The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 135 - Si Rakus Menampakkan Diri


__ADS_3

"Ahhh.. Ya, seperti itu anak-anak.. Seperti itu, yaaa.. Ahhhhhh.." Seekor Iblis bercangkang hitam bergaris kuning menggerakkan ke empat tangannya sambil memegang sebuah tongkat kecil. Ia seperti maestro yang memimpin pertunjukan musik di atas panggung, sambil terus mendesah dan memejamkan mata.


Iblis itu larut dalam alunan pembantaian yang terjadi di lembah tempat kota Lockdown berada.


Entah mengapa, gerakan-gerakan iblis yang terbang di atas langit seakan mengikuti ayunan tongkat kecilnya. Semua monster yang menyerang di darat pun demikian, ia begitu menikmati momen dimana jeritan makhluk yang terbunuh menjadi alunan indah di telinganya.


"Yaaa.. Yaaa, keluar semua.. Keluarkan semau jeritan kesengsaraan.." Iblis itu melotot sambil berteriak kegirangan.


Sementara itu, di suatu ruangan gelap.


Tempat dimana Kanselir sihir dan para petinggi kota Lockdown menyaksikan pertarungan yang terjadi di luar kota.


"Kanselir.. Di lihat dari volume iblis yang datang sepertinya serangan kali ini dipimpin oleh iblis dengan kekuatan yang tidak bisa diremehkan." Ucap seorang petinggi yang berdiri di samping kanselir.


"Betul Kanselir, apa kita harus menggunakan sihir pemusnah untuk meluluhlantahkan para iblis itu." Sambung yang lainnya.


"Tunggu sebentar.. Kita lihat saja, sejauh mana para kesatuan sihir dan kubah sihir bertahan diluar sana.. Lagi pula jika kita menggunakan senjata pamungkas, wanita itu akan langsung mati." Kanselir berbalik ke belakang menatap seorang wanita muda yang sudah lemas, kurus dan keriput terikat di tengah lingkaran sihir yang sedang bercahaya.


"Apa lagi kita belum mengamankan pengganti wanita itu.." Sambung kanselir sihir.


"Kesatria sihir terkuat telah ditugaskan untuk mengamankan subjek inti sihir berikutnya Kanselir.. Anda tidak usah khawatir akan hal itu." Ucap seorang yang berada di ruangan itu.


Kembali ke luar kota.


Di atas benteng raksasa yang mengelilingi seluruh kota, para kesatria sihir melayangkan serangan sihir mereka ke segala arah untuk mengacaukan formasi para pasukan iblis. Sampai saat ini, tidak ada satupun kesatria sihir yang gugur.


Mereka semua menyerang sambil berlindung di dalam kubah sihir yang menutup langit kota Lockdown sambil sesekali membuka portal kecil diantara kubah untuk menyerang menggunakan meriam sihir atau menyerang menggunakan sihir mereka sendiri.


Pun dengan gerbang raksasa yang ada dibawah, semuanya kokoh berdiri meski tengah mendapatkan gempuran senjata, sihir dan semau serangan yang bisa dilayangkan oleh pasukan iblis.


Tidak lecet sama sekali dan tidak berubah sama sekali. Dinding dan gerbang yang mengelilingi kota ini bahkan pernah menahan serangan kuat dari 3 kekuatan besar dari iblis level dosa besar di masa lalu.


Tak jauh dari lembah itu,


Salah satu Iblis dengan para bawahannya terlibat pembicaraan penting.


"Tuanku.. Sang dosa Kerakusan, jika benar apa yang anda katakan itu. Lalu bagaimana kita bisa menembus pertahanan kota Lockdown yang 3 iblis level dosa besar saja tidak bisa menembusnya di masa lalu." Seorang iblis yang menunduk berbicara tentang kemungkinan menerobos pertahanan kota Lockdown.


"Chichichi.. Memang tidak sesederhana itu. Asal kalian tahu jika kota ini sudah diserang sejak ratusan tahun lalu.. Malam ini adalah puncak penyerangan." Ucap iblis bermata besar itu.


"Tuanku.. Saya belum mengerti."


"Bodoh... Jelaskan padanya Crokus." Ucap Iblis dengan aura kuat itu.


