The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 129 - Munculnya Sang Dosa Kerakusan


__ADS_3

Ledakan terjadi, terdengar begitu keras hingga burung yang berada di pepohonan hutan sekitar ledakan beterbangan meninggalkan tangkai dan sarang mereka yang ada di atas pohon-pohon itu. Sebuah ledakan sihir yang terjadi akibat hantaman sihir yang dikeluarkan oleh penyihir ras elf ke arah Woli. Serangan yang akhirnya meledak di tangan kiri Richard yang menangkisnya tanpa terluka sedikitpun.


Wajah segan dan heran terlihat dari kedua penyihir ras elf tersebut. Mereka seakan tak percaya, tapi salah satu dari mereka justru mencoba menahan serangan itu. Ras elf wanita yang terdiam, ternyata mencoba untuk menghentikan rekannya yang tiba-tiba saja menyerang dengan kekuatan penuhnya.


Sementara di sisi lain, Richard sedang menggoyang-goyangkan lengan kirinya karena merasa kesemutan setelah menahan serangan sihir itu. "Aa... Tuan kau tidak papa?" Woli bergerak sedikit, ia memegang lengan kiri Richard dan mengecek lengan kiri Richard dengan wajah khawatir. "Woi.. Dasar penyihir, apa masalah kalian hah?" Woli lalu berbalik, memaki kedua penyihir itu sambil menunjuk dengan tangan kanannya.


Terlihat dari arah kedua penyihir, sepertinya mereka sedang berdebat. Sesaat mendengar suara Woli, penyihir elf wanita berbalik lalu mendekati Woli dan Richard dengan wajah penuh penyesalan. "Apa kalian tidak papa?" Tanyanya.


Woli terdiam, ia terpanah akan kecantikan penyihir elf wanita itu. Nada bicaranya yang kasar saat mengumpat pada penyihir yang menyerangnya tiba-tiba berubah menjadi halus dan lembut. "Ti-tidak papa.. He, hehe." Woli canggung melihat penyihir elf wanita itu.


"Maafkan kakak ku tiba-tiba menyerang, kami hanya tidak ingin terlibat urusan dengan nope seperti kalian. Maafkan kakakku.. Dan maafkan aku.." Dengan ucapan lembut dan paras penyesalan yang tergambar, penyihir elf itu meminta maaf.


Richard diam saja, ia tak berekspresi sama sekali. Sementara dari arah belakang, penyihir Elf pria menatap dengan tatapan tajam dan penuh amarah. Seakan tak ingin melihat adiknya tunduk dan meminta maaf seperti itu, penyihir elf pria lalu bersuara. "Neyah, berhenti meminta maaf pada nope seperti mereka.. Lagi pula, manusia serigala itu yang menyerang duluan." Tegasnya dengan lantang.


Woli yang sudah tenang karena suara halus elf wanita malah kembali memanas. "Hah.. Hei elf sialan, apa karena batu kerikil kecil yang aku lempar itu, kau malah menganggap itu serangan.. Hah? Yang benar saja, kau sendiri menyerang dengan kekuatan penuh..!", Woli mengumpat dengan keras.


"Diam kau.. Cih, itulah sebabnya kami para penyihir seharusnya tidak berurusan dengan nope seperti kalian." Ucapnya dengan sombong.


"Kakak.. Sudahlah, maafkan kami... Ee tu-tuan pengelana." Neyah dengan wajah sungkannya kembali meminta maaf setelah menyuruh kakaknya diam.


Richard hanya diam, ia memperhatikan mereka tanpa ingin berkata apa pun. Sementara Richard terdiam dalam suasana tegang yang terjadi, kegaduhan semakin terdengar kala Woli kembali merespon ucapan elf pria tersebut.


"Huh.." Richard menghela nafas. "Manusia serigala, hentikan.. Sebaiknya kita pergi dari sini." Ucap Richard melihat Woli.


"Ta, tapi tuan, lihatlah wajah sombong dari elf itu.. Hemm.. Rasanya membuatku gerah saja. Aku jadi ingin menghajarnya. " Woli mengerinyitkan dahi saking kesalnya.


"Ya.. Sebaiknya kalian pergi, wilayah ini bukan wilayah untuk kalian para nope.. Pergi sana!" Elf pria itu kembali mengatakan kata kasarnya pada Richard dan Woli. Pria elf itu seakan punya dendam kepada mereka berdua, ia benar-benar membenci Richard dan Woli yang ia sebut sebagai nope.


"Nerwen... Hentikan sikap kekanak-kanakanmu itu. Bagaimanapun kau hampir saja membunuh mereka!" Neyah membentak kakaknya yang terus saja mengatakan hal kasar.


