
"Lapar.. Lapar.. Lapar.. Lapar..!" Arthur dan Rebecca kompak berteriak pada Gildarts dan Ivy yang saat ini sedang mengolah daging rusa yang telah mereka buru saat matahari belum tenggelam seperti saat ini.
" Ne.. Ne.. Paman.. Aku lapar!!"
"Sabar ya.. Sabar. Hehe." Gildarts tersenyum manis kepada Rebecca.
"Tch.. Lihat wajah mesum itu, membuatku jengkel saja. Diana mengumpat kesal dengan tingkah ramah dari Gildarts.
"Oi oi paman.. Apa benar kau seorang lolycon?" Rinto mempertanyakan sikap Gildarts yang sangat suka memanjakan Rebecca yang merupakan kesatria suci termuda di antara mereka dengan usia 17 tahun.
"Eh.. Tidak mungkin. Hehe." Gildarts tertegun.
"Lagi pula Rebecca sudah bukan anak kecil lagi.. Usianya kan sudah 17 tahu." Gildarts melanjutkan.
Diana berbalik melihat Rebecca yang terlihat bertingkat kekanak-kanakkan. "Huh.. Apanya yang 17.. Sikapnya membuat dia seperti anak usia 10 tahun." Kata Diana.
Yang paling membuat Diana kesal adalah tingkah kekanak-kanak kan Arthur.
"Oi kau juga..." Diana memukul kepala Arthur dengan keras karena terlalu berisik.
Rebecca yang melihat hal itu langsung diam tegap tak bergerak. Sementara itu karena pukulan kesal dari Diana, Arthur pingsan sambil mengeluarkan busa dari mulutnya.
"Hah!! Arthur mati!!" Leo panik melihat kondisi Arthur.
"Hadeuh.. Dia hanya pingsan." Jelas Smits menguap dengan mata tertutup.
Arthur, pria yang awalnya kaku tapi jika sudah membaur maka ia akan mengeluarkan sikap aslinya.
Awal dia datang, ia sangat serius dan sangat berwibawa, apa lagi saat di daulat menjadi pemimpin para kesatria suci. Tapi semakin mereka saling mengenal maka semakin keluarlah sifat asli Arthur yang sering bertingkah ceroboh dan merepotkan semua teman-temannya.
Arthur paling sering membuat Diana kesal, karena sesungguhnya Diana menyukai ketenangan dan kesempurnaan. Tapi Arthur, ia adalah sumber kekacauan bagi Diana.
"Hah!! Bagaimana ini.. Arthur belum sadar juga?" Leo mencoba membangunkan Arthur yang masih pingsan.
"Hehe.." Ivy yang melihat tingkah mereka semua hanya bisa tersenyum canggung.
Malam ini.. Mereka memutuskan untuk berkemah di dekat sebuah desa kecil yang telah mereka bantu dari serangan klan Iblis. Tidak ada pilihan lain karena memang di desa itu tidak ada tempat untuk mereka menginap malam ini.
Meski kepala desa itu mempersilahkan para kesatria suci menginap di rumahnya tapi Arthur memutuskan bahwa lebih baik mereka membuat tenda dari pada menginap di rumah kepala desa itu.
Alasan Arthur cukup sederhana.. Karena jika para kesatria suci bermalam di rumah kepala desa maka kepala desa beserta istri dan anak-anaknya akan tidur di luar.. Di bawah pohon besar.
Mengetahui hal itu tentu membuat Arthur tak tega, maka jadilah mereka lebih memilih untuk membuat tenda tak jauh dari desa.
Terlebih lagi, desa yang mereka tolong kali ini adalah desa miskin yang tidak punya sumber daya memadai. Hal itu pulalah yang membuat mereka menolak bantuan makanan dari penduduk desa dan malah memberikan penduduk desa beberapa keping emas.
Hingga membuat mereka dipuji oleh para penduduk desa karena kebaikan hati mereka.
Kekuatan para kesatria suci kembali di uji sore tadi dan dengan mudah mereka semua mengalahkan monster yang menyerang desa. Bisa di bilang monster yang menyerang masih monster level rendah.
Sesaat kemudian..
"Tada!! Makanan sudah siap." Kata Ivy menyajikan daging rusa panggang kepada teman-temannya.
"Wuahhh.. Kelihatannya enak.." Mata Rebecca bersinar melihat makanan itu.
"Hum hum.." Arthur yang masih pingsan mengendus-endus makanan yang di sajikan.
Lalu..
"Saatnya makan!!!" Arthur langsung bangun sambil mengambil potongan daging rusa.
"Haahhh!! Dia sadar langsung makan.." Leo terkejut lagi.
"Hadeuh.. Brisik." Smits berbisik.
Mereka semua akhirnya menyantap makanan itu.
"Pege! Oi Pege! Ayo sini.." Ivy meneriaki Pege yang berada agak jauh dari rombongan mereka.
__ADS_1
Diana menatap Pege dengan dingin. Melihat tatapan mengancam itu, Pege yang pemalu langsung mendekat ke arah mereka semua dan ikut menyantap makanan.
"Wuahh.. Enak!! Kak Ivy memang hebat!" Rebecca memuji sambil tersenyum bahagia.
"Nih bocah kalau sudah ada maunya baru dia manggil nama pakai kak. Seharusnya setiap saat kau memanggil kami seperti itu!" Rinto bergumam.
"Uwekkkk!!" Rebecca menjulurkan lidah ke arah Rinto.
"Oi.. Tch.."
"Nyam nyam.. Umnk smkamli." Arthur berbicara dengan mulut yang penuh dengan daging.
