
Jika iblis sudah menguasai suatu tempat, maka tidak ada lagi hal indah yang dapat ditemukan. Matahari sepenuhnya akan tertutupi oleh awan hitam pekat dan kabut putih yang menambah kesan kesengsaraan dan penderitaan.
Tanah yang subur tak lagi menumbuhkan bunga dan tumbuhan layak konsumsi, satu-satunya hal yang tumbuh adalah bunga busuk yang sering di sebut bunga bangkai. Julukan itu tentu datang dari baunya yang sangat busuk seperti bau bangkai hewan yang telah mati di makan belatung.
Tak ayal karena keadaan seperti itu membuat para makhluk yang hidup di daratan Neverland bahu membahu untuk mengalahkan klan Iblis dan mengusir mereka kembali ke tempat dimana seharusnya mereka berada.
Ya.. Perang ini sudah berlangsung ratusan tahun sampai saat ini. Jika bukan karena bantuan seorang Dewi maka daratan ini sudah dikuasai sepenuhnya oleh para iblis.
Belum ada yang tau apa motif sebenarnya para iblis meninggalkan Darksideland dan menyerang daratan Neverland yang dihuni oleh berbagai banyak ras. Yang pasti, serangan demi serangan yang dilakukan oleh klan iblis sudah banyak membawa kesengsaraan di daratan ini.
Hal yang sama tergambar jelas dari tampak kacaunya pulau paling timur di kerajaan Nusantara, yaitu pulau Irian.
Pulau yang kaya akan sumber daya itu kini malah terlihat seperti tanah tandus yang habis dibakar hingga hangus. Tidak ada lagi pemukiman padat penduduk seperti sebelumnya, yang ada hanya beberapa kelompok manusia yang hidup menyembah sang raja iblis.
Hidup di bawah ketakutan dan menyatakan diri sebagai pengikut klan Iblis. Sementara yang menolak hal itu maka hanya ada dua pilihan bagi mereka, yaitu mati menjari makanan para monster atau menjadi pasukan undead yang mengabdi pada klan iblis tanpa akal dan pikiran.
Dapat dipastikan bahwa jika masih ada manusia atau makhluk ras lain yang masih hidup di suatu wilayah yang telah di kuasai klan iblis maka manusia itu sudah pasti menyatakan diri sebagai pengikut raja iblis.
Mereka yang menjadi pengikut klan iblis akan menjadi budak. Di paksa bekerja demi kepentingan klan iblis, kerjaan yang hanya mendatangkan keuntungan bagi klan iblis sampai mereka mati. Hal itulah yang saat ini tergambar di pulau Irian, tak ada lagi senyuman, tak ada lagi kebebasan, tak ada lagi pilihan.. Mereka semua harus tunduk hingga mereka mati.
Di suatu tempat..
Saat malam mulai menggelap dan bulan mulai memancarkan sinarnya, bahkan terangnya bulan masih bisa terlihat walau samar karena awan pekat yang menutup langit di malam hari.
Suara ombak terdengar terus menerus dari arah laut, menjadi pelengkap sinar bulan malam ini. Setidaknya hal itu sedikit memecah kesunyian malam di bibir pantai sampai ke dalam hutan yang penuh dengan pohon kelapa tak jauh dari pantai di pulau Irian.
Di dalam hutan yang di penuhi pohon kelapa itu, dua orang terlihat sedang merenung sambil menatap api unggun yang mereka buat untuk menghangatkan diri dari angin malam dari arah laut.
Bisa di bilang mereka berdua adalah orang yang beruntung karena bisa kabur dari pembantaian yang terjadi kala benteng ampt berhasil di ambil alih oleh pasukan klan iblis.
Mereka berdua adalah Lusio dan Ilume.
Kesatria dan penyihir yang tersisa dari kerajaan Norway. Mereka berdua berhasil bersembunyi selama ini dari para pasukan klan iblis, terlebih saat Lusio melihat sosok Lucifer. Saat ini firasatnya menyatakan agar mereka kabur dari pada harus melawan.
