
"Jadi bagaimana? Apa kalian setuju dengan rencanaku?"
Nining, yang tak lain adalah istri pertama Karta, pagi ini sengaja mengumpulkan para madunya untuk membicarakan perihal rencana membantu gadis belia yang digadang-gadang akan menjadi istri keempat suami mereka untuk bisa keluar dari rumah ini.
Naluri Nining sebagai seorang wanita sekaligus seorang ibu, benar-benar tidak bisa menerima jika harus membiarkan mimpi-mimpi bahkan kehidupan gadis belia itu harus terhenti di tempat ini. Meskipun tempat ini sama halnya dengan sebuah sangkar emas, di mana setiap apa yang mereka mau dapat terpenuhi, namun tempat ini benar-benar akan menjadi titik akhir bagi seorang gadis yang masih memiliki hak untuk mewujudkan apa yang menjadi mimpi, angan, serta cita yang ia punya.
Dengan dalih tidak ingin harta sang suami dibagi lagi untuk istri barunya, yang bisa jadi istri baru itu akan memperoleh hak yang lebih besar, Nining mencoba mencari celah, agar apa yang telah ia janjikan kepada Mara bisa tertunaikan. Dan benar saja, para madu Nining seakan sependapat dengannya.
"Benar apa yang dikatakan oleh Mbakyu, jika kita membiarkan gadis itu menjadi istri keempat kangmas, pastinya warisan yang akan dibagi untuk kita semakin menyusut," ucap Yati yang tak lain adalah istri kedua Karta.
Yang lainnya nampak mengangguk-anggukkan kepala mereka, pertanda sependapat dengan ucapan Yati.
"Terlebih jika gadis itu bisa memberikan keturunan laki-laki seperti apa yang menjadi keinginan kangmas, pasti suami kita semakin cinta dengan gadis itu dan bisa-bisa kita tersisih," timpal Harti yang tak lain istri ketiga Karta.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan, Mbakyu?" sambung Yati yang ingin tahu apa yang menjadi rencana wanita berusia hampir senja itu.
Nining terlihat seperti sedang berpikir. Tak butuh waktu lama, seutas senyum manis terbit di bibirnya. "Aku punya cara. Dan kita harus melakukan ini bersama-sama."
Yati dan Harti saling melempar pandangan dan sama-sama mengendikkan bahu.
"Apa itu Mbakyu?"
***
"Jaga baik-baik tas berisi uang itu Bu. Jangan sampai para rampok atau penjahat mendekat ke arah kita."
Dengan berbisik lirih, Puspa mengingatkan sang ibu untuk berhati-hati dalam membawa tas berisi uang lima milyar itu. Di tempat seperti ini sangatlah rawan dengan orang-orang yang memiliki niat jahat. Seperti rampok, pencopet, ataupun para ahli gendam yang membuat korbannya tidak berdaya seakan mengikuti semua yang ia perintahkan.
"Tenang saja, uang ini sudah aman," ucap Tanti penuh percaya diri.
Tanti menyapu pandangannya ke sekeliling. Terlihat bus-bus besar sudah berjejer rapi menunggu penumpangnya. Setelah dua tiket perjalanan ke Bogor sudah mereka kantongi, ibu dan anak itupun mengayunkan kaki mereka ke sebuah bus AKAP yang akan mengantarkan mereka ke kota Bogor. Dan bus yang akan mereka tumpangi berhasil mereka temukan.
Kedua wanita itu mencocokan nomor bangku dengan nomor yang ada di dalam tiket. Dan akhirnya, di nomor seat 29 dan 30, ibu dan anak itu mendaratkan bokong mereka.
"Akhirnya... Kita kaya Bu!!"
Pekik Puspa kegirangan sembari mengeluarkan ponsel dari dalam tas yang ia bawa. Dengan fitur kamera yang ada di ponselnya, ia sibuk ber-selfie kemudian ia unggah ke akun Instagram yang ia miliki. Ia mengunggah foto itu dengan caption 'otw kota masa depan.'
