The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 49 - Sorak Sorai Penduduk Kota Gouda


__ADS_3

Sorak sorai dan alunan musik memecah kesunyian malam di alun-alun kota Gouda setelah sebelumnya para kesatria berhasil mengalahkan pasukan iblis yang ingin menyerang kota ini.


Terlebih saat penduduk mengetahui keberadaan kesatria suci, tentu hal itu membuat para penduduk sangat bersemangat dan menyambut para kesatria suci bak pahlawan. Pasalnya kini mereka bisa sedikit berharap agar klan Iblis sepenuhnya bisa dikalahkan oleh mereka.


Keberadaan kesatria suci memang sangat vital dan sangat dibutuhkan, selain karena mereka memang ditakdirkan untuk mengalahkan klan Iblis, para kesatria suci juga mewarisi kekuatan dari langit yang dianugerahkan oleh dewa kepada mereka semua. Bisa di bilang, para kesatria suci adalah musuh alami dari klan Iblis karena hal itu.


Di bawah cahaya lampion-lampion yang menyinari alun-alun kota, terlihat pula para penduduk yang menari mengikuti alunan musik.


Ini adalah bentuk sambutan penduduk kepada para kesatria suci yang sudah bersedia mampir di kota kecil mereka.


Para kesatria suci yang sebelumnya telah terlibat dua kali pertarungan dalam satu hari memutuskan untuk menginap di kota ini sebelum akhirnya besok mereka melanjutkan perjalanan ke ibu kota kerajaan Celestial.


Sangat ramai.. Mengingat malam ini adalah pesta untuk menyambut para kesatria suci.


Di tengah keramaian itu,..


Di sebuah meja panjang yang penuh dengan makanan..


"Akhm sngam brtmam kasm atasmm jamuam inm."


"Dia bilang 'Sangat berterima kasih atas jamuan makan ini." Leo menerjemahkan perkataan Arthur yang mulutnya penuh dengan makanan.


"Oh tuan-tuan.... Kalian tidak usah berterima kasih. Kedatangan kalian ke kota ini sedikit memberi kami harapan. Kalian sangat layak mendapatkan sambutan seperti saat ini." Seorang pria membalas perkataan Leo.


Pria itu adalah walikota Gouda sekaligus bangsawan yang memerintah kota ini. Namanya adalah tuan Mokshof Silinder, salah satu bangsawan di kerajaan Celestial.


Sementara itu di bawah pohon besar yang masih berada di areal alun-alun kota. Gildarts, Ivy dan Diana terlihat duduk bersama menikmati alunan musik.


"Wuahh.. Sepertinya Rebecca senang sekali berdansa dengan para penduduk." Ucap Gildarts sambil melihat ke arah Rebecca.


"Oi Paman.. Kau sangat perhatian terhadap Rebecca? Apakah kau menyukainya?"


"Eh.. Mana mungkin. Hehe.. Tidak, tidak, jangan salah paham." Gildarts bertingkah aneh sambil terus membantah pertanyaan Diana padanya.


Ivy yang melihat hal itu tersenyum tipis sambil menutup mulutnya.


Tiba-tiba saja ekspresi malu Gildarts berubah, ia melihat ke langit. "Di duniaku sebelumnya, aku memiliki seorang adik perempuan.. Sikapnya sangat mirip dengan Rebecca. Setiap aku melihat Rebecca, aku pasti ingat pada adikku"


"Ohhh.. Paman.." Kata Ivy mulai iba dengan cerita Gildarts.


"Mungkin kah!! Kau Lolycon!!" Kata Diana spontan.


"Ehh... Hehe."


"Diana.. Jangan seperti itu." Ivy membela Gildarts yang wajahnya memerah saat ini.


Kembali ke meja panjang yang penuh dengan makanan.


"Haduehh, berisik sekali musik ini. Aku ingin tidur tapi tidak bisa."


"Huahhh.. Uhhh enak.. Alkohol ini uenak pol!" Rinto yang sejak tadi menenggak alkohol terlihat bahagia, tubuhnya terlihat oleng karena ia sudah setangah mabuk.


"Hadeuh.. Dasar tukang mabuk. Aku jadi heran kenapa putri Elizabeth mau menikah dengan orang ini.. Padahal aku lebih tampan darinya." Gumam Smits.

__ADS_1


"Wahhh.. Lihat-lihat.. Kesatria suci.."


"Mereka asli kan?


"Keren banget..


"Kakak.. Kakak kesatria, aku minta tanda tanganmu."


Beberapa anak kecil mendekati Smits dan Rinto. Anak kecil yang sangat antusias dan terlihat begitu mengagumi para kesatria suci.


"Hek.. Sini sini.. Hek. Aku akan menan hek. Tanganinya hek." Rinto mulai cegukan karena efek alkohol yang ia minum.


