Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 144 : Flu


__ADS_3

Drama ngidam mie ayam pak Kliwon telah usai, kini sepasang suami istri itu kembali ke rumah untuk melepas lelah karena hampir seharian mereka dibuat lelah. Mara merasa lelah karena hampir setengah hari mie ayam yang ia mau bisa ia nikmati. Sedangkan Dewa merasa lelah karena harus memutar otak untuk membuat trik yang ia rasa cukup jitu itu.


Hatchiiihh... Hatchiiihh... Hatchiiihh...


Saat turun dari mobil, berkali-kali terdengar Dewa yang tengah bersin-bersin. Hujan mengguyur kota ini disertai dengan udara dingin yang menyelimuti, sepertinya menjadi faktor lelaki itu mulai terindikasi gejala flu. Karena semenjak keluar dari lapak pak Edi, tiada henti Dewa bersin-bersin seperti itu.


"Kalian baru pulang? Bagaimana? Apakah ketemu mie ayam pak Kliwon nya?"


Suara oma Widuri yang tengah duduk di sofa, seketika menghentikan langkah kaki Dewa dan juga Mara tatkala sedang melintas di ruang tamu.


Mara mengangguk perlahan. "Iya Oma, mas Dewa berhasil menemukan mie ayam pak Kliwon."


Oma Widuri hanya terkekeh geli. Karena drama ngidam cucu menantunya ini seperti sebuah pertunjukan yang begitu menghibur hati. "Oma harap drama ngidam kamu tidak berhenti sampai sini Sayang. Besok-besok mungkin kamu bisa meminta Dewa untuk mencari donat tapi yang bentuknya kotak, atau mencari semangka yang buahnya bergelantungan di atas. Pasti tambah pusing itu kepala suamimu."


"Issshhh mengapa Oma malah mengajari istri Dewa dengan sesuatu yang konyol? Mie ayam pak Kliwon saja sudah cukup membuat Dewa pusing. Apalagi ditambah dengan permintaan Oma yang seperti itu. Hatchiihhh... Hatchiihhh..."


Dahi Oma Widuri sedikit mengerut mendengar sang cucu bersin-bersin. "Kamu flu, Wa?"


"Sepertinya memang begitu Oma. Di luar hujan turun sangat deras, udara juga dingin. Sepertinya tubuh Dewa tidak kuat untuk menahannya."


"Cckkkk cckkkk lebay kamu Wa. Sudah, masuk kamar, bersihkan tubuhmu lalu istirahat. Biar aku minta Darmi untuk membuatkan jahe hangat untukmu."


"Oma, biar Mara saja yang membuat wedang jahe untuk mas Dewa. Mbok Darmi biar beristirahat saja. Kasihan sudah malam seperti ini harus membuatkan wedang jahe."


"Tapi kamu pasti capek kan Sayang? Karena hampir seharian kamu berkeliling mencari mie ayam? Biar Darmi saja yang membuatkan untuk Dewa."


Mara hanya tersenyum tipis. Ia rasa sangat berlebihan jika kualitas beristirahat mbok Darmi harus terganggu hanya untuk satu gelas wedang jahe. "Tidak perlu, Oma. Biar Mara saja ya, yang membuat."


"Hmmmmm baiklah kalau begitu Sayang. Oma juga ingin segera beristirahat. Rasa-rasanya badan Oma ini juga sedikit lelah." Oma Widuri melirik ke arah Dewa yang masih bersin-bersin itu. "Lekas beristirahat Wa. Untuk malam ini libur dulu aktivitas kamu untuk bercinta dengan istrimu. Kamu bisa flu seperti ini juga terlalu sering keramas di malam hari."

__ADS_1


Ucapan oma Widuri sukses membuat hati Dewa sedikit tersentil. Lelaki itupun hanya bisa tersenyum kikuk dan menggaruk pucuk hidungnya yang tidak gatal. "Iya Oma. Akan Dewa laksanakan semua saran Oma ini!"


"Baguslah kalau begitu. Awas saja kalau masih ngeyel. Aku potong burungmu," kelakar oma Widuri sembari melenggang pergi meninggalkan ruang tamu.


"Ya sudah, sekarang kamu mandi pakai air hangat ya Mas. Aku buatkan wedang jahe dulu untukmu."


"Terimakasih banyak Sayang."


***


Secangkir wedang jahe sudah berada di tangan Mara. Perlahan, ia langkahkan kakinya memasuki kamar pribadi. Wanita itu hanya tersenyum tatkala melihat sang suami telah tertidur pulas di atas ranjang.


