
"Tch... Untung saja si bodoh itu telah mati. Jika tidak dia mungkin akan mengikuti pendahulunya dan berkhianat." Rinto mengumpat, itu adalah kebiasaan buruknya. Apa lagi jika menyangkut Richard, pasti dia akan mengumpat dengan senang hati. Terlebih fakta yang telah dikatakan oleh raja William kepada mereka tentang perang besar sebelumnya.
"Rinto.. Tolong jangan berkata seperti itu, Richard dan kesatria suci sebelumnya adalah dua orang yang berbeda." Ivy dengan tegas membela Richard, pria yang telah menyelamatkan dirinya 2 kali saat masih berada di labirin.
Hal yang saat ini mereka perdebatkan adalah tentang kegagalan pasukan aliansi dan para kesatria suci mengalahkan raja iblis 15 tahun yang lalu. Dimana kala itu, saat kemenangan sudah di depan mata tiba-tiba saja kesatria ignis menikam jantung kesatria lux dengan senjata pisaunya.
Kesatria suci ignis berkhianat dan membunuh kesatria suci lux.. Sebuah pengkhianatan yang membuat pasukan aliansi menjadi hancur akibat kesatria lux yang kala itu mencapai puncak tertinggi kekuatannya dan digadang-gadang mampu mengalahkan raja iblis malah di khianati oleh rekannya. Sejak saat itu, alur peperangan berubah dan membuat pasukan goyah, konflik antara kesatria suci yang lain dengan kesatria suci Ignis menambah masalah yang akhirnya membuat mereka semua kalah dalam perang.
Bahkan hampir saja pasukan iblis mengambil alih seluruh daratan dan menghancurkan semua kerajaan. Jika saja para kesatria suci tidak mengakhiri hidup mereka. Kala itu, kesatria suci bunuh diri.. Dengan bunuh diri maka sebuah segel dimensi akan kembali kuat dan melemahkan pergerakan para pasukan iblis. Segel yang hanya akan aktif jika kesatria suci mati.. Segel yang selama ini membuat daratan Neverland belum dikuasai sepenuhnya oleh klan iblis.
Ironi tapi itu adalah sebuah kenyataan.. Hal yang membuat Arthur tercengang karena ia merasa bahwa semangat untuk berjuang di daratan asing ini telah sampai padanya.
"Pahlawan!!" Kata Arthur di tengah perselisihan Rinto dan Ivy. Mereka semua yang mendengar melihat ke arah Arthur.
Arthur tersenyum. "Hebat.. Iuron kah? Hebat!!" Matanya berbinar, ia sangat sumringah kalah mengetahui jika kesatria lux sebelum dia adalah orang yang hebat. Pemimpin sejati yang mampu membuat raja iblis terdesak bernama Iuron
"Arthur!" Leo melihat wajah semangat membara-bara dari diri Arthur.
"Huaahahahaha.." Entah kenapa raja William yang melihat Arthur malah tertawa.
"Eh.. Raja William!?"
"Ah. Maaf, kau mengingatkan aku pada Iuron. Kau mirip dengannya." Kata raja William kepada Arthur.
"Ah.. Hehe. Benarkah!? Tapi mendengar cerita itu sepertinya aku bukan apa-apa dibanding Iuron." Di balik senyuman Arthur, ia juga menyimpan rasa lega karena telah mengetahui jika apa yang dikatakan oleh Rever tidak benar.
Kini para kesatria suci mengetahui jika mereka adalah generasi ke 21 dari para kesatria suci sebelumnya. Mereka juga mengetahui pengorbanan para kesatria suci sebelum mereka, yang mana pertarungan ini benar-benar mempertaruhkan nyawa. Kematian para kesatria suci terdahulu disebabkan karena mereka kalah atau pun mereka malah mengorbankan diri mereka kala mengetahui jika mereka belum mampu mengalahkan raja iblis.
Dengan mengorbankan nyawa mereka itu, maka mereka kembali mengaktifkan segel dimensi yang dibuat oleh dewi Marlin untuk memperlemah portal dimensi. Sekaligus, guna menyandarkan harapan mereka kepada kesatria suci yang akan datang nantinya.
Meski harapan para kesatria suci terdahulu hampir saja terwujud 15 tahun yang lalu, tapi sayangnya pengkhianatan ignis kembali memupuskan harapan. Dan sekarang beban dari kesatria suci pendahulu mereka ada di pundak Arthur dan rekan-rekannya.
Di tengah kegaduhan Arthur, Smits dengan wajah serius menatap raja. "Jadi.. Jika kami gagal mengalahkan raja iblis dan saat portal sudah terbuka lebar.. Maka artinya kami harus bunuh diri!?" Ucapnya lantang.
