
Matahari tidak lagi berada tepat di atas kepala, bisa dibilang tengah hari telah berlalu. Meski begitu, siang ini masih sangat terik karena matahari bersinar lebih panas dari biasanya. Untuk manusia biasa mungkin terik panas matahari kali ini akan sangat menganggu, membuat gerah dan lelah.. Itu jika manusia biasa, beda lagi dengan Richard.
Richard... Sebagai kesatria Ignis, panas dan cahaya matahari adalah sumber energi baginya. Itulah mengapa saat ini dia berjalan dengan melepas jubah dan membiarkan tubuhnya terkena cahaya dan panas matahari itu. Richard berjalan dengan tubuh yang berasap tipis.. Asap yang keluar itu seperti menjadi obat dari bekas luka yang masih basah sejak pertarungan hebatnya dengan Rever di malam sebelumnya.
"Tuan.. Tuan Richard.. Huhhhhh." Woli yang mengekor di belakang terlihat lelah sambil menjulurkan lidah karena merasa haus. "Huhh.. Panas-panas begini kau malah buka baju tuan." Woli mengusap keringatnya.
"Diamlah.. Percepat langkahmu. Bukankah kau ingin menunjukanku arah jalan ke daratan Gres.." Richard menoleh kesal, ia tak tahu bagaimana harus bersikap kepada Woli karena selama satu tahun dia belum pernah berinteraksi dengan orang lain saat berada di dalam labirin. Dia sendiri.. Bahkan selama ini dia selalu sendiri, walaupun dia bagian dari kesatria suci saat itu, tapi bagi Richard.. Dia selalu sendiri.
"Ayolah tuan Richard.. Kita istirahat sebentar." Woli mengeluh, mungkin karena bulu halus yang ada di tubuhnya membuat suhu tubuh Woli sangat panas apa lagi dengan cuaca panas terik matahari saat ini.
"Oioi.. Kita baru berjalan satu jam..."
Richard dan Woli telah keluar dari Kota Lister dan saat ini tengah berada di padang savana setelah sebelumnya melewati hutan, kondisi padang savana yang tandus membuat panasnya cuaca semakin menggerahkan tubuh, khususnya bagi Woli.
Kurang lebih satu jam yang lalu, sebelum mereka pergi. Rasa haru dan tangis mewarnai perpisahan antara Woli dengan Irish dan juga Belle, bagaimanapun kebersamaan mereka selama 3 bulan ini membuat hubungan mereka bertiga menjadi lebih dekat. Apa lagi Belle yang masih kecil, dia menangis sangat keras saat harus berpisah dari Woli karena bagi Belle, Woli sudah menjadi kakak laki-lakinya.
Woli yang berusaha menyembunyikan rasa sedih tak luput dan akhirnya ikut berlinang air mata. Tentu saja berat tapi bagaimanapun, bertualang dengan Richard adalah hal yang sangat dinanti olehnya. Woli juga sudah tak ada beban karena sejak kekuasaan kota Lister diambil alih kembali oleh Inggrid, kondisi perlahan stabil. Eros pun telah berjanji jika keamanan kota akan ditingkatkan agar bisa menekan angka kriminal, yang paling penting adalah membasmi pemburu budak yang selama ini sering melakukan penculikan.
Bisa dibilang, kebobrokan bangsawan Grobogan dan iblis yang berada di balik bayang-bayangnya telah berhasil dihapus dan dihentikan. Pahlawan yang telah melakukan itu tentu saja.. Pria yang saat ini berada di depan Woli.
Woli menatap pria itu.. "Tuan Richard.." Ucapnya kegirangan, ia sangat senang sampai-sampai tak henti-hentinya tersenyum sambil berjalan.
"Oi bocah serigala, kenapa kau tersenyum seperti itu.. Hadeh, apakah panas siang ini telah mengganggu otakmu?" Richard melirik ke belakang.