"Kalian tidak usah meragukan rencana penyerangan ini.. Karena rencana ini sudah dijalankan sejak seratus tahun yang lalu. Percayalah... Caranya cukup mudah, jika menyerang dari luar tidak bisa maka kita akan menyerang dari dalam." Jelas Iblis bernama Crokus.


"Chichichichi... Sebentar lagi, serangan malam ini hanya awal untuk beraksi." Jelas Iblis itu, Belzebub sang dosa kerakusan.


Lalu...


Pertarungan terus berlanjut..


Ledakan, teriakan, tangisan masih saja terdengar sejak bulan telah tepat berada di atas kepala.


Tengah malam yang mencekam masih meneror mereka yang tak bisa masuk ke dalam kota, pun dengan seorang pria kekar yang masih bertarung dengan tubuh yang penuh darah. Bukan darahnya melainkan darah para monster dan iblis yang ia tebas dengan pedangnya.


Pege, kesatria suci dengan pedang besarnya masih bisa mengatasi para monster dan iblis yang tidak selevel dengannya. Ia dapat dengan mudah membunuh mereka semua tanpa perlu mengeluarkan kekuatan besarnya, meski begitu ia tetap kesal karena ia tidak bisa bertarung sambil melindungi orang-orang yang telah terbunuh akibat serangan monster dan iblis yang terus berdatangan.


Ia tak bisa melakukan itu seorang diri, ia hanya bisa menolong mereka yang tak jauh dari jangkauannya. Sementara mereka yang berada cukup jauh, tidak bisa diselamatkan olehnya.


Pege, kesatria suci pendiam yang hampir tidak pernah berbicara saat ini merasa butuh bantuan dari rekan-rekannya yang lain. Hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya karena bagaimanapun, ia merupakan salah satu kesatria terkuat diantara yang lain.


Ia merasa lemah saat ini, bukan karena tidak bisa membunuh semua monster dan iblis yang menyerangnya tapi ia merasa lemah karena membiarkan banyak korban yang meregang nyawa dihadapannya.


Pege frustrasi, ekspresi datarnya kini berubah menjadi marah dengan tatapan mata dan bibir yang mengeram kebawah. Emosinya terus naik sambil terus menyerang para monster dan iblis terbang yang masih berdatangan dari segala arah.


"Arrgggg..." Tanpa sadar, ia yang biasanya cukup tenang mulai mengekspresikan emosinya dengan berteriak sambil menebas dengan kekuatannya.


Sebuah tebasan jarak jauh dengan aliran sihir hitam yang ia keluarkan mampu menyelamatkan seorang Ibu yang memeluk anaknya ketika hampir menjadi santapan monster besar tak jauh dari arah kanannya.


Saat sedikit saja konsentrasinya teralihkan, salah satu Iblis yang terbang ke arahnya berhasil mendekat dan menusuk Pege tepat di dada sebelah kirinya. Sebuah kuku panjang hampir saja menembus dadanya jika bukan karena armor baja yang ia kenakan.


Pege membalas sambil menggenggam sayap iblis itu lalu menariknya ke tanah dan langsung memukul wajah iblis itu hingga kepalanya hancur.


Pege berhenti bergerak, sambil terus memerhatikan sekitar dengan tatapan tajam. Ia menghela nafas dengan tujuan menenangkan diri dari emosi yang yang sesaat menguasainya.


Sepersekian detik para monster dan iblis berembuk menyerang Pege yang terdesak dikelilingi oleh mereka.


Pege memberikan serangan balik satu persatu monster dan iblis berhasil ia bunuh tapi kali ini serangan yang datang begitu banyak. Sampai akhirnya ia tak bisa membendung serangan itu dan Pege tenggelam di tengah lautan monster dan iblis yang menyerang secara bersamaan.


Monster itu terus menyerang sampai bertumpuk menjadi bukit, Pege yang berada dibawah tak bisa bergerak. Semakin lama, ia semakin terhimpit oleh beban dan ia semakin tak berdaya.


Hingga akhir ia mulai serius..


"Fluctus et tenebrae, exstinctionis de magia."


Pege berdiri dengan mengangkat pedang besarnya, bersamaan dengan hal itu para monster dan iblis seketika terlempar ke langit dan terpotong menjadi beberapa bagian.


