
Di persimpangan jalan setelah para kesatria suci keluar dari lembah. Saat ini mereka sedang menikmati bekal perjalanan yang diberikan oleh penduduk kota Gouda terhadap mereka sebelum berangkat.
Karena matahari sangat terik, mereka semua sedang berteduh di bawah pepohonan yang menjadi atap untuk berlindung dari panasnya matahari siang ini.
Begitupun dengan kendaraan mereka.. Yaitu kuda yang mereka tunggangi di ikat ke batang pohon.
Tak jauh dari lokasi mereka terlihat danau yang begitu jernih, danau tempat salah satu diantara mereka menenangkan diri.
"Hadeuh.. Pria itu menyendiri lagi." Smits melihat Pege yang berada di pinggir danau.
Sementara Rebecca memakan bekalnya dengan rakus, bahkan ia berlomba dengan Arthur. Siapa yang akan menghabiskan bekal terlebih dahulu maka dialah yang menjadi pemenang.
"Pelan-pelan.. Nanti kalian tersedak!" Ivy menegur mereka berdua.
"Arthur.. Bukan kah Pege belum makan? Kalau kalian berdua makan seperti itu, bisa jadi Pege tidak kebagian makanan." Gildarts juga ikut menegur.
Dengan sigap Ivy mengambil beberapa potong roti dan daging domba.
"Ivmy Imth makmanmkmu." Arthur kesal melihat Ivy
Diana dengan keras memukul kepala Arthur hingga pingsan.. Makanan yang dia kunyah keluar dari mulutnya bersama dengan busa putih menjijikan.
"Ivy mau dibawa kemana makanan itu?" Rebecca melihat Ivy menjauh.
Sementara itu, di belakang rombongan mereka. Rinto terlihat bersandar ke batang pohon menikmati angin yang berhembus, ia menutup matanya.
Benaknya terus teringat seorang perempuan yang ia tinggalkan di kerajaan Inggram.. Perempuan itu adalah putri Elizabeth yang tak lain adalah istrinya.
Kecantikan parasnya membuat siapa saja tergila-gila pada pandangan pertama, apa lagi sejak pertama kali ia bertemu di kerajaan Inggram. Rinto memang sudah jatuh hati pada sosok putri Elizabeth.
Meski belum lama meninggalkan istrinya itu, tapi hatinya mulai merasa rindu. Ia sendiri bahkan tak percaya jika putri Elizabeth benar-benar menikah dengannya.
Jika di ingat kembali, bagaimana bisa dia menikahi putri Elizabeth? Benar.. Benaknya terus saja memikirkan hal itu hingga ia tertidur.
Di pinggir danau, tempat Pege duduk sambil memejamkan mata. Sepertinya itu adalah kebiasaan Pege, ia sangat suka bermeditasi dan menyendiri.
"Hi.. Pege! Hehe." Ivy mendekat lalu menyapanya.
Pege membuka mata dan seketika ia gugup melihat Ivy mendekat. Saat Ivy mendekat perlahan maka Pege menjauh perlahan.
"Hehe.. Ti-tidak usah takut Pege. Aku adalah temanmu." Ivy tersenyum canggung melihat tingkah Pege.
"A-ada apa!?"
"Iya, kenapa? Suaramu sangat kecil Pege, aku tidak bisa mendengar mu." perkataan Pege tidak terdengar oleh Ivy, itu karena dia berbicara seperti sedang berbisik.
"Ad-ada apa?" Bibir Pege sampai gemetar hanya untuk mengatakan hal itu.
"Oh.. Ini aku membawa makanan untukmu! Kau belum makan siang bukan?" Ivy memberi keranjang yang ia pegang sambil menunduk dan tersenyum.
Pege diam.. Ia melihat ke arah Ivy dan tersipu malu.
"Oi oi.. Pria berponi!! Cepat ambil.. Tch!" Diana mendekat dan membentak Pege.
"Ahh arhh.." Pege panik dan langsung mengambil keranjang itu dari tangan Ivy.
"Tch.. Dasar.." Diana membuang muka.
"Hehe.. Oh iya, aku akan mengisi botol air ini untukmu Pege." Ivy berjalan ke arah danau dan ia membungkuk untuk mengisi botol air itu dengan air danau.
"Ivy.. Sebaiknya kau tidak mengisi air di danau."
"Eh.. Kenapa?" Ivy berbalik melihat Diana.
__ADS_1
"Di dalam air yang terkandung di danau ini, pasti penuh dengan bakteri atau micro organisme yang tidak baik untuk tubuh bahkan bisa menyebabkan keracunan. Sebaiknya kau mengisi botol air jika kita sudah menemukan sebuah sungai."
