
Sebuah tempat yang penuh misteri, di dalamnya terdapat berbagai macam monster dari yg terlemah sampai terkuat. Tempat tersebut di sebut sebagai
'labirin' oleh kesatria-kesatria pribumi, tempat ini menjadi tempat mereka untuk latihan menambah level bertarung dan mingkatkan status poin mereka. Semakin sering mereka bertarung, maka semakin kuat kekuatan mereka nantinya.
Sudah dua bulan sejak kesepuluh kesatria dari dunia lain di panggil ke daratan Neverland untuk memenuhi takdir yang telah menunggu mereka yaitu mengalahkan klan Iblis. Saat ini mereka berada di dalam labirin untuk meningkatkan status poin dan level bertarung mereka.
Kesepuluh kesatria tersebut memiliki kekuatan yang dan senjata yg berbeda. Kekuatan yg mereka dapatkan tergantung dari sifat dan karakter mereka. Meskipun di dunia mereka sebelumnya mereka hanya manusia biasa, tapi sekarang mereka telah menjadi kesatria suci yang mengemban misi untuk menyelamatkan daratan Neverland dari klan Iblis.
Mereka di pandu oleh Ksatria besar dari kerajaan Inggram dan beberapa Ksatria biasa untuk masuk ke dalam labirin guna meningkatkan kekuatan tempur mereka.
Di dalam labirin terdapat beberapa lantai, dari lantai atas sampai lantai bawah yang ujungnya belum di ketahui. Lantai terbawah yang pernah kesatria pribumi capai adalah lantai 35. Di lantai tersebut terdapat sebuah monster raksasa bernama salamander yang belum bisa di kalahkan hingga saat ini. Dan sekarang tujuan mereka adalah menuju lantai tersebut dan mengalahkan salamander.
Langkah demi langkah semakin membawa rombongan kesatria tersebut mendekat. Selama perjalanan mereka terlihat waspada dan berhati-hati terhadap serangan monster yang mungkin saja bisa menyerang kapan saja.
"Ketua Eros, berapa lama lagi kita harus berjalan?"
Eros Lopnika, kesatria besar kerajaan Inggram yg saat ini meminpin ekspedisi mereka.
"Sebentar lagi kita akan sampai, persiapkanlah diri kalian. Lawan kita nanti tidak bisa di remehkan."
"Apa sebaiknya kita kembali saja."
"oi oi.. Richard, kalau kau takut sebaiknya kau pulang saja. Dasar bodoh.."
"Sudahlah Rinto, kau tidak boleh berkata seperti itu pada rekan sendiri."
Mereka turun melewati tangga yang curam, mereka harus berjalan hati-hati jika tidak ingin terjatuh ke bawah. Di sebuah pintu raksasa, Eros sang kesatria besar berkata. "Sepertinya kita sudah sampai. Bersiaplah."
Para kesatria kemudian mengeluarkan senjata mereka dan bersiap untuk bertarung. Beberapa kesatria biasa kemudian berusaha membuka gerbang tersebut. Belum gerbang itu terbuka, tiba-tiba dari arah kiri mereka yg saat itu terlihat gelap muncul satu monster berwarna hijau dan memegang pedang.
Belum para kesatria tersebut bereaksi, monster tersebut langsung menyerang salah seorang di antara mereka.
"Ahhh.."
"Ivy.. Awas.. Menyingkir dari situ."
Ivy yg terkejut tidak sempat beraksi dan sekarang monster tersebut sudah berada di depannya. Richard yang berada di dekat Ivy, dengan refleks tubuhnya kemudian menghalangi monster tersebut yant mengakibatkan, paha sebelah kirinya terkena luka tusuk. Richard memang berhasil menghalau monster itu, tapi dia gagal untuk menebas monster tersebut karena gugup dan tak tahu cara menggunakan kekuatan miliknya.
"Ahh.. Sakit." Richard menahan sakit.
"Serangan kilat." dengan kecepatan di luar nalar, Leo salah satu kesatria suci berhasil menebas kepala monster tersebut.
"Maafkan aku.. Gara-gara aku, sekarang kau jadi terluka." Ivy menunduk meminta maaf kepada Richard.
"Hah.. Kau hanya menyusahkan saja. Dari awal kita di panggil kedunia ini. Hanya kau yg tidak memiliki perubahan yg berarti." Darkam berkata sinis kepada Richard yang terluka.
"Sudah.. Yang penting semua baik-baik saja. Diana, tolong sembuhkan luka Richard."
Diana mendekat ke arah Richard yang masih merintih kesakitan. Diana kemudian mengambil air dari botol yang terikat di pinggangnya dan menuang air itu ke luka Richard. Semenit kemudian luka itu hilang dan tidak berbekas sama sekali.