Pege dengan raut wajah yang kembali datar mengeluarkan aura kuat yang sebenarnya. Tempat dimana ia berdiri saat ini menjadi lautan potongan mayat monster dan iblis yang ia tebas dengan satu serangan kuatnya.


Tubuhnya penuh darah akibat hujan darah yang dihasilkan dari satu serangan kuat itu. Seketika tidak ada lagi monster dan iblis yang berada disekitarnya. Semuanya mati hanya dalam satu serangan kuat.


Pege memperhatikan sekitarnya, ia baru sadar bahwa dibalik langit yang gelap itu terdapat begitu banyak iblis. Ia juga baru bisa mendengar dengan baik, ia mendengar suara jeritan dan suara iblis terbang yang sangat melengkung bagai serangga raksasa.


Sesaat setelah membunuh semua monster dan iblis yang bergerombol menyerangnya, tiba-tiba saja sebuah palu yang terbuat dari batu raksasa mengarah padanya.


Ia mengelak hanya dengan bergeser ke kiri sedikit, batu palu itu pun menghantam sebuah bangunan yang sudah penuh dengan api.

__ADS_1


Bersamaan dengan hal itu, 3 monster cyclops raksasa menyerang Pege dari arah depan. 1 monster melompat sambil menyerang dengan kedua tangan yang diangkat ke atas kepalanya, ia akan menghantam Pege dengan kedua tangan besarnya itu secara bersamaan.


Pege tak gentar, ia berlari dan ikut melompat sambil mengarahkan pedang besarnya itu ke mata monster cyclops tersebut.


Monster itu kalah cepat hingga pedang besar yang diarahkan Pege padanya tembus dan membelah kepalanya.


Setelah sampai ke tanah, salah satu monster mengarahkan senjata palu batu raksasanya dan berhasil ditangkis oleh Pege dengan tangan kanannya. Dengan mudah Pege membalas serangan itu dan memotong lengan monster yang menyerangnya menggunakan pedang yang ia pegang di tangan kirinya, potongan tangan monster cyclops itu ia lempar dengan kuat ke arah monster yang berada di belakangnya.


Para monster itu kalah telak, lalu sebuah serangan yang cukup besar mengarah langsung ke depan Pege. Dengan refleks yang cukup, Pege menangkis serangan berat itu dengan pedang besarnya dan berhasil mementalkan serangan itu ke langit dan ledakan pun terjadi.


Pege mementalkan serangan itu ke arah rombongan pasukan iblis yang memenuhi langit.


Sesaat kemudian, pukulan keras yang mengarah pada Pege membuat ia terseret mundur meskipun ia berhasil menangkis serangan itu dengan pedangnya sebagai tameng. Ia terseret ke belakang hingga beberapa meter jauhnya, tapi ia terlihat tidak terluka.


"Wah wah wah.. Aku tidak menyangka ternyata ada manusia kuat yang berada di lembah ini. Aku pikir semua kesatria bersembunyi di dalam kubah kota busuk itu.." Ucap seorang iblis dengan tanduk besar di jidatnya.


Pege tak membalas ocehan iblis itu, tapi Pege tahu betul jika iblis yang ada di hadapannya saat ini bukanlah iblis biasa. Ia bisa merasakan aura kuat yang berasal dari iblis bertanduk dan bertubuh kekar di depannya.


Di tempat lain..


"Jangan mati dulu kakek tua, aku masih belum membalas kebaikanmu." Ucap Richard yang datang menghadang serangan monster yang datang menyerang kakek Dwarf.


"Hah! Anak muda.." Kakek Dwarf itu cukup terkejut melihat begitu mudahnya Richard menghancurkan kepala monster hendak menyerangnya.


Di dekatnya, Nora tercengang dengan mata yang berkaca. Ia terjatuh dan terlihat cukup lesu kala melihat potongan tubuh tak jauh dari arah Richard berdiri.


"Nora!!" Kakek Dwarf melihat Nora, ia terlihat cukup merasa bersalah.


"I.. Iroh.."


"Hei.. Nora, ada apa?" Richard belum mengerti apa yang terjadi.


"Nora.. Nora, maafkan aku. Iroh, dia bersikeras untuk ikut bertahan di sini." Ucap Kakek Dwarf yang menghampiri Nora.