"Hah... Neyah, ka.. Kau memanggil namaku. Hah?" Nerwen cukup terkejut kala adiknya memanggil namanya secara langsung tanpa adanya ucapan 'kak' terlebih dahulu. Hanya ada satu alasan jika sudah seperti itu, artinya Neyah saat ini sedang kesal dengan kakaknya sendiri yang tidak berhenti berkata kasar dengan orang asing yang ada di depannya.


"Nerwen.. Diamlah dan segeralah minta maaf pada mereka, mau nope atau bukan.. Yang salah tetaplah kau karena menyerang dengan sembarangan. Beruntung.. Tuan pengelana ini bisa menahan serangan mu." Raut wajah Neyah berubah seketika, saat ia jengkel seperti ini maka tidak ada cara untuk menenangkan hatinya selain dari pada mengikuti apa yang dia katakan. Sontak saja, Nerwen langsung meminta maaf walau dalam hati ia tak ikhlas. Sambil menelan ludah.. Nerwen menekan emosi dan egonya. "tch, ma-ma... Maa-maafkan aku." Ucapnya dengan gagu.


"Hem.. Dasar elf bodoh. Tunjukan dulu wajah ramah mu, baru kami maafkan." Sekarang giliran Woli yang melunjak dan memperlihatkan wajah sombong pada Nerwen.


"Manusia serigala.. Kau, minta maaflah juga pada mereka. Jika bukan karena kau yang melempar kerikil terlebih dahulu maka dia tidak akan menyerang kita tiba-tiba." Ucap Richard membungkam kesombongan yang tidak perlu dari sikal Woli.


"Huh.. Tuan Rich...."


"Oi diamlah.. Aku sudah bilang jangan panggil aku dengan sebutan itu. Cepat minta maaf.." Richard memotong ucapan Woli, bagaimanapun Woli hampir saja menyebutkan namanya di depan orang asing yang tidak mereka kenali. Richard sudah menegaskan jika namanya tidak boleh disebut didepan orang asing.


"Ba.. Baiklah tuan." Woli menunduk karena mengetahui kesalahan yang hampir dia ucapkan. Ia melihat ke arah elf wanita di depannya karena Woli sendiri masih jengkel dengan elf pria itu. "Nona elf.. Maafkan aku atas tindakan bodohku." Ucapnya lugas.


Neyah tersenyum, dengan kulit putih salju dan paras cantiknya, Woli tersipu malu lalu menunduk karena tak sanggup melihat senyum itu. Sementara Richard diam tanpa ekspresi apapun, ia tak bergeming dengan kecantikan elf wanita yang berambut panjang warna putih itu.


"Sepertinya kesalahpahaman sudah di luruskan, sekarang.. Biarkan aku memastikan satu hal pada anda tuan pengelana." Ucap Neyah pada Richard. "Sihir yang dikeluarkan oleh kakakku adalah sihir serangan yang cukup kuat, aku pikir untuk menebus kesalahan secara menyeluruh. Izinkan aku memeriksa lengan kiri mu dan mengobatinya jika diperlukan." Tegas Neyah.


Dari jauh, Nerwen yang sejak tadi diam kembali berucap dengan lantang. "Apa yang kau lakukan Neyah, mereka adalah nope.. Ingat, kita penyihir dilarang bersinggungan dengan para nope tanpa adanya perintah." Ucap Nerwen.

__ADS_1


Richard mulai penasaran dengan satu hal, dari tadi kedua elf itu menyebut Richard dan Woli dengan sebutan nope. Sesaat Neyah berjalan mendekat dan ingin meraih lengan kiri Richard, dengan sigap ia menghindar dan menyembunyikan lengan kirinya ke belakang punggung. "Tidak usah.. Aku baik-baik saja. Seharusnya dari jarak sedekat ini kau sudah bisa melihatnya bukan!?"


"Tapi aku harus memegang tangan anda untuk memastikannya!"


"Tidak, aku tidak suka disentuh." Tegas Richard.


Richard tahu betul jika lengan kirinya berbeda dengan lengan biasa pada umumnya. Bagaimanapun lengan kirinya itu tumbuh kembali dari kekuatan besar yang diberikan oleh Ifrit padanya. Ia tak ingin jika wanita elf ini menyadari sesuatu dan menemukan kejanggalan dari lengan kirinya, apa lagi lengan kirinya memang tidak terluka sama sekali.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi.." Neyah berbalik, ia berjalan perlahan untuk menjauh dan berhenti saat ia berada di dekat monster yang telah mati kehabisan darah. Ia menengok kembali ke arah Richard dan Woli. "Oh iya, jika kalian sedang berjalan menuju kota Lockdown untuk mencari perlindungan. Sebaiknya lupakan saja, nope tidak akan bisa masuk ke kota Lockdown." Ucapnya lugas.


