Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 164 : Arsyanendra Chandra Shankara


__ADS_3

"Iya Bu, tarik nafas panjang .... ayo dorong lebih kuat lagi!"


"Ngggghhhhhhhhhh....!!"


Oeeeee.... Oeeee.... Oeeeee..


Suara tangis khas seorang bayi baru lahir terdengar nyaring memenuhi ruang bersalin di sebuah rumah sakit yang ada di kota ini. Setelah mengalami ketuban pecah dini, namun tidak diiringi dengan kontraksi dan pembukaan, pada akhirnya dokter Sastri memilih metode induksi untuk bisa mengeluarkan bayi dari dalam rahim Mara.


Jenis induksi yang dipilihkan oleh dokter Sastri adalah induksi mentosa. Salah satu jenis metode induksi dengan menggunakan obat-obatan. Nantinya obat-obatan ini akan bekerja di reseptor-reseptor dalam rahim sehingga memacu terjadinya kontraksi. Sedangkan obat yang digunakan dalam metode ini ada dua macam yaitu oksitosin dan prostagladin E1. Dan oksitosin lah yang dipilihkan oleh dokter Sastri untuk Mara, yaitu berupa cairan dan dimasukkan melalui selang infus.


"Selamat ya Pak, Bu ... putra Anda lahir dengan selamat, sehat, lengkap dan tampan!"


Setelah dua orang suster membersihkan tubuh bayi yang masih merah itu, mereka serahkan kembali kepada dokter Sastri, dan setelahnya gegas ia serahkan kepada Dewa.


Dengan tangan bergetar, Dewa meraih tubuh malaikat kecilnya ini dengan rasa yang mengharu biru. "Ya Tuhan ... kamu sangat tampan Sayang."


Dewa yang sebelumnya berdiri di samping dokter Sastri, kini ia geser tubuhnya untuk mendekat ke arah sang istri. Dengan raut wajah yang dipenuhi oleh kebahagiaan, Dewa mendekatkan tubuh putranya itu kepada Mara.


"Ya Tuhan ... kamu benar-benar mirip dengan papamu, Sayang."


Rasa sesak tetiba memenuhi rongga dada Mara. Setelah mengalami proses panjang kelahiran putra pertamanya ini, akhirnya ia bisa melihat wujud malaikat kecil yang hampir sembilan bulan lamanya berada di dalam rahimnya. Tidak ada yang dapat ia ucapkan selain rasa syukur kepada Tuhan, karena sang putra bisa lahir dengan selamat.


Tanpa permisi, kristal-kristal bening dari jendela hati milik wanita yang baru saja melahirkan putra pertamanya itu jatuh satu persatu. "Putra Mama... Kamu sungguh tampan Sayang. Lihatlah, mata, hidung dan bibir kamu mirip sekali dengan milik Papa."


"Itu artinya kamu benar-benar mengakui bahwa aku ini memang tampan dan sempurna kan Sayang?"


"Hmmmmmm... Iya Mas, iya!"


"Baik bu Mara, sekarang kita lakukan proses IMD ya. Yang sering dikenal dengan inisiasi menyusu dini."


"Mengapa tidak menyusui dini Dok?"

__ADS_1


"Itu karena nantinya yang akan bergerak aktif adalah si kecil. Jam pertama bayi menemukan pay*udara sang ibu merupakan awal suatu life-sustaining between mother and child. Sedangkan untuk caranya seperti ini ya Bu." Dokter Sastri meletakkan putra pertama Dewa dan Mara diantara perut dan dada. "Nah, dengan posisi seperti ini, akan kita beri kesempatan si kecil untuk menyusu sendiri dengan cara merangkak mencari pay*udara (the breast crawl) dan membiarkan kontak kulit bayi dengan sang ibu."


Binar-binar kebahagiaan kembali nampak di wajah Mara tatkala melihat sang putra telah berhasil menemukan sumber kehidupannya. Sungguh sebuah sensasi rasa yang berbeda dan teramat membahagiakan tatkala pu*tingya mulai dihisap oleh putranya ini.


