The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 9 - Budak Kecil


__ADS_3

*Lanjutan flashback


Satu hari sebelum memasuki labirin, disebuah desa jauh dari pusat Ibu kota kerajaan Inggram. Richard yang masih terpukul atas kasus yang menyeretnya memutuskan pergi dari istana, bahkan saat ingin pergipun tidak ada yang menghalanginya.


Tanpa membawa sirah ataupun pakaian mewah, dia berjalan ditengah warga yang lalu lalang mengenakan jubah biasa layaknya pengembara. Tak tahu arah dan tujuan, saat ini dai hanya ingin menjauh dari teman-teman yang tidak mempercayainya.


Di desa ini, terlihat beberapa ras Shed atau Manusia yang memiliki gen hewan. Karakteristik mereka terlihat seperti manusia pada umumnya tapi mereka memiliki ekor dan juga telinga hewan. Mereka juga memiliki kemampuan dari gen hewan yang mereka miliki.


Misalnya saja Shed dengan gen Kucing, maka ekor dan telinganya akan berbentuk seperti kucing serta memiliki kemampuan kucing, misalnya saja melompat dari rumah ke rumah yang lain. Selain itu, mereka juga memiliki kelemahan yang sama dengan kelemahan gen hewan yang dimilikinya.


Contoh lain, Shed yang memiliki gen kelinci maka bentuk telinga serta ekornya akan mirip dengan kelinci.


Populasi Shed di daratan Neverland semakin berkurang, itu karena peperangan yang terjadi semakin membuat ras Shed sulit untuk berkembang biak. Terlebih lagi mereka bukanlah ras yg tergabung dalam satu kerajaan, tapi mereka terpecah di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan.


Tidak seperti ras Dwarf dan Elf yang memiliki kerajaan mereka sendiri, ras Shed harus bertahan hidup di bawah perintah dari keraan lain. Hal yang membuat jumlah mereka semakin berkurang pula adalah cara mereka berkembang biak, Shed tidak bisa kawin jika gen hewan yang terdapat dalam diri mereka berbeda. Contohnya saja Shed bergen Singa tidak bisa kawin dengan Shed bergen Beruang. Mereka harus menemukan Shed bergen yang sama agar bisa berkembang biak.


Richard masih berjalan sambil melihat para Shed yang sedang bertransaksi. Ada yang ganjal setelah cukup lama dia berada di desa, sepertinya para Shed sangat menghormati manusia.


Jika mereka sedang berjalan dan kebetulan berpapasan dengan manusia maka para Shed akan menunduk, terlebih yang mereka temui manusia yang berkedudukan sebagai bangsawan.


Perhatian Richard kemudian tertuju pada anak kecil ras Shed yang sepertinya bergen kucing sedang dicambuk didepan sebuah kedai. Sepertinya anak kecil itu melakukan kesalahan dan membuat pemilik kedai tersebut marah.


Richard awalnya tidak ingin ikut campur, karena dia tahu betul cara kerja dunia ini. Terlebih anak tersebut adalah budak dengan rantai di lehernya. Tapi lama-lama Richard menjadi iba dan coba menghampiri pemilik tersebut.


Richard mendekat, sementara anak kecil itu teriak kesakitan dan meminta maaf.


"E.. Permisi tuan.. Kenapa anak kecil ini anda siksa?"


Pemilik budak tersebut melihat Richard. "budak sialan ini telah mencuri makanan di kedaiku. Aku tak tahu siapa pemiliknya." ucapnya kesal.


Anak kecil tersebut terlihat lusuh dengan pakaian kotor dan sudah tak layak pakai. Richard akhirnya memberikan uang kepada pemilik kedai itu untuk mengganti kerugian miliknya.


"Apakah kau pemilik budak ini?" tanya Pemilik kedai setelah menerima beberapa kepingan emas.


"Bukan, aku hanya kebetulan lewat saja."

__ADS_1


"Kalau begitu budak ini aku ambil saja dan aku jual kembali."


"Hei tuan, sebaiknya kau kembalikan dia kepada pemiliknya."


"Saya sudah seharian berteriak kesana kemari tapi tak ada yang mau mengakui budak kotor ini." ucapnya merendahkan anak kecil tersebut.


"Kalau begitu dia milikku karena aku sudah membayarmu dengan koin emas." klaim Richard.


"Apa kau bercanda.. Harga budak dipasaran dua kali lipat dibanding ini."


Tanpa pikir panjang Richard mengeluarkan semua kepingan emas yang saat ini dia miliki untuk menebus anak kecil tersebut. Pemilik kedai yang memeriksa dan puas dengan jumlahnya lalu menyeret anak kecil itu di hadapan Richard.


"hei adik kecil, apa kau baik-baik saja?" Richard mendekat perlahan dan mengelus kepala anak kecil tersebut.


