
"Nyonya.. Kau tidak papa?" Oana menepuk pundak Aliyah yang sedari tadi terlihat gundah memikirkan percakapan terakhirnya dengan Professor Asking.
"Ti-tidak.. Ah, maafkan aku Oana." Balasnya dengan gestur pusing. "Oh, Ngomong-ngomong apa yang ingin kau pinjam dariku. Maaf aku lupa." Kata Aliyah tersenyum agak canggung.
Aliyah cukup tertekan dengan keputusan yang diambil oleh Professor Asking, Aliyah sampai lupa tujuannya masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan berbagai macam item sihir ini. "Ah.. Ya, kau sedang mencari seseorang." Ungkapnya sebelum Oana menjawab.
"Tidak papa Nyonya Aliyah, tenangkan dulu pikiranmu." Oana sedikit khawatir, ia melihat wajah Aliyah menjadi pucat dengan tatapan mata yang terlihat meredup.
Aliyah kemudian berjalan menyusuri lemari yang penuh dengan berbagai item sihir. Lemari itu berada di sebelah kirinya, ia berjalan sambil memegang kepalanya dan tangan yang lain memegang pinggiran lemari untuk mempertahankan keseimbangannya yang mulai goyah. "Tenang saja, aku tidak papa.. Mari kita cari item yang ingin kau gunakan itu." Ucapnya sembari menyusuri lemari tersebut.
Oana yang ikut dari belakang memasang wajah tak enak, karena ia datang pada saat yang sangat tidak tepat. Setidaknya begitu situasi yang ia rasakan saat ini, apa lagi setelah terlibat perdebatan alot dengan penyihir tua beberapa saat yang lalu. Aliyah menjadi tegang dan ia seperti khawatir akan sesuatu, hal itu membuat kondisinya menjadi rapuh dan lemah.
Benar saja, beberapa saat kemudian saat Aliyah menyusuri lemari untuk mencari item sihir yang dimaksud Oana. Dengan sangat tiba-tiba, Aliyah tumbang di depan Oana. "Nyonya... Nyonya, Aliyah..!?" Oana yang panik mendekat dan mencoba memberikan pertolongan pertama. Sebuah sihir sederhana untuk memulihkan kondisi Aliyah yang tiba-tiba terjatuh karena kondisi mental dan psikis yang menurun drastis.
Aliyah kehilangan kesadarannya..
Sementara itu..
Setelah penyerbuan berakhir dengan kemenangan kota Lockdown, matahari pun terbit bersama dengan harapan mereka yang tertindas akibat serbuan malam mengerikan yang banyak merenggut kehidupan.
Beberapa mungkin tidak beruntung karena menjadi korban dari keganasan klan Iblis yang menghancurkan pemukiman dan kehidupan sederhana mereka di lembah ini. Sedangkan, beberapa yang beruntung mencoba menguatkan diri meski derai air mata kesedihan dari rasa kehilangan menusuk batin mereka. Namun seakan tak patah arah, mereka yang selamat mencoba merajut asa serta mengucap bersyukur dan menatap hari esok.
Bersamaan dengan terbit matahari, mereka semua berbenah dan mencoba membangun kembali apa yang telah direnggut oleh iblis terkutuk yang mereka benci. Tak terkecuali orang-orang yang hidup di bagian utara kota Lockdown, mereka kembali dari dalam hutan setelah sebelumnya berlomba meninggalkan pemukiman semi permanen yang mereka tinggali untuk mencari perlindungan.
Mereka kembali dengan wajah tertunduk lesu, meski beberapa saat tadi bersorak merayakan kemenangan atas pasukan iblis setelah sihir cahaya muncul dan membuat mereka menganga tak percaya.
Sorak sorai dan kebahagiaan atas kemenangan itu berlangsung sangat singkat kala mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri. Tatapan mereka kosong kala melihat pemukiman semi permanen yang mereka tinggali telah rata dengan tanah.
Bisa dibilang tempat dimana mereka berdiri sekarang menjadi sebuah tanah tandus, tidak ada bangunan, pohon, bahkan sisa-sisa bangunan runtuh kediaman mereka pun tak terlihat sama sekali.
