
Suasana kembali sunyi setelah sebelumnya mencair saat Rever dan Luca menghilang masuk ke dalam portal, angin yang tertiup menerbangkan debu malam terdengar saking sunyinya, semua kembali terdiam saat Sir Jean menatap tajam dan mengarahkan tombak emasnya ke arah Richard yang berdiri cukup jauh darinya, Richard berdiri tanpa kata sejak tadi bahkan ia tak bereaksi sama sekali ketika Rever masuk ke dalam portal.
Semua prajurit dan kesatria tertegun, mereka segan melihat raut wajah gahar dan sangar yang di tunjukan oleh kesatria agung sekaligus pemimpin tertinggi mereka, Sir Jean Stephenson. "Ggrrrrr.., aku akan membayar kesalahan kalian semua, kalian sudah membiarkan Nyonya Inggrid menderita bahkan tak berhasil membunuh iblis yang mengacaukan keluarga Snifooler.. Tapi untuk kali ini, pembunuh tuan Grobogan tidak boleh dilepaskan." Sir Jean mengatakan keteguhan hatinya sambil mengarahkan tombak yang ia pegang ke arah Richard.
Sementara itu, Eros merasa jika hal ini sudah tidak di perlukan. Eros memegang kerah baju Kane yang tiba-tiba saja mengatakan hal yang seharusnya tidak dia katakan. "Tuan Kane..." Kata Eros membentak. "Kenapa? Kenapa kau mengatakan itu setelah hidupmu di selamatkan oleh pria itu!" Bentak Eros pada Kane.
Kane tidak menatap mata Eros, dia memalingkan wajahnya dengan raut cuek dan tidak peduli. Batinnya masih berkutat dengan harga diri tinggi, ia tak mau menekan harga dirinya hanya karena telah diselamatkan.. Ia tak sudi dan tak mau menerima kebenaran tentang seorang penjahat yang membunuh bangsawan telah menyelamatkannya.
"Heh.. Tuan Jean!" Snijder yang berdiri di tengah sedikit bingung melihat gelagat Jean, ia berjalan cepat untuk menghampiri Jean yang terlihat serius menyerang Richard. Bagi Snijder, Richard bukan seorang penjahat atau orang yang tepat untuk di jadikan lawan, melainkan baginya Richard adalah orang hebat yang pantas di jadikan rekan karena kekuatan dan keberhasilan Richard mampu membuat Rever tersudut seperti yang telah dia lihat sebelumnya.
Tapi sayang, Di saat Snijder melangkah mendekati Jean.. Tombak itu telah meluncur cepat dengan imperium angin, mengarah tepat ke arah dimana Richard berdiri sempoyongan tanpa kata. "Huh!" Sesaat menyadari hal itu, Snijder terkejut dengan tindakan ceroboh Jean.
Tombak itu meluncur dengan cepat, sesaat sebelum mengenai Richard. "Tuan!!" Woli datang, ia membuat Richard menunduk agar terhindar dari serangan tombak itu. Richard yang diam berhasil selamat, ia selamat karena kedatangan Woli. Jika saja Woli tidak tepat waktu maka mungkin Richard akan terkena serangan itu karena sesaat sebelum serangan itu mengenainya tidak ada tanda-tanda jika Richard akan menangkis atau menghindar. Richard hanya berdiri mematung tanpa kata, bahkan saat ini.
"Huh.. Tuan, tuan Richard!!" Woli melihat Richard yang kali ini berada di sampingnya. Woli terkejut karena melihat kondisi Richard yang terluka tapi tatapan mata Richard terlihat sangat tajam hanya saja ketajaman mata itu tidak melihat siapapun alias tatapannya kosong.
Di sisi lain, Eros cukup terkejut melihat kembali Woli, pun dengan para kesatria yang lain. "Manusia serigala itu." Gumamnya.
"Tuan Jean... Manusia serigala itu adalah buronan yang meresahkan kota Lister!" Kane dengan mulut embernya kembali memberikan informasi pada Jean.
"Huh!!" Jean melihat Kane, lalu berbalik kembali ke arah Woli yang tertunduk memegang tubuh lemah Richard. "Eros... Apakah itu benar?" Tanya Sir Jean.
Eros bimbang, ia bingung harus mengatakan apa karena pada dasarnya ia merasa telah berhutang budi pada Richard atas apa yang telah terjadi malam ini. "Erossssss.. Apakah itu benar?" Kane kembali bertanya, kali ini dengan tensi yang tegas.
