
"Kenapa? Kenapa Emma? Kau selalu saja tidak bisa aku kalahkan." Kanselir sihir mengumpat kesal dalam benaknya. Ia tak kuasa menahan marah saat semua usahanya untuk masuk ke alam bawa sadar Anne Drigory gagal. Tidak terhitung kegagalan demi kegagalan. Seberapa keras dan kuat sihir yang selalu ia gunakan, tetap saja sihir segel pelindung yang tertanam dalam diri Anne tak bisa ia tembus.
Hampir 18 tahun Kanselir mencoba masuk ke dalam alam bawa sadar Anne Drigory. Sejak Anne berusia 4 tahun. Tak satupun dari usahanya untuk itu berhasil. Sepertinya segel sihir yang tertanam dalam tubuh Anne sangat kuat. Bahkan tidak runtuh meski tetap di gempur hingga saat ini.
Entah hal apa yang terdapat dalam diri Anne, hingga Kanselir sihir sangat ingin masuk ke alam bawa sadarnya. Satu hal yang pasti, terdapat imperium luar biasa dalam diri Anne. Hal yang juga menarik bagi klan iblis sejak 18 tahun yang lalu.
Masih di ruang gelap itu. Lingkaran sihir terlihat menyala terang. Di tengahnya Anne dengan rantai di kedua lengan melayang tak sadarkan diri. Bercahaya keunguan, terlihat anggun sekilas meski ada banyak bekas luka, lebam dan garis sayatan.
Percobaan sihir, hingga kekerasan fisik sudah dilaluinya. 18 tahun bukan waktu yang singkat. Anne melalui itu semua tanpa tahu salah dan dosanya. Mentalnya hancur, remuk bak sebongkah batu keras yang hancur menjadi debu. Tak tersisa.
Tak pernah ada bahagia. Hidupnya selama ini ia habiskan sebagai tahanan dan objek percobaan bahkan kekerasan fisik. Hatinya hancur, mentalnya rusak.
Ia tak pernah belajar sihir meski memiliki darah Drigory. Darah dari salah satu keluarga paling berbakat dalam hal sihir. Bahkan, ia pun tak tahu kondisi dunia saat ini. Satu-satunya pengetahuan yang ia tahu adalah dirinya sendiri merupakan objek penelitian karena kesalahan orang tua dan keluarganya.
Usia 4 tahun sudah cukup untuk ia mengerti bahwa pada saat 18 tahun yang lalu. Semua keluarganya di bantai atas dosa yang telah mereka perbuat. Satu-satunya yang masih memiliki darah Drigory adalah dirinya.
Melihat kebuntuan sekali lagi, Kanselir geram. "Hentikan, cukup sampai di sini." Kanselir sihir menatap Anne dengan tajam. Amarah dalam matanya tak padam, selalu saja membara jika ia melihat wajah Anne yang mirip dengan wajah Emma Drigory. Sepertinya, ia menyudahi percobaan hari ini. Melihat tidak adanya kemajuan lebih dari 18 tahun. Selalu saja terhalang oleh sihir yang lebih superior dari pada apa yang selama ini mereka lakukan pada Anne.
Meski sebelumnya terlihat kemajuan tapi sekali lagi, gagal. Sihir dari pada keluarga Drigory memang tidak bisa di pandang remeh.
Para penyihir yang sejak tadi mengekang dan mengarahkan sihir pada Anne berhenti mengucap mantra. Seketika itu juga, cahaya keunguan tak lagi nampak pada tubuh Anne. Ia pun terjatuh cukup keras ke lantai. Ia tak lagi melayang, sekarang terlentang tak sadarkan diri di lantai kotor penuh bercak darah. Ia jatuh cukup keras, sehingga meninggalkan luka.
"Bawa dia ke kamarnya!" Ucap Kanselir berbalik meninggalkan Anne. Tak lama setelah perintah itu, beberapa penyihir mulai mengangkat kedua lengan Anne yang masih tak sadar. Anne meneteskan air mata dalam ketidaksadarannya.
Sesaat setelah Kanselir berbalik. Seorang penyihir lain masuk dan menghadap. Penyihir itu menunduk. "Laporan dari master Clivard, saat ini ia sedang dalam perjalan ke kediaman Kanselir bersama dengan subjek inti sihir yang baru." Tegasnya.