Sejauh mata memandang, yang mereka lihat hanya sebidang tanah tandus dengan beberapa retakan tanah parah yang cukup dalam akibat pertarungan hebat yang terjadi antara iblis kelas atas melawan seorang pria bermata merah yang saat ini berjalan mendekati rombongan mereka.
Mereka semua berdiri menyaksikan pria bermata merah itu mendekat, tubuh pria itu terlihat kacau dengan beberapa luka dan juga bekas luka lama yang seakan menjadi corak akan perjuangan hidup dan matinya.
Dari arah rombongan itu seorang pria tua terlihat kaku, seakan tak percaya. "Ti-tidak mungkin!" Ucap pria tua itu.
"Tuan Red.." Ucap seorang wanita di sisi kirinya.
"Syukurlah.. Kalian baik-baik saja." Ucap pria yang adalah Richard ketika mendekati mereka berdua.
"A...aaaaa." Kakek Dwarf yang mengenal Richard masih tak bisa berkata apa-apa, pasalnya dari seorang veteran perang seperti dirinya yang menyaksikan dampak dari perang yang terjadi di sekitar lokasi mengasumsikan bahwa pertarungan skala besar adalah penyebab utama dari porak porandanya lokasi yang ia injak saat ini.
Sebuah pertarungan besar yang harusnya membuat siapapun yang berada di medan perang ini musnah tak tak tersisa. Namun nyatanya, seorang pemuda berjalan seolah menjadi pemenang dalam pertarungan besar yang terjadi.
Hal itu membuat kakek Dwarf tak berhenti memandangi Richard yang berhasil selamat meski tubuhnya terlihat kacau, bahkan ia masih bisa berjalan santai dan menyapanya. Kakek Dwarf menduga-duga, beberapa pertanyaan muncul di kepalanya. Dengan rasa penasarannya, ia pun bertanya dengan gagu.
"Anak muda!!" Si-siapa kau sebenarnya?" Tanya Kakek Dwarf yang menatap Richard, sesaat setelah menatap Richard. Kakek Dwarf bergeming karena melihat tekad dari mata merah Richard.
"Apa maksud mu Kakek tua.. Sudah berapa kali aku memperkenalkan diri. Namaku adalah Red." Ucapnya sambil berlalu.
Kakek Dwarf tidak membalas, apa yang Richard katakan tidak menjawab pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Tapi, tatapan mata itu sudah cukup menjadi tanda jika ia bukanlah orang biasa.
Lalu orang-orang yang berada di tempat itu mulai menyadari sesuatu. Ada yang berlutut, ada yang menunduk ada pula yang berdiri sambil menatap rumah mereka. Orang-orang itu punya satu kesamaan, mereka semua berlinang air mata, mereka menangisi tanah yang mereka bangun dengan keringat dan kerja keras selama bertahun-tahun, tempat dimana mereka menopang kehidupan kini telah musnah dan tak tersisa. Bahkan untuk sisa-sisa mayat saudara, ayah, ibu dan pasangan mereka. Tidak ada sama sekali, yang ada depan mata mereka hanya sebidang tanah yang kosong yang tertiup hembusan angin dan kenangan orang-orang yang gugur dalam pembantaian malam mengerikan itu.
Mereka semua menangisi hal yang baru saja mereka lihat, mereka berdua atas kehilangan yang terjadi hanya dalam satu malam saja.
Richard yang berlalu berjalan perlahan, ia berjalan tanpa arah. Matanya fokus ke depan sementara Woli mengikuti dari belakangan dengan perasaan ragu atas apa yang baru saja dia dengar dari mulut panutannya itu.
__ADS_1
"Ah sial.. Kenapa? Kenapa aku selalu berada di tempat yang tidak tepat!?" Ucapnya pada diri sendiri.
Dengan pandangan kosong itu, Richard merasa menyesali sesuatu.
Dalam ingatannya, malam tadi menjadi malam yang sangat panjang. Ia banyak melihat nyawa mati sia-sia, di bantai oleh klan iblis. Yang menjadi penyesalan terbesarnya adalah ketidakmampuannya untuk berbuat apa-apa.