"I.. Iya tuanku." Eros spontan menjawab.
"Hem... Baguslah. Dengan begitu aku bisa membunuh dua orang penjahat sekaligus." Gumam Sir Jean yang menggerakkan tangannya agar tombak miliknya kembali menyerang Woli dan juga Richard. Dengan menggunakan imperium angin, Sir Jean dapat dengan mudah mengendalikan tombak emasnya meski ia tak memegang tombak tersebut.
Hanya sekali hentakan tangan, tombak itu kembali mengarah pada Woli dan Richard. Sangat cepat hingga tombak itu hampir saja menembus tubuh Woli yang tak bergerak karena masih merasakan sakit akibat luka yang ia derita.
Beruntung.. Tombak itu terpental karena di hadang oleh Snijder Stollen yang tidak sepaham dengan tindakan bodoh Sir Jean.
Sontak para kesatria yang melihat terkejut, pun dengan Sir Jean. "Snijder.... Apa maksudmu!?" Ucapnya tegas.
"Maaf tuan Jean.. Tapi aku benar-benar tidak mengerti kenapa kau menyerang orang ini!" Snijder melirik Richard yang masih tidak berekspresi di samping Woli.
"Cih... Itu bukan urusanmu Snijder. Orang itu sudah membunuh bangsawan kerajaan ini. Dia pantas mati, apa lagi dia juga komplotan manusia serigala yang merupakan buronan kerajaan itu. Jadi wajar saja jika aku akan membunuh mereka di sini." Tegas Jean.
"Huh.. Membunuh bangsawan.." Snijder bergeming, ia kembali melirik Richard dan sedikit tak percaya atas apa yang Sir Jean katakan.
Saat melirik, Sir Jean kembali menggerakkan tombak miliknya ke arah Richard tapi pertahanan Snijder tidak mengendor dan berhasil menangkis serangan itu lagi dan lagi. "Ehh.. Tuan Snijder!" Eros cukup terkejut atas keputusan Snijder yang melindungi Richard dan Woli.
Di sisi lain, saat kejadian itu terus terjadi. Woli dengan segala kekuatannya mencoba untuk menggendong Richard yang terluka dan sejak tadi diam dan tidak bergerak, tapi luka yang ia serta membuat gerakannya terbatas. "Sial.. Tuan.. Tuan Richard." Meski terus memanggil Richard tapi tatapan mata Richard masih terus mengarah ke depan, tatapan kosong yang tajam.
"Oi oi... Apa kau yakin atas keputusan ini Snijder. Kau bisa membuat aliansi berantakan jika kau melindungi seorang buronan kerajaan Inggram." Jean mendekat, kali ini jarak antara dirinya dan Snijder lebih dekat dari sebelumnya.
Mereka berdua terlibat pembicaraan serius terkait masalah ini. Bagaimanapun sebagai kesatria agung mereka berdua hampir setara dari segi kekuatan dan pengalaman bertarung, hanya saja Sir Jean lebih mementingkan ego dan keras kepalanya dibanding berpikir cerdas terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Sir Jean sudah menganggap jika Richard adalah pembunuh dan harus di bunuh atas kejahatannya.
Sedangkan Snijder yang berpikir dengan jangka panjang, mulai memikirkan tentang nasib daratan Neverland. Ia benar-benar kagum atas kekuatan Richard yang hampir saja membunuh Rever, Snijder juga mencoba berpikir positif atas hal yang dituduhkan oleh Sir Jean. Baginya, bisa saja hal itu hanya salah paham karena bagaimanapun Snijder menganggap jika Richard akan lebih baik menjadi rekan dari pada lawan.
Perdebatan yang panjang terjadi, adu pendapat bahkan saling serang antara mereka tak terelakkan. Pertarungan antara dua kesatria agung tersaji di depan para kesatria dan prajurit setelah sebelumnya mereka melihat pertarungan antara Richard dan iblis.
Meski bertarung, tapi kedua kesatria agung tidak bertarung dengan sekuat tenaga mereka. Lebih tepatnya Sir Jean hanya mencoba menyerang Richard dan bergerak ke arah Richard tapi selalu berhasil dihalangi oleh Snijder, di sela-sela pertarungan itulah mereka juga saling adu argumen.
Pada satu momen saat senjata mereka saling berbenturan, ledakan aura terjadi. Mereka terlihat saling menatap. "Tuan Jean.. Pikirkanlah sekali lagi! Orang itu berhasil membuat Rever babak belur.. Bukan kah dia bisa menjadi rekan yang tangguh untuk menghadapi klan iblis."
