The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 69 - Saling Memendam


__ADS_3

"Arthur! Arthur!"


"Mama.. Mama.. Jangan tinggalkan aku."


"Kau harus kuat. Anak mama adalah laki-laki yang kuat."


"Mama.. Mama.. Tidak!!"


"Kau adalah pahlawan mama.. Selamat tinggal Arthur!"


"MAMA!!" Arthur terbangun dari mimpi buruk masa kecilnya saat ia masih berada di dunia dimana ia seharusnya berada.


"Arthur!" Diana melihat Arthur, lalu mendekat dan memeluknya erat.


Arthur yang tampak bingung masih mencoba mengingat hal yang telah terjadi dan kenapa ia bisa berada di dalam ranjang empuk sambil di peluk oleh wanita yang selalu memukul kepalanya.


"Di-diana."


Diana melepaskan pelukannya, ia melihat Arthur dengan air mata yang masih berlinang karena bahagia melihat Arthur sudah sadar kembali setelah seminggu sejak pertarungan dengan Lucifer.


"Bodoh!!" Diana kembali memukul kepala Arthur sama seperti yang ia lakukan jika sedang kesal padanya.


"Ah.. Sakitt! Apa yang kau laku..."


Diana kembali memeluk Arthur, sengat erat hingga Arthur tersenyum dibuatnya.


"Diana, aku sudah tidak papa." Arthur memegang pipi Diana dan menatap dalam matanya.


Di tengah drama yang terjadi, pintu kamar terbuka lalu masuklah rekan-rekannya yang lain. Mereka bergegas masuk karena mendengar suara teriakan Arthur yang sudah lama tidak mereka dengarkan.


Rebecca kala melihat Arthur yang sudah sadar langsung melompat dan memeluk Arthur, Ivy terlihat meneteskan air mata, pun dengan Leo yang terlihat meneteskan air mata karena Leo adalah orang yang paling dekat dengan Arthur.


"Ya ampun kau benar-benar membuat kami khawatir." Kata Gildarts mendekat.


Sementara Rinto melihat dengan tatapan malu, ia malu sebab tak bisa berbuat banyak dalam pertarungan melawan Rever.


Akhirnya setelah seminggu mereka semua sudah sadarkan diri, dari awal semua dari mereka pingsan babak belur di hajar oleh Rever. Yang sadar hanya Smits dan Ivy, ketika Rever pergi meninggalkan mereka tak lama setelah itu rombongan kesatria dari kerajaan Celestial sudah berada di lokasi untuk menjemput mereka.


Hal ini atas perintah dari kesatria agung Snijder Stollen yang berhasil menahan serangan Rever.


Orang pertama yang tersadar ketika sampai di istana adalah Leo sehari setelah penyerangan, lalu Diana dan di ikuti oleh Rinto dan Gildarts. Rebecca yang tak terluka sama sekali sadar 5 hari setelahnya.


Meski hanya mendapatkan serangan mental tapi usia yang masih cukup muda yaitu 17 tahun membuat ia sulit mengendalikan diri hingga ia butuh waktu lama memulihkan diri dari teman-temannya yang lain.


Arthur tersenyum bahagia, ia cukup senang bahwa tidak ada satupun dari rekan-rekannya yang mati. Bagi Arthur, kematian Richard sudah cukup membuat ia merasa gagal sebagai pemimpin dan sejak saat itu ia bersumpah bahwa tidak akan membiarkan rekan-rekannya yang lain mati lagi dihadapnya.


"Sudah.. Sudah.." Arthur mengelus kepala Rebecca yang masih memeluknya.


"Oh iya, dimana Smits dan Pege?" Arthur melihat ke arah Gildarts.


"Smits sedang berlatih dan Pege sedang melanjutkan meditasinya." Jawab Gildarts menggaruk dagunya.


Sejak mereka tiba di istana Smits terus saja melanjutkan latihannya. Ia meningkatkan lagi kemampuan fisik dan bertarungnya. Tak lupa pula ia memperkuat imperium miliknya dengan berlatih sihir-sihir es yang mana merupakan imperium miliknya.