Sontak ucapan itu membuat mereka semua terdiam. Pun dengan raja William yang hanya mampu menunduk.
"Tidak.. Tidak.. Aku ingin kembali. Aku tidak ingin mati." Ucapan menakutkan itu, membuat Rebecca merana jika harus memikirkan dirinya bunuh diri di masa depan.
Diana yang terlihat tenang memeluk Rebecca, ia mencoba menenangkan kekhawatirannya.
"Para kesatria suci.. Tenang saja. Kalian tidak usah khawatir karena aku punya sesuatu dari para pendahulu kalian." Parthe sang penyihir suci memecah kekhawatiran dengan mengeluarkan mantra.
Melihat hal itu membuat mereka yang ada di ruangan tercengang. Mereka melihat cahaya di telapak tangan Parthe.
"Nyonya Parthe.." Kata Arthur.
"Ini adalah alasan kedua kenapa aku membawa kalian ke tempat ini." Ujar Raja William.
Parthe masih berkonsentrasi, semakin lama telapak tangannya semakin bercahaya dan seketika cahaya itu melebur menjadi 10 titik cahaya yang berbentuk imperium. Mulai dari Cahaya, Api, Air, Tanah, Udara, Logam, Tumbuhan, Es, Petir dan Kegelapan.
Kesepuluh imperium itu mewakili kekuatan para kesatria suci. Itu adalah kekuatan para pendahulu mereka yang tersegel didalam diri Parthe dan saat ini kekuatan itu akan kembali kepada para kesatria suci.
"Ini?" Arthur dan juga para kesatria suci tiba-tiba merasakan kekuatan itu, kekuatan besar yang menunggu untuk merasuki mereka.
"Itu adalah kekuatan sejati para kesatria suci.. Kekuatan yang akan memberikan kemampuan lebih pada kalian semua." Jelas raja William.
"Kekuatan yang melambangkan wujud dari kalian." Sambung raja William.
Ia menambahkan jika para kesatria suci tidak akan lepas dari kekuatan besar ini.
Arthur Exlicher, Lux untuk cahaya.. Dengan senjata pedang dan perisai..
Richard August, Ignis untuk api.. Dengan senjata pisau..
Lady Diana Heselrold, Aqua untuk air.. Dengan senjata sepasang belati bermata tiga (sai)..
Rinto Bimonger, Terram untuk tanah.. Dengan senjata Palu raksasa..
Ivylian Berjus, Ventum untuk angin.. Dengan senjata tongkat..
Gree Gildarts Dogre, Ferrum untuk Logam.. Dengan senjata Kapak besar..
Rebecca Mustang, Flos untuk tumbuhan.. Dengan senjata busur panah..
Smits Iuroiz, Glacies untuk es.. Dengan senjata tombak..
Leonardo Odwins, Fulgur untuk perir.. Dengan senjata Katana..
Darkam Pege, Tenebris untuk kegelapan.. Dengan senjata pedang besar..
__ADS_1
"Kalian bersepuluh, tidak.. Kalian bersembilan sekarang akan menjadi kesatria suci seutuhnya." Kata raja William.
Bersamaan dengan ucapan itu, cahaya yang terbagi menjadi 10 titik itu bergerak ke arah mereka dan seketika menyatu kedalam diri mereka semua. Setelah menerima kekuatan itu, tiba-tiba saja tubuh mereka menjadi lebih ringan dari sebelumnya. Aura kuat dari diri mereka juga terpancar memenuhi ruangan membuat siapa saja yang merasakan akan kagum dibuatnya.
"Kekuatan ini!" Ucap Arthur tertegun.
"Hebat.. Tubuhku, rasanya.." Gildarts pun merasakan dampak yang berbeda.
Mereka semua heran sekaligus kagum, karena setitik cahaya itu telah merubah mereka menjadi kesatria yang lebih kuat dari sebelumnya.
"Wahh.. KEREN.. Rasanya aku semakin kuat." Rebecca yang tadi menjerit tak ingin mati malah kegirangan mengetahui dirinya bertambah kuat lagi.
Setelah euforia itu berakhir, mereka semua kemudian tersadar akan satu hal. Salah satu titik cahaya berwujud api tidak bergerak sama sekali di hadapan mereka.
"It-itu.." Kata Rebecca.
"Itu adalah kekuatan ignis.. Sayang sekali kita harus kehilangan dia sangat cepat." Sambung raja William. Benar saja, pasalnya Richard tidak berada di ruangan ini. Mereka semua telah mengaggap bahwa Richard telah mati.
