
"Oma, silakan dinikmati teh madu hangatnya!"
Mara meletakkan secangkir teh madu hangat yang baru saja ia buat untuk sang oma. Menyesap aroma khas daun teh yang diseduh air hangat dengan campuran sedikit madu seakan sangat cocok untuk dinikmati di pagi yang dingin ini.
"Terimakasih Sayang!" ucap oma Widuri menerima teh buatan Mara dan mulai menikmatinya. "Bagaimana tidurmu semalam Sayang? Nyenyak?"
Mara menganggukkan kepalanya. "Nyenyak Oma. Bahkan sangat-sangat nyenyak."
"Syukurlah Sayang. Oma kira kamu membutuhkan adaptasi yang lama dengan suasana kota Bogor yang mungkin berbeda dengan suasana Jogja, namun ternyata hanya beberapa saat saja kamu bisa beradaptasi dengan baik."
Mara tersenyum simpul. "Jogja dan Bogor sama kok Oma. Sama-sama masih berada di pulau Jawa, hihihihi."
"Hahahaha haahaahaa kamu ini ternyata pandai bercanda juga ya Sayang. Oma jadi teringat akan cerita Dewa di saat ia dan Krisna dijahili olehmu dengan ucapan sang 'ndherek langkung segawon' itu."
Mara sedikit terperangah. "Oma tahu cerita tentang 'ndherek langkung segawon' itu?"
"Tentu Sayang. Karena Dewa selalu menceritakan apa saja yang ia alami kepada Oma, termasuk kejadian di mana ia hampir ditenggelamkan di laut karena ucapan itu."
Mara tersenyum kikuk. Jika teringat akan hal itu, ia merasa menjadi calon istri yang durhaka kepada sang calon suaminya. Meskipun saat itu ia juga belum tahu jika dirinya memang akan menjadi istri Dewa. "Maafkan atas kejahilan Mara itu ya Oma. Niat Mara hanya ingin bercanda, namun ternyata malah seperti itu dampaknya."
Oma Widuri tergelak. "Tidak apa-apa Sayang. Oma juga sering kok menjahili suamimu itu."
"Selamat pagi semua!"
Obrolan oma Widuri dan Mara terpangkas tatkala ada suara bariton yang tiba-tiba terdengar di dalam indera pendengaran mereka. Tak selang lama, Dewa hadir di tengah-tengah oma Widuri dan Mara yang tengah larut dalam obrolan pagi mereka.
Dewa mengecup kening oma Widuri dan mengecup kening sang istri bergantian. Setelahnya, ia daratkan bokongnya di kursi yang berada di sisi sang istri.
"Oma lihat pagi ini kamu terlihat bahagia sekali Wa! Apa yang semalam terjadi kepadamu?"
Oma Widuri sedikit keheranan dengan polah tingkah sang cucu di pagi hari ini. Wajahnya terlihat berseri-seri dan tubuhnya juga segar. Seperti baru saja mendapatkan sesuatu yang membahagiakan.
__ADS_1
Dewa hanya tersenyum simpul. Ia melirik ke arah sang istri yang duduk di sampingnya. Dan lirikan Dewa itu hanya bisa membuat Mara tidak paham sama sekali.
"Tanyakan kepada cucu menantu Oma ini. Apa yang telah ia lakukan kepada Dewa sehingga bisa membuat Dewa sebahagia ini!"
Oma Widuri mengedarkan pandangannya ke arah Mara. "Memang apa yang kamu lakukan semalam Sayang? Yang bisa membuat wajah Dewa dipenuhi oleh rona bahagia seperti ini? Oma benar-benar ingin tahu!"
Mendadak wajah Mara menjadi pias. Masa iya ia harus menceritakan kejadian semalam di depan oma Widuri? Buru-buru ia cubit perut Dewa karena telah mengangkat topik pembahasan seperti ini.
"Aaaaaahhh sakit Sayang. Mengapa kamu mencubit perutku seperti ini?"
Dewa memekik kesakitan tatkala mendapatkan serangan dari sang istri. Sungguh cubitan dari istrinya ini rasanya seperti dikeroyok oleh semut rangrang dan mungkin baru tujuh hari tujuh malam baru bisa hilang rasa sakitnya (lebay π )
"Mengapa kamu membahas kegiatan kita semalam di depan Oma, Mas? Malu tahu!" ucap Mara lirih.
Sedangkan oma Widuri hanya bisa mengernyitkan dahi melihat tingkah cucu dan cucu menantunya ini. "Hei sebenarnya apa yang tengah kalian bahas?"
"Eh, bukan apa-apa Oma. Semalam, Mara meminta mas Dewa untuk bersih-bersih kamar sembari berolahraga malam, jadi pagi ini ia terlihat sangat segar dan bugar." Mara kembali menautkan pandangannya ke arah Dewa. "Benar begitu kan Mas?"