Bukan karena tidak mampu untuk menolong, tapi karena keegoisannya yang tak ingin menolong. Entah kenapa ia tiba-toba menyesali keputusannya untuk tidak berbuat apa-apa disaat semua orang sekitarnya mati karena amukan klan Iblis.
"Sial.. Sialan. Kenapa? Kenapa aku tidak melakukan apa-apa!?" Ucapnya sekali lagi sambil berjalan. "Untuk apa kekuatan ini sebenarnya? Jika aku? Jika aku tidak melakukan apa-apa? Untuk apa...?" Ucapnya, ia mulai mempertanyakan ketidakyakinan atas keputusannya untuk meninggalkan dunia ini.
"Tch... Sial.. Sial, sial, sial.. Siapa aku sebenarnya?" Ucap Richard, mentalnya goyah.
Mental baja yang ia dapat selama setahun di dalam gua mulai goyah saat ia menyaksikan kematian dan pembantaian melayang di ingatannya. Apa lagi setelah berbicara dengan para kesatria suci, pembicaraan singkat itu membuat hati kecilnya muncul kembali, hati rapuh yang dulu ia miliki saat pertama berada di dunia ini, hati baiknya itu membuat ia ragu dengan ketidakpeduliannya akan kehancuran dunia. Ia ragu dengan niatnya, niat awalnya yang tidak ingin ikut campur dengan apapun yang terjadi di dunia ini.
Di tengah keraguan itu, tiba-tiba seorang wanita memegang tangannya dan mengatakan. "Terima kasih!"
"Uh!" Richard berhenti melangkah, ia berbalik dan melihat asal suara itu. "Nora.." Ucap Richard lirih.
"Tuan Red.. Terima kasih!" Ucap Nora memegang tangan Richard dengan kedua tangannya. "Terima kasih telah menyelamatkan kami semua." Ucapnya sambil tersenyum manis.
"Huh.. Menyelamatkan?" Seketika ingatan dari teriakan dan kematian orang-orang kembali memenuhi kepala Richard. "Jangan salah paham.. Aku tidak menyelamatkan siapa-siapa." Ucap Richard dengan mata menatap tanah, ia menunduk.
"Tidak.. Tuan Red. Jika kau tidak menahan iblis mengerikan itu maka kami semua mungkin akan mati.. Aku, kakek Dwarf dan yang lainnya masih hidup, itu semua berkat anda." Jelas Nora.
"Kakakmu.. Dia mat..!"
"Iya, benar. Iroh mati, tapi aku berhasil menemukan Ibuku. Dan itu semua berkat anda tuan Red." Kata Nora untuk mempertegas apa yang telah dilakukan oleh Richard. "Tuan Red.. Aku mohon, tetaplah menjadi seorang penolong seperti sekarang. Dunia membutuhkan orang-orang sepertimu!" Ucapnya sekali lagi.
Ucapan sederhana itu sedikit mengalihkan perhatian Richard dari rasa bersalah yang muncul dibenaknya.
Beberapa saat kemudian, setelah situasi menjadi tenang. Pasukan bantuan dari kota Lockdown mulai berdatangan, para kesatria sihir datang untuk membantu mereka para pengungsi yang berhasil selamat dari tragedi malam berdarah. Para pencari suaka di luar kota Lockdown mendapatkan bantuan berupa makanan dan pengobatan dari para penyihir.
Di hari yang sama..
Tempat berbeda, wilayah timur Neverland.
Wilayah kerajaan Skandia, beberapa jam sebelum memasuki Ibu kota kerajaan.
Rombongan kereta yang membawa pangeran Erling bersama dengan pasukannya telah menempuh perjalanan 2 hari 2 malam dan di hari ketiga ini, sebentar lagi mereka akan mencapai Ibu kota kerajaan Skandia.
Beberapa hari yang lalu, pasukan pangeran Erling yang melakukan patroli di perbatasan laut antara kerajaan Skandia dan kerajaan Nusantara dikejutkan dengan pengakuan dua orang yang mereka temukan terkatung-katung di laut lepas. Kedua orang itu mengaku sebagai Kesatria besar Ihsan Wijaya dan putri kerajaan Nusantara, putri Gayatri.