Ketika ia mengingat kembali saat itu, saar ia tak bisa berbuat apa-apa ketika rekan-rekannya yang lain di pukul dan di bantai oleh Rever. Ia menyesalinya.. Sangat menyesali hal itu.


Sejak saat itu ia bertekad bahwa akan bertambah kuat dan akan membalas kekalahannya.


Begitu pula dengan Pege, ia melatih imperium dirinya dengan meditasi dan itu benar-benar membantu meningkatkan konsentrasinya.


Bukan hanya mereka berdua tapi mereka bersembilan sekarang benar-benar mengetahui perbedaan kekuatan antara mereka dan iblis-iblis kuat diluar sana. Tekad mereka sekarang adalah bertambah kuat, terus bertambah kuat hingga mereka bisa melampaui para iblis yang menginvasi daratan ini.


Di sisi lain daratan Neverland..


Di dalam istana kerajaan Nusantara..


"Parmang! Apakah sudah ada kabar dari pasukan aliansi?" Jolang raja kerajaan Nusantara terlihat masih cemas karena ia belum mendapat kabar dari pasukan aliansi yang akan menjadi pasukan bantuan untuk menjaga ibu kota kerajaannya.

__ADS_1


"Baginda.." Pria yang mengenakan pakaian sutra dengan motif kuno itu mendekat, ia adalah salah satu penasehat raja bernama Parmang Sukemti.


"Tadi pagi saya dapat kabar dari secarik surat yang dikirim oleh kesatria besar kerajaan Dongion. Katanya saat ini para pasukan yang di kerahkan akan berkumpul di kerajaan Skandia lalu mereka akan berlayar menuju pulau Jatra." Ucapnya menunduk di hadapan sang raja.


"Tuan bangsawan dari keluarga Lingga masuk menemui Baginda raja." Salah satu prajurit yang berdiri tegap dengan tombaknya berteriak, suara terdengar di seluruh penjuru ruang tahta yang terdiri dari beberapa tiang besar penyangga yang membuat ruangan itu tampak kokoh bahkan jika gempa sedang menerjang.


Tak lama setelah teriakan itu, seorang pemuda masuk dan menghadap ke hadapan raja sembari menunduk. "Baginda.." Ucapnya.


"Galang Lingga.." Sapa raja Jolang.


"Siap Baginda."


"Tentu kau tau kenapa aku memanggilmu ke tempat ini." Ucap sang raja.


"Hamba tau Baginda.. Sungguh hamba merasa terhormat karena telah terpilih sebagai calon suami putri raja." Ucapnya.


Seperti kata Jolang sebelumnya, suka atau tidak Gayatri harus memilih antara 5 orang calon yang telah ditentukan. Karena Gayatri ngotot tidak ingin memilih maka jadilah yang memilih adalah Jolang sendiri.


Pilihannya jatuh pada pemuda berusia 25 tahun bernama Galang anak bangsawan dari keluarga Lingga salah satu keluarga murni pendiri kerajaan Nusantara.


Terlebih lagi keluarga Lingga dan keluarga Ingalaga masih lah saudara dekat, hal itu membuat Jolang memilih Galang. Hal lain yang membuatnya memilih Galang karena prestasinya dalam berperang, bukan hanya seorang bangsawan tapi Galang juga merupakan seorang kesatria besar yang telah memenangkan berbagai perang melawan monster yang menyerang berbagai desa di pulau Jatra.


"Bagaimana keadaan Ayahmu?"


"Beliau sangat baik baginda. Beliau juga menitipkan salam dan permohonan maaf karena tak sempat hadir hari ini." Kata Galang.


"Tidak usah khawatir, aku tidak memanggil ayahmu kesini. Tapi aku harap dia bisa datang saat kau dan anakku menikah." Kata Jolang.


"Tentu saja Baginda.. Ayahku pasti senang mendengar hal ini."