"Itu bagus, dengan begitu si bodoh itu tidak akan lagi mengkhianati kita. Membuatnya mati dengan cepat ternyata adalah hal yan benar" Kata Rinto ketus.
"Rinto.. Aku sudah katakan. Richard dan kesatria suci sebelumnya berbeda. Richard adalah orang yang baik.." Ivy membela, bagaimanapun ia punya hutang budi pada Richard.
"Lagi pula jika dia hadir pun, aku rasa orang itu akan menyusahkan saja." Leo ikut-ikatan, tapi jika kembali mengingat ketika mereka semua masih lengkap memang benar bahwa kemampuan Richard dibawah rata-rata dari mereka.
Ivy merajuk, ia terlihat sedih.
"Cukup, Richard telah mati. Bagaimanapun dia adalah bagian dari kesatria suci. Kita harus menghormatinya." Arthur mengambil perannya.
Perdebatan mereka terhenti kala mendengar suara batuk dari arah depan. Parthe, ia terlihat pucat dan muntah darah setelah mengeluarkan sihir terakhir untuk para kesatria suci.
"Nyonya Parthe,.." Raja William mendekat.
Parthe tampaknya tidak bisa bertahan lebih lama lagi, dibantu Oana. Ia kembali bangkit setelah terbaring sesaat dan melihat para kesatria suci di depannya.
"Sayang sekali sepertinya aku tidak bisa melihat kalian memenangkan perang. Tapi aku percaya kalian pasti bisa, Arthur.."
"Iya, Nyonya.."
"Kau adalah pemimpin mereka.. Kau akan memimpin mereka dan akan memberikan kami kemenangan. Aku tahu itu." Tegas Parthe.
Hal yang sama dilakukan Parthe kepada para kesatria suci. Ia seperti memberikan pesan terakhir kepada mereka semua sebelum dia benar-benar meninggalkan jasadnya.
Raja William yang mengetahui hal itu tak kuasa berlinang air mata. Pun dengan Oana, murid dari Parthe yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.
Ya, itu adalah kepercayaan diri luar biasa. Apa lagi dengan kekuatan mereka yang telah diupgrade sedemikian rupa. Dengan kekuatan itu, mereka semua yakin bahwa kali ini mereka sudah bisa mengalahkan Rever.
Setelah mengetahui hal yang perlu mereka ketahui dan menerima kekuatan segel dari Parthe, para kesatria suci keluar dari ruangan itu menyisakan raja William dengan Oana yang setia berada di dekat Parthe.
Di luar ruangan Rebecca terlihat sedih dengan kondisi Parthe, apa lagi Arthur yang merasa bahwa sekarang ia punya tanggung jawab lebih untuk membebaskan daratan ini dari klan Iblis.
"A-aku tidak akan bunuh diri." Kata Rebecca.
"Rebecca, tidak akan ada yang bunuh diri." Ucap Arthur.
"Arthur.." Diana melihat ke arahnya. .
"Kalian semua.. Aku tidak akan membiarkan kalian semua bunuh diri atau bahkan terbunuh. Kita akan menang.. Dengan kekuatan ini kita pasti bisa." Keyakinan Arthur tersalurkan kepada mereka semua, hingga membuat ketakutan Rebecca memudar.
"Ya.." Sahut Rinto. Di ikuti dengan senyuman mereka semua kecuali Smits.
"Aku pergi dulu."
"Smits.. Mau kemana kau?" Leo menegurnya.
"Aku akan kembali latihan dan melihat sejauh mana kekuatan baru ini." Tegasnya.
Arthur tersenyum.. "Benar juga.. Ya, aku juga ikut."
Dengan semangat, mereka semua akhirnya memutuskan untuk kembali berlatih hingga keputusan selanjutnya dari raja William keluar untuk memutuskan perintah untuk mereka.
Berada jauh di timur daratan..
Perang yang terjadi untuk mempertahankan kota Kander telah usai tapi tidak benar-benar selesai. Itu hanyalah perang pada hari pertama saja. Seperti perang besar yang lain, sejatinya perang yang terjadi tidak akan selesai dengan hanya sehari saja. Butuh waktu lama bahkan hingga berbulan-bulan atau bertahan-tahun.
Hari ini perang telah berakhir dengan mundurnya pasukan iblis yang dipimpin oleh Balphegor, tapi pasukan iblis mundur bukan karena kalah melainkan mereka akan kembali lagi mengatur serangan hari ini gagal.
Ya, serangan mereka gagal hanya karena kedatangan 3 orang bantuan dari pihak kesatria. 3 orang kuat yang membuat Balphegor terbunuh di peperangan. Benar, Balphegor telah mati dan yang membunuhnya adalah Rein Wijaya.
