Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 106 : Ballroom


__ADS_3


"Cucu menantuku cantik sekali!"


Di salah satu ruangan hotel yang akan menjadi tempat diselenggarakannya resepsi pernikahan Dewa dan Mara, oma Widuri terdengar memekik takjub atas apa yang ia lihat di hadapannya ini. Sesosok wanita laksana putri kerajaan terlihat tengah berdiri di balik jendela ruangan ini. Sungguh, di mata oma Widuri, hari ini sang cucu menantu nampak berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya dengan balutan gaun pengantin berwarna putih.


Kecantikan Mara yang bak seorang putri kerajaan itu juga tidak lepas dari tangan MUA terbaik di kota ini. Wajahnya yang sudah cantik sejak lahir, semakin terpancar aura kecantikannya dengan sapuan-sapuan tangan MUA itu. Sangat tidak mengecewakan bagi oma Widuri merogoh kocek yang dalam jika hasil dari jasa MUA yang ia pakai akan super maksimal seperti ini.


Mara yang sebelumnya tengah memandang suasana jalanan di malam hari dari balik jendela yang dipenuhi oleh lampu-lampu kendaraan yang berlalu lalang, seketika membalikkan badannya. Terlihat oma Widuri sudah berdiri di depan pintu.


"Oma?"


Sembari menyunggingkan seutas senyum manis di bibirnya, Mara menyambut kehadiran sang oma. Oma Widuri juga hanya bisa membalas senyuman sang cucu menantu dengan seutas senyaman pula, ia pun mengayunkan kakinya untuk bisa lebih dekat dengan cucu menantu tercintanya ini.


"Bagaimana? Apakah persiapannya sudah selesai semua Sayang?"


Sembari menatap lekat wajah cantik Mara, oma Widuri seakan terhipnotis oleh aura kecantikan sang cucu menantu. Pandangan mata oma Widuri begitu intens memperhatikan penampilan Mara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada kata yang mampu terucap, selain kata cantik yang luar biasa.


Mara mengangguk pelan. "Iya Oma, semua sudah siap. Apakah mas Dewa juga sudah siap?"


Ekor mata Mara menatap ke arah pintu yang sebelumnya dipakai oleh oma Widuri untuk memasuki ruangan ini. Rupa-rupanya nyonya Rangga Danabrata Dewandaru itu tengah menunggu kedatangan sang suami. Karena memakai pada dasarnya, mereka bersiap diri di ruangan yang berbeda. Kata oma Widuri, agar menjadi surprise untuk keduanya.


"Kamu tenang saja. Kita hitung sampai lima. Oma pastikan, suami kamu akan memasuki ruangan ini." Oma Widuri membalikkan badannya dan ikut mengedarkan pandangannya ke arah pintu. "Lima, empat, tiga, dua, saaaa....."


Ceklek....


Daun pintu yang sebelumnya dalam posisi tertutup rapat, kini sedikit terbuka. Oma Widuri dan Mara sama-sama menyapu pandangannya ke arah pintu dan tak membutuhkan waktu lama, sesosok lelaki tampan sudah berdiri di sana.


"Istriku!"


Satu kata itulah yang diucapkan oleh Dewa. Terpaku akan kecantikan sang istri, seakan membuatnya tidak dapat membuatnya berkata apa-apa selain kata itu. Dengan segala keterpakuannya, Dewa berjalan mendekat ke arah Mara tanpa sedikitpun melepaskan tatapan mata teduhnya dari tubuh istrinya ini.


"Mas Dewa...."


Ucapan Mara terpangkas, tatkala Dewa memberikan sebuah kecupan di bibir tipisnya. Sekilas, Dewa menyesap manisnya bibir mungil yang beradu dengan bibir miliknya ini, dan kemudian ia lepaskan.


"Malam ini, kamu terlihat sangat cantik Sayang. Sungguh sangat cantik."


Mara tersenyum tipis. "Mas Dewa juga terlihat sangat tampan dan juga begitu gagah dengan pakaian ini."


Berbalut dengan tuxedo dengan warna yang senada dengan gaun yang dipakai oleh sang istri, Dewa pun juga tidak kalah terlihat tampan dan juga gagah. Kali ini lelaki berusia tiga puluh tujuh tahun itu benar-benar terlihat sepuluh tahun lebih muda dari usia sebenarnya.


"Sayang..."


"Ya, Mas?"


Dewa mendekatkan tubuhnya ke tubuh sang istri. Lelaki itupun bergelayut manja di lengan Mara dan meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya ini. "Bagaimana kalau resepsi pernikahan kita ini, kita batalkan saja."


Tidak hanya Mara, oma Widuri yang saat ini sudah seperti obat nyamuk di antara keintiman yang tercipta diantara Mara dan juga Dewa pun ikut mengerutkan kening. Kedua wanita berbeda generasi itu sama-sama menunjukkan ekspresi wajah penuh keheranan tatkala mendengar Dewa berceloteh seperti itu.


