
Berita kekalahan pasukan bantuan yang dikirim ke pulau irian dan berita rencana penyerangan klan iblis ke pulau cebes sontak membuat seisi istana heboh.
Jika sudah seperti ini maka tidak ada waktu untuk melakukan acara adat pertunangan sang putri kerajaan. Semuanya panik dan bingung memikirkan rencana untuk mempertahankan pulau cebes.
Para bangsawan yang berasal dari pulau cebes juga dengan segera berangkat kembali ke pulau cebes untuk mengamankan aset mereka. Berkaca pada apa yang terjadi di pulau irian, bisa saja pulau cebes juga akan berakhir sama.
Bertempat di aula tahta istana kerajaan Nusantara. Tidak terlihat lagi keramaian, semua orang sudah keluar dari aula tahta. Saat ini hanya tinggal sang raja, permaisuri dan beberapa penasehat kerajaan.
"Suamiku tenangkan dirimu." Permaisuri mencoba menenangkan Jolang dengan membelai tangannya.
"Dimana Rein Wiyaja?" Jolang terlihat kesal, ia bertanya kepada salah satu penasehatnya.
"Sebentar lagi dia akan datang Baginda."
Tak lama kemudian, pintu besar yang berada di depan Jolang terbuka dan masuklah seorang pria dengan tubuh tegap berotot yang mempunyai rambut panjang sampai punggung.
Pria itu berkulit agak gelap dengan kumis di wajahnya. Terdapat luka bacot di lengan kanannya. Tingginya sekitar 180 cm, saat ini dia berumur 37 tahun.. Pria itu adalah Rein Wijaya.. Sang kesatria agung, pemimpin tertinggi dari pasukan tempur kerajaan Nusantara.
"Saya menghadap kepada baginda raja." Rein berlutut di hadapan raja.
"Rein.. Apa kau sudah dengar apa yg terjadi?" Tanya Raja Jolang.
"Iya, saya sudah dengar baginda.."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Saat ini raja Jolang dan beberapa penasehat kerajaan sedang berdiskusi tentang langkah terbaik untuk mempertahankan pulau cebes dari serangan klan Iblis.
Di ruangan lain.. Di kamar putri raja Gayatri Ingalaga yang saat ini sedang berdiri di balkon sambil menatap langit biru.
"Apa yang harus aku lakukan!" Gumamnya.
Sebenarnya.. Adat pertunangan putri kerajaan tidak benar-benar ditiadakan. Mengingat saat ini raja tidak punya keturunan anak laki-laki, maka kerajaan akan mengalami kekosongan tahta jika Gayatri tidak segera menikah sebelum raja Jolang meninggal.
Oleh karena itu.. Ayahnya, raja Jolang mengatakan pada Gayatri jika dalam seminggu dia tidak memilih salah satu dari kelima pria yang telah ia lihat sebelumnya, maka ayahnya lah yang akan memilih untuknya.
Gayatri bukannya tidak menyukai para pria berparas rupawan itu, hanya saja dia tidak mau menikah secepat ini. Dia masih ingin bebas dan bersosialisasi dengan rakyatnya, karena jika ia menikah maka ia tidak lagi bisa bebas seperti saat ini.
Terlebih impiannya dari kecil, yaitu menjelajah daratan Neverland tidak akan bisa ia capai jika ia telah menikah.
Cukup egois mengingat dirinya adalah seorang putri dan pilihannya lah yang nanti akan mengubah arah dari kerajaan Nusantara.
"Putri... Putri..." Suara terdengar dari arah bawah.
Gayatri menengok ke bawah, ke sumber suara itu.. Dilihatnya seorang pria dengan stelan kesatria.
Gayatri tersenyum melihat pria itu.. Dengan antusias ia berlari ke luar kamar untuk menghampiri pria yang saat ini berada di luar istana itu.
Setelah sampai di luar istana, di taman sebelah kiri dari istana tepat di bawah jendela kamarnya. "Wira.." Kata Gayatri mendekat sambil tersenyum.
Mereka berdua tampak akrab.. Bahkan mereka berinteraksi tanpa formalitas kerajaan, hanya seperti seorang teman dekat yang saling bercanda.
Pria itu bernama Prawira Singkh, seorang kesatria biasa dari kerajaan Nusantara sekaligus teman masa kecil dari Gayatri. Mereka memang sangat akrab karena mereka telah berteman sejak umur 9 tahun.
"Jadi gimana? Apakah kau sudah menemukan calon suamimu?" Wira bergurau sambil mendorong Gayatri.
__ADS_1
"Ish.. Tidak.. Aku tidak akan menikah." Gayatri tetap pada pendiriannya.
"Aku akan mengikuti impianku.. Aku akan menjelejahi daratan ini." Lanjut Gayatri percaya diri.
"Hm.. Baiklah.. Kalau begitu aku bersedia menemani kemanapun kau pergi." Kata Wira dengan nada bercanda.
"Hm.. Tidak usah.." Balas Gayatri sambil menjulurkan lidahnya ke arah Wira.
Mereka bersenda garau, saling cakap satu sama lain.
Sementara itu..
Di waktu yang sama..
Di sebuah hutan, jauh dari kerajaan Nusantara. Tepatnya di dalam hutan yang berada dalam wilayah kerajaan Celestial.
Terlihat rombongan kereta kuda dan beberapa kuda yang dikendarai oleh kesatria berzirah baja dari kerajaan Inggram.