"Iroh.. Tidak, Kakak.. Kakak Iroh." Nora histeris sesaat kemudian. Bagaimana tidak, jika orang yang ia cari dari tadi bersama dengan Richard sekarang sudah tidak bernyawa dengan tubuh yang tak lagi utuh.


"Kakak!" Richard langsung sadar saat Nora berteriak histeris memanggil nama kakaknya.


Nora berteriak melihat potongan tubuh kakaknya, sementara Kakek Dwarf mencoba menenangkan Nora yang terlihat lemas meratapi kematian kakaknya yang mengenaskan.


"Sial.. Andai saja bisa lebih cepat." Ujar Richard.


Sejak kejadian pertama, Richard dan Nora sudah berkeliling mencari keberadaan kakek Dwarf dan keluarga Nora yang tersisa. Hanya saja karena saking padat dan kacaunya situasi membuat mereka tidak bisa berbuat banyak. Belum lagi monster-monster yang menyerang membuat Richard tidak bisa berbuat banyak dan melindungi seluruh penghuni lembah ini secara bersamaan.


"Kakek.. Kakek dimana Ibuku?" Tanya Nora yang sesegukan dengan air matanya.


"Tenang saja, Ibumu berhasil keluar dari pemukiman ini menuju hutan." Kata Kakek Dwarf menenangkan Nora.


"Hei kakek.. Li-lihat itu..." Seorang pria yang berjuang bersama kakek Dwarf menunjuk ke arah depan.


Kakek Dwarf tercengang melihat rombongan monster yang kembali datang ke arah mereka. Di tambah lagi, dari rombongan monster itu beberapa monster raksasa terlihat menerjang dengan getaran kuat yang mengguncang tanah.


"Ma-mati.. Kita semua akan mati." Para pejuang yang masih hidup kehilangan nyali mereka.


"Arrgggg...." Salah satu monster raksasa itu berteriak dan berlari sangat cepat ke arah mereka.


Di saat mereka semua diam dan tak bereaksi, Richard yang hanya seorang diri mengeluarkan belatinya. Ia melompat dengan dorongan api yang ia ciptakan. Tepat sebelum pukulan lengan raksasa itu menyentuhnya ia melakukan manuver ke arah kiri dengan ledakan api di tangannya, sambil berputar ia menggorok leher monster raksasa itu dengan belatinya.


Cipratan darah memenuhi langit, monster itu tumbang. Tidak berhenti sampai di situ, Richard dengan cepat berlari ke arah rombongan monster dan menjatuhkan monster-monster itu satu persatu dengan belati di tangan kanannya. Ia berlari dengan cepat dan bermanuver dengan bantuan ledakan api. Hanya sekali goresan panas dari belatinya dan semua monster yang tergores mati seketika.


Ia menyerang dengan cepat, saat ini ia terlihat seperti assassin dan hanya dalam beberapa menit saja dia telah membunuh setengah monster dengan belatinya.


"Anak muda.. Siapa kau sebenarnya?" Tanya kakek Dwarf yang melihat Richard bertarung dengan rombongan monster di depannya.


Richard berdiri dengan tatapan tajam, menanti datangnya serangan lain dari para monster yang masih hidup. Ia berdiri sambil memegang belati yang tampaknya berasap karena gesekan panas dari tangannya.


"Munimentum adversus venena."


Richard dengan refleksnya melompat ke belakang menghindari serangan yang datang dari arah depan.


Serangan yang berupa cairan asam itu melelehkan tanah tempat Richard berdiri.


"Huh.."


Sesosok iblis dengan postur tubuh seperti laba-laba raksasa muncul sambil tersenyum menyeramkan. "Sepertinya aku dapat makanan yang sangat bergizi malam ini." Ucap Iblis itu.


Dan..


"Ignis vulnus, erucae boost." Belati yang Richard genggam terbakar, bersamaan dengan hal itu ia meluncur langsung ke arah iblis itu dan membelah iblis itu menggunakan belati apinya.


Iblis itu terbelah menjadi dua dan terbakar hangus hanya dengan satu serangan.


"Aku tidak punya waktu untuk bermain-main." Ucap Richard.


Seketika hal itu membuat para pejuang takjub, pun dengan kakek Dwarf yang masih bertanya-tanya tentang jati diri Richard yang sebenarnya.


