
Dalam istana kerajaan Nusantara..
Raja Jolang duduk sendiri di tahtanya sambil termenung memikirkan keputusan berat yang telah ia ambil guna mempertahankan pulau cebes.
"Wiliam.. Tolong balaslah cepat pesan yg aku kirimkan." Gumamnya sambil tertunduk khawatir.
Keputusan yang diambil oleh Jolang untuk mengirim begitu banyak pasukan ke pulau cebes tak lepas dari desakan bangsawan yang berada di pulau cebes. Berbeda dengan Kerajaan yang lain dimana keputusan raja adalah mutlak.. Tapi di kerajaan Nusantara, keputusan besar harus di ambil berdasarkan hasil keputusan bersama melalui rapat besar antara bangsawan.
Rapat besar itu menghasilkan keputusan yang menurut Jolang akan sangat beresiko tapi para bangsawan tidak mau menghiraukan pendapat Jolang mengenai keputusan itu.. Hal itu karena para bangsawan takut kehilangan harta dan aset mereka yang berada di pulau cebes invasi dari klan iblis berhasil.
Apa lagi salah satu sumber kekayaan alam dari kerajaan Nusantara berada di pulau cebes. Berdasarkan pertimbangan itu, para bangsawan memutuskan bahwa pulau cebes benar-benar harus di amankan dan dilindungi.
Masih di ruang tahta..
"Baginda.." Seorang kesatria muda masuk menghadap.
"Siapa kau?" kata Jolang melihat pemuda itu.
"Aku adalah anak dari Rein Wijaya sekaligus murid terbaiknya.. Namaku Ishan Wijaya." Kata pemuda berambut cepak itu.
"Oh kau rupanya."
"Iya baginda. Saya akan menggantikan posisi ayah saya sebagai tangan kanan anda selama beliau pergi megemban tugas." Jelas Ishan.
Ishan Wijaya, anak dari kesatria agung Rein Wijaya. Ishan adalah kesatria besar yang bertugas di salah satu benteng yang berada di bagian timur pulau Jatra dan ia kembali ke ibu kota karena permintaan khusus ayahnya.
Saat ini usia Ishan adalah 23 tahun dan dia sudah menjadi kesatria besar sejak usia 19 tahun.. Bahkan di kalangan para kesatria, Ishan di gadang-gadang akan menjadi kesatria agung selanjutnya menggantikan ayahnya kelak jika ayahnya wafat atau pensiun.
Sementara itu..
Di sebuah lembah..
"Tuan Arthur.. Sebentar lagi kita akan sampai di sebuah kota." salah satu kesatria kerajaan Inggram berteriak di atas kuda.
Kota yang dimaksud oleh kesatria itu bernama kota Gouda. Kota pertama yang akan mereka temui setelah masuk ke wilayah kerajaan Celestial.
Sesaat kemudian.. Rombongan mereka melewati sebuah desa yang terlihat porak-poranda.
Arthur mengangkat tangan sebagai tanda agar mereka semua berhenti sejenak.
Para kesatria memperhatikan kondisi desa itu.. Semua bangunan roboh dan beberapa terlihat bekas kebakaran api. Tapi tak ada satupun penduduk, yang terlihat hanya beberapa hewan ternak yang sudah membusuk.
Arthur kemudian turun dari kuda.. Ia berjalan.. Suara zirah yang ia kenakan terdengar saat ia mulai berjalan. Para kesatria suci yang lain juga mulai turun dari kendaraan melihat keadaan sekitar.
"Kemana semua orang?" Tanya Ivy sambil melirik kanan dan kirinya.
__ADS_1
"Tempat ini sangat kacau, sepertinya para penduduk sudah kabur dari sini." Kata Leo mendekati salah satu rumah kayu.
Gildarts tertunduk.. Ia meraba tanah. "Masih panas.. Sepertinya kerusakan ini belum lama terjadi." Ucapnya.
Arthur mengerutkan dahi.. Ia merasakan ada hal yang aneh di desa ini. Sampai akhirnya... Seorang anak kecil mendekati mereka.
"Hei, lihat.." Diana berteriak ke semua rekan-rekannya.
Seorang anak kecil dengan pakaian penuh darah mendekat. Anak perempuan yang terlihat diam melihat ke arah Diana dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Hei adik kecil.." Diana mendekat perlahan.
Anak kecil itu hanya diam tak merespon.
"Siapa namamu anak kecil?" Diana masih mencoba mendekat secara perlahan.
Sementara rekan-rekannya yang lain mengawasi dari jauh.
Diana terus mendekat, sampai akhirnya dia berada selangkah di depan anak kecil itu.
"RINTO.." Arthur berteriak dengan keras.
Rinto seolah tau apa yang harus ia lakukan saat ini.
"Obice soli." Kata Rinto sambil menghentakkan palu raksasa miliknya ke tanah.
"Apa yang kau lakukan?" Diana berbalik ke arah Rinto.
"Diana menyingkir dari situ." Kata Arthur berlari mendekat.
Diana masih belum faham dengan keadaan, sesaat kemudian ia tersadar bahwa di depannya saat ini terlihat monster cukup besar dengan bentuk seperti bunga bangkai hidup.
Dengan sigap Diana mundur kebelakang.
Ternyata.. hampir saja Diana masuk ke dalam mulut penuh racun dari mosnter bunga itu. Anak yang mereka lihat adalah ilusi dari serbuk racun yang di produksi oleh monster itu.
Arthur melompat.. Ia mencabut pedangnya dan dengan kekuatan cahaya ia menebas monster itu menjadi dua.
"Hadeh.. Hampir saja." Kata Smits terlihat lega.
"Diana.. Kau tidak papa?" Ivy mendekat.
"Ak-aku tidak papa." Diana masih tertegun karena ia lengah.
"Huhh.. Hampir saja." Kata Arthur memasukkan kembali pedangnya ke sarung pedang yang ada di pinggang sebelah kirinya.
__ADS_1
Monster itu.. Terbelah menjadi dua dan mati seketika.
Para kesatria kerajaan Inggram hanya bisa diam.
"Seperti yang di harapkan dari kesatria suci." Kata salah satu kesatria kerajaan Inggram.
Tiba-tiba..
Slasss...
Kepala kesatria kerajaan Inggram terlepas.
Sontak hal itu membuat semua orang terkejut dan waspada di buatnya.
"Hah!"
"Siapa itu?" Leo memegang katana miliknya.
Sosok yang saat ini ada di hadapan mereka adalah sesosok iblis bertubuh kekar, berekor dan memiliki cakar panjang.
"Hebat juga kalian manusia.. Bisa lolos dari jebakan itu. Padahal jika itu berhasil aku tidak perlu repot-repot menampakkan diri." Kata Iblis itu.
"Hah!! Dia berbicara." Kata Leo.
"Iya, dia bukan iblis sembarangan... Terakhir kali kita menghadapi iblis yang bisa berbicara adalah 4 bulan yang lalu.. Saat itu kita menghadapi Rever Block." Kata Arthur tersenyum saking semangatnya ia karena bisa bertemu iblis kuat.
"Sekarang.. Aku akan membunuh kalian.." Kata Iblis itu sambil membaca sebuah mantra.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
'
-Bersambung-