The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 10 - Menuju Labirin


__ADS_3

*Lanjutan flashback


Dengan penuh persiapan, hari ini para kesatria suci dan rombongan kesatria kerajaan Inggram yang dipimpin oleh Eros Lopnika kembali akan memasuki labirin dan langsung menuju ke level 35.


Titik kumpul mereka adalah gerbang Istana sebelum menuju ke lokasi labirin. Disebuah lorong didalam kerajaan, Rinto sedang terlibat perbincangan dengan seseorang.


"Tuan Rinto, bagaimana menurutmu? Apakah kau bersedia menerima tawaran dariku." Ucap lelaki tua yang terlihat mengenakan jubah.


"Hm, aku memang tidak menyukainya. Tapi apakah Tuan yakin akan hal ini? Bukankah namanya sudah rusak sebagai kesatria suci? Apakah itu tidak cukup untukmu?"


"Tidak.. Itu tidak cukup. Aku telah bersumpah atas namaku sendiri, aku akan membalaskan dendam atas apa yang telah dilakukan keparat itu di masa lalu." Tegas lelaki tua itu.


"Tawaranmu memang menggiurkan, tapi bagaimana jika kerajaan yang lain mengetahui tentang hal ini." Rinto mengerutkan dahi dan memegang dagu terlihat tidak yakin.


"Tenang saja.. Aku akan menulis laporan tentang hal itu.. Bahwa apa yang terjadi dengannya adalah sebuah kecelakaan." Sekali lagi pria tua itu meyakinkan Rinto.


"Baiklah akan ku lakukan, sebaiknya Tuan segera menyiapkan upacara pernikahan untukku. Hahaha." Balas Rinto tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Sementara itu, di sisi lain kerajaan yang bertempat di sebuah ruangan. Terlihat beberapa kesatria suci sedang mempersiapkan bekal dan persenjataan mereka sebelum berangkat ke labirin.


"Hei, Arthur.. Apakah kita sudah bersikap keterlaluan terhadap Richard?" Ivy terlihat menyesali sikap acuhnya kepada Richard setelah insiden yang menimpa Richard seminggu yang lalu.


"Dia pantas mendapatkannya.. Aku tidak bisa memaafkan orang seperti dia." Tegas Arthur sambil mengenakan sirah bajanya.


"Tapi,.. Aku tidak begitu mengerti. Meski baru 2 bulan mengenalnya, seperti Richard bukan orang yang seperti itu."


"Ivy.. Jangan-jangan kau menyukai Richard?" Diana memotong pembicaraan antara Ivy dengan Arthur.


"Nona Ivy, kau memang terlihat baik. Tapi kebaikanmu itu bisa saja membawa petaka untukmu. Semua bukti-bukti mengarah kepada Richard.. Dia memang bersalah dan itu tidak akan berubah." Ucap Leo yang terlihat mengasah katana miliknya.


"Sudah cukup.. Saatnya kita berangkat!" Arthur selaku pemimpin mereka semua kemudian memberikan instruksi.


"Arthur.. Apakah kau yakin? Kita kekurangan 1 anggota." Smits tiba-tiba mengulik kembali pembicaraan.


"Dia sendiri yang tidak datang.. Bukan aku atau kalian yang melarangnya untuk bergabung."

__ADS_1


"Aku mengerti.., tapi kau harus bisa melihat mana yang benar dan salah. Itu adalah tugasmu sebagai pemimpin kami." kata Smits kepada Arthur dengan tatapan tajam.


"Aku tidak akan salah menilai orang." Jawab Arthur dengan penuh percaya diri.


Di tengah perbincangan serius mereka, masuklah Eros Lopnika kesatria besar kerajaan Inggram. "Apakah kalian sudah siap?"


"Maaf sudah membuatmu menunggu Tuan Eros. Kami siap sekarang." Kata Richard menyarungkan pedang panjangnya.


"Saya tidak melihat Tuan Rinto dari tadi." kata Gildarts melirik ke kanan dan ke kiri.


"Sepertinya Tuan Rinto sudah menunggu kalian diluar." kata kesatria besar Eros yang lanjut melangkah keluar dari ruangan.


"Kalian semua.. Ayo berangkat." kata Arthur menyulut semangat.


Merekapun keluar dari ruangan tersebut menuju kedepan gerbang istana kerajaan Inggram. Di depan istana mereka bersembilan tanpa Richard berkumpul dan mulai berjalan mengumpulkan keberanian untuk masuk kedalam labirin yang penuh monster.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2