
Bogor....
"Ini kunci ruko yang merupakan salon dan spa milik kalian. Dan ini adalah ketiga alamatnya!"
Hampir dua minggu Anton dan Rizal berupaya mati-matian untuk membuat salon dan spa kamuflase untuk Tanti dan juga Puspa, akhirnya mereka memilih untuk segera memberikan kunci ruko yang telah ia sewa itu. Lelaki itu berharap, setelah ini, ia bisa segera pergi dari kota ini untuk menikmati uang hasil menipu dua wanita yang baru beberapa saat tinggal di kota ini. Sejatinya sudah sejak lima hari Tanti memberikan uang itu, ruko yang dipersiapkan oleh Anton sudah siap, namun untuk menghindari rasa curiga, pada akhirnya Anton dan juga Rizal memilih untuk mengulur-ulur waktu.
Dahi Tanti terlihat sedikit mengernyit namun ia terima jua. "Apa benar ini semua adalah kunci salon dan spa milikku?"
Anton mengangguk. "Tentu saja benar. Ketiga kunci ini merupakan kunci tempat usahamu di tiga tempat yang berbeda. Apa yang membuatmu ragu, Tan?"
"Mengapa cepat sekali Ton? Bukankah membuat salon dan spa itu membutuhkan waktu yang lumayan lama? Tapi ini hanya selang dua minggu, kamu sudah berhasil menyelesaikannya?"
Tanti mencoba mengutarakan rasa penasarannya, mengapa Anton dan Rizal sangat cepat mempersiapkan salon dan spa yang ia inginkan ini. Bahkan dalam waktu yang begitu singkat.
Anton dan Rizal saling melempar pandangan. Keduanya sama-sama memasang raut wajah yang dipenuhi oleh rasa pias. Mereka khawatir jika apa yang menjadi keinginan mereka untuk menjadi orang kaya menguap begitu saja karena kecurigaan Tanti. Namun, bukan Anton namanya jika tidak bisa memulihkan keadaan agar tetap berjalan sesuai dengan rencananya.
"Begini Ti. Sebelumnya, aku dan Rizal bermaksud untuk membuat sebuah bangunan baru untuk salon dan spa milik kalian. Namun rasa-rasanya hal itu akan menghabiskan waktu yang sangat lama. Aku khawatir jika kamu tidak bisa segera menikmati profit dari usaha salon dan spa milikmu itu. Dan pada akhirnya, aku dan Rizal menjatuhkan pilihan untuk membeli ruko saja. Kamu tenang, ruko-ruko itu sama sempurnanya dengan membuat dari nol."
Anton berupaya mati-matian untuk menjawab pertanyaan Tanti senatural mungkin agar tidak muncul kecurigaan. Sedikit saja lidahnya terpeleset, rencana yang telah ia susun bersama sang keponakan pasti akan gagal total.
Tanti mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Anton ini. Ia juga membenarkan bahwa dengan menempati sebuah ruko, usaha salon dan spa yang menjadi impiannya itu bisa segera berjalan.
"Lalu, sertifikat ruko yang menjadi salon dan spa milikku itu mana Ton?"
Rupa-rupanya Tanti belum menyerah begitu saja. Ia mempertanyakan sertifikat pembelian ruko yang telah dijadikan salon dan spa oleh Anton. Rizal dan Anton sama-sama tersentak dan terkejut setengah mati. Wajah keduanya nampak pias, karena hal ini tidak ia persiapkan sebelumnya.
"Ehemmm..." Anton berdehem mencoba untuk menguasai rasa gugupnya. "Perihal sertifikat, kamu jangan risau Tan. Besok pemilik ruko itu akan datang menemuimu untuk memberikan sertifikat itu."
Wajah Tanti nampak berbinar. "Benarkah seperti itu?"
__ADS_1
Anton mengangguk mantap. "Ya, tentu saja benar. Kebetulan ketiga ruko itu merupakan milik satu orang yang sama namun di tempat yang berbeda. Sehingga kamu hanya akan bertemu dengan seorang pemilik ruko saja. Dan besok, pemilik ruko itu akan membawakan tiga sertifikat sekaligus untukmu."
Tanti, wanita berusia paruh baya itu tiada henti melukiskan senyum di bibirnya. Pada akhirnya, mimpi-mimpinya untuk memiliki usaha sendiri akan segera terwujud. Dengan begitu pundi-pundi kekayaan yang ia miliki akan bertambah banyak.
"Lalu, apakah besok kamu akan menemaniku untuk pergi ke salon dan spa milikku?" Tanti bertanya kepada Anton, berharap lelaki itu bisa menemaninya untuk melihat secara langsung salon dan spa yang sudah dipersiapkannya.
Anton tersenyum simpul. "Sebenarnya aku ingin menemanimu Tan, tapi besok aku dan Rizal ada perjalanan bisnis keluar kota, jadi aku tidak bisa menemanimu."
"Ooohhhh seperti itu? Sayang ya, kamu tidak bisa ikut menemaniku? Padahal bagaimanapun juga salon dan spa itu merupakan hasil kerja kerasmu."
Anton kembali mengulas senyumnya. "Tapi kamu tenang saja. Setelah perjalanan bisnisku selesai, aku dan Rizal akan langsung mampir ke salon dan spa yang menjadi milikmu. Aku yakin, salon dan spa milikmu itu akan ramai oleh para pelanggan, karena aku memilihkan sebuah tempat yang sangat strategis. Dan aku percaya, tidak sampai tiga bulan usaha milikmu itu akan bisa segera balik modal. Bahkan tidak hanya balik modal, namun juga sudah ada keuntungan yang dapat kamu nikmati."
Wajah Tanti dan Puspa nampak semakin berbinar. Mendengar ucapan Anton seakan membuat mereka berangan-angan seperti tenggelam dalam lautan kekayaan yang melimpah ruah.