"Cih.. Pembunuh tetap pembunuh.. Dia harus dibunuh!" Sir Jean bersikukuh.
Mereka berdua kembali terdorong setelah saling serang. Sir Jean kembali mengerahkan serangan pada Richard tapi kembali dimentahkan oleh Snijder, mereka kembali bersinggungan. "Snijder... Sialan, kau benar-benar membuatku muak. Kau bisa merusak hubungan kerajaan Inggram dengan kerajaan Celestial jika terus melindungi buronan itu." Ujar Sir Jean.
"Maafkan aku.. Tapi kemampuan orang itu benar-benar akan berguna di masa depan!" Tegas Snijder.
Pertarungan kembali memanas.. Keduanya tak ingin mengalah atas argumen mereka.
Di saat mereka berdua bertarung, Woli masih berusaha menopang Richard yang tidak pingsan, hanya saja Richard seperti kehilangan kesadarannya karena meski matanya terbuka tapi pikirannya tidak sedang ada di tempat ini.
Richard dengan tatapan kosong itu memikirkan hal lain yang membuat dirinya tak bisa merasakan hal yang terjadi saat ini. Di tengah kegaduhan itu, pikiran Richard sedang mengingat masa lalunya yang kelam. Ia mengingat ketika ia mendapatkan diskriminasi saat ia datang pertama kali ke dunia ini, mengingat betapa menakutkannya Rever saat pertama kali ia bertemu dan mengingat bagaimana perjuangannya untuk bisa hidup di dalam labirin yang penuh dengan monster.
__ADS_1
Ingatan-ingatan buruk itu membuat Richard terdiam mematung, entah mengapa pertarungannya dengan Rever mengingat kembali ingatan buruk yang pernah membuatnya terpuruk. Saking tenggelamnya dalam ingatan itu, Richard tidak mendengar suara Woli yang terus memanggilnya dan tak pula merasakan pertarungan yang telah terjadi di sekitarnya.
"Untuk apa aku hidup? Untuk apa aku dikirim ke dunia ini? Siapa aku sebenarnya?" benak Richard sambil memikirkan kembali ingatan buruk itu.
"Kesatria Terlemah!! Huhahaha.
"Dasar... Kesatria mesum."
"Mati saja kau sialan."
"Tidak berguna."
"Jika kau hanya bisa menyusahkan, mending kau tinggal saja di dalam istana."
"Hiahahaha.. Mesum."
Perkataan-perkataan buruk yang pernah ia dengar muncul di kepalanya. Entah kenapa.. Perkataan itu muncul.. Ia terus memikirkan hal buruk itu, ia semakin tenggelam dalam ingatan buruk yang pernah ia alami.
Lalu.. "Sial." Snijder terlempar, ia berhasil dihempaskan oleh Sir Jean kala lengah. Hal itu membuat Woli dan Richard masuk dalam jarak serangan Sir Jean.
Tanpa membuang kesempatan yang ada, Sir Jean langsung menerjang dengan tombak. Woli bangkit dan berdiri di depan Richard untuk melindungi tuannya itu dari tombak yang mengarah padanya.
"Tuan.. Tuan Richard.. Sadarlah tuan." Woli berteriak terus menerus namun tidak digubris oleh Richard.
Richard terus tenggelam dalam ingatan buruk sampai.. Satu suara membuat ia teralihkan "Ignis.. Kau adalah kesatria terkuat! Sadarlah... Ignis...."
"Eh.. Ifrit!" Gumamnya yang duduk lesu di belakang Woli. Setelah mendengar bisikan gaib itu kesadarannya kembali, tatapan mata yang kosong kembali menampakkan pantulan bayangan dari apa yang ia lihat. Saat ini dia memilih seorang pria berbulu yang yang membentangkan tangan di depannya, pria berbulu itu adalah Woli.
Dan dari depan, mendekat dengan cepat seorang pria berzirah menerjang dengan tombak yang siap untuk menusuk. Richard akhirnya tersadar.. Ia tersadar dan sesaat sebelum tombak itu menusuk Woli yang melindunginya, ia bergerak ke depan dan menundukkan Woli dengan cara menarik baju Woli ke belakang dan maju menangkap tombak yang mengarah padanya.
Woli yang terjatuh karena di tarik ke belakang terkejut kala melihat Richard menangkap tombak itu dengan tangan kirinya. Tombak yang telah dilapisi dengan imperium angin itu berhenti seketika di tangan Richard. "Aah..!" Mata Sir Jean terbelalak kala tombak yang ia pegang ditahan oleh Richard dengan mudah.