Rombongan itu sudah berjalan 4 hari 3 malam, mereka berjalan dari kerajaan Inggram menuju kerajaan Celestial. Beberapa waktu yang lalu mereka telah melewati perbatasan kerajaan, kini.. Mereka harus menempuh 5 hari perjalanan mengendarai kereta kuda untuk bisa sampai di ibu kota kerajaan Celestial.
Rombongan itu adalah rombongan kesatria suci yang dikawal oleh beberapa kesatria kerajaan Inggram.
Kurang lebih 4 bulan ini, para kesatria suci sudah mengalami perkembangan signifikan dari sebelumnya. Kekuatan mereka sudah melebihi para kesatria besar.
Dan latihan terakhir mereka sebelum menghadapi klan iblis adalah.. Berlatih di bawah bimbingan langsung dari raja Celestial Sebastian William Copenhart.
"Cih...arrggggg." Kata Rebecca sambil kedua tangannya memegang perut dan terlihat kesal.
"Heeheh." Ivy yang berada di depannya hanya bisa tertawa canggung melihat Rebecca.
"Kalau ngantuk tidur, jangan ngeluh." Diana merespon dengan dingin gestur kekesalan dari Rebecca.
Diana menutup kedua kupingnya karena ocehan Rebecca yang terdengar nyaring sangat menganggu.
"Lagian kanapa juga laki-laki ini ada di dalam kereta.." Bentak Rebecca, kesal karena Arthur membuatnya tidak tenang dengan bunyi suara dengkurannya.
Saat ini.. Hanya ada satu kereta kuda yang bisa di isi oleh 4 orang. Keempat orang yang berada dalam kereta tersebut adalah.. Arthur, Rebecca, Diana, dan Ivy.. Sedangkan 5 kesatria yang lain menunggangi kuda bersama dengan kesatria kerajaan Inggram.
"Hehe, sudah sudah.. Tenanglah Rebecca. Arthur sedang kelelahan. Biarkan dia istirahat sebentar." Kata Ivy menenangkan kebetean Rebecca.
"Hemm.." Rebecca memalingkan wajahnya.
Sementara di luar kereta..
"Hari hampir gelap, sebaiknya kita berkemah ditempat ini." Kata Gildarts salah satu kesatria suci.
"Baiklah tuan." Salah satu kesatria kerajaan Inggram menyahut.
"Baiklah semuanya.. Silahkan turun.. Kita akan berkemah di tempat ini." Gildarts berteriak kepada mereka yang berada di dalam kereta.
"Iya iya.. Tidak usah berteriak seperti itu berisik." lagi-lagi Rebecca tampak kesal.
Gildarts mendekat ke arah Diana.
"Anak itu kenapa sih?" bisiknya.
__ADS_1
"Dia lagi pms.." Balas Diana.
Gildarts diam..
Akhirnya mereka mempersiapkan segala sesuatunya.. Mulai dari mempersiapkan tenda hingga makan malam.. Perlahan langit juga mulai menampakkan senja, pertanda malam akan datang.
Tapi saat mereka semua sibuk mempersiapkan tenda untuk berkemah.. Tiba-tiba saja, saat ini mereka di kepung oleh banyak monster Catoblepas.
Monster berwujud banteng dengan tinggi rata-rata mencapai 190 cm.
Sesaat para monster itu menampakkan dirinya, tiba-tiba atap kereta kuda rusak dan menarik perhatian para kesatria.. Ternyata yang merusak atap kereta itu adalah Arthur.. Ia terbangun dari tidur dan melompat ke atas menerobos atap kereta karena merasakan aura monster di sekelilingnya.
Tentu hal itu menarik perhatian para kesatria yang lain. "Arthur.... Kurang ajar.." Rebecca mengeram marah melihat Arthur menghancurkan atap kereta. Ia bahkan mengepalkan kedua tangannya.
Sementara itu Arthur yang saat ini berdiri di atas kereta kuda mempersiapkan dirinya untuk bertarung.
Para kesatria biasa dari kerajaan Inggram terlihat panik dan mulai waspada sambil memegang senjata mereka, sementara itu.. Para kesatria suci masih terlihat santai dan memperhatikan situasi.
Hanya Rebecca yang terlihat melupakan aura amarahnya..
"Kalian semua.. Bersiaplah.. Kita akan menga." Belum Arthur menyelesaikan perkataannya.. Kepalanya bocor seketika karena serangan busur panah dari Rebecca yang akhirnya membuat Arthur pingsan dan tertidur kembali.
"Hadehhh.." Smits menutup wajahnya karena malu dengan tingkah konyol itu.
"Sebaiknya aku tidak membuat Rebecca kesal saat ini." Kata Gildarts menelan ludah.
"Ahh.. Arthur.." Ivy panik mendekati Arthur.
"Sekarang.. Giliran kalian semua." Kata Rebecca dengan amarah yang meluap-luap.
Para monster itu menyerang bersamaan ke arah para kesatria..
Tapi....
Belum sempat para monster itu mendekat..
"Arcus verrat.." Rebecca melompat sambil mengarahkan panahnya ke segala arah dan penjuru.
Hanya dengan satu serangan.. Semua monster yang berjumlah puluhan itu.. Mati tertancap busur panah tepat di kepala mereka.
"Hemm.. Mengganggu waktu saja." Kata Rebecca kembali mengaitkan panahnya ke belakang punggungnya.
"Aku benar-benar tidak akan membuat Rebecca marah saat sedang pms seperti sekarang." Sekali lagi Gildarts menelan ludah.
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
'
-Bersambung-