
Di ruangan yang tampak porak-poranda.. Seorang pria tengah tersungkur di tanah. Nafasnya berat dan ia sangat kelelahan.
Di samping pria itu, sosok monster berbulu warna biru tanpa lengan dengan luka di sekujur tubuh tergeletak tak bernyawa. Monster itu mati dalam keadaan jantung yang berada di tangan pria tersungkur di sampingnya.
Pria itu adalah Richard..
Kondisinya mengenaskan.. Bukan karena luka tapi karena saat ini dia tidak mengenakan apa-apa. Sebab stelan baju dan celana kulit monster yang dia kenakan sudah robek semua.
Richard, dengan nafas yang masih terengah-engah mencoba bangkit. "Sungguh pertarungan luar biasa.." Katanya sambil tersenyum.
Ia berjalan mendekati tas kulitnya.. Luka cakar di bahu sebelah kirinya terlihat sangat parah. Saat sampai, ia merogoh tas itu dan mengambil sebuah botol yang ia buat dari tulang monster.. Dari botol itu, keluar air yang kemudian ia alirkan air itu di bahu sebelah kirinya.
Air itu adalah air kehidupan.. Hasil dari rendaman kristal blue eye. Ia mengaliri lukanya dengan air itu, lalu meminum air itu untuk mengembalikan staminanya.
"Huahh.. Huh.. Seperti yang diharapkan dari kristal blue eye." Ujarnya.
"Baiklah.. Saatnya makan." Ia melirik tubuh monster yang ia kalahkan dengan susah payah.
Richard mendekati tubuh monster itu, ia memperhatikan dengan seksama.. "Aku berharap agar rasanya enak.. Tapi itu mustahil." Katanya.
Richard mengeluarkan pisaunya, tapi ia baru sadar bahwa pisaunya patah.. Dan ia juga tidak membawa pisau tulang yang ia buat ketika masih berada di ruangan yang penuh dengan genangan air.
"Hah!! Aku harus membuat senjata baru." Ucapnya melihat pisau yang telah patah.
Sesaat kemudian.. Richard melihat taring besar monster yang ia kalahkan itu. Taring kuat dan sangat tajam yang tadi menghancurkan beberapa tiang ruangan.
Richard jongkok di depan wajah monster itu, ia menggetok taring monster itu. "Wah.. Suaranya nyaring!!" Richard tersenyum.
Sepertinya ia telah mendapatkan bahan baku untuk membuat sebuah pisau baru.
Itu adalah aturan dunia ini.. Entah mengapa, para kesatria suci tidak bisa menggunakan senjata selain dari senjata yang telah mereka miliki atau senjata yang sama dengan senjata suci mereka.
Misalnya saja Richard.. Sejak ia datang di dunia ini, entah mengapa di tangannya kala itu, ia sudah memegang senjata sucinya.. Sebilah pisau berwarna merah darah. Pun dengan para kesatria yang lain..
Dan sejak itu, Richard hanya bisa memegang dan mengayunkan pisau senjata sucinya atau pisau lain atau yang sejenisnya.
Apa lagi ia sempat menyesal karena saat menuju ke labirin, ia meninggalkan senjata sucinya di istana kerajaan Inggram dan malah membawa pisau biasa.
"Baiklah.. Taring monster ini sepertinya cocok." Kata Richard.
Ia mendekat dan memegang ranting besar yang panjangnya seperti gading gajah itu. Hanya saja taring itu ukurannya besar dan tidak tipis seperti gading gajah.
"Ahh.." Richard melihat tangannya yang mengeluarkan darah karena goresan taring itu.
"Aku bahkan hanya memegangnya.." Richard tersenyum.. Ia terpukau dengan ketajaman taring itu.
Sampai akhirnya.. Ia berhasil mencabut taring itu dengan meledakkan kepala monster yang sudah tak bernyawa itu.
Di tempat lain..
Di alun-alun kota Kander..
"Tuan Depone.. Persiapan sudah siap!" Kata Suica.
"Baiklah.." Depone memegang kedua pundak Suica.