"Hm.. Kenapa begitu? Bukannya sama saja?" Ivy terlihat bingung.
"Air sungai yang mengalir itu bersih dari micro organisme atau bakteri karena air mengalir terus bergerak dan tidak diam seperti air di danau ini." Jelas Diana.
"Ini adalah aturan dasar jika kau ingin pergi berkemah di pegunungan." Kata Diana.
"Oh, baiklah kalau begitu."
Diana berbalik melihat Pege dan..
"Oi.. Kau makan saja masih memejamkan mata!!" Diana kesal sendiri dengan tingkah aneh Pege.
Ivy tersenyum melihat kekesalan Diana.
Kembali ke tempat awal, dimana sebagian kesatria suci tengah istirahat.
"Huahhh.. Aku kenyang sekali!" Rebecca mengelus perutnya yang terlihat buncit setelah makan dengan rakus.
"Arthur.. Arthur.. Jangan mati!!" Leo panik karena Arthur belum sadar juga setelah di pukul oleh Diana.
"Hadeuh.. Dia hanya pingsan!!" Kata Smits yang terlihat duduk sambil memopang dagunya dengan tangan kanan.
Di belakang mereka, Rinto yang sedang tertidur terlihat mengeram. Ia memejamkan matanya sangat dalam seperti sedang mengalami sesuatu hal yang buruk.
Di dalam tidurnya..
Ia mengingat kembali..
Bagaimana ia bisa menikah dengan putri Elizabeth..
Dalam mimpinya ia melihat dirinya yang sedang berbicara dengan sosok bayangkan hitam di sebuah ruangan gelap.
"Bukankah kau suka dengan Elizabeth??"
"Dia cantik bukan!! Hahahaha."
"Aku tau kau menyukainya.."
"Saat di dalam labirin.. Lakukan tugasmu dengan benar maka kau akan menikahi Elizabeth."
"Kau akan bahagia dengan Elizabeth."
"Ayolah!!
"Ayoo!! Bunuh dia.."
"Bunuh Ignis!!"
"Saat di dalam labirin, bunuh Ignis.. Buat itu seolah jadi sebuah kecelakaan. Maka kau bisa menikahi Elizabeth. Huahahahahaha!"
"Huahahahahha!!"
Suara-suara itu mengganggu tidur Rinto hingga ia terbangun dan menjerit.
"Tidakkk.. TIDAK!!" Rinto membuka mata, teriakan itu membuat semua teman-temannya berbalik melihat dirinya.
"Aku tidak membunuhnya! Aku tidak membunuhnya!" Rinto mengatakan hal itu meski sudah terbangun.. Ia belum sadar sepenuhnya.
"Hei.. Hei.. Rinto. Ada apa?" Gildarts mendekat dan menenangkan Rinto.
Rinto Masih panik, ia melihat Gildarts dan berkata.
__ADS_1
"Aku tidak membunuhnya!!"
"Hah!? Siapa yang kau bunuh?" Leo yang berada di depannya bertanya.
Sesaat kemudian Rinto tersadar dan ia mencoba bangkit.
"Lepas.. Lepaskan aku!" Katanya sambil melepas tangan Gildarts yang memegangnya.
"Rinto.. Rinto.. Ada apa?" Ivy dan Diana mendekat.
"Tidak, tidak papa. Aku hanya mimpi buruk!" Rinto berdiri, ia berkeringat dan wajahnya sedikit pucat.
"Hadeuh.. Mimpi siang bolong." Smits menguap karena mengantuk.
Di tempat lain..
Di suatu tempat di dunia Arwah..
Dalam ruangan yang terlihat sangat polos itu, semua interior berwarna putih termasuk kursi dan meja besar yang melingkar.
Di ruangan itu, satu persatu arwah muncul dan duduk di kursi dengan meja yang melingkar..
Itu adalah tempat pertemuan arwah para raja yang akan membahas masalah yang saat ini sedang terjadi di daratan Neverland.
Tak lama kemudian.. Salah satu arwah muncul.
Dia adalah raja kerajaan Celestial Sebastian William Copenhart.
"Maaf membuat kalian menunggu.. Mari kita mulai pertemuan ini!" Ucapnya sambil duduk di salah satu kursi bersama dengan para raja yang lainnya.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
------—------------------------------
Kalau kalian suka cerita ini, tolong dukung author ya!! Caranya gampang, vote cerita ini, follow akun author, masukkan cerita ini ke favorit kalian dan jangan lupa like, komen positif masukan/saran/kritik.
Etss share juga ke teman kalian yang suka dengan cerita fantasi!!
Terima kasih..
Visual look monster goblin hijau dalam cerita..
__ADS_1