"Itu berarti, kekayaanku bisa semakin cepat bertambah? Dan aku akan semakin menjadi orang kaya?"
"Itu benar sekali Tan. Kamu dan juga Puspa pasti akan segera menjadi orang kaya." ujar Anton penuh kesungguhan.
Puspa, yang sedari tadi berada di sisi sang ibu turut mendengarkan ucapan Anton dengan seksama, tetiba hati dan perasaan terasa bahagia luar biasa. Perasaan bahagia itu seakan meletup-letup ingin keluar tiada terkendali. Wanita paruh baya dan putri semata wayangnya itu semakin terlihat bahagia. Kedua wanita itu saling berpelukan sebagai pertanda untuk awal kehidupan mereka yang baru. Pastinya dengan menjadi orang kaya dengan harta yang melimpah ruah.
"Terimakasih banyak Ton. Terimakasih!"
"Sama-sama Tan. semoga usaha salon dan spa yang kamu miliki itu bisa terus berkembang pesat. Sehingga dari tiga tempat, bisa bertambah menjadi tujuh atau mungkin sepuluh?"
"Waaaoowwww jika seperti itu pasti akan sangat menyenangkan sekali Ton. Dengan begitu, setiap bulan aku pasti akan bisa berlibur ke seluruh penjuru negeri."
"Tidak hanya ke seluruh penjuru negeri. Tapi juga berkeliling dunia."
"Hahahaha haahaahaa haahhaa...!"
Tanti tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya seakan menggema memenuhi seluruh penjuru ruang tamu ini. Wanita itu nampaknya begitu bahagia dengan semua khayalan yang telah terajut sempurna di dalam otaknya. Padahal sejatinya, khayalan itu hanya sebuah khayalan tingkat tinggi yang akan memasukkannya ke dalam jurang kehancuran yang tiada bertepi.
__ADS_1
***
Jogjakarta....
"Sayang... Oma, Krisna dan juga Pram pulang ke Bogor terlebih dahulu ya. Kamu masih ingin bermalam di sini bukan?"
Setelah selesai berkemas-kemas, oma Widuri bermaksud untuk segera kembali ke Bogor. Hal itu oma Widuri lakukan, karena setelah acara di Jogja, ia juga bermaksud untuk menggelar sebuah acara resepsi pernikahan di kota hujan itu. Hal itu oma Widuri agendakan untuk memperkenalkan Mara kepada para rekan-rekan bisnis, yang kebetulan tidak dapat menghadiri acara yang ada di Jogja.
"Mengapa Oma dan yang lainnya tidak pulang bersama-sama Mara dan juga mas Dewa saja? Bukankah akan lebih menyenangkan jika kita semua bisa pulang bersama-sama, Oma?"
Oma Widuri terkekeh. "Sayang, kamu itu seperti tidak tahu Dewa saja. Suami kamu itu berharap Oma dan yang lainnya pulang terlebih dahulu agar tidak ada yang mengganggu masa-masa bulan madu kalian." Oma Widuri melirik ke arah Dewa. "Bukan begitu Wa?"
Pertanyaan sang Oma membuat Dewa hanya bisa tersenyum kikuk. Memang benar apa yang dikatakan sang oma, namun tidak mungkin juga bukan, jika ia mengakuinya?
"Oma mengapa bicara seperti itu? Hal itu tidak benar Oma. Benar apa yang dikatakan oleh Mara, bahwa akan lebih mengasyikkan jika kita bisa pulang bersama-sama," ucap Dewa mencoba berkilah.
"Ckkkccckkk... Bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu Wa. Padahal dalam hati kamu pasti sudah berjingkrak-jingkrak kegirangan melihat aku, oma dan juga Pram pulang ke Bogor terlebih dahulu. Dasar pencitraan kamu Wa!" timpal Krisna sembari berdecak lirih.
"Jangan salah Kris. Untuk kali ini rasanya apa yang dikatakan oleh Mara memang benar. Kita pulang ke Bogor sama-sama saja."
"Sudah, sudah tidak perlu ribut. Kamu masih boleh bermalam di sini Wa. Tapi tiga hari ke depan kamu sudah harus sampai di Bogor. Setelah itu persiapkan diri kalian untuk menggelar acara resepsi pernikahan di kota Bogor. Sekaligus untuk memperkenalkan istrimu secara langsung di hadapan rekan-rekan bisnismu yang kebetulan tidak dapat datang ke Jogja."
"Baik Oma. Dewa tinggal terima beres saja, bukan?"
"Iya, kalian tinggal persiapkan stamina dan kesehatan saja. Jangan sampai kalian sakit." Oma Widuri mendekat ke arah Mara. Kemudian memeluk cucu menantunya ini dengan erat. "Sayang, jangan bersedih lagi. Mulai saat ini ada Oma, Dewa, Krisna dan yang lainnya yang akan menjadi keluarga barumu. Jadi kamu jangan pernah berpikir bahwa kamu sendirian Sayang. Oma akan mencintai dan menyayangimu sama seperti ayah dan juga ibumu mencintaimu."
Mara mengangguk di pelukan oma Widuri. Setiap dipeluk oleh wanita berusia senja ini, rasa-rasanya hanya ada rasa hangat yang mengalir memenuhi aliran darahnya. Tetiba, wanita itu hanya dipenuhi oleh rasa haru yang begitu luar biasa. "Terimakasih banyak Oma. Terimakasih."
"Tidak perlu berterimakasih Sayang. Ini semua merupakan karunia dari Tuhan atas kesabaran dan kebesaran hati di dalam kamu menjalani garis kehidupanmu. Berbahagialah selalu Sayang. Berbahagialah selalu."
.
__ADS_1
.
. bersambung...