Richard yang tidak bisa lagi menahan rasa penasaran membalas dengan sebuah pertanyaan singkat. "Apa maksudmu?" balasnya.


"Nope.. Dari tadi kalian berdua memanggil kami dengan sebutan nope? Apa maksud dari sebutan itu?" Tanya Richard.


Nerwen yang memegang sebuah tongkat panjang yang ia gunakan terbang lalu membalas. "Heh.. Nope.. Ya, kalian adalah nope.. Nope sebutan untuk kalian yang bukan penyihir. Kami para penyihir dilarang berinteraksi dengan nope seperti kalian.. Seperti yang dikatakan oleh adikku, jika tujuan kalian adalah kota Lockdown, maka sebaiknya kalian putar balik karena nope tidak akan pernah diizinkan masuk ke dalam kota." Jelas Nerwen panjang lebar.


"Ah.. Nope, baiklah sekarang aku mengerti." Kata Richard.


"Cih, dasar penyihir sombong." Umpat Woli menanggapi ucapan Nerwen.


Setelah penjelasan singkat itu, Nerwen dan Neyah pergi meninggalkan Richard, Woli dan bangkai monster yang mereka buru sejak tadi. Kedua penyihir elf itu terbang menggunakan tongkat kayu panjang, mereka berdua berdiri di atas tongkat kayu itu.


"Hem.. Dasar penyihir sombong, seharusnya mereka bersyukur karena tuan Richard membiarkan mereka pergi." Kata Woli yang masih jengkel dengan sikap Nerwen.


"Ada satu hal yang membuatku penasaran...!?" Ucap Richard menatap Woli dengan penuh makna.


"Manusia serigala.. Mereka mengatakan jika di arah sana ada sebuah kota bernama kota Lockdown.. Apa maksudnya? Bukankah kita sedangkan menuju daratan Gres? Hah!!????"


Berpindah sedikit ke arah timur daratan Neverland, tepat di sebuah kota bernama Oslo. Sebuah kota yang merupakan markas besar armada kesatria angkatan laut kerajaan Skandia. Sudah beberapa hari yang lalu, armada utama yang dipimpin oleh kesatria besar sekaligus pangeran Bordex Erling merapat di pelabuhan utama kota Oslo bersama beberapa prajurit dan kesatrianya.


Pangeran Erling memutuskan untuk merapat karena hal penting yang telah terjadi, hal ini menyangkut informasi yang dibawa oleh dua orang yang ia temukan terkatung-katung di tengah laut perbatasan antara kerajaan Skandia dan Kerajaan Nusantara.


Kapal armada susah bersandar sejak kemarin sore dan rencananya hari ini adalah hari terakhir mereka berada di kota Oslo sebelum berangkat ke Ibu kota kerajaan Skandia untuk menemui raja dan membahas kemungkinan selanjutnya. Sementara para awak kabin kapal mengangkat barang turun dari kapal armada pangeran Erling. Sosok kunci dari informasi penting yang ingin disampaikan kepada raja Skandia terlihat berjalan santai sambil menikmati angin dipinggir pantai tak jauh dari pelabuhan utama kota Oslo. Sosok yang cantik itu adalah putri Gayatri, Dengan wajah sedih dan bibir murung ia berjalan meninggalkan jejak kaki di pasir yang ia lalui, di saat yang bersamaan jejak kaki yang tercipta itu terhapus oleh ombak kecil yang menerjang bibir pantai tempat dimana dia berjalan saat ini.


Hari sudah sore, langit agak gelap menandakan badai akan datang dari arah laut. Jika mengingat kembali, rasanya ia tak percaya sam sekali bisa selamat setelah apa yang terjadi dan menimpa kerajaan dan ayahnya. Putri Gayatri saat ini diselimuti oleh rasa sedih dan dendam kepada iblis yang bernama Lucifer, iblis yang dengan keji mencekik ibunya di depan dirinya yang tak berdaya.


Ia menatap ke arah timur.. Menatap ke laut, lebih jauh dan lebih jauh lagi dia membayangkan keadaan istana dan kerajaannya saat ini, membayangkan bagaimana nasib rakyatnya yang mungkin saja telah dibantai, dijadikan makanan monster dan diperbudak.


Membayangkan hal itu, membuat ia semakin sedih dan tak sadar meneteskan air mata. "Lucifer." Ucapnya lirih dengan mata yang amat dendam.


Sementara dari jauh, seorang pria yang berhasil kabur bersama dengannya mengawasi. Ihsan Wijaya, tentu saja, pria yang telah gagal memenuhi ekspektasi ayahnya dan membiarkan istana dan raja meninggal. Ia pun sedang bersedih, bersedih atas apa yang menimpa kerajaan dan ayahnya yang kemungkinan besar telah mati dalam peperangan melawan raja Iblis Leviathan Serphen.


