
"Aaaaaahhh... Pelan-pelan Ra! Ini sakit sekali!"
"Tuan ini benar-benar lemah. Hanya seperti ini saja teriak-teriak!"
"Sumpah, ini sakit sekali Ra!"
Rangga Danabrata Dewandaru tiada henti memekik kesakitan tatkala tangan Mara menyusuri tiap jengkal punggungnya. Barangkali, jika Mara menyusuri punggungnya dengan sentuhan-sentuhan lembut, mungkin Dewa akan merasakan sebuah kenikmatan, namun kali ini, gadis itu menggunakan koin logam untuk mengerik punggungnya.
"Hahaha haahaahaa.... Benar-benar membuat malu gelar seorang laki-laki yang melekat pada diri kita, kamu Wa. Masa hanya dikerokin saja kamu teriak-teriak? Terlalu berlebihan kamu!"
"Diam kamu Kris! Ini sungguh sakit sekali. Kulitmu rasanya seperti terkelupas!" timpal Dewa tidak terima jika ia dianggap mempermalukan gelarnya sebagai seorang laki-laki.
"Huh, benar-benar cemen kamu!"
Di kamar, Dewa tidak hanya ada dirinya dan gadis itu seorang. Ada juga Krisna yang menemani dua orang itu. Selesai makan di restoran yang sempat mereka singgahi tadi, tiba-tiba Dewa muntah-muntah. Ia keluarkan seluruh isi di dalam perutnya. Sama seperti setelah ia mencoba menaiki wahana kora-kora.
Muntahnya Dewa membuat Mara begitu panik, cemas dan merasa bersalah. Ia yakin jika muntahnya Dewa karena masuk angin akibat terlalu lama berendam di pantai. Dan itu semua karena kejahilannya. Oleh karena itu, untuk menebus semua rasa bersalahnya, gadis itu berinisiatif untuk mengerik punggung Dewa. Sama seperti yang selalu ibundanya lakukan ketika ia masuk angin.
Dewa meringis menahan sensasi rasa perih di permukaan kulitnya. "Ra, pelan-pelan. Itu sakit sekali. Aaahhhhh..."
"Tuan, jika saya pelankan bagaimana bisa angin yang ada pada tubuh Tuan ini keluar? Lihatlah, badan Tuan abang-ireng!"
Mara masih bersemangat membuat pola layaknya hewan zebra di punggung Dewa. Apalagi garis-garis yang terbentuk terlihat begitu rapi dan rapat sehingga memiliki nilai estetika yang tinggi jika dipandang.
"Abang-ireng itu apa? Aku tidak paham!"
"Abang-ireng itu warna merah yang kehitam-hitaman Tuan. Itu menandakan jika Tuan masuk angin."
"Huh, ini semua gara-gara kamu Ra. Kalau saja kamu tidak mengajariku 'ndherek langkung segawon' pasti aku tidak akan seperti ini."
Mara hanya terkekeh pelan. Ada rasa bersalah jika ia mengingat kejadian yang dialami oleh Dewa, namun tetap saja kejadian itu merupakan kejadian yang sangat lucu yang mungkin akan selalu ia ingat.
Mara mengusap seluruh permukaan punggung Dewa dengan telapak tangannya. "Sudah selesai Tuan, sekarang Tuan beristirahatlah!"
Mara hendak mengayunkan kakinya untuk keluar dari kamar Dewa setelah selesai mengerik punggung Dewa. Namun...
"Tetaplah di sini Ra! Jangan pergi!"
Dewa menarik lengan tangan Mara berupaya untuk menahan gadis itu keluar kamar.
__ADS_1
"Tapi tugas saya sudah selesai Tuan. Sekarang Tuan bisa segera beristirahat, agar kondisi tubuh Tuan bisa segera pulih."
"Tidak Ra. Tetaplah di sini. Aku ingin tidur di pangkuanmu!"
Mara terperangah. "Tidur di pangkuan saya? Maksud Tuan bagaimana?"
Dewa kembali mengenakan kaos tipis berwarna putih. Ia menepuk-nepuk tepi ranjangnya. "Naiklah ke sini!"
"Tapi Tuan...?"
"Kamu masih harus bertanggung jawab atas kejahilan yang kamu lakukan Ra. Saat ini aku belum sembuh, jadi sudah selayaknya kamu mengurusi aku sampai sembuh." Dewa kembali menepuk-nepuk tepi ranjangnya. "Cepatlah kemari. Aku ingin segera tidur."
Pada akhirnya Mara menurut. Ia naik ke atas ranjang, bersandar di head board dan selonjoran. Tanpa membuang banyak waktu, Dewa mengambil posisi. Ia letakkan kepalanya di atas paha Mara.
Dewa menatap intens wajah cantik Mara dari tempatnya berbaring. Sang gadis hanya tertegun dan terpaku, tidak tahu harus melakukan apa. Ditambah lagi ditatap intens oleh lelaki yang tengah meletakkan kepalanya di pahanya ini.
"Elus-elus Ra!"
Mara terkesiap. "Elus-elus? Apanya Tuan yang di elus-elus?"
Dewa menyunggingkan sedikit senyumnya. "Kalau kamu aku minta untuk memilih, kamu maunya mengelus-elus apa?"
Mara semakin terperangah. Ucapan Dewa sungguh membuatnya mati gaya. "Saya tidak akan memilih apapun Tuan."