"Huahahaha.. Tidak papa taun." Ucap Woli.
Richard.. Dia mengalami perubahan bukan hanya dari segi kekuatan dan keahlian tapi juga pribadi, sikap dan perilakunya. Jika sebelumnya dia adalah orang yang sangat pemalu dan tidak bisa diandalkan, maka setelah dia berada di dalam labirin selama setahun dan mengalami berbagai kengerian dan pertarungan. Richard menjadi lebih dingin, acuh dan tak bisa menunjukkan kepeduliannya walaupun sebenarnya dia sangat peduli.
Siang yang sama di tengah laut..
Dalam kapal armada laut kerajaan Skandia, kapal komandan armada.. Kesatria besar Bordex Erling yang sekaligus merupakan putra kedua raja Skandia.
Setelah menemukan Ihsan dan Gayatri yang terkatung-katung di laut lepas. Dengan wewenangnya Erling menyelamatkan mereka berdua dan saat ini, tepatnya pada kabin kapal, bersama dengan para kesatria dan juga Ihsan Wijaya. Mereka membicarakan hal yang baru saja membuat gempar para pasukan armada, membicarakan kekalahan kerajaan Nusantara di tangan klan iblis.
"Tch.. Jika benar seperti itu, berita ini akan menggemparkan para raja aliansi meja bundar." Ucap Erling yang memegang dagu dengan tangan sambil berpikir. "Akan terjadi perang besar.. Seperti 15 tahun yang lalu." Ucapnya melanjutkan.
Walaupun Erling tidak terlibat dalam perang 15 tahun yang lalu, tapi ia tahu tentang perang itu karena saat perang itu terjadi ia masih anak kecil.
"Lucifer, Rever Block dan raja iblis.. Leviathan Serphen!?" Ucapnya sekali lagi. "
Dia lalu melangkah mendekati Ihsan yang duduk dekat dengan tembok kabin kapal di sebelah kirinya. "Apa yang kau katakan menjadi masuk akal.. Apa lagi iblis-iblis kuat itu muncul dan sang raja iblis telah turun tangan."
Ihsan tertunduk, ia mengingat kembali saat istana kerajaan Nusantara hancur dan tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak bisa menyelamatkan penduduk negerinya dari kehancuran, ia hanya bisa kabur dan terus kabur meninggalkan negerinya. Jiwa kesatria miliknya telah jatuh, dia merasa malu dengan dirinya sendiri dan merasa malu pada putri Gayatri.
Gayatri, satu-satunya keluarga bangsawan dari kerajaan Nusantara yang hidup. Saat ini Gayatri masih terbaring lemah di ruangan lain dengan ranjang yang lebih empuk. Ia belum sadarkan diri dari rasa lelah melawan badai semalam suntuk.
"Pangeran.. Haruskah kita mengirim surat kepada Raja!?" Salah satu kesatria bertanya pada Erling.
"Ya.. Tapi tidak cukup sampai di situ. Berikan perintah kepada nahkoda.. Segera merapat ke pelabuhan. Kita akan pulang ke istana. Putri Gayatri harus menghadap kepada ayahku dan kepada para raja aliansi meja bundar.. Putri Gayatri harus menceritakan sendiri kondisi kerajaannya. Setelah itu.. Jika aku benar maka kita akan melakukan perang besar-besaran.. " Tegas Erling dengan mata yang meyakinkan.
__ADS_1
"Siap Pangeran!" Kesatria itu berbalik, ia keluar dari kabin setelah paham dengan perintah yang diberikan.
"Tuan Ihsan.. Apakah kau melihat sosok Leviathan Serphen?" Tanya Erling.