"Sungguh sempurna kamu Sayang. Kamu benar-benar jenius, tanpa Papa beri tahu terlebih dahulu bagian tubuh Mama yang paling nikmat, kamu sudah langsung bisa menemukannya. Benar-benar hebat kamu. Tapi jangan banyak-banyak ya, Nak. Sisakan sedikit untuk Papa!"


Ucapan Dewa yang tanpa filter itu sukses membuat pipi Mara memerah bak buah tomat. Malu sungguh malu, karena sang suami mengatakan hal itu di depan dokter Sastri dan juga dua perawat yang berada di ruangan ini. Dan benar saja, dokter dan kedua suster itu hanya bisa terkikik geli.


"Psssttt.. Mas! Bicara apa sih kamu!"


Sedangkan Dewa hanya bersikap acuh tak acuh.


"Apakah pak Dewa dan ibu Mara sudah mempersiapkan nama untuk putra tampan ini?" ucap dokter Sastri mencoba mencari pokok pembicaraan yang baru.


Satu hal yang dilupakan oleh Mara, sampai saat ini ia sama sekali belum mempersiapkan nama. Mara sedikit melirik ke arah sang suami, sebagai sebuah isyarat bahwa ia sama sekali belum mencarikan nama untuk putranya ini.


"Sudah Dok, saya sudah menyiapkan sebuah nama untuk putra pertama saya ini." Dewa membungkukkan tubuhnya dan mengecup kepala bayi kecil ini. "Putra pertama saya ini, saya beri nama Arsyanendra Chandra Shankara."


"Nama yang indah sekali Mas. Artinya apa Mas?"


"Huh, aku kira kamu sendiri Mas, yang ngasih nama itu. Tahunya mbak Rasti juga."


"Ya biarkan saja Sayang... Dia kan yang nulis cerita ini, jadi suka-suka dia saja lah!"


Ceklek...


"Tuan... Nyonya..."


Kedatangan tiba-tiba mbok Darmi di ruangan ini sontak membuat Mara dan Dewa menautkan pandangan mereka ke arah sumber suara.


"Ya Mbok, ada apa?"

__ADS_1


"Begini Tuan, sepertinya Tuan dan Nyonya melupakan satu hal."


Dewa dan Mara saling melempar pandangan. Diiringi dengan dahi yang sama-sama mengerut. "Apa itu Mbok?"


"Kamar dan semua perlengkapan untuk Aden kecil ini belum tersedia di rumah. Lalu nanti mau ditempatkan di mana?"


Dewa dan Mara terkesiap. Benar, bahwa mereka belum sempat untuk mempersiapkan kamar untuk Nendra dan juga semua perlengkapannya.


"Ya ampun, mbok Darmi benar, aku sama mas Dewa lupa belum mempersiapkan semuanya. Lalu bagaimana Nendra bisa mendapatkan pakaian dan bedong bayi ini Mbok?"


"Anu Nyah, tadi saya meminjam ke ibu-ibu yang baru saja melahirkan putrinya."


"Ya Tuhan ... mengapa aku jadi lupa begini sih? Aku kira masih bulan depan kamu akan lahiran Sayang, maka dari itu aku belum mempersiapkan semua untuk menyambut kelahiran putra kita ini. Ternyata dia ingin lahir lebih cepat dari hari prakiraan lahirnya," lirih Dewa yang juga sedikit merutuki kebodohannya.


Gegas, Dewa mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Kemudian...


"Hallo kak Wisnu!"


"...."


"Kak, tolong persiapkan kamar bayi untuk keponakan Kakak ya. Sekalian belikan semua perlengkapannya. Mulai dari popok, baju, sweater, sepatu, bedong dan semua yang berhubungan dengan perlengkapan bayi."


"...."


"Aaahhh hanya masalah seperti ini saja masa tidak bisa Kakak lakukan? Sudah, pokoknya sebelum Mara dan anakku keluar dari rumah sakit, kamar untuk anakku harus sudah siap!"


Tut.... Tut.... Tutt...


"Tenang Sayang, kak Wisnu akan mempersiapkan semuanya untuk putra kita."


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2