"Apakah kalian sudah siap?" Eros bertanya kepada seluruh kesatria suci.
"tentu saja." Arthur menjawab dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Para kesatria yang berada di depan pintu lalu mendorong gerbang raksasa itu hingga terbuka. Setelah mereka memasuki gerbang itu, mereka tiba di sebuah ruangan yang cukup besar. Tapi tidak ada apapun di ruangan itu.
"Ketua Eros, apa benar di sini tempatnya?" tanya Arthur yang merasa tidak yakin.
Belum kesatria besar menjawab, tiba-tiba di ruangan itu terjadi gempa dan tepat di depan mereka terdapat lubang yang terbuka. Sesaat kemudian muncullah kadal raksasa yang di sebut Salamander yang menyerang mereka dengan semburan racun.
"awas.. Menghindar." Arthur memberi aba-aba kepada kesatria suci.
Mereka semua melompat, begitupun dengan kesatria besar. Tapi beberapa kesatria biasa langsung meleleh dan mati seketika saat terkena racun tersebut. Richard yang ketakutan setangah hidup berlari ke belang tiang menghindari racun karena terlambat untuk melompat.
"Mengerikan." Ivy berempati terhadap para kesatria yang meleleh tersebut.
"Sepertinya menarik." gumam Leo bersemangat melihat menster tersebut.
"Cih.. Monster itu berhasil membunuh kesatria yang lain." Arthur merasa kesal yang tidak bisa melindungi mereka.
Para kesatria lalu mengelilingi monster tersebut, dengan aba-aba dari Arthur, semua kesatria suci mulai melancarkan serangan mereka. Satu persatu kesatria suci menyerang hingga membuat Salamander terdesak dan bingung ingin menyerang siapa.
"Aku akan membutakan matanya sesaat. Saat dia buta, serang bagian kepalanya sekaligus."
Setelah mengatakan hal itu kepada rekan-rekannya, Arthur lalu mencabut pedang yang terismpan di dalan perisai besarnya dan mengangkat pedang itu ke atas. Seketika pedang itu mengeluarkan cahaya terang yang dapat membutakan penglihatan. Semua kesatria menutup mata mereka agar tidak terkena efek tersebut.
Salamander yang ingin menyemburkan racun terganggu dengan cahaya terang itu hingga membuat dia kacau dalam menentukan arah.
"Tekarang." teriak Arthur kepada rekan-rekannya.
Sedetik setelah cahaya terang itu padam, semua kesatria suci menyerang dengan kekuatan penuh dan membuat Salamander tersebut tumbang.
"Bar status."
Arthur memeriksa bar status miliknya. Saat mengatakan hal itu tiba-tiba layar transparan yg berada pada gelang yang dia gunakan muncul. Dalam layar itu tertulis sebuah angka yang menandakan tingkat kekuatan dan level mereka saat ini.
"Wah.. Hebat, Arthur sudah mencapai level 50, kekuatan tempurnya juga sudah di atas 30.000." Diana melihat bar status Arthur dan memujinya.
"Sudah seharusnya, Arthur adalah pemimpin kita." Rinto menyambung pujian Diana.
"Sepertinya misi kali ini berjalab dengan sukses." kesatria besar Eros mengkonfirmasi keberhasilan misi mereka.
Mereka semua sepertinya cukup puas hari ini, terlebih mereka telah menaklukkan labirin level 35, ekspedisi selanjutnya akan di lakukan seminggu lagi dan mereka untuk pertama kalinya akan turun ke lantai yg lebih dalam yaitu di level 36.
"oi oi.. Richard, kau sama sekali tidak bertarung. Dasar tidak berguna."
"Maafkan aku.. Aku hanya menyusahkan kalian."
Richard meminta maaf atas sikap pengecutnya. Richard sering di bully oleh rekan-rekannya yang lain karena dia adalah yang terlemah di antara mereka. Richard adalah kesatria suci tipe Api dan memegang sebilah pisau. Mungkin karena senjatanya yang hanya sebuah pisau, dia merasa tidak percaya diri dengan kekuatannya sendiri.
"Sebaiknya kita kembali."
Seperti kata kesatria besar Eros, mereka lalu memutuskan untuk kembali ke kerajaan Inggram. Saat mereka semua berbalik tiba-tiba sebuah portal terbuka tepat di delan mereka. Portal hitam itu terlihat semakin membesar dan tak lama keluarlah sesosok manusia bertanduk dan memiliki 3 ekor panjang.
"Hah! Apa itu?" Leo tertegun melihat makhluk itu.
"Tidak mungkin." kesatria besar Eros terkejut bukan main. Dia menganga dan keringat terlihat membasahi wajahnya.
__ADS_1
"Ketua Eros, siapa makhluk ini?" Arthur terlihat waspada dan siap menyerang.