"Baiklah.. Kalau begitu lakukan persiapan upacara persembahan. Kita harus segera memulihkan sumber tenaga pelindung kota ini." Balasnya, berjalan meninggalkan ruangan.
Sementara, luar kota Lockdown terlihat masih sama. Gelap gulita, tak ada cahaya. Sebab awan hitam masih menutup cahaya bulan yang harusnya menerangi malam ini dengan sempurna. Apa lagi bulan cukup terang meski tak sedang purnama.
Berbeda dari sebelumnya, kali ini mulai terdengar gemuruh kecil. Kilat sesekali tampak dari awan pekat yang menutupi langit. Tanda-tanda badai yang tidak tampak awal malam tadi, sekarang mulai nampak seiring bertambahnya pekat malam.
Tak jauh dari lokasi pemukiman semi permanen. Berada di antara bebatuan dan sisa puing bangunan hancur bekas pertempuran yang terjadi malam kemarin.
Neyah duduk bersandar pada salah satu bangunan runtuh. Ia tak sadarkan diri setelah seseorang menyerangnya secara tiba-tiba. Tak ada kesempatan untuk mengelak karena ia langsung pingsan tanpa bisa membalas.
Tangannya bergerak pelan. Intensitas nafasnya mulai naik, kedua mata yang tertutup terlihat bergerak. Seperti akan terbuka. Suaranya terdengar pelan, ia meringis kesakitan pada bahu kanannya. "Ahc." matanya terbuka, tapi masih samar.
Gelap, hanya ada api kecil di depannya. Neyah yang masih setengah sadar mengangkat tangan kirinya. Ia memeriksa bahu kanannya yang kaku akibat hantakan keras yang ia terima sebelum kehilangan kesadarannya.
Sesaat setelah ingatannya pulih, Neyah bangkit secepat ia bisa. Detak jantungnya meningkat kala ia ingat kembali sesaat sebelumnya. Neyah mengamati sekitar dan melihat sebuah api unggun di depannya tak jauh, tapi juga tak begitu dekat. Saat semua inderanya mulai berfungsi normal, ia pun sadar jika saat ini ia sedang diculik. Dengan nafas yang tersengau, Neyah berteriak pada lelaki yang duduk di depannya. "Siapa kau!? Apa mau mu? Dimana ini!?" Ucapnya, siap menyerang kapan saja.
Lelaki di depannya duduk santai di atas bebatuan kecil yang ia jadikan bangku tempat duduk, di depannya terdapat api unggun. Ia menatap api dan tak melakukan apa-apa terhadap Neyah sejak awal.
"Hei.. Hei jawab aku!?" Neyah mulai memprovokasi. Ia sangat siap menyerang. Dengan segala kekuatan dan tekad, ia melirik lelaki itu. Memperhatikan setiap gerak geriknya. Matanya menyipit, memperhatikan wajah lelaki itu.
Lelaki itu berbaik ke arahnya. Menatap tajam dengan mata merah menyala. Terlihat pantulan dari cahaya api dari mata merahnya. "Tenanglah.. Aku tidak akan melukai mu kesatria sihir." Ujar lelaki itu.
"Kau!?" Neyah mengenali wajah itu. Bagaimana tidak, sudah dua kali ia bertemu dengan lelaki yang saat ini berada di depannya. "Red." Ucapnya.
"Maafkan aku.. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Aku hanya ingin bertanya tentang sesuatu padamu." lelaki itu adalah Richard.
Neyah berhenti memasang wajah seriusnya, ia berjalan pelan ke arah Richard. Tak ada lagi niat untuk menyerang karena ia tahu jika Richard bukan ancaman, tidak pula ia merasakan nafsu untuk membunuh atau berbuat aneh padanya.
Meski begitu, Neyah masih waspada. Bagaimana pun Richard sudah menculik dirinya meski ia tak tahu apa alasan sebenarnya.
Richard melirik Neyah. Kulit putih pucat terlihat elok kala terlena cahaya api jingga, nyala perapian yang ada di depannya. Telinga runcing dan rambut panjang sekilas memesona. Mata biru tua menatap penuh waspada padanya.