Tanti tak kalah girang. Wanita yang sejak dulu selalu hidup dalam gelimang harta itu tidak bisa menerima kehidupannya jungkir balik saat menjadi istri Baskara, yang membuatnya berambisi untuk menikahkan Mara dengan seorang juragan kaya raya. Dan akhirnya hari ini semua kerja keras yang telah ia lakukan membuahkan hasil.
"Ya, saat ini kita benar-benar telah menjadi orang kaya. Sampai di Bogor nanti, kita pikirkan akan kita apakan uang lima milyar ini?"
__ADS_1
"Menurut Ibu, usaha apa yang akan kita bangun untuk memanfaatkan uang ini?"
Masih sambil mendekap erat tas berisi uang lima milyar itu, Tanti terlihat sejenak berpikir. "Bagaimana kalau kita membuka usaha salon dan spa? Bukankah kamu memiliki ilmu yang cukup banyak di bidang itu? Jadi Ibu rasa, usaha itulah yang bisa kita mulai bangun."
Puspa merotasikan kedua bola matanya. Memikirkan, dan menimbang-nimbang apa yang diusulkan oleh sang ibu. Pada akhirnya gadis itu mengangguk. "Ide yang bagus Bu. Dengan begitu, pundi-pundi kekayaan kita akan semakin bertambah."
"Ya... Itu benar sekali Pus." Tanti memindah tas yang ia dekap di sela-sela tempat duduknya dengan Puspa. "Sekarang, biarkan Ibu yang tidur terlebih dahulu. Sedangkan nanti malam, gantian kamu yang tidur. Kita harus berbagi tugas untuk menjaga uang ini Pus."
"Baiklah Bu!"
Tanti mulai memejamkan mata. Wanita paruh baya itu merasakan tubuhnya begitu lelah. Benar-benar lelah untuk bisa kembali menangkap anak tirinya itu. Namun kini rasa lelah itu seakan menguap seketika, berganti menjadi kebahagiaan yang tiada terkira.
Tak selang lama, bus yang ditumpangi oleh Tanti dan juga Puspa mulai bergerak. Perlahan, bus itu melaju, meninggalkan terminal dan hanya menyisakan jejak-jejak roda di atas aspal yang sebentar lagi akan menghilang dengan sendirinya.
***
"Betul itu Kangmas, kami ingin mengenal calon istri keempat Kangmas dengan baik, jadi nantinya kami bisa berkolaborasi untuk melayani Kangmas dengan baik pula."
Harti menimpali ucapan Nining yang mana wanita itu meminta izin untuk membawa Mara ke pasar. Wanita itu berdalih ingin mengenal Mara lebih dekat dengan mengajak gadis itu jalan-jalan ke pasar.
Karta mencoba menelisik wajah para istrinya ini satu persatu. Dalam raut wajah mereka, seakan memancarkan aura positif, di mana mereka benar-benar ingin mengenal Mara lebih dekat lagi. Dan hal itulah yang membuat hati Karta sedikit lega, karena kehadiran Mara bisa diterima dengan baik oleh istri-istrinya.
"Baiklah, aku mengizinkan kalian membawa Mara. Memang seharusnya seperti itu. Antar istri memang sudah seharusnya saling menerima dan menyayangi."
Tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun kepada istri-istrinya, Karta mengizinkan ketiga istrinya itu untuk membawa Mara ke pasar. Lelaki itu justru nampak begitu bahagia bisa melihat keakraban istri-istrinya itu.
"Kalau begitu, akan segera aku panggilkan Mara. Kalian bersiap-siaplah!"
"Baik Mbakyu!"
Nining melenggang menuju kamar Mara. Di dalam kamar, Mara masih terlihat berdiri di depan jendela dengan tatapan kosong seolah sedang menanti sebuah keajaiban yang barangkali tiba-tiba akan datang kepadanya.
"Cah ayu?!"
Panggilan seseorang dari belakang punggungnya, membuat Mara sedikit terkejut. Ia membalikkan badannya dan terlihat istri pertama Karta menghampirinya.
"Bu?"
Nining mengulum sedikit senyumnya. Ia berjalan mendekat ke arah Mara dan meraih tubuh gadis itu untuk ia bawa ke dalam pelukannya. "Jangan bersedih lagi Cah ayu. Sekarang, kamu bersiap-siaplah."