Ia letakkan secangkir wedang jahe itu di atas nakas, setelahnya ia daratkan bokongnya di tepi ranjang. Senyum simpul terbit begitu saja di bibir wanita yang tengah hamil enam bulan itu. Sebuah senyum yang menjadi sebuah gambaran bahwa ia teramat bahagia memiliki sosok seorang suami seperti Rangga Danabrata Dewandaru ini.


Cup ...


Sebuah kecupan lembut, Mara daratkan di kening Dewa. Sebuah kecupan yang dipenuh dengan rasa syukur akan apa yang telah Tuhan berikan kepadanya.


Usapan lembut jemari Mara, sukses membuat mata lelaki yang tengah tertidur itu mengerjab. Tak selang lama, kelopak matanya pun terbuka sempurna.


"Sayang... Hatchiiihh... Hatchiiihh!!"


"Bagun sebentar yuk Mas. Minum wedang jahenya dulu. Biar badanmu hangat."


Dewa menggeser tubuhnya untuk bisa bersandar di head board ranjang. Mara ambil secangkir wedang jahe itu lalu ia berikan kepada sang suami.


"Terimakasih Sayang!"


"Ya Mas!"

__ADS_1


"Sssrrrpppp... Enak sekali Sayang. Di badan jadi terasa hangat."


Satu sesap wedang jahe mengalir di kerongkongan Dewa yang seketika menebarkan sensasi rasa hangat di sekujur tubuh lelaki itu. Lagi, lagi dan lagi ia menyesap minuman hangat yang ada di tangannya dan tak perlu menunggu lama, wedang jahe itu telah tandas tanpa bekas.


"Sudah habis, sekarang kamu istirahat ya Mas."


"Sayang, aku ingin tidur di pangkuanmu."


Mara naik ke atas ranjang dan mulai mengambil posisi bersandar di head board. Gegas, Dewa mulai meletakkan kepalanya di atas pangkuan sang istri.


"Kamu pasti lelah ya Mas? Maafkan aku karena permintaanku yang aneh itu sampai membuatmu kelelahan seperti ini," dengan lembut Mara mengusap-usap kening Dewa, mentransfer rasa nyaman untuk suaminya ini.


Dewa menggeser tubuhnya, mengambil posisi miring hingga kini lelaki itu bisa berhadapan langsung dengan perut Mara yang sudah mulai membuncit itu. Dikecupnya perut Mara dengan intens yang seketika mengalirkan rasa hangat sekaligus bahagia dalam jiwanya.


"Rasa lelahku untuk mencari mie ayam pak Kliwon, tidak sebanding dengan rasa lelahmu membawa buah cinta kita kemanapun kamu berada Sayang. Baru berusia enam bulan saja kamu sudah terlihat begitu kelelahan seperti ini. Bagaimana jika nanti sudah memasuki usia sembilan bulan? Pasti akan sangat melelahkan."


Mara tergelak mendengar ucapan sang suami. "Mungkin rasa bahagiaku karena akan segera menjadi seorang ibu itulah yang meluruhkan rasa lelah itu Mas. Sehingga tidak ada perasaan lain selain perasaan bahagia karena Tuhan memberikanku kepercayaan dengan kehadiran seorang malaikat kecil yang tumbuh di dalam rahimku ini. Maaf jika permintaanku sering membuatmu kelimpungan ya Mas."


Dewa menggelengkan kepalanya pertanda tidak sependapat dengan istrinya ini. "Tidak Sayang. Aku sama sekali tidak merasa kelimpungan ataupun kerepotan. Aku justru bahagia bisa mendampingimu dalam melewati masa-masa kehamilanmu ini. Semoga aku bisa terus berada di sisimu ya Sayang."


Mara sedikit terkesiap tatkala mendengarkan penuturan Dewa. Entah mengapa hati kecilnya berbisik jika akan ada sesuatu yang terjadi dengan suaminya ini. "Mas, kamu bicara apa? Memang kamu mau kemana? Bukankah kamu akan selalu berada di sisiku? Tapi mengapa kamu mengatakan hal itu?"


Dewa terkekeh geli. Dikecupnya lagi perut Mara dengan kecupan lembut. "Papa pasti akan selalu berada di dekatmu Nak. Kamu adalah pemberian Tuhan yang begitu indah. Sehat-sehat selalu di dalam perut mama ya Sayang. Semoga sebentar lagi kita bisa segera bertemu." Dewa sedikit mendongakkan kepalanya. Ia tatap kedua netra milik istrinya ini dengan tatapan penuh cinta. "Aku mencintaimu, istriku. Sungguh-sungguh mencintaimu!"


.


.


. bersambung....

__ADS_1


Mohon maaf baru bisa update ya kakak-kakak semua... Hehehe hehehe sedang ada acara ini... 🤗🤗



__ADS_2