"Aku juga ingin minta maaf padamu, jika saja Gayatri tidak keras kepala dan kabur dari istana mungkin pernikahan kalian akan berlangsung lebih cepat." Jolang memegang kepalanya, ia pusing dengan tingkah berontak anak gadisnya


Sejak raja Jolang memutuskan untuk memilih Galang sebagai pendamping Gayatri. Sejak itu juga Gayatri nekat kabur dari istana karena tetap bersikeras dengan pendiriannya yang tak ingin menikah dan lebih memilih bertualang ke seluruh daratan Neverland.


Meski sudah dua hari kabur dari istana, tapi Jolang yakin bahwa putrinya masih berada di ibu kota. Itu karena sejak Gayatri kabur gerbang-gerbang yang mengarah ke ibu kota di jaga ketat oleh para prajurit kerajaan.


Dan benar saja, saat ini Gayatri masih membaur dengan para rakyat biasa di ibu kota, menghindari prajurit-prajurit yang mencari dirinya di seantero ibu kota. Beruntung karena sahabat dekatnya membantu ia bersembunyi, siapa lagi kalau bukan Prawira Singhk atau Gayatri biasa memanggilnya Wira.


Seorang pemuda yang usianya lebih tua 2 tahun dari Gayatri sekaligus teman masa kecilnya.


Seperti halnya kisah persahabatan antara lelaki dan wanita, tidak ada yang namanya benar-benar sahabat antara keduanya. Jika bukan salah satu maka dua diantaranya memendam rasa hanya saja tak bisa mengungkapkan sebab jika di ungkap maka kekhawatiran sikap yang berubah menjadi hambatan untuk mengetahui rasa satu sama lain.


Jika ada alasan lain yang membuat Gayatri tidak ingin menikah, mungkin karena dia memendam rasa pada Wira hanya saja dia tidak menyadarinya. Yang Gayatri tau hanya rasa nyaman dan aman saat dia berada dekat dengan Wira.


Wira sendiri bukan tanpa alasan membantu putri raja kabur dari istana jika bukan karena ia juga memiliki rasa yang sama. Hanya orang bodoh yang mau melakukan hal itu, hal yang bisa membuatnya di jatuhi hukuman mati oleh raja Jolang.


Tapi tak ada hal yang bisa menghalangi jika cinta sudah mengambil alih, bahkan kematian itu sendiri.


Wira jelas tau, dirinya bukanlah orang yang tepat untuk Gayatri karena ia hanya seorang kesatria biasa dari kalangan rakyat jelata yang tak punya darah seorang bangsawan.


Apa jadinya jika ia menghadap pada raja untuk meminang Gayatri, yang ada ia hanya akan di tertawakan oleh para penghuni istana karena sikap lancangnya.


Bahkan ia sempat pasrah mengetahui jika Gayatri akan menikah dengan laki-laki yang memiliki derajat yang jauh dari pada dirinya. Rasa putus asa itu sirna saat Gayatri mengatakan pada Wira untuk membantunya kabur dari istana karena tak ingin menikah. Sontak saja tanpa ragu dan memikirkan konsekuensi yang bisa saja menimpa dirinya, ia langsung setuju dan jadilah.. Saat ini Wira masih bisa melihat senyum Gayatri sedikit lebih lama.


Bagi Wira, saat-saat yang indah adalah saat dimana dia bisa berada dekat dengan Gayatri sembari mengukir senyum di wajah cantiknya.


"Baginda, saya undur diri.. Dan jika di izinkan. Saya akan mengerahkan pasukan saya untuk mencari tuan putri Gayatri." Ucap Galang masih berlutut.


"Tentu saja, kau adalah calon suaminya." Tegas Jolang.


Setelah perkataan itu, Galang meninggalkan ruang tahta. Bersamaan dengan hal itu, seorang kesatria muda masuk menghadap pada Jolang.


Kembali kesatria muda itu berlutut.


"Ada apa?" Tanya Jolang.


