
"Ne.. Ne.. Kemana mereka bertiga?" Rebecca mengeluh karena saat ini ia sudah menunggu di depan gerbang sejak tadi.
"Sabarlah Rebecca, sebentar lagi mereka akan datang." Kata Diana.
"Cih.. Dasar si tukang malas itu.. Merepotkan saja."
"Arehh.. kau lupa betapa malunya kami semua karena ulah mu semalam.. Itu jauh lebih merepotkan!" Kata Diana kepada Rinto.
Semalam.. Karena mabuk berat Rinto malah salah masuk ke kamar penginapan. Ia tidak masuk ke kamarnya tapi ia malah masuk ke kamar anak perempuan pemilik penginapan tempat mereka bermalam.
"Apa perlu aku mengatakan hal ini pada putri Elizabeth?" Diana menggoda Rinto.
Rinto tampak panik dan hanya bisa diam saat Diana terus menggodanya.
Saat ini mereka semua sedang menunggu Arthur, Leo dan Smits. Sejak tadi mereka sudah siap untuk pergi tapi karena Smits yang tak kunjung muncul, Arthur dan Leo masuk kembali ke dalam kota dan mencari Smits.
Sementara tepat di depan gerbang.. Gildarts dan Ighalo terlibat suatu percakapan.
"Lihat.. Paman dan tuan Ighalo. Mereka sama-sama tertawa." Kata Rebecca.
"Kira-kira apa yang mereka tertawakan ya?" Ivy ikut penasaran.
"Mungkin mereka sedang membicarakan lolycon." Diana memotong pembicaraan dengan dugaan negatifnya.
Sementara itu.. Salah satu kesatria. Terlihat sedang duduk menenangkan diri di bawah pohon yang tak jauh dari tempat Ivy dkk sedang berkumpul.
"Ne.. Ne.. Lihat itu.. Dia melakukannya lagi!" Rebecca melihat kesatria itu.
"Siapa ya namanya!? Ivy mencoba menerka.
"Hmm.. Kalau tidak salah Arthur biasa memanggil dia Pege." Rebecca menjawab pertanyaan Ivy.
Kesatria suci itu bernama Pege..
Meski dia salah satu bagian dari kesatria suci tapi dia tak pernah benar-benar berbaur dengan mereka semua. Ia lebih suka menyendiri dan hanya berbicara dengan Arthur jika di perlukan saja.
Lama menunggu akhirnya mereka bertiga muncul dan mendekati rombongan.
"Dasar malass, dari mana saja kau?" Rinto mengumpat ke arah Smits.
Smits yang biasanya merespon dengan dingin, kali ini ia diam seribu bahasa dengan tatapan serius.
"Tch.. Ada apa dengannya." Rinto masih mengeluh.
Arthur mendekati Ighalo dan Gildarts yang terlibat percakapan, ia akan pamit karena saat ini mereka semua sudah lengkap dan siap melanjutkan perjalanan.
"Ne.. Ne.. Smits, darimana saja kau?" Rebecca bertanya sambil melihat Smits yang tertunduk.
"Dia hampir saja membunuh penduduk kota." Kata Leo.
"Ehh.. Apa? Apa benar?"
"Smits.." Kata Ivy melihat Smits.
"Bohong.. Mana mungkin Smits melakukan hal itu.." Rebecca mengecam Leo karena mengatakan hal yang tidak-tidak.
Smits, ia masih diam mencoba menenangkan amarah dalam dirinya.
Arthur dan Gildarts mendekat ke arah merea semua.
"Yossss.. Sudah lengkap. Saatnya kita berangkat!! Arthur bersemangat.
"Arthur.. Apa yang terjadi dengan Smits?" Diana bertanya.
__ADS_1
"Smits?? Oh.. Dia hampir saja membunuh penduduk kota." Jawabnya sambil tertawa ringan.
"Bodoh kau.. Kenapa tertawa. Itu masalah besar. Kata Diana menepuk pundak Arthur dengan keras.
"Eh.. Smits.. Apa benar?" Gildarts ikut penasaran.
Leo kemudian menceritakan hal yang terjadi di dalam kota kepada mereka semua. Menceritakan semua hal keji yang di lihat oleh Smits di depan matanya. Seorang budak dari ras shed yang di siksa sampai terluka, diseret dan dibelenggu oleh rantai di lehernya.
Apa yang dilihat oleh mereka adalah suatu sistem yang telah lama mengakar dalam dunia ini, sistem itu bernama perbudakan.
Mereka semua diam mendengar kejadian memilukan itu. Sebuah kisah yang tidak pernah terjadi dalam dunia dimana mereka berada sebelumnya.
"Bodoh kah? Hal seperti itu adalah hal wajar di dunia ini. Kenapa harus marah?" Rinto berkomentar soal kejadian itu.
"Ish.. Uwekkk." Rebecca mengejek Rinto.