__ADS_1
Richard memerhatikan wanita elf itu memegang pundak kanannya, tepat dimana ia menghantamkan telapak tangannya dengan keras untuk membuatnya pingsan. "Maaf untuk serangan kejutan itu, jika tidak aku serang dengan keras mungkin kau tidak akan pingsan." Ujarnya sungkan memalingkan wajah
Sampai di depan api unggun, Neyah perlahan duduk di depan Richard. Neyah cukup tegang memandang wajah Richard yang tak berekspresi. "Jadi, langsung saja. Tuan Red tidak akan melakukan ini tanpa ada alasan kuat bukan?" Tanya Neyah meyakinkan.
Richard mengangkat pandangannya lagi, melihat Neyah penuh tanda tanya. Neyah melanjutkan. "Jika hanya sekedar bertanya biasa, maka tuan Red tidak akan sampai membuatku pingsan dan membawaku ke tempat ini bukan?" Neyah melihat sekitar, tak ada orang. Tak ada pemukiman. Hanya mereka berdua dan bekas bangunan runtuh hasil pertarungan malam kemarin. Cukup jauh dari pemukiman semi permanen yang baru saja selesai di bangun sore tadi.
Suara angin terdengar, cukup kencang. Membawa hawa dingin. Bersamaan dengan hal itu, sebuah kilat menyambar.
Neyah menatap langit. Tak ada bintang dan bulan. Walau gelap, tapi pekatnya awan hitam nampak jelas. Belum lagi kilatan-kilatan kecil muncul bersama dengan gemuruh guntur. Sepertinya hujan akan segera turun.
"Aku penasaran akan satu hal!?" Richard memulai.
"apa itu?" Neyah menatap, terlihat bingung. Pandangannya lurus, memperhatikan dengan serius.
"Aku ingin kau jujur.. Sebenarnya, apa rencana Kanselir sihir untuk para penduduk lembah ini?" Wajah Richard kali ini cukup serius.
Neyah diam, ia masih tak tahu arah dari pembicaraan Richard. Ia mengerutkan dahi, benar-benar tak mengerti.
"Pesta? Makanan? Dan semua formalitas yang kalian berikan kepada penduduk lembah. Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?" Tegas Richard sekali lagi.
Neyah diam. Sepertinya, ia mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini. Meski begitu, ia masih belum merespon. Tak tahu harus berkata apa. Neyah mencoba berfikir positif, berharap perkataan Richard tidak akan seperti yang dia pikirkan.
Sebagai kesatria sihir dan pelindung kepentingan kota Lockdown. Neyah tidak harus meladeni pertanyaan Richard. "Aa.. Apa maksud anda?" Neyah mengelak. Ia masih tak ingin bicara. Bagaimana pun, Richard bukan orang yang tepat untuk mengetahui apa yan sebenarnya disembunyikan oleh para kesatria sihir terhadap para penduduk lembah yang mencari perlindungan pada mereka.
Sebagai kesatria sihir, ia tak boleh mengatakan apa-apa kepada nope. Termasuk kepada Richard, walaupun ia tahu betul jika Richard bukan orang biasa.
Di satu sisi Neyah juga tidak yakin dengan pertanyaan Richard. Terbesit hal dalam hatinya. Apakah Richard bertanya tentang hal itu karena memang tidak tahu atau sudah mengetahui dan ingin memastikan hal itu padanya. Ia gundah, pikirannya terlampau negatif alih-alih berpikir positif.
Melihat gestur tubuh Neyah, Richard langsung tahu jika Neyah mengetahui hal yang ingin dia ketahui. Richard menghela nafas. Menatap Neyah, tatapannya dalam penuh makna.
"Kau tahu, aku bukan penduduk lembah. Aku hanya seorang pengelana tersesat yang tanpa sengaja bisa sampai di lembah ini. Bertemu dengan banyak orang putus asa. Mereka semua mencari perlindungan dari kanselir sihir, walaupun tak dapat masuk ke dalam kota."
"Terlalu banyak penderitaan yang aku lihat di lembah ini. Mereka semua begitu bersemangat jika berbicara tentang kanselir sihir dan para kesatria sihir seperti kalian. Kalian semua bak pahlawan untuk mereka." Neyah menatap Richard, tak bergeming.
"Di balik itu semua. Aku melihat kesengsaraan, ketergantungan dan kebodohan. Mereka semua terlihat aneh. Lemas, sakit-sakitan, lesu dan terlihat menyedihkan. Meski begitu, mereka selalu antusias terhadap kanselir sihir. Orang yang katanya melindungi mereka. Melindungi dari iblis? Ya, iblis. Tapi dari hasil pengamatan ku bukan cuma itu."