"Jangan sombong manusia.." Sebuah serangan menghempaskan Richard ke arah pohon. Serangan itu cukup kuat untuk membuat Richard tak sempat mengelak dan menghantam pohon hingga runtuh.


"Cuh.. Aku benci manusia yang sok jago sepertimu." Ucap iblis yang berhasil menghempaskan Richard. "Ehh.." Iblis itu terkejut karena saat ini Richard berada tepat di belakangnya. Hanya sepersekian detik saat iblis itu mengira berhasil menghempaskan Richard, tiba-tiba saja Richard sudah berpindah.


Dengan tendangan kaki kiri yang mengenai wajah iblis itu terlentang ke bawah sangat keras hingga tanah retak dan meninggalkan bekas. Tidak cukup sampai di situ, Richard dengan tangan kanan yang membara kembali menghantam iblis itu, tapi dari arah kiri ia kembali mendapatkan serangan dadakan hingga ia mengelak dan membatalkan serangan fatalnya.


"Hahahaha.. Lihat dirimu, Mosqito. Kau sampai dibuat tak berdaya oleh manusia." Kata Iblis yang berada di sebelah kiri.


"Sialan.." Iblis bernama Mosqito itu bangkit dari tanah sambil memegang kepalanya. "Crokus, aku tidak butuh bantuan mu, pergilah.. Aku bisa membunuh manusia itu sendirian." Sambung Mosqito.


"Kau terlalu meremehkan manusia Mosqito.. Untung saja aku tepat waktu, kau hampir saja mati. Aku bisa merasakan jika manusia yang saat ini di depan kita bukan manusia biasa." Tegas Crokus yang tiba-tiba fokus dengan Richard.

__ADS_1


Crokus dan Mosqito, merupakan iblis kelas atas dan mereka berdua adalah tangan kanan dari iblis 6 dosa besar bergelar dosa kerakusan Bellzebub.


Sementara itu Richard yang menyadari bahaya dari kedua iblis yang ada di depannya berbalik menatap ke arah Kakek Dwarf dan Nora yang masih bersedih.


"Kakek tua.. Pergi dari sini sekarang!" Tegasnya.


"Eh.. Bagaimana dengan kau sendiri?" Balas kakek itu.


"Aku akan mencoba menahan mereka, sekarang pergi.. Kalian semua pergi. Mereka terlalu berbahaya." Tegas Richard sekali lagi.


"Ba.. Baiklah."


"Tidak semudah itu.." Mosqito bergerak dengan sayapnya.


Richard mencoba menghadang pergerakan Mosqito tapi Crokus menyerang dengan kekuatan penuh hingga membuatnya terpental ke belakang sekali lagi.


Mosqito yang mengincar para pejuang berhasil melumpuhkan salah satu pria yang berbadan kekar. Sebuah lidah panjang yang keluar dari mulutnya menembus dada pria itu, lidah itu cukup tajam hingga mampu menembus kulit manusia.


Beberapa saat kemudian, tubuh pria itu menjadi kurus, kering dan pucat. Darahnya habis di hisap oleh iblis bernama Mosqito.


Mereka semua tak berkutik, hanya bisa berlari.


Setelah selesai dengan pria itu, Mosqito kini menargetkan satu-satunya wanita yang ada di rombongan. Wanita itu tentu saja adalah Nora, bersama dengan kakek Dwarf yang berlari terpincang-pincang karena gangguan mental setelah melihat jasad tak utuh dari kakaknya.


"Hmm.. Sepertinya darah wanita itu sangat enak." Ujar Mosqito.


Richard kembali, targetnya tentu saja adalah Mosqito tapi lagi-lagi Crokus menghalangi. Richard berhasil menghindari serangan Crokus kali ini tapi ia tetap tidak bisa mendekati Mosqito karena bagaimana pun Crokus adalah iblis terkuat dari para tangan kanan Bellzebub.


Akhirnya mereka terlibat pertarungan sengit, saling pukul dan tangkis menangkis terjadi dengan gerakan cepat. Richard benar-benar tak bisa mendekati Mosqito karena harus fokus menghadapi Crokus, iblis yang tak bisa dianggap remeh.


Sementara Richard disibukkan dengan Crokus, serangan lidah panjang Mosqito mulai mendekat dan sepersekian detik serangan itu ditepis oleh sihir pelindung yang cukup kuat.