Dan firasatnya itu benar, jika Lusio tidak kabur membawa Ilume mungkin mereka berdua juga sudah mati atau lebih buruk lagi, menjadi salah satu pasukan undead dari klan iblis.
Itulah yang terjadi dengan sebagian rekan-rekan mereka yang gugur di medan perang saat ini. Hal yang menjadi momok bagi para kesatria.. Mengabdi pada raja iblis.
"Ilume.. Kau sebaiknya makan." Lusio memberi semangkuk sup jamur yang berwadah tempurung kelapa padanya.
Ilume menatap kosong, bahkan tak menggubrisnya. Ia masih berduka atas kematian dua orang sahabat terdekatnya, Igor dan Lutor yang gugur dalam pertarungan mempertahankan benteng ampt.
"Jika aku bisa menemukan beberapa batang pohon kayu besok, mungkin aku bisa menyelesaikan perahu dalam 3 hari dan kita bisa menyebrangi laut ini." Ucap Lusio menyantap makanannya.
Lagi, Ilume masih diam menatap api. Batinnya belum menerima kekalahan. Ia masih memikirkan hal itu.. Memikirkan kematian Lutor dan dia tak bisa berbuat apa-apa.
"Saat itu.. Andai saja kau tidak membawaku pergi dan membiarkan aku mati saja." Sahutnya tiba-tiba, penuh keputusasaan.
Lusio berhenti menyantap makanannya sejenak, ia melihat ke arah Ilume. "Itu adalah perintah tuan Lutor, aku tidak bisa mengelak."
"Aku melihat Lutor sekarat di depan mataku.. Aku membiarkan dia mati." Ilume mulai mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Nyonya Ilume.. Lawan kita adalah iblis yang sangat kuat. Anda atau saya tidak bisa berbuat apa-apa." Tegas Lusio.
Bukan kali ini saja Ilume mengeluh tentang apa yang telah terjadi setidaknya setiap malam pasti ia selalu mengatakan hal yang sama. Sedangkan Lusio, ia hanya memikirkan tentang cara agar mereka bisa meninggalkan pulau ini.
Di depan bulan yang sama, hanya saja bulan di tempat ini terlihat sangat terang dan berbentuk lingkaran sempurna. Sangat indah terlihat dari bawah balkon istana kerajaan Celestial.
Bersama dengan bulan, cahaya-cahaya kecil dari bintang kerlap-kerlip juga terlihat menghiasi langit malam. Sungguh pemandangan yang sangat berbeda dari apa yang terlihat di pulau irian.
Di balkon tersebut berdiri seorang wanita, sementara dari dalam ruangan balkon itu. Terdapat beberapa ranjang dimana salah satunya di isi oleh seorang pria yang masih belum sadarkan diri sejak pertama kali mereka berada di tempat ini.
Pria itu adalah Arthur sang kesatria suci bergelar lux dan yang berada di balkon adalah Diana sang kesatria suci bergelar Aqua.
Sudah 3 hari lamanya sejak mereka berada di kerajaan Celestial dan sejak saat itu Arthur belum sadar juga mengingat dalam pertarungan melawan Rever, Arthur lah yang paling babak belur dan hampir meregang nyawa.
Jika bukan karena Snijder Stollen, kesatria agung sekaligus kesatria terkuat di kerajaan Celestial datang ke tempat mereka, mungkin saat ini para kesatria suci sudah mati.
Tidak bisa di pungkiri jika perkembangan mereka selama 4 bulan ini belum cukup untuk melawan iblis kuat sekelas 6 dosa besar. Butuh lebih dari sekedar latihan selama 4 bulan bagi mereka semua untuk mencapai puncak kekuatan tertinggi mereka.
Berada di ruangan berbeda dari tempat Arthur terbaring, Smits terlihat berlatih menggunakan tombak kayu untuk melatih fisiknya. Ia kesal dengan dirinya sendiri karena bisa dengan mudah dikalahkan oleh Rever bahkan hanya dengan beberapa pukulan dan serangan.
Meski tubuhnya masih berbalut perban tapi tak mengendorkan semangatnya untuk memulai latihan fisik guna mengembalikan staminanya.
