
Semua orang takjub melihat apa yang terjadi, kemunculan pria kekar dengan pedang besar di punggungnya itu membuat mereka semua terdiam, apa lagi setelah pria itu membanting monster jenis Oger ke tanah hanya dengan satu tangan saja.
Orang itu bahkan bisa merekonstruksi mayat dari seorang anak yang telah hancur akibat tertimpa Oger dengan sihirnya. Walaupun sihir rekonstruksi tubuh itu tidak dapat mengembalikan nyawa anak kecil yang telah mati.
Tapi setidaknya para penduduk mengira jika pria itu adalah bagian dari kesatria sihir kota Lockdown dan membuat mereka semakin memuja dan memuji Kanselir sihir, pelindung sejati mereka. Sorak sorai pun kembali terdengar, bahkan wanita yang kehilangan anaknya juga ikut bersorak sambil menggendong jasad anaknya yang tidak lagi bernyawa, ia bersorak sambil berderai air mata.
Richard yang juga berada di sekitar kerumunan tertegun, bukan karena itu ikut takjub dengan apa yang terjadi. Ia tertegun karena ia mengenal pria yang telah mengalahkan Oger tersebut, bukan kesatria sihir tapi orang itu adalah Darkam Pege, kesatria suci dengan Gelar Tenebris.
"Hhha..." Ucapnya kala melihat wajah Pege.
Sementara Pege yang berjalan ke arah Richard tanpa peduli sorak sorai terus menunduk, hingga pada satu titik ketika pandangan mereka bertemu. Pege tak sengaja menatap Richard, saat itu pula Richard tak mengalihkan pandangannya dan mereka berdua saling menatap.
Pege berjalan melewati Richard, semakin dekat dan semakin dekat sampai akhirnya Pege berlalu tanpa mengatakan sepata kata pun pada Richard. Sementara Richard yang diam juga tidak mengatakan apa-apa pada Pege. Pertemuan tidak sengaja mereka berlalu, Richard berbalik melihat punggung Pege. "Sepertinya bukan cuma aku yang berkembang, tapi mereka juga!." Ucapnya.
Sedangkan Pege, ia berlalu dan menghilang di kerumunan orang banyak.
Richard semakin mempertegas niatnya untuk segera meninggalkan dunia ini, apa lagi setelah ia tahu jika kesatria suci sudah semakin kuat setelah melihat apa yang dilakukan oleh Pege kepada monster Oger setinggi 3 meter itu. "Jika mereka sudah sekuat ini, maka tidak ada yang perlu aku khawatirkan." Ucapnya.
"Anak muda, apa yang kau bicarakan?" Tanya kakek tua yang berada di dekatnya.
"Ahh.. Tidak, tidak papa. Aku pikir orang itu sangat kuat." Kata Richard tersenyum canggung.
"Tentu saja.. Orang itu pasti adalah kesatria sihir." Balas Kakek itu.
"Huh.. Dia kesatria suci." kata Richard dalam hati.
Seketika Richard langsung sadar akan satu hal. "Jika Pege ada di tempat ini maka mereka semua juga berada di sini." Ucapnya, masih dalam benaknya.
Richard langsung terbawa perasaan kala memikirkan hal itu, sebab sudah pasti karena rasa benci yang ada dalam dadanya kepada rekan-rekan yang meninggalkan dia di dalam labirin.
Richard tidak terlalu bereaksi kala melihat Pege, itu karena Pege adalah pria pendiam yang tidak pernah menganggap Richard lemah sama seperti teman-temannya yang lain. Tapi begitu ia sadar dengan keberadaan kesatria suci yang lain, ia gelisah dan langsung ingin pergi dari tempat ini.
Ia masih menyimpan kekesalan mendalam setelah dibiarkan dan ditinggalkan membusuk dan hampir mati di dalam labirin yang runtuh.
Sementara itu.. Waktu yang terus berjalan semakin menenggelamkan matahari. Pada distrik pendidikan, tepatnya di alun-alun akademi sihir Hogward. Suasana sepi berubah menjadi gaduh akibat dari pertarungan sihir yang sedang terjadi.
Hanya ada sedikit orang di tempat itu saat ini, bagaimana pun akademi sihir hanya aktif di pagi dan siang hari. Hal ini juga lah yang membuat alun-alun akademi sihir itu terlihat gelap begitu matahari benar-benar tenggelam dan menghilangkan cahayanya.