Gerombolan anak itu mendekat, sementara Smits yang merasa risih memilih menjauh dari tempat itu dan membiarkan Rinto yang meladeni mereka semua.


Saat Smits berdiri, dari arah depannya.. Salah satu anak perempuan mengumpat di hadapan Smits.


"He.. Apanya yang pahlawan. Kalian semua akan mati.. Sama seperti sebelumnya.." umpat anak yang berumur 10 tahun itu.


"Hadeuh.. Terserah." Smits tak menggubrisnya, ia melewati anak kecil itu karena ia sangat malas meladeni hal seperti itu.


Tapi dari jauh.. Arthur mendekat dan memegang kepala anak kecil itu.


"Hi anak kecil. Heheheh." Arthur tersenyum lebar.


"Lepaskan.. Dasar lemah." Anak kecil itu membentak, suara anak kecil itu menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.


"Eh.. Aku kuat loh.. Mau lihat kekuatanku." Balas Arthur masih tersenyum.


Orang-orang yang melihat terkejut, pun dengan Leo yang berada di samping Arthur.


"Hilia.. Hilia. Apa yang kau lakukan." Seorang laki-laki paruh baya mendekati anak itu.


Laki-laki itu membalikkan tubuh anak kecil dan bersiap untuk menamparnya, tapi Arthur sigap menahan tangan dari pria itu.


"Tuan.. Dia masih kecil" Kata Arthur.


"E.. Tolong maafkan aku.. Anak kecil ini sudah melakukan kesalahan. Maafkan aku tuan-tuan." Pria itu menunduk minta maaf.


Karena keributan yang terjadi, cukup banyak orang yang berkumpul di tempat itu.


"Diana.. Paman.. Coba lihat, di sana banyak orang yang berkumpul!" Ivy menunjuk ke arah keributan yang terjadi.


Sementara itu..


"Tidak.. Tidak usah minta maaf tuan. Anak ini tidak salah apa-apa" Arthur tersenyum lebar sekali lagi.


Entah karena apa tapi melihat senyum lebar Arthur malah membuat anak kecil itu semakin emosi dan berkata kasar di depan Arthur.


"Kenapa tersenyum hah!! Apanya yang kesatria suci?" Anak kecil itu mulai mengeluarkan air mata sambil membentak.


"Ayah... Ibu.. Tel-telah meninggal. Kalian semua lemah.. Pada akhirnya kalian semua akan berkorban untuk menyegel kembali portal iblis-iblis itu.. Sama seperti pendahulu kalian... Kalian semua tidak bisa mengalahkan klan Iblis.. Kalian. Mmmmmm." Pria yang ingin menampar anak itu lalu menutup mulut anak itu agar tak dapat bersuara. Anak kecil itu terus menangis dan meronta untuk melepaskan diri.


"Bawa pergi anak itu!" Ighalo mendekat.

__ADS_1


Arthur dan Leo melihat ke arah belakang mereka.


"Maaf tuan Arthur.. Anak kecil itu sedikit frustasi karena ayah dan ibunya yang merupakan kesatria meninggal dalam perang melawan klan Iblis 5 tahun yang lalu." Jelas Ighalo.


"Iya benar sekali.." Walikota Mokshof juga mendekat.


"Tuan Ighalo, tuan Mokshof.. Apa maksud dari perkataan anak kecil itu? Dia mengatakan tentang pendahulu kami." Arthur mulai penasaran.


"Tuan Arthur.. Bukankah anda mendapatkan perintah untuk pergi menemui raja Wiliam di ibu kota?" Tanya Mokshof


"Tentu saja.."


"Saya tidak pantas untuk mengatakan hal ini pada anda, oleh karena itu. Saya bisa jamin bahwa rasa penasaran anda akan terjawab saat bertemu dengan raja William." Jelas Mokshof.


Arthur menaikkan alis, sepertinya ia semakin penasaran tentang hal yang di eluhkan oleh anak kecil itu tentang kekuatan kesatria suci.


"Arthur.." Ivy dkk mendekat.


"Arthur, apa yang terjadi?" Diana bertanya.


"Hm, tidak.. Tidak ada." Arthur menjawab dengan senyuman.


Diana melihat ke arah Leo.


"Jika Arthur sudah bilang tidak ada.. Ya tidak ada apa-apa.


"Baiklah semuanya.. Mainkan musik dengan keras." Walikota Mokshof berteriak untuk memecah massa yang berkumpul karena keributan tadi.


Suara musik kembali terdengar..


Sorak sorai para penduduk yang menikmati malam juga terdengar lebih riuh dari sebelumnya.


"Yeeyyy.. Malam masih panjang... Hek." Rinto yang tadi sudah pingsan karena alkohol tiba-tiba terbangun sambil mengangkat gelas alkoholnya ke atas.


'


'


'


'


'


'


'


'


'


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2