Semua kesatria suci terlihat siap untuk menyerang.
"Kesatria suci? Jangan bercanda.. Serangga seperti kalian semua tidak pantas untuk menghadapi kami." terlihat makhluk itu menyombombongkan dirinya.
"Makhluk itu.. Adalah.. Pembunuh elite dari klan Iblis." kesatria besar Eros terbata-bata mengucapkannya.
"Menarik." Leo kembali terlihat bersemangat setelah mengetahui lawannya.
Para kesatria suci mengambil kuda-kuda dan bersiap untuk menyerang.
"Tidak, kita tidak boleh bertarung sekarang. Kalian yang sekarang belum mampu untuk mengalahkannya. Kita harus kabur dari sini." dengan tubuh yang gemetar kesatria besar Eros menasihati para kesatria suci.
"Tidak ada salahnya kami mencoba." ucap Arthur dengan percaya diri.
Belum mereka menyerang, tiba-tiba makhluk itu mengeluarkan sebuah cahaya berbentuk bola di tangan kanannya. Dia terlihat mengarahkan cahaya itu kepada kesatria suci.
"selamat tinggal." setelah mengatakan kalimat itu, cahaya tersebut dengan cepat mengarah kepada mereka semua dan menimbulkan suatu ledakan yang besar.
Beberapa saat kemudian di tengah asap ledakan. Terlihat para kesatria suci terkapar dan terluka. Pun dengan kesatria besar dan anak buahnya tak luput dari efek ledakan.
"Ah. Huh huh.. Kalian semua tidak apa-apa?" Arthur mencoba bangkit meski dia terlihat kewalahan.
"kalian bahkan tidak pantas untuk melawanku." makhluk tersebut kembali masuk ke dalam portal dan bersamaan dengan saat dia masuk, juga keluar monster hijau yang bernama Goblin dalam jumlah banyak mengelilingi para pahlawan.
Mereka semua cukup kewalahan setelah menerima serangan ledakan tersebut. Tapi setidaknya mereka masih bisa bangkit dan melawan.
"dengarkan kalian semua, kita harus keluar dari sini. Kita harus membuka celah dan kabur dari pasukan goblin ini." lagi-lagi kesatria besar Eros memberikan instruksi untuk segera kabur.
Tak lama merekapun terlibat bentrokan dengan pasukan goblin yg jumlahnya lebih banyak dari mereka. Meski pasukan goblin adalah monster lemah tapi kekuatan sihir mereka semua sudah terkuras habis sehingga mereka sangat kesalahan mengahadapi pasukan goblin tersebut.
Mereka terus berjuang, Arthur yang di daulat sebagai kesatria terkuat dan pemimpin mereka terus memberi motivasi. Hingga mereka berhasil menerobos dan mendapatkan celah untuk kabur di tengah sergapan pasukan goblin. Mereka semua berlari sekuat tenaga mengingat ruangan tersebut sudah mulai goyah dan sebentar lagi akan runtuh.
"Ayo semuanya, keluar lewat gerbang. Cepat."
Saat mereka berlari ke arah gerbang, tiba-tiba Ivy terjatuh. Di lihatnya, pergelangan kakinya telah tertarik oleh salah satu goblin tersebut.
"Ahh. Tidak. Lepaskan.. Lepaskan aku." karena energi sihir yg sudah terkuras habis, dia histeris dan tak bisa melepaskan diri.
Saat merasa dia akan di seret jauh, datanglah Richard dengan gagah berani menolong Ivy yang tertangkap. Richard menarik Ivy setelah memotong tangan goblin tersebut dengan senjata miliknya. Saat Ivy sudah bisa bergerak, sekarang giliran Richard yang di tarik oleh pasukan goblin.
"Richard.." ivy berteriak dan mencoba mengulurkan tangan untuk menarik Richard tapi saat sebelum tangan mereka bersentuhan, lantai ruangan tersebut runtuh dan Richard terjatuh bersama dengan monster goblin.
"Richard.." ivy histeris saat tidak bisa meraih tangan dari Richard.
"Ivy, kita harus pergi. Ruangan ini akan runtuh."Diana menahan Ivy yg terus melihat ke bawah tempat dimana Richard terjatuh. Jarak yang sangat jauh sampai dasar yang tak terlihat membuat Diana menahan Ivy untuk menolong Richard.
"Ivy maaf harus mengatakan hal ini tapi, kita tidak bisa menolong Richard." karena situasi semakin kacau dan ruangan yg hampir runtuh, Arthur memutuskan untuk meninggalkan Richard yg terjatuh ke dasar lantai tersebut.
Dengan perasan menyesal Ivy kembali berlari, air matanya mengalir karena tak bisa menolong Richard padahal Richard sudah dua kali menolongnya hari ini.
-Bersambung-
__ADS_1