Ihsan yang sejak tadi meratapi kekalahan mengangkat wajahnya. "Tidak.. Raja iblis tidak muncul di pulau Cebes, yang muncul di ibu kota kerajaan adalah Lucifer.. Hanya dia dan bawahannya yang tak kalah kuat. Sial.. Hanya mereka.. Mereka bertiga dan.. Dan aku tidak bisa mempertahankan ibu kota.. Sial, sial sial.." Ihsan mengeluarkan kekesalan atas lemahnya dia yang tidak bisa melindungi kerajaan seperti apa yang diharapkan ayahnya.
"Tenanglah tuan Ihsan.. Mau bagaimana lagi, walaupun aku tidak pernah melawan iblis 6 dosa besar tapi rumor tentang kekuatan mereka telah tersebar.. Kabarnya, butuh 2 kesatria agung untuk memojokkan mereka atau.. Kesatria suci dengan dengan kekuatan penuh." Ucap Erling yang saat ini duduk di samping Ihsan. "Aku harap para kesatria suci akan mencapai puncak tertinggi kekuatannya sebelum perang besar ini dimulai." Sambung Erling penuh harap.
"Dan.. Aku turut berduka atas apa yang menimpa ayahmu.. Rein Wijaya. Aku tahu jika Beliau adalah kesatria agung yang sangat disegani. Tapi mau bagaimana lagi, melawan raja iblis itu sama saja dengan bunuh diri." Lanjut Erling.
Di saat percakapan itu masih berlangsung, dari arah pintu kabin seorang wanita muda masuk. "Ihsan.." Ucapnya lirih.
"Putri.. Putri anda sudah sadar?" Ihsan berjalan cepat, ia memegang tangan Gayatri yang masih oleng.
Erling yang melihat Gayatri langsung maju ke depan, ia menunduk dan mencium tangan Gayatri sebagai bentuk rasa hormat dan tatakramanya pada bangsawan sekaligus putri raja. "Putri Gayatri.. Lama tidak bertemu!" Ucapnya.
"Si-siapa kau?"
"Aku Bordex Erling, putra kedua raja Skandia.. Kesatria besar dan pemimpin armada laut kerajaan."
"Erling.." Ucap Gayatri sedikit terkejut.
Melirik sebenar ke arah yang lain, tepatnya di bagian utara kerajaan Celestial. Pelabuhan kota Hagen, di atas kapal yang sebentar lagi akan berlayar menyeberangi lautan menuju benua dingin, bagian utara Neverland.
Itu adalah tujuan selanjutnya dari rombongan kesatria suci yang dipimpin oleh Arthur.. Kesatria lux, bersama dengan Diana, Leo dan Rinto.
Mereka berempat semakin terkenal dan reputasi mereka semakin meroket kala berhasil mengalahkan pasukan iblis dan membebaskan desa hingga kota-kota yang diserbu oleh pasukan klan iblis. Rentetan kemenangan yang diraih membuat kemampuan dan pengalaman bertarung mereka semakin banyak, hal itu berdampak semakin meningkatnya kemampuan bertarung mereka.
Teriakan, histeris dan tangis haru.. Layaknya seorang arti terkenal. Mereka mendapatkan sorak sorai dari orang-orang yang memenuhi pelabuhan.
"Tuan Arthur... Ahhhh.."
"Sampai jumpa.. Kesatria suci!"
"Lady Diana.. Anda sangat cantik!"
"Tuan Leo.. Tuan Leo terimalah cintaku."
"Arthur.. Kyaaa."
Teriakan - teriakan itu terus bergema, bahkan saat kapal laut sudah mulai bergerak menjauh. Arthur yang sumringah atas dukungan-dukungan itu terus melambai kepada mereka semua. Arthur merasa jika impiannya untuk menjadi pahlawan telah terwujud dan hal itu membuat dia semakin bersemangat untuk mengalahkan lebih banyak iblis. "Kalian semua.. Sampai jumpa..!" Ucapnya sambil melambai.
"Cih.. Berisik!" Rinto mengeluh, ia membuang muka.
"Rinto.. Jangan bersikap begitu, tersenyumlah!" Kata Diana yang melihat wajah busuk Rinto.