"Bersiap-siap?" masih berada di dalam pelukan Nining, Mara mencoba meminta sebuah penjelasan.
Nining menganggukkan kepalanya. Dengan penuh kasih sayang wanita hampir memasuki usia senja itu membelai rambut Mara dengan lembut. "Iya Cah ayu, bersiap-siaplah untuk kembali mendapatkan kebebasanmu."
__ADS_1
Mara sedikit mengurai pelukannya. Ia tatap lekat netra wanita ini dengan tatapan meragu. "T-tapi jika sampai juragan Karta mengetahui rencana ini bagaimana Bu?"
Nining hanya bisa tersenyum simpul. "Kamu tidak perlu memikirkan hal itu Cah ayu. Biarkan ini menjadi tugas kami sebagai istri juragan Karta."
Luruh sudah bulir bening yang sempat tertahan di pelupuk mata mata Mara. Ia tidak menyangka jika Tuhan mengirimkan pertolonganNya melalui orang-orang baik yang ada di sekelilingnya.
"Ibu....?"
Mara kembali memeluk tubuh Nining dengan erat. Ia menumpahkan semua air matanya di dekapan wanita paruh baya ini. Bibirnya terkatup tak dapat berucap apapun. Gadis itu sesenggukan di dalam pelukan Nining.
"Sudah Cah ayu. Mari kita segera keluar dari tempat ini. Semakin cepat kamu keluar dari tempat ini, maka semua mimpi yang kamu inginkan akan bisa segera terwujud."
"Terimakasih banyak Bu. Terimakasih!"
Nining sengaja membawakan untuk Mara pakaian milik putrinya. Agar gadis itu bisa berganti pakaian. Karena bagaimanapun juga gaun yang dipakai oleh gadis ini akan membuatnya kesusahan untuk bergerak.
Tak membutuhkan waktu lama, Mara telah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dibawakan oleh Nining. Sedangkan gaun yang ia kenakan, ia masukkan ke dalam kantong plastik. Ia berharap semoga suatu saat nanti dengan gaun itu bisa kembali mempertemukannya dengan Dewa, lelaki yang sudah berhasil membuatnya jatuh hati. Tak lupa, secarik kertas pemberian Pramono, ia simpan ke dalam belahan dadanya.
"Nah, ikutlah dengan istri-istriku ini. Mereka semua adalah wanita-wanita baik yang akan memperlakukanmu dengan baik pula," ucap Karta pada saat melihat Mara keluar dari kamar dengan digandeng oleh Nining.
Mara hanya menundukkan wajahnya. "Iya, Juragan."
"Ayo semua, kita berangkat. Mumpung cuaca masih belum terlalu panas," ucap Nining mengajak semua madunya untuk menjalankan misi ini.
"Ayo Mbakyu!" ucap Yati dan Harti bersamaan.
"Kangmas, kami berangkat terlebih dahulu."
"Ya, kalian berhati-hatilah."
Mara dan ketiga istri Karta mulai melenggang pergi meninggalkan rumah mewah ini. Karta yang melihat pemandangan seperti ini nampak dipenuhi oleh perasaan bahagia. Karena jarang sekali seorang istri bisa begitu akrab dengan madu-madunya. Namun dalam rumah tangga yang ia jalani ini serasa semua saling menyayangi satu sama lain. Tanpa ia ketahui, bahwa di balik itu semua sudah tersusun rencana yang begitu matang untuk menyelamatkan gadis belia itu untuk bisa terlepas dari jeratannya.
Jantung Mara kembali berdegup kencang. Ia sedikit was-was jika tiba-tiba juragan Karta mengendus semua rencana Nining.
"Tunggu!" teriak Karta, sebelum wanita-wanita itu sampai di beranda depan.
Keempat wanita itu sedikit terkejut. Wajah mereka nampak pias. Khawatir jika Karta mengetahui apa yang telah mereka rencanakan.
"Aku rasa kalian....."
.
.
__ADS_1
. bersambung....
Hayollllooohhh... Apakah Karta mengendus aroma-aroma sesuatu yang akan memperdayainya? Heeehee tunggu episode selanjutnya ya Kak...😘😘😘