
Suara gesekan pintu yang terbuka terdengar oleh seorang pria tua yang sedang bungkuk. Di hadapan pria tua terlihat sebuah peti berukuran cukup besar, pria tua itu terlihat sedang mencoba mengeluarkan beberapa barang dari peti. Ia mengobrak abrik peti, seperti sedang mencari sesuatu yang belum dia temukan sejak dia mulai mengeluarkan beberapa barang yang ia letakkan di lantai ruangan tak jauh dari peti.
Begitu mendengar suara dercit pintu yang terbuka dari arah kiri, pria tua itu langsung menegakkan badan dan menengok ke arah kirinya. Pria itu cukup terkejut, sambil memegang sebuah benda yang entah adalah benda yang ia cari atau bukan, pria itu pun menyapa seorang wanita yang baru saja membuka pintu. "Ah.. Kau rupanya!? Aku pikir siapa!" Ucapnya menatap wajah Wanita yang juga terkejut saat pria tua itu menyapanya.
"Profesor Asking!" Ucap wanita itu, ia sedikit panik karena mengetahui jika ada orang lain yang sedang berada di dalam ruangan ini.
"Ya.. Aliyah." Balas pria tua yang mengenakan kacamata itu sambil membenarkan kacamata tuanya yg sudah usang.
"Ahh.. A-Aku pikir Profesor sedang beristirahat di ruang kerja anda!?" Aliyah sedikit panik begitu mengetahui jika Professor Asking juga berada di ruangan yang sama dengannya. Alasan Aliyah panik tentu saja karena dia tak ingin keberadaan Oana diketahui oleh orang lain.
"Ya.. Tadinya, tapi aku sedang mencari sesuatu. Aduhhh.." Pria tua itu merasa kesakitan dan memegang pinggangnya. Aliyah yang melihat bergegas mendekat dan memegang lengan pria tua yang sedikit membungkuk di sampingnya. "Aku tidak papa.. Maklum, sudah tua begini. Heheheh." Ucapnya tertawa ringan.
Pria tua itu langsung tersadar kala mengalihkan pandangannya ke arah Oana yang sejak tadi berada di belakang Aliyah. "Heh! Siapa gadis itu.. Aku baru melihatnya? Apakah dia muridmu?" Tanya profesor Asking pada Aliyah yang masih memegang lengannya.
"Ahh.. Ya, yaaa.. Hehe, dia muridku. Namanya Oana." Aliyah tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yg tampak canggung, tapi ia berpikir cepat jika seorang pria tua yang sudah penyakitan seperti profesor Asking pasti tidak terlalu peduli tentang asal usul Oana.
"Ahh.. Oana, nama yang bagus." Ucapnya sambil tersenyum ke arah Oana.
Oana tersenyum balik, ia menampakkan wajah ramah pada seorang pria tua yang ia nilai tampaknya tidak begitu mengancam keberadaannya di tempat ini.
"Profesor.. Jangan-jangan kau sedang mencari Proton? " Ucap Aliyah mengerutkan dahi.
"Ya.." Wajah Profesor menjadi sedikit serius kala menjawab pertanyaan Aliyah.
Aliyah sontak melepaskan pegangannya, ia terlihat cukup kesal. "Profesor.. Tolonglah, kita sudah membahas hal ini. Menggunakan Proton sebagai sumber tenaga ketiga untuk portal dimensi itu terlalu berbahaya. Kita sudah membicarakan hal ini bersama dengan yang lain di ruangan anda." Tegas Aliyah.
"Tenang saja, aku tidak akan menggunakan Proton untuk melakukan itu. Aku hanya sedikit penasaran dengan hasilnya. Jadi aku berencana untuk membuat prototipe dan melakukan demonstrasi.. Apakah benar akan gagal. Jika gagal pun dampaknya tidak akan sebesar seperti kita menggunakan item yang sebenarnya." Jelas Professor dengan bijak.