"Kata dia.. Enak sekali!" Kata Leo membenarkan ucapan Arthur.
"Kan kan kan.. Hehe." Ivy terlihat senang karena makanan buatannya disukai oleh teman-temannya.
"Oh iya.. Jangan lupa, Paman juga ikut membantu." Ivy menunjuk Gildarts.
"Eh. Hehe."
"Kak Gildarts.. Makanan ini enakk.." Rebecca memuji Gildarts sambil tersenyum bahagia.
"hehhhh.. Rebecca, Re-Rebecca menyebut namaku! Ahhh.." Gildarts senangnya bukan kepalang.
"Dasar Lolycon." Gumam Diana.
Diana memang sering kesal melihat tingkah konyol teman-temannya tiap hari. Melihat Rebecca yang bersikap manja, melihat Gildarts yang berusaha menyenangkan Rebecca, melihat Arthur selalu ceroboh, melihat Rinto yang selalu mengumpat.. Bisa di bilang hari-harinya selama bersama mereka terus saja di penuhi dengan insiden kekonyolan.
Ivy yang melihat wajah kesal Diana hanya bisa tersenyum. "Hehe.."
Sementara itu!!
Di dunia arwah..
"Apa maksudmu anak muda? Kau menuduhku dengan tuduhan itu? Apa kau punya bukti?" Raja Charles menatap tajam ke arah Sambash.
"Tidak, itu hanya asumsi milik ku." Kata Sambash tersenyum tenang.
"Tuan Sambash.. Jika itu hanya asumsi, maka kau benar-benar membuang-buang waktu ku." Ucap raja Reynhard.
"Ya memang benar.. Ini hanya asumsiku saja, setidaknya untuk saat ini" Jelas Sambash sekali lagi
"Hemm.. Kalau begitu aku pamit!" Raja Charles menatap sinis ke arah Sambash.
"Hati-hati tuan.. Dan selamat atas pernikahan putrimu dengan salah satu kesatria suci." Sambash tersenyum dengan tatapan tajam.
"Baiklah, saya juga pamit tuan-tuan.. Semoga kita bisa mengalahkan pasukan iblis." Salah satu raja juga pamit.
Hingga akhirnya..
Satu persatu dari mereka semua menghilang dan berakhirlah sudah pertemuan mereka untuk membahas semua masalah yang ada.
Tak lama setelah mereka semua meninggalkan dunia arwah.. Di sebuah lantai dengan lingkaran sihir di atasnya. Terlihat tubuh raja William yang sedang memejamkan mata.. Seketika ia membuka mata dan kembali bernafas..
"Tuan.."
"Tuan ku.."
Beberapa kesatria mendekat ke arah raja William.
Sementara itu di depan raja William, Penyihir istana bernama Anne terlihat membuka mata karena sejak saat arwah raja William meninggalkan tubuhnya.. Sejak saat itu juga penyihir istana, Anne memejamkan mata untuk berkonsentrasi mengendalikan sihirnya.
"Aku tidak papa.." Raja William tergopoh dan di pegang oleh beberapa kesatria.
"Tuanku, sebaiknya anda istirahat.." Kata Anne.
"Iya.. Aku cukup lelah. Kau juga Anne.. Terima kasih telah melakukan ritual ini." Balas raja William.
Kembali ke tenda para kesatria suci..
__ADS_1
Setelah makan malam.. Mereka semua sedang duduk sambil melihat api unggun malam ini.
"Malam sudah sangat larut." Kata Leo.
"Mau bagaimana lagi.. Mengolah daging rusa sangat membutuhkan waktu." Balas Gildarts.
Di tengah perbincangkan mereka.. Salah seorang kesatria terlihat merajuk dan memandang langit malam.
"Rinto.. Apa yang sedang kau pikirkan!" Gildarts melirik Rinto, ia bahkan mengetahui jika pikiran Rinto saat ini sedang kacau.
"Tidak.. Tid."
"Aku tau, kau pasti merindukan putri Elizabeth." Diana memotong perkataan Rinto.
"Eh.. Ma-mana mungkin."
"Wahh.. Wajah Rinto merah.. Hahaha." Rebecca mengejeknya lagi.
"Oi.. Sudah ku bilang panggil aku dengan sebutan kak."
"Enaknya.. Ada orang yang di rindukan." Gumam Smits.
"Di duniaku jika sedang rindu seperti ini.. Maka kau bisa menghubungi orang yang di rindukan itu dengan smartphone." Kata Arthur melihat Rinto.
"Smartphone.. Apa itu?" Rebecca bertanya.
"Eh.. Anu.. Itu alat komunikasi jarak jauh." Jelas Arthur.
"Hah!?" Memangnya ada alat seperti itu.. Wahh hebat!!" Rebecca.
"Mungkin maksudmu telefon!" Kata Gildarts.
"Tidak.. Smartphone.. Bukan telefon. Smartphone itu alat yang canggih. Bahkan kita bisa melakukan video call jarak jauh." Jelas Arthur sumbringah.
"Video Call?" Rinto bingung.
"Kau bisa berbicara dengan menatap wajah orang lain meski jaraknya sangat jauh!"
"Ehhh... Yang benar saja!!
"Hebat!! Aku ingin melihatnya."
Rinto dan Rebecca takjub karena di dunia mereka sebelumnya, benda seperti itu tidak ada.
"Hehe.. Hebat bukan!!" Arthur mulai menyombongkan teknologi di dunia tempatnya berasal. Maka jadilah perbincangan kali ini tentang kehebatan teknologi di dunia Arthur berasal.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
'
-Bersambung-