"Coercitio."
Sebuah rantai yang bersinar keluar dari lingkaran sihir seorang kesatria sihir, serangan itu di arahkan kepada Oana yang tidak ingin ikut dengan mereka.
"Contra impetum." Oana menetralkan sihir tersebut, bisa di bilang dia cukup superior dalam hal ini.
Pertarungan terjadi karena Oana menolak untuk ikut dengan mereka berdua, apa lagi kedua kesatria sihir itu tidak bisa menjelaskan secara rinci maksud dan tujuan mereka membawa Oana.
"Somnum." Salah seorang penyihir lagi-lagi menyerang langsung dari arah depan, Oana menghindar dengan bersembunyi di balik tiang besar berdiri menyangga sebuah atap.
"Ahhh.. Hei siapa kalian?" Tanya Oana saat masih dalam keadaan waspada.
"Nona.. Menyerah lah, ini adalah perintah dari kanselir sihir." Jawab salah satu kesatria sihir yang mencoba membawanya.
"Bodoh.. Mana mungkin kanselir sihir mau bertemu denganku. Aku kesini hanya ingin bertemu satu orang dan orang itu adalah Aliyah." Tegas Oana.
Di tempat lain, masih di dalam kota Lockdown.
Kediaman Kanselir sihir. Masih dalam jamuan makan malam mewah oleh Kanselir sihir, beberapa dari mereka sudah terlihat kenyang dan tidak lagi mengunyah makanan sedangkan bagi Rebecca yang beberapa hari ini hanya memakan makanan sederhana, merasa belum puas dan masih menikmati beberapa menu makanan yang masih tersedia.
Suasana tegang mulai terlihat kala Smits kembali menagih penjelasan pada Kanselir tentang siapa sebenarnya Anne Drigory.
Kanselir sihir tersenyum sambil mendekap kedua jari yang menopang dagunya di atas meja. Di sampingnya masih setia berdiri seorang pria tua berambut putih. "Seperti yang telah dikatakan oleh Gerald pada kalian, Wanita yang kalian lindungi itu adalah penyihir yang terkena kutukan Iblis." Jelasnya singkat.
__ADS_1
"Itu tidak menjelaskan apa-apa." Tegas Smits.
"Maaf menyela Kanselir, tapi bagiku Anne hanya perempuan biasa yang sedang ketakutan." Kata Ivy yang melanjutkan perkataan Smits.
"Hem.. Kalian telah tertipu. Anne adalah keturunan terakhir keluarga Drigory yang merupakan keluarga penyihir hebat dan merupakan salah satu pemimpin kota ini." Kata Kanselir, ia lalu melanjutkan.
"Beberapa tahun yang lalu, keluarga Drigory melakukan percobaan sihir. Sebuah percobaan yang akhirnya menghancurkan keluarga mereka sendiri karena kegagalannya. Percobaan itu telah dilarang oleh dewan sihir tapi ternyata mereka tetap melanjutkan dan bersikeras jika percobaan sihir yang mereka lakukan akan memberikan dampak besar bagi kelangsungan hidup di dunia ini."
Smits dan kesatria suci lain dengan serius mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kanselir sihir.
Kanselir yang menatap ke arah mereka kembali menjelaskan jika percobaan yang mereka lakukan itu dimaksudkan untuk membuat suatu item sihir yang mampu meningkatkan kekuatan para penyihir untuk menghadapi klan iblis yang semakin hari semakin mengancam.
Itu adalah niat baik dari keluarga Drigory, apa lagi keluarga Drigory adalah salah satu keluarga penyihir terkuat yang pernah ada di daratan Neverland.
Namun percobaan yang mereka lakukan dilarang karena mereka melakukan sebuah percobaan menggunakan darah iblis kelas dosa besar dan jasad kesatria suci terdahulu. Mereka melakukan ritual berbahaya yang bisa saja membuat kota hancur berantakan.
Larangan itu tidak menghentikan niat keluarga Drigory, mereka tetap melakukan percobaan secara ilegal. Sampai akhirnya percobaan itu ketahuan dan seluruh keluarga Drigory dijatuhi hukuman pengasingan oleh dewan sihir kota.
