dia pasti datang, hahaha haahaahaa."
"Hmmmmm baiklah!"
"Ahhhhh iya Wa....Kami ada sesuatu untuk kalian. Tolong dibuka ya!" sambung salah satu penulis yang bernama kak Riza. Ia sedikit berjongkok untuk mengambil sebuah kotak besar yang ia bawa. "Ini! Bukalah!"
"Waaaahhh Kakak ini mengapa repot-repot membawakan bingkisan ini sih?" ucap Dewa sedikit tidak enak hati sembari menerima bingkisan yang diberikan ke arahnya.
"Tidak repot Wa. Hanya sekedar bingkisan murahan kok," timpal kak Arthi Aurora.
"Meskipun murahan, tapi percayalah bahwa itu akan sangat bermanfaat untukmu Wa!" sambung kak Ayu Widia.
"Baiklah, saya buka ya Kak."
Dewa mulai membuka sebuah kotak yang dibungkus oleh kertas kado bermotif batik yang nampak lumayan besar. Mata Dewa terbelalak tatkala melihat sesuatu yang ada di dalam kotak itu.
"I-ini benar untuk saya?" ucap Dewa sedikit tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Ya, itu memang khusus untukmu Wa." Penulis yang bernama kak Nofi Kahza itu sedikit berbisik lirih di telinga Dewa. "Pastinya agar kamu lebih strong, dan berstamina di malam pertama nanti."
Dewa tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat melihat puluhan butir telur bebek, puluhan boks obat kuat dan.... puluhan boks tisu magic.
Dewa kesusahan menelan salivanya. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana strong nya ia di atas ranjang jika semua telur bebek dan obat kuat ini ia konsumsi secara bersamaan.
"Kok diam Wa? Ada apa? Milik kamu sudah berfungsi bukan?" timpal kakak author yang bernama Meelysha Eksprisa.
Dewa mengangguk pelan. "Itu jelas Kak. Tapi kalau saya konsumsi semua, pasti dua puluh empat jam tidak akan tuntas-tuntas."
"Hahahaha haahaahaa!"
"Ya sudah, mari silakan dinikmati hidangan yang sudah tersaji Kak. Semoga Kakak-kakak semua menyukainya ya," sambung Mara mempersilakan para tamu undangan untuk menikmati berbagai macam hidangan yang ada.
"Terimakasih Ra, kami juga sudah sangat lapar."
Rekan sesama author itu mulai melenggang menuju meja prasmanan. Sedangkan Dewa masih dalam mode terkejut setengah mati mendapatkan kado ini.
"Ada apa sih Mas? Kok lihatin kadonya sampai bengong seperti itu?" ucap Mara yang sedikit bingung melihat sang suami terbengong-bengong.
"Puluhan butir telur bebek ini akan kita apakan ya Sayang?"
Mara terkekeh geli. "Kok bingung Mas? Tidak perlu bingung, kita jadikan telur asin saja bagaimana?"
__ADS_1
"Waaaahhh boleh juga itu idenya Sayang. Lumayan untuk menambah pundi-pundi kekayaan kita, hahahaha."
"Memang telur sebanyak itu untuk apa sih Mas?"
Dewa sedikit mendekat ke arah Mara, ia bisikkan sesuatu di telinga istrinya itu. "Untuk membuatku lebih bertenaga sehingga membuatmu tidak bisa tidur semalaman."
Dahi Mara sedikit mengerut. "Tidak bisa tidur semalaman? Ohhhh kamu mau kita ronda ya Mas?"
Dewa hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia baru ingat jika istrinya ini masih polos jadi tidak terlalu paham bahwa apa yang ia ucapkan ini.
"Iya Sayang, kita akan ronda malam dengan cara yang nikmat."
Mara menganggukkan kepalanya seolah paham dengan apa yang dikatakan oleh sang suami. "Ohhhh pantas saja nikmat, kita akan ronda malam sambil menikmati martabak telur bebek ini kan Mas?"