"Hem.. Mereka sangat mengganggu.."
"Alah..paling kau kesal karena namamu tidak disebutkan oleh mereka. Iya kan, ya kan?" Diana dengan candaannya menyindir Rinto yang tersipu malu dengan kekesalan.
__ADS_1
Di saat kapal semakin jauh dari pelabuhan, Richard menghentikan lambaian tangannya. Ia berbalik ke arah rekan-rekannya.. "Arthur.. Ka-kau menangis!" Leo terkejut.
"Huaahhh.. Aku senang, mereka sangat menyambut kita.. Huahh." Arthur menangis, ia terharu dan bersemangat atas dukungan yang telah ia dapatkan sampai saat ini.
"Anda pantas mendapatkan itu tuan!" Kata seorang pria dengan pakaian yang cukup rapih.
"Kapten.. Huahh.." Richard memeluk pria itu karena masih merasa terharu dengan antusias orang-orang dengan prestasi mereka.
"Tuan Arthur.. Sudah, sudah hehe." Pria itu adalah kapten kapal yang di tumpangi oleh Richard dan rekan-rekannya. Di tengah rasa haru, Kapten kapal menatap mereka berempat. "Baiklah.. Sekarang kita akan menuju bagian utara. Aku peringatkan pada kalian jika monster yang ada di bagian utara berbeda dengan yang selama ini kalian hadapi, bersiaplah.. Kalian akan menghadapi monster yang lebih buas lagi." Ucap kapten kapal.
Seketika Arthur berhenti melakukan tingkah konyol karena rasa haru yang memenuhi hatinya. Ia bersemangat, dengan mata yang bercahaya ia mengatakan keyakinannya. "Tentu saja.. Siapapun lawannya akan aku kalahkan!" Tegasnya dengan sangat percaya diri.
Sementara itu, rombongan kesatria suci yang lain..
"Hadeuh.. Nona, jika kau terus melakukan ini aku tidak bisa bergerak bebas." Smits berjalan perlahan, ia sangat terganggu karena Anne masih memeluk lengannya.
"Sialan kau Smits.. Kau pasti menyukainya kan? Hah?" Rebecca menunjuk Smits dari belakang.
Smits dan yang lain telah melanjutkan perjalanan mereka, alih-alih menuju selatan seperti rencana awal. Mereka malah bergerak kembali ke arah barat, tujuan mereka adalah Kota Lockdown.
Kota Lockdown berada di bagian barat Neverland, diapit oleh tiga kerajaan besar, di bagian utara kota Lockdown terdapat kerajaan Inggram dan kerajaan Celestial, lalu di bagian barat kota Lockdown terdapat kerajaan Norway sedangkan pada bagian timurnya terdapat dataran luas, yang bernama Gres.
Kota Lockdown adalah wilayah kecil padat penduduk, berbeda dengan wilayah kerajaan yang memiliki wilayah cukup luas dengan banyak kota dan desa. Kota Lockdown tidak memiliki wilayah lain selain kota itu sendiri, meski hanya sebuah kota tapi militer dan pertahanan kota tak kalah kuat dari para kerajaan yang lain, bisa dibilang Kota Lockdown tidak termasuk di dalam teritori kerajaan lain sehingga kota Lockdown adalah wilayah yang independen dan memiliki otoritas kekuasaan tersendiri.
Smits memutuskan untuk ke kota Lockdown setelah tak sengaja bertemu dengan Anne dan Gerald. Meski sudah dijelaskan oleh Gerald tentang asal usul Anne tapi Smits yang memiliki firasat lain merasa jika ia harus ikut kembali ke kota Lockdown dan mencari jawaban atas firasat yang ia rasakan itu. Mereka dengan mantap berangkat ke kota Lockdown setelah mereka semua sepakat dan menunda keberangkatan mereka menuju selatan.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
'
-Bersambung-