"Tuan Depone.. Kau tenang saja. Suica adalah kesatria yang cukup kuat. Aku yakin dia akan mengantarkan kami dengan selamat." Lingard mengeluarkan kepalanya dari jendela kereta dan berteriak ke arah Depone.
Depone melihat dan tersenyum..
__ADS_1
"Anda sudah dengar sendiri bukan?" Kata Suica pada Depone.
"Yaa, kau benar.. Hati-hati di jalan. Jika ada masalah, segera berkabar dan minta bantuan dari kesatria yang berada di wilayah yang akan kau lalui." Depone melepaskan tangannya.
"Siap tuan.." Suica hormat.
Depone tersenyum. "Kalau begitu segeralah pergi.."
"Baiklah. Saya pamit tuan." Suica berbalik dan naik ke kuda yang berada di belakangnya.
"Depone.. Kau harus berhasil bertahan sampai aku kembali ke tempat ini." Lingard lagi-lagi berteriak dari jendela kereta.
"Haa.. Aku akan menunggu anda tuan Lingard." Depone mengangkat tangannya.
Lalu.. Rombongan itu pergi meninggalkan Depone dan beberapa kesatria yang berada di sekitar tempat itu.
Rombongan itu di kawal oleh beberapa kesatria yang dipimpin oleh Suica.. Kesatria kerajaan Inggram, tangan kanan atau murid dari kesatria besar Lingard.
Di dalam kereta tempat Lingard duduk..
"Mbambambamba.." Lingard tertawa, kali ini raut wajahnya sama ketika masih di ruang klinik Alista.. Raut wajah ketika ia di tinggal oleh Suica.. Matanya berubah.. Ia pun tertawa ringan dengan suara yang aneh.
Di arah laut, pelabuhan kota Kander.
"Tuan.. Pasukan ku benar-benar tidak melihat keberadaan iblis di dalam laut." Seorang kesatria atlantian menghadap pada kesatria kerajaan Dongion bernama Jons.
"Apa pasukan mu sudah menyusuri seluruh wilayah perairan tempat kapal-kapal itu mengambang?"
"Iya tuan.. Saat ini kami masih mengintai dari bawah laut. Tapi memang tidak ditemukan pergerakan dalam laut." Kesatria atlantian itu menjelaskan tentang adanya kemungkinan pasukan besar dari klan iblis yang bersembunyi di dalam laut.
Tapi dari hasil pengintaian mereka memang tidak ditemukan kejanggalan atau hal aneh. Yang ada hanya pasukan monster yang berada di atas kapal laut itu. Pasukan yang tidak melakukan apa-apa, para monster itu hanya diam saja.
"Tuan Depone sedang berada di alun-alun kota.. Dia sedang mengantar kepergian rombongan yang akab berangkat ke ibu kota." Jawab kesatria itu.
"Maaf, tapi.. Bisakah kau mengatakan pada beliau bahwa aku ingin bertemu dengannya."
"Baiklah.." Kesatria itu berbalik dan pergi dari sekitar tenda.
"Ada apa?" Salah satu kesatria melihat lirih ke arah Jons.
"Jika memang benar tidak ada pasukan iblis lain di bawah laut.. Maka dengan pasukan yang hanya seperti itu. Kita bisa unggul... Kita harus menyerang duluan."
"Tuan Jons.. Bukankah anda yang mengatakan untuk tidak gegabah."
"Iya aku tau.. Oleh karena itu aku ingin meminta pendapat tuan Depone.. Bagaimanapun, dialah pemimpin tertinggi pasukan saat ini." Jelas Jons.
Kembali ke dalam labirin.
Tempat dimana Richard sedang menyantap makannya..
"Cih.. Masih saja tidak enak." Kata Richard sambil mengunyah daging paha dari monster yang ia kalahkan.
Richard memperhatikan sekitar ruangan, pandangannya kemudian tertuju pada satu pintu yang berada di sebelah kirinya. Ia bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan menuju pintu itu.
"Ruangan apa ini?" Ia memegang gagang pintu.