Dewa hanya bisa tersenyum tipis. "Iya Sayang, seperti itu."
Sepertinya aku harus banyak bersabar untuk kepolosanmu ini Sayang. Belum melakukan ritual malam pertama saja aku sudah dibuat gemas olehmu. Bagaimana nanti kalau kita akan melakukannya?
Tak selang beberapa saat setelah kehadiran para author-author hebat, terlihat lebih banyak lagi kumpulan wanita-wanita muda yang berjalan memasuki area resepsi. Senyum Dewa semakin mengembang karena mereka semua adalah para pembaca setia cerita ini yang menyempatkan waktu untuk menghadiri undangan ini.
"Hai Kakak-kakak semua!!!"
"Hai bang duda keren!!!!"
"Waaaahhh... Kakak-kakak semua terlihat begitu cantik hari ini. Pasti sengaja dandan cantik untuk menghadiri acara ini kan?"
"Jelas dong. Kami tidak tanggung-tanggung memakai jasa MUA terkenal dan termahal untuk bisa datang ke acara ini Bang. Demi apa coba jika bukan demi Abang?" ucap pembaca setia yang bernama kak Novi Aryani.
Dewa terkekeh kecil. "Saya sungguh merasa begitu tersanjung Kak."
"Ini kiriman kebayanya juga cantik sekali Bang. Harusnya Abang ngasihnya tidak hanya satu tapi tiga," timpal para pembaca setia yang bernama kak Utari Hikaru.
"Tenang Kak, nanti setelah kembali dari acara ini akan saya sediakan souvernir cantik untuk Kakak-kakak semua," ucap Dewa mencoba menenangkan salah satu tamunya.
"Waaaoowwww souvernir cantik? Apa itu Bang?" sambung pembaca setia yang bernama kak Martiana Tya.
Dewa mencondongkan tubuhnya ke arah Kakak-kakak cantik di depannya ini sembari berbisik. "Nanti akan ada souvernir lingerie cantik dari saya Kak. Pastinya bisa membuat Kakak-kakak semua terlihat semakin seksi di depan misua."
"Hemmmm mentang-mentang punya pabrik underwear dan lingerie, jadi souvernir dari resepsi pernikahan kamu ini berupa produk underwear juga ya Bang?" seloroh salah satu pembaca yang bernama kak Aisah.
Dewa terkekeh kecil. "Ya, sekalian promosi Kak. Jadi untuk segala macam kebutuhan underwear Kakak-kakak semua bisa dialihkan ke brand milik saya ini."
"Hahahaha kamu ini ada-ada saja Bang," sambung salah seorang pembaca setia yang bernama kak Eni Fuad.
"Bang, sebagai ungkapan rasa bahagia kami atas berakhirnya masa dudamu, kami ada sesuatu untuk Abang dan juga neng Mara nih," ucap salah satu pembaca yang bernama Dina Mardiana.
Dewa sedikit tersentak. Tidak menyangka jika tamu istimewanya ini repot-repot membawakan hadiah juga. "Benarkah? Apa itu Kak?"
"Eh Mas!" panggil Mara sembari menepuk pundak sang suami.
"Iya Sayang ada apa?"
"Kamu belum memperkenalkan satu persatu tamu istimewa kita ini Mas. Aku belum tahu nama Kakak-kakak cantik ini loh."
Dewa menganggukkan kepalanya. "Baiklah Sayang, aku kenalkan satu persatu ya."
"Ini ada kak Utari Hikaru, yang dengan ikhlas selalu menyumbangkan koin yang beliau punya untuk cerita kita ini. Jadi, meski level cerita kita ini tidak setinggi level karya kak Rasti yang berjudul Takdir Cinta, namun dengan koin yang diberikan oleh kak Hikaru bisa membuat pemasukan harian kita lumayan banyak."
"Sama-sama Ra."