"Gih.. Pria itu menakutkan." Snijder tersenyum melihat hal yang baru saja terjadi, dia jadi yakin jika Richard adalah orang yang sangat hebat dan sangat layak dijadikan rekan.
"Aarrrggggg..." Sir jean tidak menyerah, ia menggeser tombak itu ke kanan dengan sekuat tenaga tapi tombak yang di pegang oleh Richard tidak bergerak sama sekali.
"Bagaimana bisa.. Orang itu sudah terluka tapi masih bisa menahan serangan tuan Jean?" Eros berdiri tak percaya melihat pemandangan di depannya.
"Jangan ada yang mendekat!!" Sir Jean berteriak, ia tak ingin ada satupun orang yang membantunya karena itu bisa membuat harga dirinya jatuh sebagai kesatria agung. "Orang ini... Aku sendiri yang akan membunuhnya!" Tegas Sir Jean.
Sementara itu Richard yang baru saja sadar dari ingatan buruk masa lalunya sedikit bingung, ia bingung karena bertarung dengan orang entah yang tidak dai kenalan padahal sebelumnya dia bertarung dengan Rever. Setelah melihat sekeliling dia tidak menemukan Rever ataupun Luca Crollo, yang ia lihat hanya dua orang kesatria dengan imperium besar.
"Apa yang terjadi?" Tanya Richard dalam hati.
Sesaat kemudian, Dengan seluruh tenaganya Sir Jean berhasil melepaskan tombaknya lalu menyerang Richard dengan tombak dari arah kiri dan kanan, tapi Richard mundur dengan gerakan kaki yang cepat sambil menggendong Woli yang masih terluka dan belum bisa bergerak bebas. "Tuanku!!" Ucap Woli sumbringah.
"Hei bocah, kenapa kau kembali ke sini?" Tanya Richard yan kesal melihat Woli.
"Aku ke sini ingin menyelamatkanmu tuan!"
"Hah!! Menyelamatkanku? Apakah aku butuh diselamatkan.. Lihat sekarang, justru aku yang kembali menyelamatkanmu."
"Hehehehe..." Woli hanya tersenyum cengengesan mendengar hal itu.
Di sisi lain, di depan merek berdua. "Sepertinya aku harus serius melawan orang itu." Kata Sir Jean menatap Richard.
Lalu di sebelahnya, Snijder mendekat. "Tuan Jean, hentikan.. Lihat pria itu.. Apakah dia tambak seperti ancaman? Dia juga manusia sama seperti kita." Snijder masih mencoba menasihati Sir Jean.
Perkataan Snijder kembali tak direspon, malah kali ini Sir Jean mengeluarkan aura besar sebagai tanda jika dia akan serius menyerang pria bermata merah di depannya. Sontak hal itu membuat para kesatria bawahannya tercengang karena mereka bisa melihat kekuatan sesungguhnya dari seorang kesatria agung.
Pancaran aura itu dirasakan pula oleh Richard tang sejak tadi mencela tindakan bodoh Woli yang kembali ke tempat ini setelah dengan susah payah dia diselamatkan sebelumnya oleh Richard. "Sepertinya orang itu mulai serius?" Ucapnya menatap Sir Jean.
Sepersekian detik kemudian.. Sayap angin keluar dari zirah sir Jean.. Ia terbang meluncur tepat ke arah Richard.
"Huh! Pria itu. Hehe.. Baru kali ini aku melihat seseorang bisa terbang dengan imperium api." Snijder melihat Richard yang juga melayang dengan dorongan api pada kedua tapak kakinya.
Dan hantaman terjadi.. Sir Jean menyerang dengan tombak. Richard tidak membalas tapi berhasil menghindar dengan memprediksi berbagai jenis serangan yang di arahkan padanya. Sangat sengit pertarungan yang terjadi di udara itu kembali membuat mereka yang melihat tak mampu berkata apa-apa.
__ADS_1
"Cih... Pria itu... Brengsek!" Umpatnya Kane yang merasa kesal melihat Richard mampu menandingi Sir Jean meski dengan tubuh terlukanya.
Tapi lama kelamaan, tubuh Richard yang terluka akhirnya bereaksi hingga membuat ia lengah dan terkena pukulan tombak yang membuat Richard terhempas ke bawah, beruntung yang mengenainya bukan ujung tajam tombak tapi batang dari tombaknya.