"Rinto.. Setidaknya tunjukan empati mu." Kata Ivy.
Di tengah percakapan itu, Arthur mendekat ke arah Smits.
"Smits.. Dan kalian semua.. Dengarkan.." Sontak mereka semua melihat ke arah Arthur.
"Kita adalah orang asing di dunia ini. Kita tidak bisa berbuat apa-apa.. Kita tidak tau nilai sebuah kebenaran di dunia ini. Benar salah di dunia ini berbeda dari dunia kita.. Aku tidak tau bagaimana dunia kalian tapi di dunia tempat asal ku, tidak ada perbudakan." Kata Arthur.
Mereka semua menyimak perkataan Arthur.
"Di duniaku juga tidak ada." Kata Ivy menunduk.
"Oleh karena itu, kita tak bisa menilai perbudakan adalah hal yang benar atau salah.. Karena di dunia ini, perbudakan adalah hal yang benar sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa tentang hal itu.. Jadi aku mohon.. Jika kalian menyaksikan hal yang memilukan seperti itu, tolonglah.. Tahan amarah kalian.. Jika memang tidak bisa, lampiaskanlah padaku. "Jelas Arthur sambil memegang pundak Smits.
"Arthur.." Ivy menatap Arthur.
Tiba-tiba.. Pukulan keras yang dingin mengarah tepat di pipi sebelah kanan Arthur. Pukulan itu membuat ia terjatuh ke belakang.
"Aadduh duh..." Arthur hanya tersenyum.
Diana mendekat ke arah Arthur dan mulai menyembuhkan luka di pipinya.
"Hadeuh.. Kau sendiri yang bilang bukan.. Jika aku tidak bisa menahan amarahku, maka kau bersedia menjadi tempat pelampiasan." Smits yang tadi marah kini kembali menjadi dirinya lagi.
"Hahahha.. Tidak masalah. Oh iya, ngomong-ngomong pukulan mu sakit juga. Duhh duhh." Arthur memegang pipinya.
"Seperti yang di harapkan darimu!" Kata Leo mengarahkan tangannya kepasa Arthur.
Suasana yang tadi tenggang kembali cair karena pukulan yang mengarah ke wajah Arthur dan Smits juga kembali bersikap seperti biasa.
"Maafkan aku.. Karena hampir membuat masalah tapi.." Kata Smits
"Aku benar-benar tidak tahan jika melihat wanita di siksa seperti itu.. Entah itu budak atau bukan. Wanita tidak pantas untuk disakiti, wanita ada di dunia ini untuk dilindungi dan dicintai bukan untuk di tindas." Tegas Smits.
Ivy kagum dengan perkataan Smits, ia melihat Smits dengan mata berbinar.
"Aku mengerti.. Itu adalah jalanmu." Kata Arthur tersenyum.
Seperti, berkat pukulan itu amarah Smits bisa terlampiaskan dan kini dia sudah tenang dengan keadaan.
"Kalau begitu.. Saatnya kita berangkat!!" Arthur kembali bersemangat.
Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ibu kota kerajaan Celestial dengan mengendarai kuda dan kereta kuda.
Saat di perjalanan, saat mereka sudah begitu jauh dari kota Gouda..
"Tunggu sebentar.. Sepertinya ada yang kurang!" Arthur merasa aneh saat memperhatikan rekan-rekannya.
__ADS_1
"Arthur, ada apa?" Gildarts dari atas kereta kuda menoleh ke arah Arthur yang menunggangi kuda.
Ada yang mengganggu benak Arthur, tapi ia bingung hal apa.. Sesaat kemudian ia mulai melirik kembali rekan-rekannya.
"Leo.." Arthur berteriak.
"Ha.. Ada apa?"
"Gildarts" Arthur berteriak lagi.
Gildarts yang saat ini mengendalikan kereta kuda juga menyahut.
Arthur menyebut nama rekan-rekannya satu persatu. Di ikuti oleh sahutan mereka satu persatu.. Sampai pada satu nama..
"Pege!!"
"Pege!!"
Tak ada jawaban.
Arthur mulai melihat kembali rekan-rekannya dan seketika wajahnya mulai panaik.
"PEGE!!!!" Teriak Arthur dengan keras.
Sesaat kemudian ia menyadari jika saat ini, Pege salah satu kesatria suci tidak bersama mereka.
Sementara itu di sebuah pohon rindang, tak jauh dari depan gerbang kota Gouda. Pege terlihat memejamkan mata, ia seperti sedang bermeditasi..
Lalu kemudian..
"Haaccihhh.." Pege membuka mata karena bersin sangat keras.
"Eeeeeeee.." Pege bingung karena dia tak melihat siapapun saat ini.
Pege, tertinggal dari rombongan kesatria suci.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
-----------------------------------------------------------
Visual look ras elf yang ada di dalam cerita..
__ADS_1