"Lalu ini juga ada kak Martiana Tya dan kak Dyandra. Sama dengan kak Utari, beliau berdua ini juga sering memberikan tips untuk cerita kita ini jadi bisa menambah pemasukan juga, hihi hiiihii."
"Terimakasih banyak Kak."
"Sama-sama Ra."
"Lalu ini ada kak Novi Aryani. Kak Novi ini salah satu pembaca yang ceplas-ceplos mengomentari karakterku. Namun, meski beliau ceplas-ceplos, tapi kak Novi ini sayang sama cerita kita ini. Buktinya sampai sekarang masih bertahan untuk menjadi pembaca setia cerita receh mbak Rasti ini. Selain itu, kak Novi juga banyak sekali memberikan hadiah poin untuk kita, sehingga bisa turut mendongkrak popularitas cerita ini. Bukan begitu Kak?"
"Itu benar sekali Bang. Meskipun aku sedikit gemas sama kamu, tapi aku tetep cinta kok," ucap kak Novi meyakinkan.
"Terimakasih banyak kak Nov."
"Sama-sama Ra."
"Terus ada siapa lagi Mas?"
"Aku absen satu persatu ya Sayang." Dewa kembali menghela nafas dalam kemudian perlahan ia hembuskan. "Ada kak Andin Kirana, kak Luluk Farida, kak Ni'mat Santoso, kak Yon Diah Kusuma, kak Ahmad Affa, kak Sri Agustin, kak Aisah, kak Dina Mardiana, kak Sujinah, kak Ai, kak Bundane Sycal, kak Feni Mom's Sahwa, kak Nur Kahyati, kak Pice Korvina, kak Mamahardi Mamahardi, kak Pramiswari, kak Eni Fuad, kak Desy Aryani, kak Madinah Adira, kak Mirawati Ira, kak Siyah Fadli, kak Reetha, kak Candra Rahma, kak Milah Tasya, kak Dewi See, kak Nur Rahmawati, kak Naila Putri, kak Ndari, kak Ning Rina, kak Sri Waltiyah, kak Novita Sari."
"Ini semua adalah para pembaca yang selalu memberikan apresiasi dan dukungan untuk cerita kita ini Sayang, dengan memberikan komentar, like dan juga poin di setiap episodenya. Masih banyak lagi, namun karena keterbatasan, sehingga tidak bisa aku sebutkan di sini."
"Haaaiiii Maraaaaa.... Salam kenal ya!!"
Mara mengangguk senang. "Salam kenal juga Kakak-kakak semua!"
"Kan, kan, kan, sampai lupa kalau kita akan ngasih hadiah untuk bang duda kan?" ucap kak Dina Mardiana tatkala hampir melupakan sesuatu.
"Ahhhhh iya, memang hadiah apa yang Kakak bawa?"
Suiittt.... Suuuiiiittttt....
Meskipun seorang wanita, namun kak Dina Mardiana pandai bersiul lho gaes, hihihihihi.
Kak Dina Mardiana bersiul seakan memanggil seseorang dari jarak jauh. Tak selang lama, terlihat tujuh orang bapak-bapak hadir dengan menggandeng sesuatu.
Mata Dewa kembali terbelalak saat melihat apa yang dibawa oleh kumpulan bapak-bapak itu. Tidak hanya Dewa, Mara pun juga menampakkan ekspresi wajah yang sama dengan sang suami.
"Nah, bang Duda, ini adalah kado spesial dari kami untuk pernikahan bang Duda dengan neng Mara."
"K-Kambing?" ucap Dewa sedikit tidak percaya.
"Iya Bang, kambing. Kita sengaja memberikan tujuh ekor kambing untuk bang Duda sebagai langkah antisipasi," ucap kak Candra Rahma mencoba menjelaskan.
Dahi Dewa mengernyit. "Langkah antisipasi? Maksudnya bagaimana Kak?"
"Jadi gini Bang, kak Rasti itu orangnya sedikit usil dengan para tokoh cerita yang ia buat. Takutnya sebentar lagi kak Rasti akan ngasih jatah tamu bulanan kepada Mara, sehingga kalian tidak bisa melakukan prosesi malam pertama," sambung kak Pice Korvina.