Mara memberikan sebuah isyarat dengan mengedipkan sebelah matanya agar sang suami membenarkan yang ia katakan. Namun Dewa hanya membalas dengan sebuah senyum seringai nakal.
Kedua bola mata Mara terbelalak sempurna. Bisa-bisanya sang suami mengatakan hal itu di hadapan sang oma. "Mas!"
"Hahahaha haahaahaa bukankah itu sebuah kebenaran Sayang? Kamu benar-benar tahu bagaimana cara membahagiakan aku!" Dewa meraih tangan Mara dan ia kecup buku-buku jemarinya. "Terimakasih banyak istriku. Kamu memang istri terbaik yang pernah aku miliki!"
Mara semakin merasa kikuk. "Ya tapi jangan membahas ini semua di depan Oma juga, Mas. Malu!"
"Hahahaha haahaahaa tidak perlu malu Sayang. Oma juga pernah muda dan menjadi seorang istri, jadi Oma tahu persis apa yang menjadi kebahagiaan untuk seorang suami," timpal oma Widuri.
Mara semakin tersenyum kikuk. Ia benar-benar malu jika teringat akan semalam yang ia lakukan kepada Dewa. Sebuah cara untuk menuntaskan hasrat sang suami tatkala penetrasi itu tidak dapat terjadi akibat datang bulan. Tidak rugi hampir dua jam ia berkonsultasi kepada sang penulis cerita ini, sehingga ia tahu apa yang harus ia lakukan di saat sang suami begitu berhasrat namun tidak dapat melakukan penetrasi. π π π π
***
"Mas ini tempat apa ini?"
__ADS_1
Mobil yang dikemudikan oleh Dewa berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang lumayan luas dengan gaya Eropa. Bangunan yang nampak begitu apik yang didominasi oleh warna putih.
Dewa melepas safety belt yang ia kenakan. "Ayo kita masuk Sayang. Di dalam nanti kamu akan tahu tempat apa ini!"
Mara menurut. Ia lepas pula safety belt nya dan mulai turun dari mobil menyusul Dewa yang sudah lebih dulu keluar. Keduanya sejenak berdiri di depan bangunan ini, sembari menikmati suasana sekitar.
Dewa menggandeng tangan Mara dan mulai melangkahkan kaki mereka untuk memasuki bangunan itu.
"Mas, ini?"
Kedua bola mata Mara terbelalak diiringi oleh suara pekikan nyaring yang penuh keterkejutan tatkala melihat isi bangunan ini. Sebuah etalase-etalase khas tempat untuk memajang kue nampak berjajar menghiasi ruangan ini. Rak-rak dari kayu khas cake shop juga terlihat berjajar rapi.
Dewa mengangguk dan tersenyum simpul. "Iya Sayang, ini nantinya akan menjadi cake shop milikmu. Sama seperti apa yang menjadi mimpimu dan mimpi almarhum ibu. Bagaimana? Apa ini semua sesuai dengan keinginanmu?"
"Mas.... Ini .... Aaahhhh...."
Mara tidak sanggup untuk berkata apa-apa. Kejutan yang diberikan oleh suaminya ini benar-benar hanya bisa membuat bibirnya terkatup dan kedua netranya menatap takjub. Wanita itu hanya bisa memeluk tubuh sang suami dengan erat dibarengi oleh bulir-bulir air mata bahagia yang mengalir dari telaga beningnya.
"Mas.... Terimakasih banyak. Ini semua sungguh seperti apa yang menjadi mimpi-mimpiku. Cake shop yang bisa mengasah kemampuanku dalam bidang ini. Terimakasih banyak Mas, terimakasih!"
Hati Dewa menghangat seketika. Inilah salah satu sifat sang istri yang bisa membuatnya jatuh cinta setiap hari. Hal sekecil apapun yang ia berikan untuk sang istri, pasti selalu diterimanya dengan penuh rasa syukur.
Dewa mengusap punggung Mara dengan lembut. Dan menghujani pucuk kepalanya dengan kecupan penuh sayang. "Sama-sama Sayang. Setelah ini, aku harap kamu bisa fokus untuk mengelola cake shop ini. Namun..."
Mara mengurai sedikit pelukannya. Ia tatap wajah sang suami dengan tatapan penuh tanda tanya. "Namun apa Mas?"
Dewa hanya tersenyum simpul. Ia cubit hidung mungil istrinya ini. "Namun jangan sampai lupa akan kewajibanmu sebagai seorang istri ya." Dewa mendekatkan wajahnya di dekat telinga Mara. Lirih ia berbisik. "Terlebih kewajibanmu dalam memanjakanku di atas ranjang."
"Aaaaaaa.... Mas Dewaaaaaaaa.....!!!!"
.
.
__ADS_1
. bersambung...
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca.