
Suara getaran zirah emas yang di kenakan oleh Richard ketika berjalan memecah keheningan lorong ruangan baru yang ia masuki setelah sebelumnya melangkah turun kembali saat ia menemukan tangga ke yang mengarah ke bawah.
Cukup sulit tentunya menemukan jalan menuju ke bawah apa lagi dengan medan labirin yang terus berubah secara acak. Tapi, Richard dapat dengan mudah menemukan itu. Ia seperti di tuntun oleh sesuatu, sesuatu yang sulit di jelaskan.
Hal yang tak bisa Richard jelaskan itu.. Terus mengganggu benaknya, untuk saat ini ia hanya bisa mengikuti hal itu untuk terus turun dan turun ke bagian yang paling dalam.
Di tempat lain.. Sebuah kota yang cukup besar di wilayah kerajaan Celestial. Kota itu bernama kota Dermen, sebuah kota yang penuh dengan hiruk pikuk hiburan dan pusat perdagangan di wilayah kerajaan Celestial.
Kota ini adalah salah satu kota besar yang terdapat di kerajaan Celestial karena memang kota ini cukup dekat dengan ibu kota kerajaan Celestial dan di sini lah para kesatria suci sedang berada.
Sudah dua hari berlalu sejak mereka singgah di sebuah desa kecil, perjalanan yang mereka tempuh selama dua hari itu mengantarkan mereka ke kota Dermen ini.
Dan hari ini mereka akan melanjutkan perjalanan menuju ibu kota. Menurut kesatria yang berada di kota itu.. Jika perjalanan mereka tak ada kendala, mungkin mereka akan tiba di ibu kota besok siang.
Kini mereka semua sudah berada di luar kota, di sisi timur dari kota untuk melanjutkan perjalanan. Masih dengan menggunakan kuda, kendaraan umum yang digunakan para pribumi di daratan ini.
"Rasanya aku tidak ingin meninggal kota itu." Leo menatap kota sambil memegang kuda tunggangannya.
"Yaa aku juga.. Ada banyak makanan enak di kota itu." Arthur cemberut.
"Ne.. Ne.. Kita nginap satu malam lagi.. Aku mohon!" Rebecca mendekap kedua tangannya di depan dada, seraya menatap dengan tatapan binar.
"Ahhh.."
"Hentikan Rebecca.. Jangan bersikap seperti itu. Lihat.. Paman malah menatapmu dengan aneh!" Diana melihat tingkah aneh Gildarts saat melihat Rebecca dalam posisi memohon. Gildarts terlihat malu dan wajahnya merah, mungkin karena gemas dengan tingkah Rebecca.
"Hadueh.. Jika ingin kembali putuskan lah cepat!!" Ucap Smits.
"Arthur.. Bagaimana menurutmu?" Leo menatap Arthur.
"Hm.."
"Oi hentikan wajah menyedihkan itu!" Lagi-lagi Arthur kena geplak di kepala oleh Diana.
"Sakit sakit.. Ah.. Duh duh!" Arthur memegang kepalanya.
"Sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan ini. Hehe." Ucap Arthur yang terintimidasi oleh tatapan Kesal Diana.
"Ah.. Ayolah.. Semalam lagi.. Aku ingat makan kue coklat di kota itu.. Enak sekali!!" Rebecca kembali memohon.
"Rebecca.. Kita harus melanjutkan perjalanan. Kita kembali nanti saja!" Kata Ivy menenangkan Rebecca.
"Arthur!! Bagaimana?" Tanya Leo.
"Hm.. Rebecca.. Apa yang kau lihat dalam perjalanan kita selama 4 hari ini?"
"He.. Hm." Rebecca bingung saat Arthur tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Ayolah kau pasti tau.. Kalian semua pasti tau." Kata Arthur yang tiba-tiba saja menjadi serius.
"Aku melihat kesengsaraan." Jawab Smits.
__ADS_1
Arthur tersenyum. "Iya benar sekali!"
"Dalam perjalanan ini, kita sudah melihat kesengsaraan. Tugas kita adalah melenyapkan kesengsaraan itu. Kesengsaraan yang di sebabkan oleh iblis dan yang bertanggung jawab untuk mengalahkan iblis adalah kita. " Arthur kembali memperlihatkan wibawanya di depan rekan-rekannya.
Sementara mereka yang mendengar ucapan Arthur mulai termenung.
"Sekarang.. Apakah kita sudah layak untuk melakukan tugas suci itu.. Tidak, kita belum layak sampai kita bertemu dengan raja William... Olehnya itu, hari ini juga kita harus melanjutkan perjalanan!" Tegas Arthur
"Baiklah.. Keputusan telah diambil." Sambung Leo yang juga ikut bersemangat.
"Iya, iya.. Aku mengerti." Rebecca tertunduk lesu.
"Oi.. Ucapan mu tak berbanding lurus dengan niatmu. Dasar bodoh!!" Diana kembali kesal, karena Arthur mengatakan hal itu dengan air liar yang keluar deras dari mulutnya.
Arthur tak bisa bohong.. Ia bahkan masih ingin berada di kota ini untuk kembali menyantap makanan enak yang ia makan semalam di penginapan. Tapi.. Keputusan terbaik saat ini adalah segera berangkat ke ibu kota karena Arthur paham betul posisi mereka.
Apa lagi setelah melihat hal-hal buruk di perjalanan. Arthur sangat paham jika saat ini mereka akan melakukan perannya sebagai kesatria suci. Peran untuk berada di garda terdepan pasukan yang saat ini mati-matian menghalau serangan klan iblis.