"L-Lalu apa hubungannya dengan tujuh kambing ini Kak?"
__ADS_1
"Nah dengan tujuh ekor kambing ini, barangkali bisa menggantikan posisi Mara, Bang. Jadi bang Dewa bisa melakukan prosesi malam pertama dengan kambing-kambing ini," timpal kak Andin Kirana.
"Jadi maksud Kakak-kakak, aku disuruh bercinta dengan kambing-kambing ini?" tanya Dewa memastikan.
"Ya, seperti itulah kiranya Bang. Bagaimana? Ide yang sangat penting cemerlang bukan?" sambung kak Mirawati Ira.
Wajah Dewa mendadak pias. Tetiba ia didera oleh rasa pening di kepalanya. Dia pun hanya bisa memijit-mijit pelipisnya. "Ya Tuhan, bagaimana caranya aku bisa bercinta dengan kambing-kambing ini?"
"Haahaaha hhaahaa...."
Mara juga ikut tergelak melihat sang suami yang digoda habis-habisan oleh para pembaca yang didominasi oleh kaum hawa ini. Ia hanya berharap semoga ia bisa memberikan yang terbaik untuk para pembaca yang sedari awal sudah menemani perjalanan cintanya.
"Kalau begitu silakan langsung saja menuju meja prasmanan Kak. Di sana sudah tersedia berbagai macam hidangan istimewa untuk Kakak-kakak semua," ucap Mara mempersilakan.
"Siap Ra. Boleh makan sepuasnya kan?" tanya kak Feni Mom's Sahwa.
"Tentu saja Kak!"
***
Suasana senja di tepi pantai membuat kesan romantis semakin terasa. Para tamu istimewa terlihat saling bercengkrama satu sama lain, sembari menikmati hidangan yang ada, mendengarkan lagu-lagu romantis dari tim akustik yang di sewa oleh Dewa dan pastinya diiringi dengan suara debur ombak yang membuat suasana terasa semakin syahdu.
Krisna menatap takjub dengan kehadiran tamu-tamu istimewa ini. Dia tidak menyangka jika penggemar cerita duda sedikit perjaka itu didominasi oleh wanita-wanita cantik yang terlihat begitu memesona. Sedari tadi tatapan mata Krisna tertuju pada seorang gadis cantik yang terlihat berdiri di samping meja prasmanan sembari menikmati dessert berupa puding di tangannya.
"Hai Cantik, sendiri saja kah?" ucap Krisna sembari mendekat ke arah gadis cantik itu.
Sang gadis menoleh ke arah sumber suara dan tersenyum simpul. "Iya Bang."
"Boleh jika aku temani?"
"Silakan Bang."
Krisna mengulas sedikit senyumnya dan mengulurkan tangannya. "Aku Krisna. Kalau boleh tahu nama kamu siapa?"
"Aku Dyandra, Bang."
"Aaaaaahhh Dyandra, nama yang sangat cantik. Seperti orangnya," ucap Krisna memuji kecantikan gadis di depannya ini.
Gadis yang bernama Dyandra itu hanya tersipu malu mendapatkan pujian dari Krisna. "Abang ini bisa saja."
"Serius, kamu terlihat sangat cantik. Bahkan paling cantik diantara wanita-wanita yang pernah aku kenal." Krisna mengambil ponsel dari saku celananya. "Boleh jika aku meminta nomor teleponmu? Barangkali kita bisa lebih dekat dan mungkin aku akan datang ke rumahmu, bertemu dengan keluargamu untuk meminang mu?"
Wajah Dyandra merona merah. Ia hanya bisa menundukkan wajahnya sembari mengangguk pelan. "Boleh Bang. Nomor ponsel saya 081303030303."
Krisna terlihat memasukkan nomor ponsel Dyandra ke dalam salah satu daftar kontaknya. "Oke, sudah aku simpan. Nanti aku telfon kamu ya."
