The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 107 - Pertarungan Tidak Serius


__ADS_3

Ivy masih berdiam diri di atas bangunan pengintaian tertinggi di bagian depan benteng, ia merenung tentang segala hal yang telah terjadi. Lalu, dari arah bawah seseorang yang memanggil memecahkan renungannya.


"Smits.." Sapa Ivy kala melihat ke arah bawah.


"Eh.. Hai, apa yang kau lakukan di atas sana!?" Smits berteriak sambil menengok ke atas, karena jarak antara Smits dan Ivy saat ini adalah 5 meter.


"Bukan apa-apa.. Aku hanya melakukan pengintaian." Ivy membalas juga dengan berteriak ke bawah.


"Bagaimana kau bisa naik ke tempat itu?" Pertanyaan yang wajar karena tangga untuk untuk ke menara pengawas benteng yang di tempati oleh Ivy memang sudah runtuh.


"Menurutmu!?" Ivy tersenyum.


"Oh ya.. Sudah pasti kau terbang. Bagus!!" Smits geleng-geleng kepala. Ia pun melanjutkan. "Bisakah aku bergabung denganmu?" Tanyanya.


"Tentu saja, apa kau ingin aku bantu untuk naik ke tempat ini!"


"Tidak perlu.. Aku bisa sendiri, lagi pula aku punya ide." Smits tersenyum sambil mengarahkan jari telunjuk ke kepalanya.


Smits memegang bata yang tersusun tinggi itu, ia memejamkan mata dan seketika bata yang penuh dengan lumut menjadi dingin dan beku. Bekuan itu membentuk sebuah tangga es yang membuat Smits bisa berjalan santai naik ke tempat dimana Ivy berada.


Latihan dan segel yang diberikan oleh penyihir suci Parthe telah membuat para kesatria suci bisa memanipulasi imperium mereka sama seperti penyihir. Umumnya para kesatria menggunakan imperium mereka dengan memanfaatkan senjata dan memperkuat diri mereka, tapi para kesatria suci tidak hanya bisa melakukan itu tapi kesatria suci juga bisa mengeluarkan serangan sihir sama seperti penyihir.


Bisa dibilang para kesatria suci merupakan gabungan dari kesatria dan penyihir karena kemampuan yang mereka miliki. Apa lagi mereka semua memiliki imperium yang besar dan sangat kuat layaknya dewa karena kekuatan mereka memang anugerah dari seorang dewi bernama Marlin.


"Baiklah.. Kau membuatku terkesan dengan apa yang baru saja kau lakukan." Kata Ivy memuji.


"Yah.. Bukan hanya kau saja yang berkembang." Smits kini telah berada di atas menara. "Jadi, sedang apa kau di tempat ini?" Lanjutnya bertanya.


"Lihatlah sendiri!" Ivy menunjukkan sebuah pemandangan indah dari atas menara.


Smits berbalik dan.. "Hadeuh.. Tinggi sekali ternyata dari tempat ini."


"Hem. Heheahaha.." Ivy tertawa karena Smits tidak menunjukan ekspresi yang seharusnya saat melihat keindahan daratan Gres dari atas menara ini.


"Ehh.. Kenapa tertawa? Ivy!?" Smits bingung.


"Tidak.. Tidak papa.. Hahaha. Ha haha." Ivy memegang perutnya, ia melihat ekspresi lucu Smits sekali lagi.


Setelah beberapa saat, Ivy kembali bisa mengontrol dirinya. Suasana menjadi lebih serius sekarang setelah sebelumnya Ivy tertawa puas melihat wajah dungu dari Smits. Seperti itulah Smits, orang yang tidak peka dengan keindahan dan cenderung malas dalam mengeluarkan ekspresi.


Sementara itu...


Di tempat lain, dalam hutan yang tak jauh dari pinggiran kota Lister.


Richard yang kembali memasang tudung jubahnya kini tengah berada di antara para prajurit dan kesatria yang mengepung dia dari segala arah setelah Victor memberi perintah untuk membunuhnya.