"Yossss... Ayo berangkat!!" Arthur bersemangat.
Mengingat posisinya yang sangat penting, ia jadi lupa tentang makanan enak itu. Baginya, menjadi kesatria dan menyelamatkan banyak orang lebih menarik.. Apa lagi sejak kecil hal yang saat ini ia cita-citakan malah terkabul.
Dongeng tentang pahlawan yang menyelamatkan kerajaan dari kehancuran.. Dongeng yang dibacakan oleh ibunya ketika ia masih kanak-kanak... Kini Arthur menjadi tokoh utama di dongeng itu.
"Aku bingung dengan pria ini.. Moodnya bisa berubah 360 derajat dengan cepat." Kata Diana mulai naik ke dalam kereta.
"Hehe.. Sudah, sudah.. Jangan terlalu di pikirkan. Seperti itulah Arthur." Kata Ivy.
"Menuju Ibu kota!!!" Arthur berteriak di atas kuda.
"Setelah dari ibu kota.. Aku akan kembali ke kota ini.. Tunggulah aku makanan enak!!" Gumamnya.
"Hadueh.."
"Hehe.. Arthur.. Tenanglah." Gildarts senyum canggung melihat Arthur yang plinplan.
"Benar.. Sikapmu itu. Adalah teladan untukku!" Leo menatap Arthur.
Bagian paling timur, wilayah kerajaan Nusantara bertempat di pulau Cebes, kota Kander. Di pelabuhan kota teringat para kesatria sedang berkumpul di dalam tenda.
Perisai sihir yang terlihat menutupi seluruh kota juga sudah selesai dengan sempurna. Perisai itu tipis sehingga dari dalam kota para penduduk masih bisa melihat langit. Perisai itu menutup seluruh kota layaknya sebuh kubah.
Di bagian depan pelabuhan juga sudah berdiri benteng dan tembok yang mengarah ke depan untuk menghalau para pasukan iblis jika sewaktu-waktu mereka menyerang.
Tapi.. Sampai saat ini juga mereka belum melakukan serangan dan hal itu membuat para kesatria ragu dan bingung dibuatnya.
"Mau sampai kapan mereka diam seperti itu!" Depone mengerutkan dahi di depan para kesatria.
Sebenarnya, dua hari yang lalu. Jons kesatria kerajaan Dongion berinisiatif untuk melakukan penyerang kepada pasukan iblis di lautan lepas itu. Tapi setelah dilakukan perundingan mayoritas dari mereka lebih cenderung untuk menahan serangan sampai bantuan pasukan yang dipimpin oleh Rein Wijaya tiba.
Bagaimanapun.. Saat ini yang mereka hadapi adalah Lucifer. Iblis kuat yang berhasil menguasai pulau Irian. Banyak di antara kesatria yang tak inginkan mengambil resiko dengan menyerang terlebih dahulu.
__ADS_1
Bahkan sebaliknya.. Menurut salah satu di antara mereka. Diamnya pasukan iblis tersebut merupakan suatu keuntungan karena mereka dapat memberikan waktu agar pasukan yang berjumlah 100.000 tersebut tiba di kota ini.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya. Diamnya mereka menjadi keuntungan bagi kita." Salah satu kesatria berpendapat.
"Yang aku tidak mengerti adalah.. Hilangnya Lucifer dan para pengikutnya di rombongan itu." Depone menggigit kuku jempolnya.
"Bagaimanapun.. Jika Lucifer menyerang Ibu kota." Depone menerka.
"Itu mustahil.. Meski kuat tapi ia tidak akan mampu membuka portal di sekitar ibu kota atau bahkan di pulau Jatra sekalipun. Kekuatan suci di ibu kota membuat pasukan mereka tidak bisa langsung menyerang begitu saja.." Salah satu kesatria menenangkan Depone.
"Iya aku mengerti.. Tapi bagaimana jika Lucifer menyerang langsung dari dalam Ibu kota." Depone melanjutkan dugaan klisenya.
"Kau terlalu khawatir tuan Depone.. Membuka portal di wilayah ibu kota kerajaan saja hampir mustahil bagi iblis... Apa lagi langsung menyerang dari dalam." Kesatria besar Arie tidak yakin dengan dugaan buruk Depone.
"Semoga saja begitu!! Semoga.." Depone masih ragu.
"Tapi kekuatan iblis itu memang di luar nalar.. Mereka bisa membuka portal dan tiba di tempat sesuka hati mereka. Bahkan untuk penyihir hebat saja, hal itu cukup sulit dilakukan."
"Portal itu terbuka bukan karena kekuatan mereka.. Sebenarnya portal yang terbuka di daratan ini terbuka dengan acak.. Mereka tak bisa melakukan atau menentukan kemana tujuan mereka. Itu terjadi secara alami."
"Tapi bagaimana dengan kemunculan mereka di pulau Irian.. Apa lagi salah satu Iblis juga muncul tepat di depan armada kapal laut kita saat itu.. Jika itu adalah suatu kebetulan maka itu mustahil." Jons mengingkari penjelasan salah satu kesatria.
"Itu kasus lain.. Satu-satunya yang bisa melakukan itu adalah.. Iblis terkuat. Tidak lain adalah raja iblis itu sendiri.."
"Hah! Raja iblis.. I-itu memang masuk akal." Jons tertegun, ia diam saat mendengar kesatria itu menjelaskan tentang raja iblis yang mampu memanipulasi portal.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
__ADS_1