"Ya.. Tapi itu akan membuang waktu.. Kita akan mulai dari awal lagi! Ayolah professor.. Kita tinggal memikirkan cara untuk menciptakan energi ketiga yang akan menopang portal."
"Aku tahu, tapi sepertinya kita memang menemui jalan buntu." Tegas Professor Asking mengerutkan dahi.
"Tch..." Aliyah berbalik dan meletakkan kedua tangannya di perut, ia cukup kesal atas apa yang dikatakan oleh Professor Asking padanya.
Professor Asking adalah seorang peneliti sihir, ia juga merupakan salah satu anggota tertinggi konsulat sihir yang mendedikasikan hidupnya untuk menciptakan berbagai macam item sihir. Salah satunya adalah item sihir yang telah lama ia kembangkan bersama dengan Aliyah dan beberapa orang lainnya.
Item sihir yang dapat membuka portal, mengingat sihir dimensi adalah sihir langka yang hanya dimiliki oleh beberapa orang. Salah satu penyihir berbakat yang memiliki sihir itu adalah Murd Linda Chaya, seorang penyihir hebat yang berasal dari kerajaan Nusantara, sekaligus sahabat dari Aliyah Justifina.
Sudah banyak ahli sihir, khususnya mereka yang berkecimpung di dunia penelitian sihir mencoba untuk menemukan atau menciptakan item sihir yang dapat membuka portal dimensi. Sangat disayangkan karena sampai saat ini belum ada yang mampu menciptakan portal sihir secara sempurna bahkan bagi penyihir yang telah mendapatkan pengakuan dari seluruh pesohor sihir seperti professor Asking dan anggotanya.
"Aliyah.. Aku tahu perasaanmu! Karena aku adalah kau di waktu muda. Tapi..."
"Professor, tolong.. Kita sudah membahas hal ini. Jangan buat aku mengulangi perkataan ku." Aliyah sedikit meninggikan suaranya tanpa melihat ke arah Professor Asking.
Perdebatan yang terjadi antara kedua peneliti tersebut membuat Oana mematung karena tak tahu harus berkata atau berbuat apa. Ia hanyut dalam pembahasan yang tidak dia tahu sama sekali.
"Lagi pula Saint Jose sudah menciptakan formula baru untuk percobaan menggunakan proton ini.. Jadi sepertinya tidak akan ada masalah.." Ucap Professor Asking pada Aliyah.
"Arrkhhhh.. Sudah ku duga, dasar om om tidak berguna. Akun ku remas biji pelernya nanti." Wajah Aliyah memerah dan urat lehernya terlihat jelas, sepertinya Aliyah sangat marah sekarang.
Proton adalah sebuah item sihir yang menyimpan energi listrik yang dapat menghasilkan tenaga, tegangannya relatif ringan namun tetap berbahaya jika item itu meledak. Apa lagi formula sihir yang terdapat pada proton, jika tidak digunakan dengan tepat maka akan mengeluarkan medan elekromaknetik yang cukup besar yang bisa membuat sistem item sihir apa saja pada radius tertentu menjadi tidak teratur.
Apa lagi setelah melakukan penelitian berkali-lali dengan menggunakan proton. Tidak ada satupun formula sihir yang berhasil menyempurnakan item pembuka portal menggunakan proton sebagai kunci energi ketiga, setelah sebelumnya rangkaian kegagalan membuat para tim peneliti sihir yang dipimpin oleh professor Asing frustasi.
Jalan buntu yang mereka temui membuat salah seorang peneliti bernama Saint Jose menawarkan sebuah ide untuk mengembangkan cincin elektrikal yang mampu menopang kunci energi ketiga, cincin itu nantinya akan menyeimbangkan proton dan membuatnya berfungsi dengan baik. Setidaknya itulah teori yang dikatakan oleh Saint Jose kepada Professor Asking dan juga timnya.