Victor tersulut emosinya setelah Richard berhasil menghindar dengan mudah dari serangan yang ia layangkan pada Richard. Selain itu, Victor juga merasakan aura monster yang keluar dari Richard, meski samar ia tetap menganggap jika Richard adalah monster.


"Kau.. Kau pasti akan masuk ke dalam kota dan mengamuk.. Kau harus kami bunuh di tempat ini!" Victor mengeram, ia menatap dengan kesal.


"Aku sudah bilang, aku tidak ingin terlibat.. Lagi pula aku hanya kebetulan lewat saja, jadi tolong biar.." Belum selesai berbicara, Richard menghindar dengan mudah saat Victor mendekat lagi sambil mengayunkan pedangnya. "Hei.. Apa yang kau lakukan?" Tanya Richard setelah menghindar, ia masih tenang meski saat ini posisinya sedang terpojok.


"Sial, bagaimana bisa dia menghindar dengan mudah." Gumam Victor dalam benaknya. Ia kembali berbalik dan lagi-lagi ia menyerang tapi Richard kembali menghindar.. Victor mengeluarkan aura besar sekali lagi untuk mengintimidasi Richard. Ia melapisi senjatanya dengan imperium lalu mengarahkan pedang menggunakan dua tangan ke arah Richard.


Banggg.. Sebuah hantaman terjadi, beberapa prajurit yang berada di sekitar terjatuh karena terdorong oleh shock wave yang tercipta dari hantaman pedang dan tangan Richard. "Huh!!!!" Victor terkejut, matanya melotot melihat pedang yang telah ia lapisi dengan imperium baja malah di tangkis menggunakan tangan oleh Richard.


Sama dengan Victor, kesatria yang lain dan juga prajurit sangat terkejut akan hal itu.

__ADS_1


"Hehe..." Woli yang masih tersungkur tersenyum, ia melihat hal itu disaat ia sedang mencoba untuk bangkit.


"Hah... Aku benar-benar tidak mau meladeni kalian." Kata Richard tanpa beban.


"Arrrgggggg!!!" Victor masih memegang pedang dengan kedai tangannya, ia mengeram dan mengeluarkan semua tenaganya untuk menggerakkan pedang yang saat ini di pegang oleh tangan kiri Richard. Hal yang membuat Victor semakin tercengang adalah telapak tangan Richard tidak terluka atau berdarah sedikitpun padahal Richard saat ini menggenggam ujung pedang yang tajam, ditambah lagi pedang itu telah dialiri oleh imperium baja.


Senjata tajam yang dialiri imperium baja maka senjata itu akan menjadi lebih tajam lagi 2 kali lipat dari sebelumnya.


"Siapa orang ini.. Sial.. Sial.. Orang ini berbahaya jika memasuki kota. Aku harus mengeluarkan semua kemampuanku untuk membunuhnya ditempat ini." Bukannya ketakutan, Victor malah semakin termotivasi.


"Lepaskan.. Lepaskan senjataku." Ucap Victor yang tak bisa menarik pedangnya dari genggam Richard. "Baiklah.." Richard langsung merespon dan melepas pedang itu.


Victor kembali terjatuh karena kehilangan keseimbangan, ia terpental ke belakang setelah mengerahkan semua kekuatan untuk melepaskan diri dan tiba-tiba Richard melepaskan senjata, tentu Victor terpental karena kaget akan hal itu.


Victor bangkit.. "KALIAN SEMUA, SERANG DIA!" Victor berteriak dengan tatapan marah.


Bersamaan dengan tatapan itu, kesatria dan prajurit menyerang secara bersamaan. Richard yang masih santai memegang dahinya. "Tch..." Ia menyesal harus melewati tempat ini, karena hal ini dia harus membuang-buang waktu untuk mencari informasi tentang Gres.


"Yaaaa." Serang kesatria menyerang dari belakang, Richard menunduk dan menendang kesatria itu tepat di perut hingga kesatria itu terhempas sangat jauh. "Ahhh.. Maaf." Ucap Richard.


Beberapa prajurit yang mendekat juga terpental sangat cepat. "Tch, jika aku tidak menahan serangan ku, mereka semua bisa saja mati. Sangat merepotkan!!" Gumamnya.