Sayangnya semua terlambat, di saat para kesatria sihir melakukan penggerebekan di sebuah laboratorium sihir keluarga Drigory. Percobaan itu malah membawa petaka bagi keluarga Drigory, pun dengan anak yang saat ini merupakan keturunan terakhir keluarga Drigory.
Percobaan mereka gagal dan malah memberikan sebuah kutukan dan merubah keluarga Drigory menjadi monster dengan kekuatan luar biasa yang mengamuk dan meluluhlantahkan kota Lockdown.
Ada ribuan hingga ratusan ribu orang yang mati akibat insiden itu, hingga akhirnya para penyihir kota Lockdown berhasil melumpuhkan monster tersebut dan membebaskan kota dengan biaya yang tidak murah.
"Dari pertarungan itu, aku harus kehilangan banyak temanku. Termasuk Emma Drigory. Ibu dari Anne Drigory yang saat ini kalian lindungi." Jelas Kanselir melanjutkan ceritanya.
Emma Drigory yang berubah menjadi monster bersama dengan keluarga Drigory lainnya berhasil dikalahkan dengan bantuan tentara dari kerajaan Inggram dan Kerajaan Celestial.
Kanselir sihir berdiri lalu membuka jubah dan mengangkat korslet yang ia kenakan. "Tidak usah menutup mata." Ucap Kanselir yang melihat ekspresi Smits tepat di depannya.
"Ini adalah bekas luka yang aku dapatkan saat aku bertarung dengan temanku sendiri, dengan teman yang telah berubah menjadi monster karena kutukan sihir kegelapan yang coba mereka ciptakan." Kata Kanselir memperlihatkan sebuah luka bakar yang berlubang di perut bagian kirinya.
"Ahh..." Ivy terkejut melihat bekas luka itu.
"Ini adalah bukti betapa kuat dan berbahayanya kutukan sihir yang ada di dalam gadis itu." Sambung Kanselir sihir meyakinkan mereka.
"Aku sempat berpikir jika yang terkena kutukan sihir hanya Emma, Suami, serta Kakaknya. Tapi nyatanya kutukan itu telah merasuk ke semua darah keturunan Drigory, termasuk ke darah keturunan terakhir. Anne Drigory." Jelasnya, lalu ia menambahkan. "Karena fakta itu, seluruh keturunan Drigory dibunuh dan di cap sebagai keturunan iblis. Mereka semua dijatuhi hukuman mati kecuali Anne Drigory."
Smits menyipitkan matanya, ia mencoba menelaah apa yang sedang dikatakan oleh Kanselir. "Lalu, kenapa Anne tidak dibunuh?" Tanyanya.
"Itu karena Emma, temanku sekaligus sahabatku di akhir khayatnya memohon padaku agar merawat dan melindungi Anne." Tegas Kanselir sihir.
"Bagaimanapun insiden ini terjadi saat Anne masih berusia 4 tahun, dia masih sangat kecil dan aku sudah membesarkan dia sampai sekarang. Membesarkan dia dari bayang-bayang tanpa sepengetahuan dewan sihir. Aku membesarkan Anne sekaligus melindunginya dari dunia luar. "Tegas Kanselir sekali lagi.
"Unch.. Kau adalah wanita yang sangat baik." Celoteh Rebecca.
"Tapi.. Jika benar seperti itu. Kenapa dia sangat ketakutan." Tanya Smits.
"Dia takut bukan padaku atau pada apapun, dia takut akan dirinya sendiri karena 2 tahun yang lalu Anne kehilangan kendali dan membunuh seorang penyihir yang aku tugaskan untuk menjaga dan merawatnya. Anne membunuh pengasuhnya sendiri dan sejak saat itu dia menjadi ketakutan sampai hari ini." Tegas Kanselir.
Percakapan itu berlanjut menceritakan tentang Anne dan asal usul kutukan yang dimaksudkan. Semua pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Smits dan kesatria suci berhasil di jawab dengan meyakinkan.
Semakin Kanselir menceritakan semuanya, maka semakin mereka percaya jika Anne adalah wanita yang sangat berbahaya. Bukan karena dirinya tapi karena kutukan sihir kegelapan yang ada di dalam dirinya.
Beralih ke bagian timur daratan Neverland, dimana langit malam juga sudah menggantikan langit sore.