"Huh.. Siapa itu?" Mosqito menatap ke arah langit, ia melihat sosok berjubah hitam memakai topeng.


Pun dengan Richard dan Crokus yang terlibat pertarungan, perhatian mereka teralihkan ke arah atas.


"Magicae creaturae : excubias terram, golem." Seusai merapalkan mantra, tiba-tiba saja getaran terjadi dan sesuatu muncul dari dalam tanah.


Sebuah patung raksasa dari tanah muncul dan bergerak menyerang Mosqito, tidak hanya satu tapi ada beberapa patung yang menjadi tameng dan melindungi rombongan kakek Dwarf dan Nora kabur dari tempat itu.


"Ahh.. Sialan, aku benci boneka, mereka tidak punya darah untuk aku nikmati." Ucap Mosqito.


Crokus mengambil kesempatan dengan menerjang Richard yang masih teralihkan perhatiannya, tapi dengan insting kuatnya Richard menahan pukulan yang mengarah ke wajahnya itu dengan tangan kanan, lalu memukul balik dengan tangan kiri.


Crokus mundur dan berhasil menghindari pukulan Richard dengan satu kepakan sayap hitamnya.


"Hemm.. Aku baru bertemu dengan manusia sepertimu? Di lihat dari penampilan lusuhmu, sepertinya kau bukan kesatria sihir." Kata Crokus begitu menghindar.


Dari arah lain, suara hantaman keras terdengar. Pertarungan antara Mosqito dengan para boneka tanah telah selesai, sepertinya para pejuang rombongan kakek Dwarf dan Nora berhasil lari cukup jauh setelah Mosqito berhasil menghancurkan tameng hidup yang menghalangi jalannya.


"Sialan kau.. Penyihir bertopeng." Umpatnya ke arah langit.


Penyihir yang melayang itu tak merespon apa-apa, ia dengan percaya diri menantang Mosqito untuk berduel.


"Rrrggg.. Aku benar-benar muak dengan makhluk rendahan seperti kalian." Mosqito menerjang dengan cepat menggunakan sayap transparannya.


"Magicae creaturae: ecce ventus tur... ."


"Huh!?" Richard terperangah melihat kesatria sihir bertopeng itu kehilangan setengah badannya. Mulai dari kepala hingga perutnya hilang ditelan oleh makhluk buas yang muncul di belakangnya.


Tak cukup sampai di situ, setengah tubuh penyihir itu kembali dikunyah dan ditelan olehnya.


Dialah sang dosa Kerakusan, Bellzebub..


Dia rakus dan akan memakan apapun, dia sangat suka memakan makhluk kuat karena setelah ia memakannya maka kekuatannya akan bertambah. Bellzebub, dia adalah iblis yang tak pernah merasa puas. Dia dan pasukannya adalah iblis rakus yang menjadikan makhluk lain sebagai ternak untuk memuaskan hasrat laparnya yang tidak pernah hilang.


"Aahhhhaaaaa... Aku pikir dengan memakan penyihir ini aku bisa puas.. Aahhhaaaa, aku masih lapar." Ucapnya mengusap bibir yang sempat terbuka sangat lebar saat menelan penyihir yang tadi melawan Mosqito.


"Tuan Bellzebub.." Ucap kedua iblis bawahannya.


"Aku merasakan kekuatan besar di sekitar sini, aku pikir aku bisa puas jika aku bisa memakan pemilik kekuatan itu.." Ucapnya dengan senyum penuh dengan liur.


Sementara itu Richard yang berdiri dengan tenang di bawahnya, keringatnya mengucur karena merasakan aura iblis yang sama dengan aura milik Rever sang dosa kemarahan.


Bellzebub terdiam, mata besarnya melihat ke arah Richard dan seketika ia langsung tersenyum. "Chichichi.. Sepertinya kau kuat, aku akan sangat puas jika bisa melahap tubuhmu.. Chichichi.." Bellzebub menerjang dengan kecepatan tinggi ke arah Richard.


Ia menukik ke bawah bagaikan elang yang sedang menerjang mangsanya dan saat Bellzebub berhasil menggapai Richard dengan tangannya.


"Heh!?" Crokus terkejut melihat darah yang bersimbah dari lengan tuannya.


'


'


'


'


'


'


'


'


'

__ADS_1


'


-Bersambung-


__ADS_2