"M-maksud kamu bagaimana Mas? Mengapa tiba-tiba kamu ingin membatalkan acara ini?"


"Aku hanya takut jika para tamu undangan terpesona akan kecantikanmu Sayang. Bisa-bisa mereka jatuh cinta kepadamu saat memandang wajahmu yang menarik hati seperti ini."


Seakan tidak rela jika para tamu undangan terpesona akan kecantikan sang istri, sempat-sempatnya Dewa berpikir untuk membatalkan acara resepsi ini. Salah satu sifat Dewa, lelaki itu terlihat begitu posesif dengan wanita yang telah menjadi pasangan hidupnya. Ia selalu berpegang teguh pada sebuah prinsip hidup, bahwa apa yang sudah ia dapat, akan ia jaga sebaik mungkin. Mungkin hal ini akan menjadi salah satu nilai plus dalam diri lelaki itu, karena dengan begitu, tidak akan tersisa ruang dalam pikirannya untuk tidak setia terhadap pasangannya.


Oma Widuri berdecak lirih. "Kamu bicara apa Wa? Oma sudah mengeluarkan biaya yang besar untuk acara kamu ini. Bisa-bisanya kamu ingin membatalkannya."

__ADS_1


"Tapi Oma, di ballroom nanti pastinya akan banyak tamu undangan yang hadir bukan? Aku hanya takut jika mereka tertarik dan jatuh hati pada istriku ini. Tidak menutup kemungkinan jika istriku ini juga tertarik pada salah satu dari mereka kan?"


Pletakk....


Oma Widuri menghadiahi sang cucu dengan sentilan di kepalanya. "Kamu pikir, Mara ini seperti mantan istrimu? Yang dapat dengan mudah jatuh hati pada lelaki lain?"


Sembari mengusap-usap kepalanya, Dewa terlihat nyengir kuda. "Dewa takut jika itu akan terjadi, Oma!"


Mara yang sedari tadi mencoba mencerna apa yang dibicarakan oleh nenek dan cucunya itu hanya bisa terkikik geli. Bisa-bisanya sang suami memiliki pemikiran seperti itu.


"Mas..."


"Ya, Sayang?"


Mara mengusap lembut pipi Dewa dengan jemarinya. Ia tatap lekat sepasang netra milik sang suami yang terlihat begitu teduh dan penuh cinta ini.


Cup....


Sekilas, Mara memberikan sebuah kecupan singkat di bibir Dewa. "Kamu saat ini adalah lelaki paling tampan di dalam hidupku. Jadi bagaimana bisa aku tertarik pada lelaki di luar sana yang ketampanannya tidak sebanding denganmu?"


Dahi Dewa mengernyit. "Tunggu, tunggu Sayang. Tadi kamu mengatakan bahwa saat ini aku adalah lelaki paling tampan? Itu berarti sebelumnya kamu memiliki lelaki yang juga tampan?"


Mara mengangguk. "Iya Mas. Itu memang benar."


Mata Dewa terbelalak. Ia begitu terkejut karena sebelum kehadirannya, ada lelaki tampan yang singgah di kehidupan sang istri. "Siapa Sayang? Siapa?"


Raut wajah Dewa yang sudah berubah pias itu justru sukses membuat Mara terkikik geli. Buru-buru, ia mencubit hidung mancung milik suaminya ini dengan gemas. "Lelaki itu adalah ayahku, Mas."


"Aaaahhhh... Ya Tuhan, aku kira siapa Sayang!"


Gegas, Dewa kembali menghujani kening sang istri dengan kecupan-kecupan lembut dari bibirnya. Tidak hanya di kening, pipi, bibir, hidung dan dagu pun juga tidak terlewatkan.


Suara deheman dari oma Widuri sukses membuat sepasang suami istri itu menautkan pandangan mereka ke arah sumber suara. Keduanya pun hanya tergelak tatkala melihat oma Widuri sudah seperti obat nyamuk.


Oma Widuri membuang nafas sedikit kasar. "Sudah, mesra-mesranya dilanjutkan nanti lagi. Sekarang, ayo kita masuk ke ballroom. Ini sudah waktunya."


***


Suasana ballroom salah satu hotel mewah di kota Bogor nampak begitu ramai di malam hari ini. Para tim dari wedding organizer yang dipercaya untuk menghandle seluruh rangkaian acara malam ini terlihat berlalu lalang ke sana kemari untuk memastikan jika acara hari ini akan berjalan lancar tanpa satu kendala apapun.


Sebuah dekorasi yang didominasi oleh putih dan baby pink terlihat begitu apik dan memanjakan mata bagi siapapun yang berada di tempat ini. Sebuah panggung rendah dengan kursi pelaminan sudah siap. Meja-meja prasmanan dengan aneka rupa hidangan juga sudah siap. Kini tinggal menunggu sang mempelai memasuki ballroom dan kemudian mendudukkan bokong mereka di atas kursi pelaminan itu. Tak lupa, satu space khusus untuk salah grup musik dengan aliran musik jazz yang sengaja diundang untuk menyemarakkan acara hari ini juga sudah siap. Pastinya mereka sudah siap untuk menghibur para tamu yang datang ke acara ini. Menyemarakkan acara dengan lantunan nada-nada cinta yang akan kian menambah kesan romantis semakin terasa.


