The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 22 - Mempertahankan Benteng Ampt


__ADS_3

Kobaran api semakin memyala melahap bangunan-bangunan sekitar, dimana pertarungan sedang berlangsung. Bobolnya gerbang depan benteng ampt membuat monster dapat masuk menyerbu dan menyerang langsung para kesatria dan prajurit.


Suara ledakan energi sihir masih terdengar, kupalan asap kian membesar.. Sementara itu di bagian terdalam benteng. Para penduduk masih berusaha untuk keluar dari benteng menuju kastil, di sana terdapat jalan rahasia yang langsung mengarah ke dermaga kecil yang berada di bawah tebing.


Penduduk yg panik tampak berdesak-desakan, semua panik tentu saja. Di tengah kepanikan, seorang anak kecil terlihat bingung dan menangis histeris. Anak kecil itu terpisah dari orang tuanya, tak ada yang peduli karena semua orang ingin menyelamatkan diri masing-masing.


"Anak kecil.." seorang perempuan berjubah hitam mendekati anak kecil tersebut.


"Mama.." Anak kecil itu menutup matanya masih terisak.


"Mama kamu dimana?" Perempuan itu mendekap anak kecil tersebut untuk menenangkannya.


Anak kecil itu berhenti menangis, dia tenang di dekapan perempuan asing itu.


"Aliam dimensionem." Ucap perempuan itu.


Perempuan dan anak kecil yang berada di dekapannya menghilang seketika di tengah kerumunan orang-orang yang masih panik.


Di gerbang utama, bagian depan benteng ampt. Para kesatria terlihat sedang bentrok dengan para monster. Kesatria berusaha menghalau para monster untuk masuk lebih jauh ke dalam benteng.


"Mati kalian semua.. Mati kalian. Gagagaha." Igor tertawa sambil menebas semua monster yg datang padanya satu persatu dengan kapak besarnya.


"Yaaaaa!!! Ikuti tuan Igor." Teriak salah satu kesatria.


Arah pertarungan berubah kini para kesatria tidak lagi terdesak, semenjak hadirnya Igor sang pahlawan dari Norway. Itu adalah julukan yg di berikan oleh bangsa Norway padanya, sejak dia mengalahkan salah satu Iblis kuat 8 tahun yang lalu di daerah kerajaan Norway.


"Ayo ayo ayo.. Gagagahh. Tunjukan kehebatan kalian." Igor sangat menikmati pertarungannya, dia tertawa sambil terus mengayungkan kapak besarnya.


"Tuan Igor.. Jangan memaksakan diri. Ingat!! Lenganmu sedang terluka." Teriak salah satu bawahannya.


"Diam kau Lusio.." Ucapnya melihat ke arah sumber suara.


Saat pandangannya teralihkan, monster besar memegang pedang bergigi menyerang dengan kekuatan penuh ke arahnya.


"Carrion blomst."


Monster raksasa itu berhenti bergerak, lalu tiba-tiba tubuh monster itu membusuk dan hancur.

__ADS_1


"Kurangg Ajarrrr.. Ilume.. Kau mengganggu pertarunganku."


"Dasar pria beringas yang tak tau terima kasih." Perempuan berambut pirang dengan pakaian seksi itu mengerutkan dahi.


"Se-seperti yang diharapkan dari pejuang Norway." beberapa kesatria yang melihat diam karena kagum dengan kekuatan tempur kesatria Norway.


Di tempat berbeda, sebelah barat benteng ampt. Para monster berhasil memanjat benteng dan mengalahkan sebagian kesatria. Gerbang barat berhasil di buka dan monster mulai menghancurkan semua bangunan yang berada di sekitar tempat itu.


Para kesatria yang tersisa sangat kewalahan, sampai..


"In mare ictu."


Sebuah pukulan terlihat seperti bola air raksasa dengan kecepatan tinggi dari jauh menghantam para monster dan membuat monster terhempas.


"Komandan.." Teriak salah satu kesatria.


"Ayoo maju kalian semua.." Teriak Pistris dari arah timur menghampiri kumpulan monster bersama dengan bantuan kesatria yang lain.