Di atas sebuah kereta kuda kerajaan Skandia, tempat dimana Putri Gayatri sedang duduk termenung. Sebuah ketukan pintu kereta menyadarkan dirinya atas lamunan dan air matanya yang jatuh.
"Iya," Sahutnya pada orang yang mengetuk pintu kereta.
"Putri, ini aku Ihsan.. Malam ini kita akan istirahat dan membuat tenda di tempat ini." Ucap Ihsan dari luar.
__ADS_1
"Iya baiklah." Balas Gayatri lesu.
Ihsan yang berada diluar mengetahui jika akhir-akhir ini Gayatri memang sering murung. Itu wajar mengingat apa yang telah terjadi dengan keluarga dan juga kerajaannya.
Ihsan berlalu, ia masih menyesali ketidakmampuannya untuk melindungi kerajaan sama seperti apa yang ayahnya inginkan. Ia berjalan menjauh dari kereta yang ditumpangi oleh Gayatri, lalu dari arah kirinya pangeran Erling dan beberapa kesatria mendekat dengan zirah lengkapnya.
"Tuan Ihsan.. Aku mendapatkan surat balasan dari Ayahku, Raja Kerajaan Skandia." Katanya.
"Benarkah.. Apa yang dikatakan oleh Ayah anda tuan Erling?" Ihsan mendekat dengan penasaran.
"Ya.. Pertama-tama aku harus mengantarkan anda dan putri Gayatri terlebih dahulu dengan selamat menuju istana. Kemungkinan kita akan sampai di istana 3 hari dari sekarang." Tegas Erling dengan wajah datarnya.
Sementara itu di Istana kerajaan Skandia..
Beberapa saat sebelum Erling mendapatkan balasan surat yang dia kirim sebelumnya.
"Jadi benar Tuan putri Gayatri di culik oleh Iblis?" Tanya Raja Skandia pada seorang pria dengan zirah yang berdiri di depannya.
"Iya tuanku raja Skandia, surat yang anda baca itu sudah mempertegas jika raja Jolang saat ini meminta bantuan anda agar putri Gayatri dapat diselamatkan dari iblis yang menyamar menjadi pria bernama Ihsan." Kata pria berzirah itu.
"Hemm.. Ini benar tulisan dan cap raja Jolang. Baiklah, aku akan memerintahkan Erling menyelamatkan putri Gayatri dari iblis bernama Ihsan itu." Terang raja Skandia pada utusan kerajaan Nusantara yang saat ini berada di depannya.
Setelah perbincangan itu, raja Jolang memerintahkan kepada Erling melalui surat agar membunuh Ihsan dan membebaskan Putri Gayatri.
Dan saat ini..
Di saat tenda-tenda sudah mulai berdiri.
Di saat Gayatri turun dari kereta kudanya, ia di kawal ketat oleh para kesatria bawahan Erling, sedangkan Ihsan yang saat itu bingung dilarang untuk mendekat.
"Tuan, ada apa ini?" Ucapnya kala ia dihalangi untuk mendekati tuan Putri Gayatri.
"Ini adalah perintah raja.." Kata kesatria yang menghalangi Ihsan.
"Apa maksudnya?" Ihsan mulai curiga denger gerak gerak aneh para kesatria. "Hei, apa yang kau lakukan?" Ucapnya sekali lagi.
Dari arah tenda besar, Erling keluar. "Tuan Ihsan tenanglah.. Itu adalah bagian dari protokol pengaman kami. Tenanglah.." Ucapnya.
"Tapi tuan.. Aku harus menemui Putri Gayatri." Kata Ihsan yang mulai panik.
Erling dengan wajah datar mendekat hingga tibalah dia dihadapan Ihsan. "Tenanglah.. Tuan putri aman bersama kami." Ucapnya sambil memegang bahu Ihsan.
"Putri Gayatri lebih aman bersama kami dari pada anda.." Tegas Erling dengan penekanan yang dalam.
"Tuan Erling, ap..." Belum selesai Ihsan berbicara, Erling dengan cepat memukul ulu hati Ihsan hingga Ihsan tersungkur, tak cukup sampai disitu ia menendang kepala Ihsan sampai Ihsan pingsan.
"Dasar Iblis.. Untung saja ayahku memberikan balasan surat secepatnya." Kata Erling yang mengerahkan kekuatannya untuk membuat Ihsan pingsan.
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
'
-Bersambung-