Menurut pengakuan mereka berdua, jika kerajaan Nusantara telah takluk dan berhasil dikalahkan oleh pasukan iblis, tak sampai disitu mereka juga mengatakan jika raja iblis telah muncul, iblis kuat yang telah menenggelamkan setengah dari jumlah pulau yang ada pada kerajaan Nusantara. Dialah Leviathan Servent.
Setelah menerima pengakuan itu, pangeran Erling beserta pasukannya langsung bertindak dan memutuskan untuk segera menuju Ibu kota kerajaan dan melaporkan langsung apa yang ia dengar dari kedua orang yang yang mengaku sebagai kesatria dan putri raja kerajaan Nusantara.
Pengakuan mengejutkan itu sontak membuat pangeran Erling sangat terkejut, apa lagi berita penyerangan dan kekalahan kerjaan Nusantara tidak terdengar oleh kerajaan-kerajaan lain sampai saat ini. Oleh karena hal yang sangat penting itu, pangeran Erling memutuskan untuk meninggalkan perbatasan dan langsung menuju ke Ibu kota kerajaan. Tentu dengan meninggalkan setengah pasukan utamanya untuk mengawasi perbatasan kedua kerajaan itu.
Sebelum sampai ke Ibu kota kerajaan, pangeran Erling terlebih dahulu memutuskan untuk mengirimkan surat peringatan kepada ayahnya. Di tengah perjalanan menuju Ibu kota kerajaan, surat itu mendapatkan balasan yang tidak terduga.
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, rombongan pangeran Erling nampaknya akan segera tiba di Ibu kota kerajaan Skandia. Dengan kecepatan 20 km per jam, kereta kuda yang di tumpangi oleh Pangeran Erling melaju secara perlahan.
Pangeran Erling berada di dalam kereta kuda dengan motif khas Skandia berwarna kuning keemasan. Kereta itu terlihat mewah ditarik oleh 2 ekor kuda jantan putih yang berpostur kekar dan tegap. Di depan kereta kuda, terdapat seorang prajurit berziarah yang memegang kemudi kuda. Sementara beberapa prajurit berkuda mengiringi dari samping dan depan kereta itu.
Di dalam kereta kuda, pangeran Erling tidak sendiri. Di depannya saat ini terlihat pula putri Gayatri yang memandangi jendela kereta kuda dengan tatapan kosong. Pantulan wajah semu nya tercermin dari tempat ia memandang keluar. Ia terlihat murung dengan tatapan kosong dan pikiran melayang memikirkan kehancuran negerinya. Tentu saja, siapa saja yang mengalami hal buruk itu hanya dalam semalam pasti akan merasakan hal yang sama.
Wajar rasanya jika ia merasa depresi atas apa yang telah terjadi, ya.. Tatapan itu adalah tatapan penyesalan dan kumpulan kesedihan yang mengisyaratkan betapa frustasinya ia saat ini.
__ADS_1
"Putri.. Sebentar lagi kita akan sampai. Tenang saja, seorang prajurit dari kerajaan Nusantara sudah menunggumu di istana raja. Sebentar lagi kau akan pulang ke negerimu dengan selamat." Ucap Pangeran Erling sedikit memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti mereka berdua.
Gayatri yang mendengar hal itu hanya bisa berkata sambil tersenyum. "Bodoh..." Ucapnya meneteskan air mata, tentu saja karena ia tahu jika saat ini nyawanya dalam bahaya.
Bukan tanpa alasan putri Gayatri mengatakan hal itu, apa lagi setelah Kesatria besar Ihsan Wijaya ditahan atas tuduhan tak terbukti yang dituduhkan padanya melalui secarik kertas dari Ibu kota kerajaan Skandia
Beberapa hari yang lalu, ketika rombongan sedang beristirahat di suatu wilayah kerajaan Skandia. Pangeran Erling mendapatkan informasi melalui sepucuk surat dari istana kerajaan, surat yang menyatakan jika utusan kerajaan Nusantara telah tiba di istana kerajaan Skandia itu membuat pangeran Erling mengambil tindakan berbeda. Surat resmi itu menyatakan jika seorang Iblis menculik putri Gayatri dan memengaruhi kesadaran putri Gayatri agar mengikutinya.
