
"Adduh duh.." Arthur memegang kepalanya yang telah dililit perban oleh Diana.
"Kau tidak papa kan, Arthur?" Ivy bertanya sambil melihat ke arah kepalanya.
"Iya iya.. Hehe.. Tidak apa-apa."
"Itu salahmu yah! Aku tidak akan minta maaf.. Hemm." Rebecca memalingkan wajahnya.
Arthur hanya bisa tersenyum canggung.. Sepertinya Rebecca masih kesal dengan Arthur setelah insiden yang terjadi sebelumnya.
Sore menjelang malam.. Ketika mereka semua sedang menyiapkan tenda, tiba-tiba monster menyerang dan mengepung mereka tapi hanya dengan satu serangan dari Rebecca.. Semua monster tersebut dapat dilumpuhkan.
Saat ini, para kesatria suci dan beberapa kesatria yang mengawal mereka sedang duduk di depan api unggun.. Mereka semua sedang menikmati makan malam. Semangkuk sup dan daging rusa hutan hasil buruan menjadi menu mewah malam ini bagi mereka semua.
Terlihat juga di sekeliling mereka sudah berdiri tenda-tenda sebagai tempat mereka untuk merebahkan diri nantinya. Memang jika sudah malam seperti saat ini lebih baik membangun tenda dan beristirahat karena jika memaksakan berangkat malam maka bahaya bisa mengintai mereka dari kegelapan.
"Uwahh.. Smits.. Makanan ini uenakk." Tiba-tiba Rebecca memuji Smits dengan mata yang berbinar.
"Hadeh, Jika kau menyebut namaku.. Panggil aku dengan sebutan kakak."
"hmm nyam nyam..uenakk." Rebecca cuek melanjutkan makan.
"Hadehh, dasar anak remaja." Gumam Smits.
Gildarts mendekat kepada Diana. "E.. Kenapa Rebecca tiba-tiba menjadi riang begitu?" Tanyanya berbisik.
"Perempuan yang pms memang seperti itu." Jawab Diana sambil mengunyah makanannya.
Gildarts diam..
Suasana cukup hangat, mereka semua memang sudah sangat akrab apa lagi sudah lebih dari 4 bulan mereka latihan bersama sebagai kesatria suci. Bahkan bisa di bilang mereka adalah keluarga karena mereka semua adalah orang asing yang secara tak sengaja di panggil ke dunia ini untuk memenuhi takdir luar biasa.
"Arthur.. Aku belum mengerti. Kenapa kita harus bertemu dengan raja William?" Leo bertanya serius pada Arthur.
"Merhakma bmlang, adha smacmam rhathual yamham dj jalnamkam."
"Oi, telan dulu makananmu baru bicara." Leo tepuk jidat.
Arthur sendiri sudah menunjukan sifat aslinya.. Meski awal-awal ia masih kaku dengan mereka semua tapi kedekatan yang terjadi membuat mereka semakin terbuka satu sama lain.
Setelah mengunyah semua makanan yang ada di mulutnya. Arthur menjelaskan kepada rekan-rekannya.
"Aku tidak tau pasti, tapi kata Raja Charles. Untuk memaksimalkan potensi dari imperium kesatria suci.. Kita harus bertemu dengan raja William." Arthur menerankan situasi mereka.
"Cih.. Merepotkan saja. Seharusnya kita sudah berada di peperangan untuk membantai klan iblis sialan itu.." Rinto melempar piring makanannya yang masih tersisa sedikit.
"Ne Rinto... Uweeee." Rebecca menjulurkan lidah ke arah Rinto bermaksud untuk meledeknya.
__ADS_1
Rebecca melakukan itu karena ia kesal melihat tingkah buruk Rinto yang tidak menghormati makanan dengan menghabiskan seluruh sisa makanannya.
"Oi gadis muda.. Apa kau ingin mati!!" Rinto esmosi.
"Sudah sudah.. Hehe.." Gildarts melerai mereka berdua dengan tersenyum canggung.
"Lepaskan aku.. Aku akan membunuhnya.." Rinto meronta karena saat ini Gildarts menahan dirinya yang ingin mendekati Rebecca.. Sementara Rebecca masih mengejeknya.
Meski mereka semua sering bertikai hanya karena hal-hal kecil.. Itu karena mereka semua suka bercanda satu sama lain. Bercanda yang kadang kelewat batas..
"Aku..." Perkataan Arthur menarik perhatian teman-temannya yang sedang bertikai.
"Aku juga.. Sudah tidak sabar ingin berperang. Aku ingin melawan klan iblis dan membebaskan daratan ini.." Kata Arthur dengan tatapan tajam.
Tekad kuat tergambar jelas dari wajah Arthur, wajah orang yang sudah melihat kesengsaraan.. Selama 4 bulan ini, mereka juga telah melawan klan iblis, tentu pasukan iblis kelas rendah yang menyerang desa-desa kecil di wilayah kerajaan Inggram.