Neyah menelan ludah. Pikirannya tidak tenang dengan apa yang baru saja ia dengar dari Richard.
"Aku pikir Kanselir sihir benar-benar baik, memberikan perlindungan meski tidak di dalam kota. Memberikan perlindungan secara cuma-cuma.. Awalnya aku pikir begitu. Sampai aku benar-benar penasaran dengan kondisi para penduduk lembah."
Neyah mengangkat pandangannya. "A, apa yang kau bicarakan?"
Sekali lagi suara gemuruh dan angin ribut terdengar, memecah kesunyian beberapa detik diantara mereka berdua. "Lihat aku Neyah.. Nama mu Neyah bukan?" Richard menatap mata Neyah.
Neyah memalingkan pandangan, ia merasa segan dan tak tahu harus berkata apa. Ia segan dan tak ingin salah bicara.
"Aku bisa saja bersikap acuh tentang hal ini Neyah.. Tapi semakin aku melihat para penduduk bodoh itu bersorak untuk kalian, bersorak untuk kanselir sihir. Semakin muak aku melihat mereka. Aku tahu Neyah.. Alasan kenapa kalian membiarkan mereka semua bermukim di sekitar kota Lockdown dan alasan kenapa kalian melindungi mereka." Tegas Richard.
Neyah tertegun, matanya terbelalak. Tak mampu mengucap sepatah kata ketika ia mendengar semua yang Richard ketahui. Ia juga bingung, sebab bagaimana mungkin Richard mengetahui hal seperti ini.
Neyah salah mengira. Meski dimatanya Richard adalah nope tapi dia adalah salah satu kesatria suci sekaligus seseorang yang berhasil keluar dari labirin setelah terperangkap selama satu tahun penuh. Dengan segala kemampuan dan kepekaan inderanya, Richard mengetahui semua keanehan itu sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di lembah ini. Sejak itu, Richard mulai mengamati dan mencari informasi dengan kemampuannya.
"Aku, aku benar-benar tidak mengerti maksudmu tuan Red." Neyah menunduk, tak berani memandang ke depan. Bagaimanapun Neyah harus menyangkal semua ucapan-ucapan Richard demi keamanan kota.
"Aku merasa iba pada mereka.. Begitu memuja kanselir sihir. Tanpa mereka sadari, aura kehidupan mereka perlahan hilang. Terhisap ke dalam tiang-tiang tinggi yang menjadi pilar tembok besar yang mengelilingi kota Lockdown."
Sekali lagi, Neyah tertegun. Ia menunduk. Tak berani sedikit pun memandang Richard. Dalam diam ia tak menyangka jika Richard bisa mengetahui hal detail yang terjadi pada lembah ini. Hal yang seharusnya menjadi rahasia para kesatria sihir, dewan konsulat sihir dan kanselir. Bahkan penduduk kota Lockdown yang tidak punya kedudukan dan gelar dewan konsulat sihir tidak mengetahui hal ini.
__ADS_1
"Jika kau masih tak ingin bicara, maka aku tak akan memaksamu. Melihat ekspresi mu saja sudah membuat aku yakin jika apa yang aku sampaikan ini benar adanya." Tegas Richard.
Richard berdiri dari tempat ia duduk, memandang Neyah yang terpaku menatap tanah. Menatap ke bawah, tak ada keberanian untuk mengangkat pandangan. Membalas pandangan Richard. Mulutnya terkunci, sangat ingin dia menyangkal hal itu.
"Jika kau tidak ingin berbicara, maka sebaiknya aku pergi." Richard beranjak setelah mengatakan hal itu. Langkah kaki terdengar bersamaan dengan suara sapuan angin begitu ia berbalik.
"Itu.. Itu adalah harga yang harus mereka bayar agar mereka mendapatkan perlindungan dari kami." Ucap Neyah spontan dengan suara sedikit keras. Ia masih menunduk, tak berani menatap Richard. Ia tak dapat menyangkal fakta yang baru saja di ungkap Richard.
Tiga langkah di depannya, Richard berhenti. Kembali berbalik. "Begitu..." Balasnya datar.