"Baginda.. Saya mendapatkan surat dari ayahanda. Jika sebentar lagi dia akan sampai ke pulau cebes." Ucapnya.

__ADS_1


"Oh.. Rein. Baguslah.."


Selain informasi itu, Ihsan Wijaya juga mengatakan tentang rombongan Suica yang sedang mendekat menuju ibu kota bersama para kesatria lain yang sedang terluka dan membutuhkan bantuan dari penyihir penyembuh kerajaan.


"Ihsan, ada apa dengan wajahmu?" Raja Jolang melihat raut wajah khawatir Ihsan meski ia sedang tertunduk.


"Ah, tidak Baginda. Saya hanya mengkhawatirkan Ayahanda saja." Jawabnya canggung.


"Kau tidak perlu khawatir, Rein adalah kesatria hebat. Aku yakin dia akan memenangkan perang di pulau cebes atau bahkan merebut kembali pulau irian." Tegas Jolang, ia terlihat sangat percaya diri.


"Ya baginda... Anda betul."


Di luar istana, berada jauh dalam pusat ibu kota di pinggiran perumahan kumuh yang masih dalam lingkup ibu kota kerajaan. Di bawah pohon besar yang menutup teriknya matahari siang itu. Terdengar suara candaan serta tawa dari dua orang yang duduk berteduh di bawah pohon.


Mereka berdua tampak bahagia sambil menggoda satu sama lain, sesekali wanita itu mengelitik pria yang duduk di dekatnya dan sesekali pula pira itu membalas. Mereka berdua tentu saja Wira dan Gayatri.


Di perumahan kumuh seperti ini, Gayatri aman karena tak terpikir sedikitpun para kesatria kerajaan untuk datang mencari Gayatri di tempat kumuh seperti ini. Tak ada satupun bangunan tinggi atau bangun yang terbuat dari batu di tempat ini. Hanya ada bangunan sederhana yang terbuat dari kayu beratapkan daun dari pohon kelapa. Di sinilah tempat Wira di besarkan oleh seorang ibu yang berprofesi sebagai wanita penghibur di malam hari.


Saat ibunya meninggal, ia kemudian tinggal bersama dengan suster pengurus panti asuhan yang berada di dekat pusat kota. Saat itulah ia mengenal Gayatri kecil hingga saat ini.


Gayatri yang sering keluar berbaur dengan para rakyat kerajaan di ibu kota tentu berteman dengan banyak anak kecil lain yang bukan bangsawan. Salah satunya adalah Wira, sampai saat ini.. Sampai perasaan mereka berdua tumbuh, hanya saja tak ada yang ingin mengungkapkan lebih dulu.


"Rasanya senang sekali bisa bebas." Ucap Gayatri.


Wira melatih lirih ke arah Gayatri.


"Andai saja aku tidak terlahir sebagai putri raja. Mungkin saat ini aku sudah mengelilingi daratan." Gayatri membayangkan semua hal seru yang di bicarakan oleh kakaknya.


"Aneh.. Kebanyakan orang yang aku kenal selalu bermimpi terlahir sebagai putri raja." Ucap Wira masih menatap Gayatri.


"Ya.. Begitu lah manusia. Tak bisa bersyukur dengan apa yang telah didapatkannya. Termasuk aku sendiri."


Wira melihat raut wajah Gayatri yang cemberut kala mengatakan hal itu. Refleks tangannya membuat Gayatri terkejut karena tanpa Wira sadari ia tenaga memegang tangan Gayatri.


Pandangan mereka bertemu, mata mereka saling menatap penuh arti hingga mereka tersadar oleh suara teriakan wanita tua yang mengajak mereka masuk ke dalam gubuk tua untuk makan siang.


Keduanya yang saling menatap langsung sadar dan bertingkah aneh karena hal yang hampir saja terjadi, mungkin jika bukan gangguan dari wanita tua itu mereka berdua benar-benar akan terlena dan entah hal apa yang akan terjadi setelahnya.


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2