Saat Richard terhempas, para prajurit dan kesatria, terutama Kane bersorak dengan keras.
Tak sampai di situ, Sir Jean meluncur ke bawah dengan tendangan namun Richard sigap menangis dengan kedua tangannya. Meski tertangkis tapi tendangan yang cukup kuat itu membuat ia terdorong cukup jauh ke belakang.
"Huh uh huh..!" Richard menarik nafas, tak bisa dipungkiri jika pertarungannya dengan Rever sudah menguras tenaganya.
Sir Jean tak ingin melewatkan kesempatan, satu kepakan sayap ia langsung meluncur ke arah Richard dengan cepat bersama dengan tombak yang ia arahkan ke depan.
Snijder yang melihat hal itu tak bergeming, ia ingin melihat seperti apa respon dari Richard atas serangan kali ini.
Sesaat serangan itu tiba di depannya, Richard menjatuhkan badan ke belakang dan mengangkat tangan untuk menyentuh tanah, ia salto sambil menendang tombak ke atas hingga tombak itu terlepas dari genggaman Sir Rean, tapi dengan imperium angin tombak itu berhasil di kendalikan dan mengerahkan tanggung ke bawah, tepat ke arahku Richard yang baru saja bangkit setelah melakukan gerakan akrobatik.
"Mati!!!!" Sir Jean berteriak sambil menggerakkan tangannya ke bawah sebagai arah pengendalian tombaknya dari jarak jauh.
Richard melihat ke atas dan... Tombak itu merobek paha kanannya karena terlambat untuk mundur. Sepertinya tenaganya memang sudah terkuras, beruntung karena tombak itu cuma memberi luka gores dan tidak sampai menembus pahanya.
Tapi luka gores yang cukup dalam itu sudah cukup membuat Richard berlutut. "Arg.. Sial, siapa orang itu. Kenapa dia menyerang ku?" Tanyanya dalam hati,
Tombak yang tertancap di tahan dengan darah itu kembali ke tangan Sir Jean. "Heh... Ternyata segitu saja. Hei kau!! Kau telah membunuh tuan Grobogan, menyerah atau mati! Jika menyerah kau akan aku biarkan hidup untuk dibawa ke istana, kau akan di hukum berdasarkan titah raja Inggram dalam pengadilan.. Tapi jika menyerah maka terpaksa aku akan membunuhmu." Tegas Sir Jean.
"Huh.. Inggram? Pengadilan!" Benak Richard.
"Hm.. Aku masih ingat bagaimana dulu kalian memperlakukan aku di pengadilan kerajaan Inggram.. Bagaimana kalian menatapku... Aku sangat mengingat!" Gumam Richard dengan nada rendah.
Benar juga, kala itu.. Richard di adili dalam pengadilan kerajaan atas tuduhan pelecehan terhadap pelayan kerajaan. Hal yang tidak dia lakukan sama sekali, dia di nyatakan bersalah dan menerima hukuman kala itu. Yang paling parah.. Semua orang memandang dirinya dengan tatapan hina, semua... Termasuk para kesatria suci yang lain.
Richard berdiri tertunduk, ia menahan sakit luka di paha dan seluruh tubuhnya. "Aku..."
"Aku sudah cukup merasakan tatapan hina dari kalian semua... Aku tidak akan sudi untuk berdiri di hadapan kalian, berdiri di pengadilan yang sudah kalian atur sebelumnya!!" Richard berteriak dan seketika api hitam keluar dari tangan kirinya. Api yang sangat kuat, itu keluar bersamaan dengan emosi yang meledak dalam hatinya.
Semua orang terkejut, baru pertama kali mereka melihat api yang seperti itu karena di pertarungan sebelumnya sat melawan Rever, api hitam memang belum dikeluarkan oleh Richard. Baru kali ini api hitam itu muncul.. Muncul karena emosi masa lalunya.
"Ga-gawat.. Ini harus dihentikan!" Kata Snijder yang berkeringat dan gemetar kala melihat nyala api hitam itu.
Setelah berteriak Richard menerjang, ia melangkah ke depan.. Cukup satu langkah dia langsung berada di depan Sir Jean yang bahkan belum siap dengan kuda-kuda menyerangnya. "Ah.. Mustahil." Ucapnya.
Snijder langsung bertindak melihat hal itu, tapi dia terlambat karena pukulan keras dengan api hitam yang membakar sudah mengarah pada wajah Sir Jean.... Pukulan yang membakar apapun sampai habis terbakar. Pukulan api neraka...
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
'
-Bersambung-