Para kesatria paham betul saat mereka melihat sebuah desa yang telah diserang oleh klan iblis. Semua wajah penduduk desa tampak suram, tubuh mereka kurus kering dan yang mereka dengar hanya tangis.
Mereka mengetahui betapa berartinya posisi mereka sebagai kesatria suci dihadapan para penduduk desa itu.. Apa lagi saat mereka datang untuk membebaskan desa itu dari kesengsaraan klan iblis.. Wajah bahagia dan haru serta sorak sorai mereka yang tertindas senantiasa mereka dengar saat berhasil mengalahkan semua iblis yang menguasai beberapa desa tersebut.
Mereka tahu betul bahwa mereka semua adalah.. Harapan terakhir penduduk daratan Neverland..
"Ha... Aku juga. Sudah tidak sabar." Leo menyambung antusias dari Arthur.
"hadehh.. Mau bagaimana lagi." Smits juga terbawa atmosfer karena antusiasme Arthur.
Sementara yang lain meski tak menyahut tapi di dalam hati mereka.. Mereka juga merasakan apa yang dirasakan oleh Arthur.
"Yaa.. Mau bagaimana lagi, jika ingin pulang ke dunia asal kita harus mengalahkan iblis-iblis itu." Rinto membusungkan dadanya.
"Ne.. Rinto.. Kau masih berpikir untuk pulang padahal kau sudah menikah di dunia ini." Rebecca lagi-lagi mengacaukan mood Rinto.
"Oi.. Berapa kali aku katakan. Jika kau berbicara dengan orang lebih tua darimu.. Setidaknya panggil aku dengan sebutan kakak."
"Sudah sudah.. Hehe." Gildarts lagi-lagi menahan Rinto yang ingin mendekati Rebecca.
Para kesatria suci yang lain tertawa ringan melihat hal konyol itu.
"Benar juga.. Rinto.. Bagaimana dengan Putri Elizabeth?" Arthur tiba-tiba bertanya pada Rinto.
"Hehh.. Ya, dia lebih baik tetap di istana kerajaan Inggram." Jawab Rinto canggung.
"Wahh.. Rinto! Bagaimana caranya kau bisa menikahi putri Elizabeth. Padahal dia adalah wanita cantik dan kau hanya.. Hanya.." Tanya Smits sambil bergurau.
"Hanya apa bangsattttt!!"
"Sudah sudah.. Hehe." Gildarts lagi-lagi menahan Rinto.
__ADS_1
Mereka semua sekali lagi tertawa ringan dengan tingkah konyol itu. Mereka semua terlihat akrab, tertawa bersama.
"Ivy, kau tidak papa?" Diana berbalik melihat Ivy yang berada di sebelahnya. Ivy tertunduk sambil memegang tas selempang di samping kanannya.
Tas itu adalah item sihir yang dapat menyimpan barang apa saja. Barang yang berukuran besar atau kecil tapi tidak memengaruhi berat dan kapasitas tas itu, karena tas itu terhubung dengan sihir dimensi dimana barang yang disimpan akan tersimpan pada dimensi berbeda.
Ivy yang tadi sedikit murung tiba-tiba tersenyum dan gelang-gelang kepala. "Tidak.. Tidak apa-apa. Aku baik-baik daja." Kata Ivy.
Ada satu hal yang mengganggu benak Ivy.. Dia memegang tas itu karena di dalam tas sihir itu ada satu senjata suci milik salah satu kesatria suci yang bisa dibilang dekat dengan Ivy. Apa lagi gara-gara kesatria suci itu Ivy bisa selamat dari dalam labirin.
Kesatria suci itu adalah Richard..
Di dalam tas itu tersimpan senjata suci milik Richard, yaitu sebilah pisau tajam berwarna merah darah.
Meski sudah 4 bulan berlalu tapi Ivy masih memikirkan Richard.
Sementara itu..
Di waktu yang sama..
Di wilayah kerajaan Inggram..
Di sebuah pegunungan, di depan pintu masuk menuju labirin yang saat ini di jaga oleh beberapa kesatria karena sudah ada larangan bagi para penduduk ataupun kesatria yang ingin masuk ke dalam labirin oleh istana kerajaan.
Sejak insiden yang terjadi 4 bulan yang lalu.. Tidak ada lagi orang yang memasuki labirin itu. Labirin itu telah di tutup oleh kerajaan Inggram.
Yang mereka semua tidak tau adalah.. Seorang pria yang dikira meninggal 4 bulan lalu, saat ini masih bertahan hidup di perut terdalam labirin.
Dan saat ini pria itu..
Semakin hari, menjadi semakin kuat karena dia terus mengalahkan monster-monster yang menghuni labirin itu. Pria itu bertahan hidup.. Dengan kekuatannya sendiri.
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
__ADS_1