Sumber dari informasi penculikan itu dibawa Langsung oleh utusan kerajaan Nusantara. Entah bagaimana caranya, utusan itu bisa sampai lebih dulu dari pada rombongan pangeran Erling.
Akibat dari informasi itu, Pangeran Erling langsung mengambil tindakan. Tindakan yang membuat putri Gayatri terlihat murung dan frustrasi seperti saat ini.
"Aku tidak bisa berbuat banyak Putri, bagaimanapun kita akan tahu saat tiba di istana kerajaan." Ujar Pangeran Erling.
"Bodoh.. Bodoh." Gayatri yang memandangi pantulan wajahnya melalui kaca jendela berbalik menatap Erling. "Lihat mataku, lihat.." Katanya dengan mata yang meneteskan air mata.
"Apakah mata ini tampak seperti mata orang yang sedang di kendalikan kesadarannya? Hah? Jawab aku Erling?" Ucapnya membentak.
Pangeran Erling hanya diam, ia tak mengucapkan sepatah kata. "Aku.. Putri Gayatri Ingalaga, bersumpah... Dengan mata kepalaku sendiri, menyaksikan kehancuran kerajaan Nusantara." Tegasnya menahan tangis.
"Sekarang.. Kau mengatakan jika seorang perwakilan kerajaan Nusantara berada di istana kerajaan Skandia.. Huh? Apa kau bodoh.. Itu tidak mungkin!?" Ucapnya Lirih.
Erling menghela nafas, ia mulai bimbang. Ia tak yakin dengan apa yang ia lakukan saat ini. "Sekarang.. Aku mohon untuk terakhir kalinya padamu. Lepaskan Ihsan.. Jika tidak aku benar-benar akan mati. Aku akan mati Erling.. Tolonglah... " Gayatri yang sejak tadi memandang mata Erling dengan amarah tertunduk, ia memelas sambil menundukkan kepalanya.
Suara hentakan kuda terdengar jelas di telinga saat percakapan itu berhenti. Erling tak dapat mengucapkan apa-apa, ia tak bisa memutuskan untuk mempercayai isi surat dari ayahnya atau perkataan wanita yang ada di depannya saat ini. Wanita yang dengan lantang mengatakan sumpah tanpa ada sedikit pun keraguan di matanya. "Putri.. Aku bersumpah, kau tidak akan mati!" Ucap Erling menatap tajam Gayatri.
Di kereta lain, seorang pria yang saat ini tak bisa bergerak mencoba menemukan cara agar bisa lepas dari jeratan rantai yang melilit lengan, kaki dan tubuhnya. Tak sampai disitu, penglihatannya tertutupi oleh lilitan kain hitam, sementara ia terbaring di dalam sebuah penjara kecil yang berada di dalam kereta kuda.
Kereta itu di jaga oleh 4 orang, 2 orang kesatria di dalam kereta mengawasi gerak geriknya sedangkan 2 orang lagi duduk di depan kemudi kereta. Kereta itu dikelilingi oleh 2 prajurit berkuda, masing-masing berada di sebelah kira dan kanan.
Pria yang sedang dijadikan tahanan itu adalah kesatria besar Ihsan Wijaya. Ia di tahan setelah pangeran Erling mendapatkan surat tentang informasi penculikan putri Gayatri. Ihsan, dituduh sebagai iblis yang menyamar sebagai manusia dan menculik putri Gayatri.
Dari suara hentakan kaki kuda. Gaduh lain mulai terdengar, suara hiruk pikuk keramaian mulai terdengar dari dalam kereta. Keheningan atas rasa canggung yang menyelimuti Erling di depan Gayatri sirna tatkala suatu bising lain terdengar.
Ya.. Mereka telah tiba di ibu kota kerajaan Skandia.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
-
-Bersambung-