Dari arah belakang, saat Ihsan tengah fokus memantau Putri Gayatri yang berjalan perlahan di pinggir pantai. Seorang memegang pundaknya. "Tuan Ihsan.."


Ihsan berbalik lalu berlutut karena tahu jika orang yang sedang memegang pundaknya dari belakang adalah seorang pangeran kerajaan. "Pengeran Erling." Balasnya.


"Berdirilah.." Ucap pangeran Erling. "Aku tahu saat ini kalian sedang berduka, tapi kalian tidak usah khawatir.. Besok kita akan berangkat menuju ibu kota kerajaan dan masuk ke istana untuk bertemu dengan ayahku. Setelah itu.. Aku bersumpah atas namaku, aku sendiri yang akan memimpin pasukan menuju kerajaan Nusantara dan mengalahkan pasukan iblis." Tegas Erling, sebuah ucapan semangat untuk memotivasi Ihsan yang larut dengan kesedihan dan kesalahan.


"Terima kasih tuan Erling.. Saya sangat menghargai hal itu." Balas Ihsan.

__ADS_1


"Seharusnya surat yang aku kirim ke istana sudah diterima oleh ayahku." Ucap Erling. Beberapa hari sebelum kapal sandar di pelabuhan kota Oslo, Pangeran Erling sudah mengirim surat kepada ayahnya tentang apa yang terjadi dengan kerajaan Nusantara. Seharusnya atas informasi itu raja Skandia menghubungi para raja kerajaan pendiri konferensi meja bundar untuk melakukan pertemuan darurat terkait hal ini.


"Saya tidak tahu lagi bagaimana akan membalas kebaikan pangeran Erling pada putri Gayatri.." Ihsan merasa sungkan.


"Tidak usah sungkan.. Bagaimanapun musuh kita saat ini adalah klan iblis.. Selama para iblis itu masih menyerang, kita harus bersatu demi membebaskan daratan ini dari teror mengerikan klan Iblis." Ucap Erling dengan tekad yang menggebu-gebu.


Lalu.. Tempat paling gelap, daratan Darksideland. Tanah para klan Iblis. Istana kegelapan, pada ruang tahta. Di sebelah singgasana berdiri seorang iblis kuat, iblis yang sama dengan iblis yang memberikan perintah kepada Rever Block sesaat setelah Rever kembali dari pertarungannya dengan Richard.


Iblis itu berdiri di samping tahta, sebagai tanda jika ia bukanlah pemilik kursi tahta yang kosong itu. Lalu dari depannya, sesosok iblis lain berlutut dengan sikap menunduk.


"Sekarang giliran mu telah tiba..!" Ucap iblis yang berdiri didekat kursi tahta atau singgasana kosong itu.


"Hamba siap tuan.."


"Akibat dari kegagalan pengikut Rever mempertahankan posisinya di wilayah kerajaan Inggram, kita jadi kesulitan untuk membuka portal dan memunculkan Behemoth di wilayah barat. Kalau susah seperti ini maka kiamat tidak akan terjadi... Karena itu kau harus mengambil satu item langka ditempat itu!"


"Ya.. Aku sudah paham tuanku. Item sihir yang dapat membuka portal dimensi tanpa harus menunggu segel suci melemah.. Item langka itu.. Chihcihichi." Ucap Iblis yang berlutut tersebut.


"Aku yakin kau bisa mengambil item itu, meski tempat itu terkenal dengan pertahanan kuatnya tapi dengan kekuatan dan pasukan mu pasti.. Aku sangat yakin, kau akan berhasil menyerang dan masuk ke kota itu, kota penyihir.. Kota Lockdown..." Tegas iblis yang berdiri tegap di samping tahta kosong.


"Chichichi.. Aku tidak akan membuat anda kecewa tuan. Aku akan melakukan penyerbuan ke kota Lockdown segera setelah pasukan terbaikku berkumpul."


"Kota itu memang kota yang cukup sulit untuk di tembus, sudah banyak pasukan kita yang kalah saar mencoba masuk dan menyerang kota itu tapi... Kalo ini aku percaya." Iblis yang berdiri di samping tahta kosong itu melanjutkan. "Aku percaya, karena kau adalah Iblis bergelar 6 dosa besar.. Sang dosa kerakusan, Balzeebub." Ucap Iblis yang memerintahkan tugas penyerangan itu.


"Chichichi.. Tentu saja." Balas Balzeebub dengan senyum menyeramkan yang ia miliki.


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'

__ADS_1


'


-Bersambung-


__ADS_2