Aliyah yang termasuk dalam tim peneliti tersebut menemukan kelemahan dan kejanggalan dari teori tersebut. Ia tidak begitu yakin tapi menurutnya, formula yang diberikan oleh Saint Jose masih belum sempurna dan jika gagal maka akan berakibat fatal. Apa lagi formula tersebut sangat rumit dan besar kemungkinan percobaan itu akan gagal.
Perdebatan tentang hal ini sudah berlangsung selama seminggu. Ada banyak peneliti yang mendukung Aliyah tapi tak sedikit juga yang menolak teori dari Saint Jose.
Aliyah tampak gusar karena selain karena pengetahuannya yang luas, firasat buruk tentang percobaan ini juga sangat menganggu batinnya. Apa lagi Saint Jose merupakan orang yang ia benci sejak masih menimba ilmu yang sama di sekolah sihir Hogward.
"Aliyah.. Aku tahu, kau adalah penyihir hebat dan telah menciptakan item-item sihir yang kuat. Oleh karena itu, kau pasti tahu jika di setiap keputusan yang dibuat oleh seorang peneliti sihir pasti akan ada konsekuensi. Itu adalah jalan yang harus kita lewati, kegagalan akan membantu kita belajar untuk mencipta sesuatu yang lebih baik." Setelah mengucapkan perkataan bijak itu, dengan tertatih karena cukup lelah memindahkan beberapa barang dari peti. Professor Asking akhirnya menemukan item yang ia cari dari dalam peti.
Sebuah bola kecil, besarnya seperti bola ping pong yang mengeluarkan cahaya biru.
"Professor, tolong pikirkan kembali tentang hal ini!" Aliyah berbalik memegang pundak professor Asking dan meyakinkannya tentang percobaan beresiko yang akan dia lakukan bersama dengan Saint Jose dan beberapa tim yang mendukung rencana ini.
Professor Asking memegang tangan Aliyah di pundaknya lalu berbalik. "Tenanglah.. Jika gagal, aku tidak akan melakukannya lagi, tapi jika berhasil maka namamu tetap akan tertulis di dalam sejarah sebagai salah satu penyihir yang mampu menciptakan item portal dimensi." Jelas Professor Asking yang menurunkan tangan Aliyah dari pundaknya.
__ADS_1
Dengan langkah kecil, professor Asking melangkah ke arah kiri. Ia berjalan menjauh dari Aliyah, menuju ke arah pintu. Saat berpapasan dengan Oana yang dari tadi diam karena tak ingin ikut campur dengan pembahasan berat itu, professor tersenyum lalu berkata. "Dengarkan baik-baik apa yang dikatakan oleh gurumu, dia adalah penyihir yang hebat. Pastikan kau mempelajari semua yang dia ajarkan padamu." Sambil berbalik sekali lagi ke arah Aliyah.
Setelah itu, suara dercit pintu tertutup mengakhiri perbincangan mereka. "Sial, sial, sial.. Pria sialan itu... Aakhhggg." Aliyah terlihat sangat kesal atas keputusan professor Asking, padahal ia sudah menjelaskan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi jika penelitian yang akan mereka lakukan gagal.
"E' Nyonya Aliyah." Kata Oana mendekat.
"Iya.. Iya. Ahh.. Oana, maafkan aku.. Aku, ah sudahlah. Jadi apa yang kau butuhkan?" Kekesalannya membuat ia lupa atas tujuannya dagang ke tempat ini.
"Aku ingin meminjam kristal ajaib, untuk mencari keberadaan kesatria suci." Ucap Oana.
"Oh ya.. Ya.. Benar sekali. Mencari keberadaan si mesum. Maaf aku lupa." Ucap Aliyah dengan tendensi yang masih kesal.
Sementara itu, di saat yang bersamaan.
Sebuah tempat rahasia yang menyimpan sesuatu yang tidak banyak diketahui oleh penduduk kota Lockdown.