Dua kesatria menyerang secara bergantian kali ini, Richard hanya dengan beberapa kali gerakan ia bisa menghindar dengan mudah.. Sangat mudah karena saat ini di mata Richard, gerakan serangan kesatria yang menyerangnya terlihat lambat dan mudah di prediksi.


Saat Richard sibuk menghindar terus menerus, Victor yang tadi hanya mengamati langsung bertindak. Ia mengeluarkan serangan terkuatnya. Entah apa motivasi Victor, mungkin karena ia kesal dan marah pada Richard karena sejalan tadi Victor telah dipecundangi oleh Richard.


Victor berdiri membungkuk dan memegang pedang dengan kau daun tangannya di arah kanan. "Vehementi impetu ferri." Setelah mengucapkan itu, ia menebas ke arah Richard.


"Hei awas!!" Richard bergerak cepat, ia mendorong kesatria yang ada di depannya.


Dan... Serangan tebasan jarak jauh itu terlihat terbang ke atas langit dan meledak di langit layaknya sebuah kembang api raksasa. "Kau..." Richard mendekat sambil berjalan ke arah Victor yang masih bengong.


Saat ia masih bengong dengan yang baru saja terjadi. Puncchhhhh... Pukulan mengarah ke wajah Victor. Satu pukulan yang sudah cukup membuat hidungnya patah dan berdarah." Aaahhhhrrrgg.. Sakit!" Ia membuang pedangnya dan memegang hidungnya yang patah.


"Sakit.. Sakit. Sial.."


"Kau bodoh ya!! Kau hampir saja membunuh rekanmu sendiri." Ucap Richard.


Sesaat yang lalu, saat Victor menyerang Richard ternyata salah satu kesatria yang bertarung dengan Richard, berada tepat di depan Richard sehingga serangan yang dikeluarkan oleh Victor sangat besar kemungkinannya mengenai kesatria tersebut. Beruntung karena Richard sigap melempar kesatria itu menjauh dan mementalkan serangan Victor ke langit.


"Huh!!" Victor melihatku semua rekannya yang tersungkur.


"Huh.. Aku minta maaf tapi, aku tidak akan melakukan hal ini jika saja kalian membiarkan aku lewat. Aku tidak punya niat jahat, aku hanya seorang pengelana yang sedang mencari tempat untuk istirahat." Gumam Richard pada Victor yang saat ini masih memegang hidungnya.


Victor masih melihat semua kesatria dan prajurit yang sudah tumbang tapi tidak ada satu pun yang mengalami luka serius. Prajurit dan kesatria yang terluka serius hanyalah mereka yang dilukai oleh Woli sedangkan mereka yang bertarung dengan Richard hanya mengalami luka ringan saja.


Richard yang diserang pada dasarnya hanya bertahan saja dan tidak serius menyerang sama sekali sehingga Richard tidak mengerahkan kekuatan dia yang sebenarnya.


"Ka-kau.. Siapa kau sebenarnya! Siapa namamu?" Victor berteriak pada Richard yang berjalannya menjauh darinya. Saat ini ia terlibat tidak ingin lagi menyerang dan menerima jika dia telah kalah.


Richard berhenti dan melirik Victor yang berlutut memegang hidung patahnya. "Hem.. Namaku Ri... Ah maksudku Red." Tegas Richard lalu kembali melanjutkan langkahnya, ia mengarah ke pinggiran kota Lister.


Sementara itu..


"Richard.. Ya sepertinya dia tidak seperti apa yang dikatakan oleh tuan Eros." Kata Smits merespon perkataan Ivy. Perbincangan yang terjadi antara mereka berdua saat ini mengarah pada satu orang yaitu Richard.


Mereka masih dia atas menara dan telah banyak berbicara, tanpa sengaja Ivy menyinggung Richard di tengah pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Jadi begitu ya.. Pantas saja kau menaruh simpati yang besar padanya." Tegas Smits sekali lagi.


Ivy mengatakan lada Smits jika wajah Richard mirip dengan kekasihnya di dunia tempatnya berasal. Walau karakter dan sifat mereka berbeda karena kekasih dari Ivy di dunianya adalah pria pemberian dan hebat serta sangat percaya diri, sedangkan Richard yang dikenal Ivy di dunia ini adalah orang yang berkebalikan dari kekasihnya.