Perlahan, jemari tangan Mara mengelus-elus kening perjaka sedikit duda itu. Sedangkan yang dielus-elus masih menatap intens wajah cantik sang gadis. Perlakuan Mara ini benar-benar terasa nyaman. Saking nyamannya, lelaki itu memejamkan mata tatkala rasa kantuk sudah menghampirinya.
Mara masih berkutat dengan aktivitasnya. Bahkan tidak hanya di kening Dewa. Gadis itu menggeser jemarinya untuk mengusap lembut rambut dan pipi Dewa. Seutas senyum terbit begitu saja di bibir tipis gadis itu. Entah perasaan apa yang menggelayuti hatinya yang membuatnya merasa begitu dekat dengan lelaki ini. Dan mata Dewa yang terpejam, seakan membuat wajah laki-laki ini terlihat begitu meneduhkan.
Tuan Dewa... Lelaki asing yang baru saja aku kenal. Namun sudah mampu membuat hatiku merasakan sesuatu yang lain seperti ini. Ahhhhh... entah perasaan apa itu. Yang pasti aku merasakan sebuah kenyamanan ketika berada di dekat lelaki ini. Tuhan, apakah mungkin aku benar-benar sudah jatuh cinta kepada lelaki ini?
Mara sibuk bermonolog dalam hati, masih dengan mengusap-usap wajah tampan Dewa. Sedangkan Krisna, bujang lapuk itu hanya bisa terperangah melihat adegan romantis dua orang yang sama-sama sedang jatuh cinta ini. Meskipun ia sering bermain perempuan, namun tetap saja hatinya seakan ikut meleleh jika melihat keromantisan seperti yang nampak di depan matanya ini.
"Ra?!"
Panggilan Krisna seketika mengagetkan Mara yang tengah larut dalam pikirannya sendiri. Gadis itu menoleh ke arah Krisna yang tengah duduk di sofa.
"Ya Tuan?"
"Apakah kamu mencintai Dewa?"
Gadis itu terkesiap mendengar pertanyaan Krisna yang sama sekali belum bisa ia jawab. "S-Saya tidak tahu Tuan. Saya tidak begitu paham apakah ini perasaan cinta atau hanya sekedar rasa nyaman."
__ADS_1
Dahi Krisna sedikit mengernyit. "Nyaman? Mengapa kamu bisa merasa nyaman tatkala berada di dekat Dewa?"
"Entahlah Tuan, saya juga tidak paham dengan ini semua. Saya seperti mendapatkan kembali kasih sayang seorang laki-laki yang sempat hilang dari dalam hidup saya."
"Kasih sayang dari seorang laki-laki yang sempat hilang dari hidupmu? Apakah sebelumnya kamu pernah memiliki seorang kekasih?"
"Tidak Tuan, lelaki yang saya maksud itu adalah ayah saya. Namun sebentar lagi itu semua akan kembali seperti semula."
Krisna membuang nafas lega. Ia pikir gadis di depannya ini pernah terlibat perasaan dengan lelaki lain. Namun ternyata lelaki itu adalah ayahnya.
"Jika Dewa memiliki niat untuk menikahimu, apakah kamu akan menerimanya Ra?"
Kedua bola mata Mara terbelalak. "M-Menikahi saya?"
Krisna menganggukkan kepalanya. "Iya, menikahimu. Apakah kamu akan menerimanya?"
"S-Saya...."
Krisna tersenyum simpul. "Tidak perlu kamu jawab sekarang. Simpan dulu jawabanmu sampai besok malam. Karena mungkin besok malam, Dewa akan meminta jawaban langsung darimu."
Pipi Mara menghangat hingga membiaskan warna merah jambu di sana. Sungguh ucapan Krisna ini benar-benar membuatnya penasaran tentang apa yang akan disampaikan oleh Dewa besok malam.
Tuhan, apakah benar jika Tuan Dewa akan melamarku?
Krisna yang melihat perubahan raut wajah Mara hanya bisa tersenyum simpul. Entah mengapa, ia juga merasakan sebuah kebahagiaan tatkala sahabat sekaligus bos nya ini akan kembali menemukan kebahagiaannya yang sempat hilang.
Benar-benar duda ini begitu memikat hati. Usianya yang hampir kepala empat, bisa meluluhkan hati seorang gadis berumur dua puluh tahun? Kamu memakai ilmu apa sih Wa? Seharusnya kamu membagi ilmu itu kepadaku.
.
.
. bersambung....
Hai-hai para pembaca tersayang... Alhamdulillah kita sudah sampai di part 40. Bagaimana? Bosan? Atau masih mau lanjut lagi? Hehehehe pastinya lanjut lagi dong ya... 😘😘😘😘
Nah, besok malam Dewa dan Mara akan kembali dinner. Apakah sekalian Dewa melamar Mara secara langsung? Jika iya, jawaban apa ya yang akan diberikan oleh Mara? Hehehe heeehee penasaran? penasaran? penasaran? tunggu episode selanjutnya ya Kak..😘
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada author remahan kulit kuaci ini dengan vote, poin, koin, like, komentar, ataupun favorit ya kak.. Dukung lewat doa juga tidak apa-apa. Doakan agar author remahan kulit kuaci ini bisa naik kasta untuk menjadi rempeyek yah.... hehehe 🤗🤗
Banyak cinta untuk Kakak-kakak semua...
__ADS_1
Salam love, love, love❤❤❤