Jawaban sederhana itu susah cukup bagi Richard. Dalam pikirannya ia langsung bisa mengambil kesimpulan. "Kalian memberikan perlindungan lalu bayarannya adalah jiwa mereka. Aura kehidupan mereka terisap secara perlahan menuju empat tiang tertinggi tembok. Aura kehidupan itulah yang menjadi sumber energi pelindung kota. Melindungi kalian para penyihir dari berbagai serangan. Seperti itu bukan?"
Neyah mengangkat pandangannya. "Iyaa." Tegasnya. "Tuan Red siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa mengetahui hal ini?" Neyah berdiri, ia semakin penasaran dengan asal usul Richard. Bagaimana mungkin seorang nope mampu mengetahui rahasia besar yang ada di lembah ini.
Apa lagi fakta tentang pertemuan mereka sebelumnya. Pada pertemuan pertama Richard dengan mudah menahan serangan kuat kakaknya, pertemuan kedua kakek Dwarf mengatakan jika Richard berhasil menahan gempuran dua iblis level atas sekaligus dan pertemuan ketiga saat ini. Richard dengan gamblang mengetahui rahasia di balik kekuatan tembok pertahanan kota Lockdown.
"Aku hanya pengelana, Aku sudah bilang." Jawab Richard acuh. Richard berbalik, ia kembali melangkah. Menjauh dari api unggun dan Neyah yang masih berdiri dengan berbagai pertanyaan di otaknya tentang pria misterius yang berjalan menjauh darinya.
"Tunggu.. Tuan Red! Kau sudah mengetahui hal ini. Sekarang apa yang ingin kau lakukan?"
Richard kembali menghentikan langkahnya. "Aku akan masuk ke dalam kota, bertemu dengan kanselir sihir."
"Ehh." Neyah melangkah, cukup cepat ke arah Richard. "Tunggu tuan Red."
Richard tak bergeming, ia membulatkan tekad. Dengan keseriusan itu, ia akan menghentikan semua kebodohan dan kebohongan yang baru saja ia ketahui. Melihat orang-orang yang penuh harap dipermainkan seperti ini. Ia tak bisa mengontrol dirinya. Bagaimana bisa dia acuh selagi mengetahui hal mengerikan yang ada di balik lembah ini.
"Tuan Red, aku mohon hentikan langkah mu!" Neyah bisa mengerti apa yang di rasakan oleh Richard. Apa yang terjadi dalam lembah ini benar-benar mengerikan. Neyah tahu betul itu, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia adalah kesatria sihir yang harus menerima kenyataan buruk ini. Tidak ada pilihan lain untuk mempertahankan eksistensi kota Lockdown selain dari pada sistem mengerikan ini.
Richard tidak lagi memandang Neyah. Dengan yakin ia melangkah. Berjalan menuju gerbang.
Gemuruh guntur dan kilat yang keluar dari awan pekat malam semakin nampak. Cukup keras kali ini, membuat siapa saja yang mendengarnya akan yakin jika malam ini akan turun hujan badai di sekitar lembah.
Angin kencang mulai terasa. Menyapu debu-debu bekas pertarungan malam kemarin. Sapuannya juga membuat beberapa ranting pohon dari hutan yang berada di sebelah timur lembah bergerak dan berjatuhan.
Suara sapuan dedaunan terdengar jelas di hutan ini. Bukan hanya suara itu saja. Suara aneh mengerikan juga ikut terdengar. Tak ada yang sadar karena jarak hutan ini cukup jauh dari lembah tempat pemukiman semi permanen berada.
Tak ada cahaya, hanya kegelapan dan suara geraman serta suara langkah. Terdengar cukup banyak. Bergerombol secara perlahan mendekati lembah. Seketika berhenti bersama dengan amukan guntur.
Air hujan mulai jatuh, suara gemerciknya semakin menyamarkan suara aneh mengerikan itu. Lalu, seketika suara lain terdengar kembali. Suara yang disertai cahaya mulai terlihat diantar pepohonan rindang dalam kegelapan.
Cahaya itu semakin melebar, lalu terbuka tepat di depan sesosok iblis kuat. Tak asing, aura mengerikan dan tawa khasnya terdengar. "Chichichi... Saatnya makanan utama." Ucapnya menyeringai dengan gigi tajamnya.
_
_
_
_
_
_
_
_
__ADS_1
-Bersambung-