"Kau terlalu memaksa diri." Seorang pria paruh baya menghampiri Smits.
Mendengar suara itu, Smits menghentikan gerakan-gerakan latihannya. "Tuan." Ucapnya.
"Maaf mengganggu latihan mu."
"Tidak, tidak papa."
"H.. Aku sudah baik-baik saja." Smits menyeka keringat yang mengalir di wajahnya.
"Bagaimana dengan Lux?" Pria itu memberikan botol air pada Smits.
"Arthur? Kata Penyihir yang mengobati lukanya, Arthur sudah baikan. Hanya saja dia belum sadar sampai saat ini."
"Begitu rupanya."
"Eee.. Tuan. Terima kasih!"
Pria itu terkejut karena Smits berterima kasih dengan wajah serius menatap ke arahnya, ia bahkan tak tahu untuk apa Smits berterima kasih.
"Jika Tuan Snijder tidak datang saat itu, mungkin kami semua akan mati." Jelas Smits menunduk, ia menyadari betul betapa lemahnya mereka kala berhadapan dengan Rever.
"Hah.. Tenang saja. Kebetulan aku hanya sekedar jalan-jalan dan merasakan aura aneh. Makanya aku bisa datang ke tempat itu." Terangnya sambil tersenyum.
"Meski begitu.. Tetap saja. Terima kasih banyak telah menyelamatkan teman-temanku." Smits menunduk, ia begitu serius dengan perkataannya.
Meski tak jujur tapi kedatangan Snijder bukanlah sebuah kebetulan belaka. Saat para kesatria suci menghadapi Rever, kala itu Snijder berada di istana kerajaan. Sebagai tangan kanan raja, tentu saja tugasnya adalah selalu berada di dekat raja.
Tapi, saat itu.. Ia merasakan aura kuat yang tak asing baginya. Tanpa pikir panjang, Snijder segera menghampiri aura itu meski jaraknya agak jauh dari istana kerajaan.
__ADS_1
Ia sampai tepat waktu berkat menunggangi hewan mistis yang sudah menjadi rekannya sejak lama. Hewan itu adalah Griffin, seekor hewan langka yang memiliki sayap elang berbadan singa dan berkepala elang. Berkat tunggangannya itulah Snijder bisa sampai tepat waktu menyelamatkan para kesatria suci.
Snijder sendiri bukan kali pertama berhadapan dengan Rever, setidaknya ia sudah melawan Rever beberapa kali termasuk dalam perang besar 15 tahun yang lalu serta 5 tahun yang lalu dan terakhir adalah 3 hari yang lalu.
Sebagai kesatria agung, tentu ia punya kekuatan yang cukup besar tapi sayang tidak cukup besar untuk mengalahkan seluruh pasukan iblis yang menginvasi berbagai tempat di wilayah daratan Neverland.
Bahkan dimata raja iblis, kekuatan Snijder Stollen sebagai kesatria agung hanya dianggap sebagai pengganggu kecil dan tidak berarti apa-apa.
Olehnya itu, perlu kekuatan besar untuk benar-benar mengalahkan klan Iblis. Kekuatan dari musuh alami iblis yang tak lain dan tak bukan adalah kekuatan para dewa dan orang yang saat ini memiliki kekuatan dewa di dalam dirinya adalah para kesatria suci.
Itulah mengapa kehadiran kesatria suci sangat diperlukan walaupun hari yang di janjikan tak kunjung datang. Hari dimana sanga kesatria suci terkuat akan muncul dan mengalahkan raja iblis, pasalnya dari beberapa generasi tak ada satupun kesatria suci yang berhasil mengalahkan raja iblis.
Ya.. Kesatria suci pendahulu hanya mampu memperlambat gerakan klan Iblis agar tidak menguasai daratan Neverland ini sepenuhnya. Mereka tidak benar-benar memenangkan pertarungan melawan pasukan iblis dan raja iblis.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
---------------------------------------
Visual look Griffin hewan langka yang ada di dalam cerita.
__ADS_1
Gambar by Artstation