"Para tamu undangan silakan berdiri sejenak, kita sambut tuan Dewa dan Nyonya Mara untuk memasuki ruangan ini!"


Suara yang menggema dari seorang master of ceremony di acara ini, sukses membuat para tamu undangan yang sebelumnya terduduk di kursi yang telah disiapkan, berdiri seketika. Kepala mereka tertuju pada satu titik yang sama, pintu kembar area ballroom yang akan menjadi gerbang awal bagi sepasang suami istri itu untuk memasuki area ini.


"Sudah siap Sayang?" ucap Dewa sembari merengkuh lengan tangan Mara untuk ia tautkan di lengan tangannya.


Mara menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. Entah mengapa ia dilanda oleh rasa gugup yang begitu hebat. "Aku gugup Mas!"


Dewa mengulas sedikit senyumnya. Perlahan ia kecup kening sang istri untuk menghilangkan rasa gugupnya itu. "Jangan gugup. Malam ini kamu sangat cantik dan sempurna, Sayang."


Ucapan sang suami, berhasil mengusir rasa gugup yang sebelumnya menghampiri hati Mara. Wanita itu menegakkan kepalanya dan tersenyum simpul. "Mari kita masuk, Mas!"


Dewa menautkan pandangannya ke arah dua lelaki penjaga pintu ballroom ini. Lelaki itu menganggukkan kepalanya diiringi dengan dibukanya pintu kembar itu.


Dewa dan Mara perlahan melangkahkan kaki mereka untuk memasuki area ballroom. Semua mata tertuju pada sepasang suami istri itu. Tidak ada ekspresi wajah yang terpancar dari wajah para tamu undangan selain ekspresi terkesima akan sepasang manusia yang seakan menjelma raja dan ratu itu. Aura ketampanan dan juga kecantikan keduanya benar-benar terpancar di malam hari ini.

__ADS_1


Cruising when the sun goes down


Across the sea


Searching for something inside of me


I would find all the lost pieces


Hardly feel, deep and real


I was blinded but now I see


Hey, hey, hey you're the one


Hey, hey, hey you're the one


Hey, hey, hey I can't live without you.


Take me to your place


Where our hearts belong together


I will follow you


Cause You're the reason that I breath


I'll come running to you


Fill me with your love forever


Promise you one thing


That I would never let you go


I was blinded but now I see


Lantunan sebuah lagu dari Glenn Fredly yang dinyanyikan oleh penyanyi jazz itu, terdengar menggema mengiringi langkah kaki Dewa dan Mara untuk menuju kursi pelaminan yang telah dipersiapkan. Lagu yang begitu romantis yang semakin membuat orang-orang yang berkumpul di tempat ini juga ikut larut dalam keromantisan yang ada. Senyum merekah tiada henti menghias bibir sepasang raja dan ratu sehari itu. Keduanya nampak benar-benar bahagia.


Namun nampaknya suasana bahagia tidak dirasakan oleh salah seorang tamu undangan yang duduk di salah satu deretan kursi para tamu undangan. Seorang wanita yang sudah berdandan maksimal di acara malam hari ini dan begitu percaya diri akan jauh lebih cantik dari mempelai wanita, terlihat membelalakkan matanya tatkala sepasang pengantin itu melintas di hadapannya.


Dari raut wajahnya tersirat jelas sebuah keterkejutan yang luar biasa. Entah terkejut karena terkesima akan kecantikan mempelai wanita atau terkejut karena ia benar-benar kalah cantik dengan paras istri baru mantan suaminya ini.


Sial.... Benar kata papa, ternyata istri baru mas Dewa jauh lebih cantik daripada di foto.


"Benar bukan apa kata Papa? Istri mantan suamimu jauh lebih cantik daripada di foto!"


Ucapan sang papa sukses membuat Dita terperanjat. Ia menoleh ke arah sang papa dan memandangnya dengan tatapan sinis. "Aku tidak perduli Pa. Aku tetap yakin jika mas Dewa masih memiliki perasaan terhadapku. Meskipun hanya setitik, aku akan berupaya untuk menyiram setitik rasa itu sehingga bisa bersemi kembali."


.


.


. bersambung...


Visual Mara


__ADS_1


Lagu dari alm. Glenn Fredly kembali saya gunakan untuk part salah satu novel saya. Entah mengapa lagu You are my everything milik Glenn Fredly itu menjadi lagu favorit saya masa-masa sekarang iniπŸ˜…πŸ˜…


Hari Senin kembali datang Kakak.. Jangan lupa vote nya yaah... hehehehe agar Author remahan kulit kuaci ini bisa tambah semangat lagi 😘😘😘


__ADS_2