Meski begitu mereka berdua menjadi dekat karena setalah mengenalku Richard lebih jauh lagi, apa yang dikatakan oleh kesatria besar Eros tentang Richard tidaklah benar, Richard bukanlah psikopat yang berpura-pura tapi Richard memang orang yang cukup tertutup dan pemalu. Richard juga bukan pengkhianat karena Richard rela berkorban untuk menyelamatkan Ivy saat berada di dalam labirin.


"Aku.. Aku juga tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh tuan Eros waktu itu.. Kau tahu sendiri kan aku tidak terlalu suka ikut campur dengan hal yang merepotkan." Kata Smits.


Smits tidak pernah mengumpat atau meremehkan Richard, ia bahkan tidak peduli tentang rumor buruk yang didengarnya tentang Richard. Smits hanya perduli dengan dorongan sendiri, ia terlalu malas untuk ikut campur salam masalah kompleks seperti itu. Makanya semalam ini Smits hanya diam dan tak pernah berkomentar jika Richard sedang di olok-olok oleh kesatria suci yang lain.


"Aku.. Menyesal karena telah bersikap cuek dan menjauh padanya." Ivy mengingat kembali hari dimana dia menjauh dan tidak ingin berbicara dengan Richard, saat itu adalah hari dimana Richard di sidang atas tuduhan pelecehan.


Ia ingin mempercayai Richard tapi disisi lain ia melihat sendiri dengan mata kepalanya jika Richard berbaring tanpa busana dengan seorang pelayan wanita yang menjerit ketakutan di sampingnya.


Bahkan setalah Richard kepergok melakukan hal itu, ia masih berani bersumpah bahwa dia tidak melakukan hal yang dituduhkan itu padanya. Ia sampai berdera air mata ketika ia mengatakan jika tidak pernah menyentuh wanita pelayan kerajaan. Ivy ingin percaya apa lagi tatapan mata Richard terlihat serius dan tidak mengada-ada tapi kesaksian Rinto serta pengakuan wanita itu menjadi bukti kuat jika Richard adalah seorang penjahat kelamin.


Sejak saat itulah, Ivy tidak lagi merespon dan selalu menjauh dari Richard hingga akhirnya insiden di dalam labirin terjadi, hal yang selalu menjadi penyesalan Ivy bahkan setelahnya satu tahun berlalu.


"Aku sendiri tidak peduli, apakah Richard pelaku atau bukan.. Tapi diluar dari hal itu, aku bisa menilai jika Richard adalah orang baik." Tegas Smits.


"Ivy... Smits... Apa yang kalian lakukan di atas sana!! Apa kalian pacaran??" Rebecca berteriak memecah obrolan mereka berdua tentang rekan lama yang telah mati.


"Hadeuh.. Anak itu." Smits bergumam, ia melirik ke bawah. "Ada perlu apa??" Smits berteriak ke bawah.


Sementara itu Ivy tertawa ringan.


Kembali ke pinggiran kota Lister..


Richard yang telah membuat kesatria dan prajurit tersungkur kini telah berada di tengah daerah kumuh kota Lister, bau menyengat dan jalan yang penuh kotoran seakan tidak mengganggu penciuman dan penglihatannya. Bagi Richard apa yang dialami olehnya di dalam labirin jauh lebih kotor dari tempat ini.


Richard berjalan menyusuri jalan yang mengarah tepat ke jalan utama kota yang menuju ke distrik 5. Di pinggir-pinggir jalan ia melihat betapa banyak orang yang terlihat tidak mengenakan pakaian, anak-anak yang kekurangan gizi beserta gubuk yang terbuat dari kayu usang bahkan ada juga yang terbuat dari sehelai kain.


Itu adalah potret kemiskinan di daerah kumuh yang ada di kota Lister. Sebuah kota besar, kota yang terkenal sebagai daerah perdagangan dan pelelangan budak.


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'

__ADS_1


'


-Bersambung-


__ADS_2