Ruang bawah tanah, tempat dimana lingkaran sihir besar mengeluarkan cahaya terang. Yang memicu cahaya itu adalah mantra dari pria tua kekar yang memegang ubun-ubun seorang wanita muda. Wanita yang tidak lagi memiliki kesadaran, wanita muda itu kini telah kehilangan jati dirinya bahkan bola matanya terlihat putih seutuhnya.
Wanita muda itu tidak lagi histeris dan berteriak seperti sebelumnya. Kini wanita itu terdiam tanpa kata dengan tubuh yang bergetar tak karuan.
"Akhiri sekarang Sakromentus.." Titah Kanselir sihir yang melihat tak jauh dari lingkaran sihir itu.
"O pura anima innocentes porcam praecidaneam inmolato vita nostra pro nobis .. es heros. Magia provecta clypeum: Exitosus unda." Saat mengakhiri mantra yang ia baca, Sakromentus memperbesar suaranya, ia berteriak lantang.
Sesaat kemudian.. Lingkaran sihir yang bercahaya semakin bersinar dan sinar itu berkumpul menjadi satu. Cahaya itu membentuk satu titik dan terpancar keluar menembus tanah hingga ke langit, bahaya itu menyentuh membran pelindung kubah kota Lockdown, seakan memberi energi baru.
Cahaya itu melesat ke atas bagai tiang kokoh menyentuh membran pelindung, pusat cahaya itu adalah seorang wanita muda yang tak berdaya terikat di tiang dalam ruang bawah tanah. Cahaya itu menyilaukan mata dan ketika para kesatria sihir melihat cahaya itu, mereka semua tersenyum dan bersemangat.
"Hahahaha.. Dengan ini semua pasukan itu akan musnah." Ucap Kanselir sihir yang begitu menikmati silaunya sinar yang terpancar dari tubuh wanita muda itu, sinar yang ia jadikan senjata dan inti kekuatan besar dari pelindung sihir kota Lockdown.
Di atas permukaan, silaunya sinar cahaya itu menarik semua perhatian para kesatria sihir yang sedang berjuang. Tak terkecuali para penduduk kota Lockdown yang tak tahu apa-apa, karena bagi penduduk kota yang tidak merasakan ketegangan perang. Cahaya yang muncul itu tak ubahnya adalah sebuah cahaya suci yang merupakan berkah dari kanselir sihir untuk mereka.
Sementara di atas benteng tombol, para kesatria yang mengetahui cahaya itu bersorak sorai.
"Ahh.. Kanselir sihir!! Penyelamat kita."
"Indah sekali.."
"Semuanya.. Kemenangan kita sudah di depan mata.. Hidup kanselir sihir!"
"Hidup Kanselir sihir!!"
Sorak sorai lalu menggema diantara para kesatria sihir, seakan cahaya yang muncul dan membentang itu adalah tanda jika mereka akan memenangkan pertarungan malam ini.
"Cahaya apa itu?" Neyah, ia menatap cahaya yang muncul bak tiang itu tanpa tahu maksud dari cahaya itu.
"Neyah.. Lihat baik-baik.. Itu adalah sihir cahaya yang berhasil dikembangkan oleh Kanselir sihir. Sihir itulah yang selama ini melindungi kota Lockdown dari serangan klan Iblis. Bahkan, cahaya itulah yang menggagalkan serangan dari iblis level dosa besar beberapa tahun lalu.." Ucap seorang penyihir tua di samping Neyah
Bukan hanya Neyah, tapi beberapa penyihir lain yang juga masih tergolong baru tidak begitu mengerti dengan kemunculan cahaya yang hampir menerangi seluruh lembah. Sedangkan bagi mereka yang mengetahui dan pernah melihat cahaya itu sebelum tak henti memuji dan memuja pemimpin mereka. Tak lain dan tak bukan adalah kanselir sihir itu sendiri.