"Baik Bang."
"Aaaaaahhh iya, sepertinya puncak acara resepsi pernikahan Dewa dan Mara ini akan segera tiba. Ayo kita mendekat ke arah stage."
"Memang puncak acaranya apa Bang?"
Krisna tersenyum simpul. "Pelemparan bunga dan juga pesta lampion. Barangkali aku bisa mendapatkan bunga itu sebagai tanda akan segera mengakhiri masa lajangku. Dan siapa tahu jodohku adalah kamu."
Dyandra semakin tersipu malu. "Abang ini bisa saja. Mari kita ke sana."
Dyandra dan Krisna berjalan beriringan menuju mobil dan stage rendah di mana Dewa dan Mara duduk bersandingan. Benar saja di sana telah berkumpul para tamu undangan untuk menanti lemparan bunga yang akan dilempar oleh mempelai wanita.
"Nah para hadirin sekalian, saya mewakili Dewa dan juga Mara mengucapkan terimakasih banyak atas kehadiran Anda-anda semua di acara ini. Dan untuk mengakhiri acara kita di petang hari ini, akan kita tutup dengan acara pelemparan bunga dan pesta lampion. Nah, mbak Mara, silakan bersiap-siap untuk melempar bunga!"
Mara yang sebelumnya berdiri menghadap para tamu undangan, kini mulai membalikkan badannya. Sebuah buket mawar merah sudah ia genggam dan siap untuk ia lemparkan ke arah para tamu semua.
"Siap ya semua?" teriak Mara dengan lantang.
Siapppp!!!!!
"Semoga yang mendapatkan bunga ini tahun ini bisa segera menikah!"
Aamiin.... !!!!
"Satu... Dua.... Tiiiiiigaaaa.....!!!"
Suuuiiiittttt.....
Riuh suara para tamu undangan terdengar membahana. Mereka berancang-ancang mendapatkan bunga itu, terlebih yang masih berstatus lajang dan....
Hap....!!!
Mara membalikkan badannya, mencoba mencari tahu siapa yang mendapatkan bunga itu. "Mbak Rasti?"
Wanita yang mendapatkan bunga itu tertawa lebar. "Hahaha makasih bunganya Ra. Semoga setelah ini aku bisa nyusul kamu!"
"Aaaaaaa... Mbak Rasti!!!!!"
Pada akhirnya, wanita yang bernama Rasti Yulia itu berlari menjauh dari kerumunan. Dan tiba-tiba...
Bughhh.... Aaaaawwwww...
Tubuhnya menabrak sesosok lelaki yang ada di hadapannya.
"Maaf, maaf, saya tidak sengaja!"
Lelaki itu hanya tersenyum simpul. "Saya yang salah Mbak, karena tidak memperhatikan jalan." Lelaki itu menatap lekat wajah wanita yang menabraknya ini. "Kalau boleh tahu, nama Mbak siapa?"
Rasti Yulia itu hanya tersenyum tipis. "Aku Rasti Mas."
"Ohhhh mbak Rasti?" Lelaki itu mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, saya Khairul Anam atau lebih sering dipanggil Heru!"
Rasti ikut mengulurkan tangannya. "Salam kenal mas Heru!"
.
.
. bersambung... 😅😅😅
Woooaaahhh 3 rebu kata.... Semoga bisa sedikit menghibur ya Kak.. Untuk para pembaca dan teman-teman author yang lain, saya ucapkan terimakasih banyak untuk dukungan kakak-kakak selama ini. Part ini saya khususkan untuk para pembaca setia sebagai salah satu ungkapan rasa terima kasih saya karena kakak-kakak semua berkenan untuk singgah di cerita receh author remahan kulit kuaci ini. Meskipun sederhana, namun semoga berkesan ya Kak...
__ADS_1
Banyak cinta untuk Kakak-kakak semua...
Salam love, love, love❤️❤️❤️