Anak kecil itu tampak sedikit menghindar, mungkin karena takut jika sewaktu-waktu akan dipukul. Tapi tidak seperti itu, Richard malah membawa budak kecil itu ke sebuah bar dan memberi makan kepadanya.


Awalnya budak itu menolak karena tidak etis baginya duduk di bangku yang sama dengan majikan tapi kebaikan Richard meluluhkan prinsip budak yang tertanam dalam benaknya. Untuk pertama kalinya budak itu tersenyum dan menyantap makanannya dengan lahap.


Melihat budak itu tersenyum suasana hati Richard yang tadinya gundah kini kembali tenang. Dia berpikir hal kecil seperti ini bisa membawa perubahan besar pada dunia yang saat ini tempatnya berada. Meski mentalnya lemah, tapi rasa simpati dan empati Richard sangat besar.


Richard terkejut saat budak itu bertanya dengan suara lugunya. "Eh.. Hehe, aku tidak lapar." Richard membalas sambil tersenyum, menahan lapar sambil memegang perutnya yang keroncongan.


Bukannya tidak lapar, tapi saat ini uang Richard hanya cukup untuk membeli makan untuk anak kecil itu, setelah sebelumnya dia menebusnya dengan harga mahal dari pemilik kedai.


Ditengah perbincangkan kecil mereka berdua, pendengaran Richard tiba-tiba teralihkan dengan percakapan beberapa orang yang duduk tak jauh dari mejanya.


"Apa kau sudah dengar, salah satu dari kesatria suci telah melakukan perbuatan bejat." ucap salah satu dari mereka.


Yang lain kemudian merespon. "Iya, itu adalah hal yang memalukan. Kata kenalanku di dalam istana. Jika bukan karena pemerkosa itu kesatria suci mungkin kepalanya sudah di penggal saat ini."


Ternyata rumor mengenai dirinya sudah tersebar luas bahkan sampai di desa kecil ini. Mendengar hal itu Richard yang sudah tenang hatinya kembali merasa pedih atas tuduhan yang tidak dia lakukan.


Perbincangan itu semakin memanas, sampai-sampai kata kasar dab cacian di tujukan pada Richard tanpa orang-orang itu tahu bahwa Richard sedang berada diantara mereka.


"Anak kecil.. Apakah kau sudah selesai makan?"

__ADS_1


"Iya tuan, terima kasih atas makanannya."


Tanpa basa basi Richard lalu menarik anak kecil itu untuk keluar dari bar karena tak tahan dengan ucapan buruk orang-orang tentangnya.


Mereka berdua berjalan menjauh dari bar, anak kecil itu ternyata cukup peka saat mengetahui bahwa Richard sedang bersedih. "Tuan, apakah saya melakukan kesalahan. Kenapa anda menangis, tolong ampuni saya." budak kecil itu bersujud dihadapkan Richard.


Richard menghapus air matanya dan mengangkat wajah dari budak kecil itu. Richard lalu melepaskan belenggu yang ada dileher anak kecil itu.


"Apa yang Tuan lakukan, jangan tuan.. Alatnya akan meledek." Budak kecil itu panik saat Richard mengutak atik belenggu tersebut.


"Tenang saja." ucap Richard.


Saat Richard mencoba membuka belenggu itu, tiba-tiba lingkaran sihir aktif dan belenggu itu akan meledak. Beberapa detik sebelum meledak dengan sigap Richard membuka dan menonaktifkan sihir tersebut. Mudah bagi Richard untuk menonaktifkan sihir bertipe Api tersebut, karena Richard sendiri meliliki imperium Api dan bergelar Ignis.


Anak kecil itu bahkan sudah siap untuk mati tapi saat dia membuka mata, ternyata dia masih hidup. "Apa yang terjadi.. Eh.. Tuan kau melepas belenggu ini dari leherku?"


Richard tersenyum dan memeluk anak kecil itu. "kau bebas sekarang, kau bukan lagi budak." ucap Richard.


"Tapi tuan.. Aku.."


"Dengar.. Dunia ini luas. Kau bisa jadi apapun yang kau inginkan. Sekarang kau bebas, aku bukan lagi tuanmu." tegas Richard.


"Tapi.. Aku. Aku ingin ikut bersama denganmu tuan."


"Maafkan aku tapi, aku tidak bisa. Aku punya pekerjaan yang harus kulakukan."


"Tuan... Aku."


"namaku Richard, salam kenal. Sekarang kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan tuan lagi."


"Kakak Richard.." ucap anak kecil itu lirih.


"Aku harus pergi, ada hal yang harus aku kerjakan. Bertahan hiduplah.. Semoga kita bisa bertemu lain waktu." Setelah mengatakan hal itu Richard bergegas pergi meninggalkan anak kecil itu.


Sementara anak kecil itu terus memandangi punggung Richard yang semakin menjauh. Tak sadar air mata anak kecil itu keluar memenuhi pipinya. "Kak Richard.. Kau bahkan belum mengetahui namaku." gumamnya.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2