Saat ia membuka ruangan itu..
Ia terkejut..
__ADS_1
"Wuaahhh... Aku tidak menyangka akan menemukan tempat seperti ini." Katanya tekjub.
Itu adalah ruangan yang di dalamnya penuh dengan kepingin emas dan juga beberapa benda. Ruangan besar yang penuh dengan pernak pernik berhiaskan emas.
"Hm.. Ini benar-benar mengejutkan." Richard melangkah masuk, ia masih dalam keadaan tanpa mengenakan apa-apa.
Richard berjalan masuk, ia melirik ke kanan dan ke kiri. Memperhatikan setiap benda dan emas yang ia lihat.. Benaknya saat ini.. Adalah mencari sebuah pakaian atau apapun yang bisa ia kenakan.
Ia takjub dengan segala hal yang ada di ruangan, dengan tenang ia terus melangkah sambil melihat sekelilingnya. Sejauh mata memandang, yang ia lihat banyak sekali kepingin-kepingan emas yang berserakan di lantai ruangan itu.
Lantai ruangan juga berbeda, jika di ruangan sebelumnya lantai ruangan hanya tanah hitam dan bebatuan maka di ruangan ini, lantai di hiasi oleh keramik halus berwarna hijau. Ruangan juga terlihat sangat bersih dan berbau sangat wangi.
Richard berjalan, ia masih mencari kebutuhan penting untuk dirinya saat ini.. Yang ia butuhkan bukanlah emas yang berserakan di lantai, tapi ia lebih membutuhkan pakaian untuk dirinya.
Sampai akhirnya.. Ia menemukan sebuah setelah pakaian mulai dari baju, celana, sepatu dan zirah yang semuanya terbuat dari emas.
Setelah pakaian itu terpampang nyata di sebuah lemari kaca yang berlapis emas yang berada di depannya saat ini.
"Hm.." Richard ragu karena ia tidak terlalu suka pakaian yang mencolok seperti itu. Apa lagi saat melihat pakaian itu, ia malah mengingat salah satu temannya.. Tidak bukan temannya ia mengingat orang yang ia kenal. Orang itu adalah Arthur.
"Dari pada telanjang.. Apa boleh buat." Ucapnya mendekati stelan zirah itu sambil membuka lemari kaca, meski sempat kesulitan. Richard malah menghancurkan lemari kaca itu hingga pecahan-pecahan kaca membuat telapak kakinya terluka.
Tapi Riau tidak peduli, ia bahkan tidak merasa sakit hanya kerena hal sepele seperti itu. Bagi Richard yang sudah berkali-kali hampir mati, luka dari pecahan kaca tidak ada apa-apannya.
"Aku tidak menyangka.. Ternyata di dalam sini benar-benar ada ruang harta karun" Ucapnya sambil mengenakan pakaian dan zirah emas itu.
Ini adalah rumor yang tersebar di seluruh daratan Neverland. Rumor bahwa di dalam labirin tersimpan harta yang sangat banyak.. Karena rumor inilah para penjelajah nekat masuk ke dalam labirin untuk mencari harta yang di rumorkan.
Rumor ini merebak dengan kabar bahwa di suatu tempat, seorang pemuda berhasil menemukan banyak sekali harta karun saat ia tak sengaja masuk ke dalam labirin. Lalu pemuda itu menjadi kaya seketika bahkan ia juga menjadi bangsawan.
Meski hanya sebatas rumor saja, karena pada dasarnya penjelajahan labirin terdalam hanya pernah di lakukan oleh kesatria kerajaan Inggram saja. Tapi, rumor itu sudah cukup membuat orang-orang penasaran dan masih nekat masuk ke dalam labirin untuk mencari harta.
Dan di ruangan ini.. Tanpa sengaja Richard malah menemukan harta dan beberapa benda atau item langka.
Yang Richard tidak tau adalah.. Sejauh dan sedalam mana ia saat ini hingga ia bisa menemukan ruang harta karun di dalam labirin.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
-Bersambung-