Rein Wijaya beserta Siska Pradita dan Suhtomo Raider datang ke kota ini menggunakan kekuatan sihir roh yang dikuasai oleh Rein, ia memanggil roh api berwujud Phoenix dan terbang dari arah pasukan mereka menuju kota Kander.
__ADS_1
Pasukan Rein sendiri masih berada di belakang. Rein memutuskan ke tempat ini bertiga dengan kesatria terkuatnya karena merasa sesuatu hal yang buruk. Jika saja ia tidak sampai tepat waktu maka kota ini beserta para kesatria tersisa akan mati.
Pasukan yang dipimpin oleh Depone sendiri terlihat berantakan, banyak kesatria yang mati termasuk Arie dan juga Jons yang tidak bisa bertahan akibat racun dalam tubuhnya.
Bahkan yang tersisa hanya sekitar 50 orang saja, terlebih mereka semua mengalami luka serius.
Rein, Tomo dan juga Siska terlihat kewalahan. Mereka memang kuat tapi jika harus menghadapi serbuan monster secara bersamaan maka hal itu juga akan membuat mereka kerepotan.
Bahkan setelah Balphegor mati di tangan Rein, Monster, undead dan juga iblis masih menyerang karena kepemimpinan beralih ditangan Astharot.
Lalu entah karena apa, pasukan iblis tiba-tiba saja mundur atas instruksi dari Astharot yang juga tiba-tiba menghilang melalui portal.
Yang pasti, hari ini mereka bisa bertahan dan menunggu bala bantuan untuk menghadapi serangan berikutnya. Iya, penyerangan ini belum berakhir. Serangan di kota kander sejatinya hanya lah sebuah awal.
Sementara itu, raja William yang berlinang air mata keluar dari ruangan. Ia sangat terpukul karena sebentar lagi Parthe, wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu itu akan mati.
Sedangkan Oana masih berada di dekat Parthe, ia terus mendampingi Parthe dimasa-masa terakhirnya.
"Oana.."
"Iya, iya Nyonya."
"Tidak, jangan panggil aku dengan sebutan itu."
"Mama." Ucap Oana.
Parthe tersenyum. "Berikan tanganmu."
Oana memberikan tangannya, tangan itupun di pegang erat oleh Parthe. Tak lama kemudian kedua tangan mereka bersinar.
"Mama, ap-apa ini?"
"Ini adalah tugas terakhirmu sekaligus permintaan terakhirku." Tegasnya menatap dalam mata Oana.
Oana melihat telapak tangannya, ia cukup terkejut karena yang ada di telapak tangannya adalah segel kekuatan kesatria suci ignis.
"Mama.. Ini!"
"Itu adalah segel ignis, aku ingin kau memilikinya dan saat kau bertemu dengannya. Maka berikanlah segel itu untuk membuka kekuatan sejati dari Ignis. Sama seperti kesatria suci yang lain."
"Ta-tapi Nyonya.. Ignis sudah mati." Kata Oana.
"Tidak, Ignis belum mati.. Aku bisa merasakannya. Ignis masih hidup."
Hal yang membuat Oana terkejut, ucapan yang tidak mungkin mengada-ada dari seorang penyihir suci.
"Hah.. Kalau begitu kita harus memberi tahukan ini kepada yang lain."
"Tidak.. Tidak Oana. Berjanjilah padaku. Kau harus merahasiakan hal ini.. Aku tidak tau tapi batinku berkata hal ini harus dirahasiakan kepada siapa pun." Tegasnya.
Oana yang melihat Parthe, tentu merasa harus mengikuti perkataan itu meski dirinya sendiri tidak yakin apakah ignis benar masih hidup atau tidak.
"Mama.. Dimana aku harus bertemu dengan ignis apakah aku harus masuk ke dalam labirin? Laporan terlahir yang ku dengar jika bagian labirin di lantai 30 sudah runtuh dan tak bisa lagi dimasuki."
"Tidak, itu tidak perlu. Ignis akan muncul kembali di daratan ini. Dan tugasmu adalah mencarinya." Tegas Parthe sekali lagi.
Oana bingung, ia berada di antara percaya atau tidak percaya. Terlebih lagi jika harus merahasiakan hal ini pada semua orang. Apa lagi, ia harus percaya jika Richard selamat dan bisa keluar dari labirin yang jalan keluar satu-satunya telah tertutup dan tertimbun cukup dalam.
"Percayalah..! Kau pasti akan menemukannya." Parthe menggenggam erat tangannya.
Oana hanya menatap dengan tatapan bingung. "Iya, Mama." Ucapnya.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
'
-Bersambung-