Ketika cahaya itu menyentuh kubah transparan yang menutupi seluruh kota Lockdown, seketika kubah yang tadinya tidak berwarna kini mengeluarkan cahaya kekuningan. Kubah itu merespon sentuhan cahaya dan kini kubah itupun mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata para iblis dan monster yang menyerang. Tak terkecuali iblis yang berasal di penjuru lain dari kota Lockdown, mereka semua menyaksikan kubah itu bercahaya.
Cahaya itu menarik perhatian semua yang memandang, pun di bagian selatan kota Lockdown. Dimana, tempat itu telah luluh lantah tak terisa akibat pertarungan hebat yang baru saja terjadi.
Terlihat dua ras iblis yang sedang melayang dengan aura dahsyat yang keluar dari tubuh mereka, di bawah mereka terlihat pula seorang pria dengan tatapan tajam. Seakan tak bergeming dengan aura pekat yang mencoba untuk mengintimidasi dirinya. Sementara, di ari arah kirinya beberapa kesatria suci yang waspada sedang menyaksikan dan mencoba mencari peluang untuk menyerang.
"Apa boleh buat jika yang menyuruhmu datang kemari adalah raja iblis.. Chi, aku tidak bisa mengelak. Padahal aku bisa saja melahap beberapa cemilan enak malam ini." Bellzebub melirik para kesatria suci, Rever yang melihat lirikan itu juga menoleh dan melihat para kesatria suci yang sudah siap untuk bertarung.
"Hm.. Para sampah itu juga ada di sini! Menarik sekali. Aku sangat ingin mengetahui kemampuan mereka sekarang." Ucap Rever. "Tapi, orang itu.. Dialah orang yang sangat ingin aku bunuh!" Sambungnya sambil tersenyum menyeramkan.
"Hiuhhh. Hentikan raut wajah jelek mu itu. Pria yang kau lihat itu. Dia akan jadi makanan utama untuk ku. Chichichi.."
Tak jauh di bawah, para kesatria suci bersiap dengan kemungkinan terburuk. Kemungkinan dimana Rever menyerang secara tiba-tiba ke arah mereka.
"Hati-hati..ingat biak-baik saat iblis itu hampir saja membunuh kita semua." Gildarts menggenggam kapak besarnya dengan kedua tangan, cukup erat dengan tubuh tegap yang siap bertarung kapan saja.
"Tenanglah Gildarts.. Iblis itu tidak tertarik pada kita semua." Kata Smits dengan tenang, "Huh... Menyebalkan tapi aku benci mengakui hal ini, kedua iblis itu lebih tertarik dengan laki-laki lusuh yang ada di sana!" Sambungnya dengan wajah datar.
Para kesatria suci kembali melihat Richard yang saat ini berdiri kokoh, tak bergerak dengan sikap tegas menatap kedua iblis yang ada di atasnya.
__ADS_1
"He heee.. Pege! Siapa pria itu?" Rebecca menatap Pege yang saat ini berdiri sambil memegang luka yang ada di tubuhnya. Pege tak menjawab, ia hanya melihat Rebecca dengan tatapan penuh makna. "Bodoh.. Bodoh... Pege, bukan saatnya kau untuk diam. Dasar bisu." Rebecca kesal dengan sikap pendiam Pege.
"Pege.. Kau bertarung bersama pria itu tadi. Apa kau mengenalnya!" Tanya Smits dengan tegas dan tenang.
"Tidak!" Tegas Pege dengan yakin.
"Baiklah.. Kalau begitu aku akan bertanya padanya." Ucap Smits yang memutar-mutar tombak sucinya sambil berjalan mendekati Richard.
Lalu di langit, Rever tersenyum.. Setelah itu, dengan kecepatan kilat hitam. Dia terjun tepat ke arah Richard, seketika benturan terjadi, benturan itu mengakibatkan shock wave yang menerbangkan beberapa debu dan pasir.
"Kau!"
"Argg.. Sial kuat juga kau iblis." Ucap Smits yang menahan serangan Rever dengan tombaknya, tepat di hadapan Richard yang masih tak bergerak.