Tubrukan tak terhindarkan.. Saling serang menggunakan senjata dan sihir, terlihat sangat sengit.


"Magia creaturae: Anguis mico." Penyihir bernama Buto yang berada di samping Pistris mengucapkan mantra.


Serangan Kilat yang mengeliat seperti ular tersebut menghanguskan setengah dari monster goblin hijau.


Moral penjaga gerbang barat kembali terangkat. Semangat mereka tersulut kembali setelah komandan Pistris dan pasukannya datang ke tempat ini memberi bantuan.


Peperangan semakin sengit, korban berjatuhan bukan hanya dari kubu klan Iblis tapi juga dari kubu para kesatria.


"Kenapa yg menyerang hanya monster, dimana para iblis." Benak Pistris yang mengayunkan pukulan demi pukulan kepada musuh.


Pistris adalah kesatria yang bertarung menggunakan tangan kosong. Dia memanfaatkan imperium air yang ada dalam dirinya untuk melancarkan pukulan jarak jauh dengan daya hancur sangat besar. Sebagai ras atlantian, imperium air memang lebih dominan tapi mereka tetap memiliki imperium lain dalam dirinya.


Di balik kegelisahannya, beberapa pasukan iblis muncul. Mereka terlihat sangat menyeramkan dengan cakar tajam yang berada di jari-jari mereka. Mata mereka merah menyala dan sangat tajam, tubuh mereka tidak normal.. Mereka tidak memiliki kaki, mereka melayang dengan sayap di kedua punggungnya.


"Tch.. Itu mereka. Iblis.., bentuk Diableus." Gumam Pistris melihat pasukan iblis tersebut.


Pasukan iblis Diableus.. Mereka terlihat menyeramkan, meski hanya iblis level bawah tapi mereka lebih kuat dari pada monster yang saat ini saja sudah menyulitkan para kesatria.

__ADS_1


"Magia creaturae: Framea." Salah satu penyihir menyerang rombongan iblis itu.


Serangan itu mengenai salah satu dari Diableus, tapi iblis itu kembali beregenerasi.


"A-apa!?"


"Jangan lengah.." Pria yang datang bersama dengan Pistris berlari ke arah iblis tersebut.


"Concursus.." Pria itu menghantam salah satu iblis dengan senjata tepat di kepala.


"Tuan Igwan.." Salah satu prajurit berteriak.


"Jangan takut.. Kelemahan mereka adalah kepalanya." Teriak Igwan.


Pasukan iblis dan para kesatriapun bentrok dengan sengit.


Kembali ke tengah-tengah benteng, penduduk masih panik. Semua berlari menuju kastil keluarga Salosa, yang merupakan bangsawan di daerah ini.


Bisa di bilang Tuan Salosa adalah Gubernur dari benteng dan daerah sekirar benteng. Di kediamannya, terdapat jalan rahasia menuju bawah tebing jika terjadi situasi seperti sekarang. Karena merupakan bangsawan, seharusnya dia memprioritaskan dirinya sendiri tapi Salosa malah ikut membantu para kesatria mengatur rute pelarian.


"Moro.. Apakah semua wilayah sudah mengetahui rute pelarian ini?"


"Tuan Salosa.. Aku sudah memerintahkan prajuritku untuk menyebar dan mengatur para penduduk agar bisa sampai ke kastil anda."


"Bagus... Aku berharap Pistris baik-baik saja." Ucapnya sambil melirik ke arah barat.


"Tuan.. Sebaiknya anda pergi sekarang, anda adalah prioritas kami. Jika pasukan di depan bisa di kalahlan maka.. Maka.. Mungkin pasukan klan iblis akan sampai di tempat ini." Moro mulai khawatir.


"Moro.. Kau harus percaya pada komandanmu.. Lagipula aku sangat mengetahui, bahwa.. Pistris adalah kesatria yang hebat." Salosa sangat percaya diri dengan intuisinya.


"Maafkan saya.. Saya telah meragukan Tuan Pistris." Moro menampar dirinya sendiri.


"Baiklah.. Sekarang lakukan hal yang bisa kita kerjakan." Tegas Salosa.


"Siap tuan."


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2