Rever menghentakkan lengannya, hal itu membuat Smits terdorong ke samping. Dengan sedikit memperbaiki postur Smits bisa kembali berdiri. "Seperti dugaan ku, kau memang kuat.. Tapi, aku tidak akan kalah."
Di sisi lain, "Sialan kau Smits.. Kau menyerang duluan." Kata Rebecca yang melihat pertarungan Smits dengan Rever.
Lalu di langit, Bellzebub ikut menerjang. Bukan ke arah Richard tapi ke arah para kesatria suci. "Rebecca.. Lihat!" Gildarts memperingati Rebecca akan serangan mendadak yang datang ke arah mereka.
Tak lama setelah kontak fisik yang terjadi antara Rever dan Smits. Kubah pelindung sihir pun bersinar, akibat cahaya yang datang dari bawah tanah, tepat di tengah - tengah kota Lockdown.
Cahaya itu menghentikan pertarungan yang baru saja dimulai. Cahaya terang itu membuat Rever tertegun sesaat sebelum ia menyerang Smits setelah serangan pertamanya yang berhasil di tepis. "Cahaya Kematian.. Sialan, wanita tua itu menggunakannya lagi." Gumam Rever begitu melihat cahaya memenuhi kubah pelindung kota Lockdown.
"Ahh, aku tidak bisa melihat dengan jelas." Ucap Rebecca yang panik.
Lalu setelah cahaya memenuhi kubah itu, gelombang mulai terbentuk dan keluar dari kubah. Gelombang itu seperti sebuah ledakan nuklir, bedanya tidak ada ledakan yang terjadi. Yang ada hanya suar gelombang yang keluar dari kubah mengarah ke segala arah.
"Bellzebub.. Saatnya kita mundur. Tarik pasukanmu, malam ini cukup sampai disini." Kata Rever dengan lantang.
"Hei, hei.. Kita bahkan belum menari." Kata Smits yang mendengar hal itu.
Rever berbalik pada Smits. "Aku tidak tertarik padamu sampah!!!" Tegasnya, "Red! Kita akan lanjutkan nanti.. Hahahahaha." Rever mengepakkan sayap cacatnya dan terbang dengan cepat menuju langit, bersama dengan Bellzebub yang mendengarkan perkataan Rever.
Sementara itu, di atas langit.
Monster dan iblis yang terkena gelombang cahaya yang meluas itu meledak. Tubuh para iblis dan monster yang terkena gelombang meledak tiba-tiba begitu tersentuh gelombang cahaya yang semakin meluas. Satu persatu monster dan iblis mundur mengikuti arahan Bellzebub.
Melihat hal itu para kesatria sihir yang berjuang kembali bersorak memuji dan memuja kanselir sihir. Mereka menganggap jika cahaya itu adalah senjata pemusnah iblis yang selama ini telah melindungi kota Lockdown bertahan-tahun, sekaligus merupakan senjata rahasia kota Lockdown dalam membendung serangan iblis.
Cahaya itu disebut sebagai cahaya pembunuh iblis, selain dari ras iblis dan monster. Cahaya itu tidak melukai para ras lain, cahaya itu hanya membunuh iblis dan monster.
Ratusan hingga ribuan monster yang terkena cahaya itu, darah mereka mengucur bak hujan di malam hari. Kini langit kota Lockdown dan lembah ini diselimuti oleh hujan darah para monster dan iblis yang musnah seketika akibat dari gelombang cahaya yang meluas.
Hanya dalam hitungan menit langit yang tadinya penuh dengan monster dan iblis kini menjadi kosong. Suara bising pertarungan kini telah berhenti menjadi suara sorak sorai kemenangan, monster yang berada di bawah benteng juga mundur dan kabur bersama dengan iblis lain.
Cahaya itu benar-benar berhasil mensterilkan lembah dari monster dan iblis.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
*Bersambung*
__ADS_1