
"Jadi, jelaskan padaku alasanmu? Kau pasti punya alasan besar hingga berani masuk ke kota ini? Bahkan sampai melanggar janji yang kau buat dengan Parthe?" Aliyah melepas pelukannya untuk Oana, sembari memegang pundak dan menatap tajam mata Oana.
Setidaknya pelukan itu menjadi pesan sambutan kepada Oana setelah lama tidak bertemu dengan Aliyah sekaligus untuk menghibur Oana yang masih bersedih atas meninggalnya Parthe, yang juga menjadi orang paling dekat dengannya sejak dia masih kecil.
"Eeee.." Oana yang sedikit terbawa perasaan menghapus tetesan air matanya. "Aku ke sini ingin bertemu dengan anda." Jelasnya menjawab pertanyaan Aliyah.
"Ada perlu apa? Jangan bilang kau berani merusak janjimu karena hanya ingin mengatakan jika Parthe telah meninggal kepadaku!? Jika benar, maka itu sama sekali tidak perlu." Ucap Aliyah.
"Tidak.. Aku sedang mencari seseorang dan aku tidak tahu harus mencari kemana lagi selain dengan bantuan anda." Jelas Oana.
Aliyah berjalan menjauh, ia menuju ke arah meja kerjanya sambil menatap beberapa coretan kertas yang ia buat sebelumnya. "Heehh.. Oana, seharusnya kau tidak perlu sampai masuk ke tempat ini. Sepenting apa orang yang kau cari itu hingga kau melanggar janjimu pada Parthe?" Kata Aliyah sambil membereskan beberapa kertas coretan yang ia pegang di mejanya.
"Sangat penting.. Karena menemukan orang ini juga merupakan permintaan terakhir yang diminta oleh Nyonya Parthe padaku.. Dan aku harus mengabulkan permintaan terakhirnya apapun yang terjadi." Jelas Oana sambil menunduk.
Aliyah yang sedari tadi melirik dan memperhatikan beberapa kertas di mejanya kembali berbalik kepada Oana. "Baiklah.. Itu memang hal penting. Lalu, kenapa kau memutuskan untuk bertemu denganku? Ada apa dengan orang yang kau cari ini? Kenapa begitu sulit untukmu menemukannya. Aku pikir, penyihir berbakat sepertimu tidak akan sesulit itu untuk menemukan seseorang."
"Ya.. Jika orang itu masih hidup. Masalahnya orang itu sudah mati setahun yang lalu." Jelas Oana.
"Hah!? Meninggal, jadi maksudmu orang yang kau cari ini sudah meninggal. Siapa orang itu?" Aliyah yang penasaran mendekat ke arah Oana.
"Salah satu kesatria suci.. Ignis." Ucap Oana.
"Ahh.. Aku dengar rumornya, Kesatria suci Ignis.. Aku pikir semua orang tahu jika kesatria suci Ignis telah lama mati di bawah reruntuhan. Aneh jika Parthe menyuruhmu untuk mencarinya." Ucap Aliyah mengerutkan dahi sambil melirik ke arah kanan.
Aliyah berpikir, ia memegang dagunya dengan tangan kanan. "Yaya ada satu hal lagi.. Aku juga dengar jika kesatria ignis terlibat kasus sebelumnya.. Kesatria mesum.. Ya kan? Hahahaha. Rasanya aku ingin bertemu dengannya." Ucap Aliyah sembari tertawa karena hal yang ia katakan sendiri.
"Ya.. Itu benar. Itu bukan sekedar rumor, pria bernama Richard itu memang mesum. Bahkan perbuatan kejinya dibongkar sendiri oleh kesatria suci yang lain." Kata Oana dengan wajah datar. "Tapi tetap saja, aku harus bertemu dengannya.. Tolong bantu aku Nyonya Aliyah!" Oana memegang lengan Aliyah yang saat ini sedang mencari sebuah buku di rak-rak buku yang ada di ruangan kerjanya.
"Baiklah.. Dengan apa aku bisa membantu mu?" Tanya Aliyah yang bingung.
"Aku ingin meminjam item sihir yang anda miliki.. Bola sihir.." Tegas Oana.
"Ahhh! Baiklah tapi mungkin kita ada sedikit masalah" Aliyah menatap Oana sambil tersenyum.
Oana yang bingung hanya terdiam dengan ekspresi wajah Aliyah. "Item itu ada di gudang penyimpanan, tapi.. Hehe, kau akan membutuhkan waktu untuk menemukannya karena ada ribuan Item yang menumpuk di ruangan itu. Kau tahu.. Aku suka sekali menciptakan Item sihir di sini.. Hehe." Jelas Aliyah sambil tersenyum kecut.
"Tidak papa, aku akan mencarinya Nyonya. Aku rasa Item sihir itu akan sangat berguna untuk menemukan kesatria Ignis. Bahkan jika hanya mayatnya yang dapat aku temukan, maka itu tidak apa-apa. Itu sudah cukup bagiku untuk memenuhi permintaan terakhir Nyonya Parthe." Tegas Oana.
Aliyah dengan tubuh moleknya menatap Oana. "Hei, berhentilah memanggilku Nyonya, lihatlah.. Bahkan aku terlihat lebih seksi darimu.. Hahahaha." Oana yang mendengar celetukan itu hanya bisa tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya.
"Baiklah, ayo ikut aku ke ruangan sebelah. Aku menyimpan banyak item-item sihir di ruangan itu. Tapi ingat, tidak ada yang boleh tahu keberadaanmu di tempat ini selain aku." Tegas Aliyah, kemudian berjalan menuju pintu sembari mengingatkan Oana agar melangkah perlahan dan tidak membuat gaduh.
Mereka berdua lalu keluar dari ruang kerja Aliyah, saat ini suasana lorong yang menghubungkan beberapa ruangan itu tampak sepi. Maklum saja karena hari memang masih gelap walaupun bukan telah meninggalkan titik tertingginya tapi belum nampak cahaya matahari yang ingin terbit dari timur.
Mereka berdua berjalan melewati beberapa ruangan, sambil berjalan di belakang Aliyah. Oana memikirkan sesuatu dan spontan berkata. "Nyonya.. Apa kau yang membuatku pingsan beberapa saat yang lalu?"
"Iyaa.." Tegas Aliyah.
"Nyonya.. Siapa mereka?" Tanya Oana sekali lagi yang terlihat penasaran.
"Mereka?" Aliyah tampak tidak mengerti dengan pertanyaan itu.
"Mereka, dua orang yang mengenakan jubah kesatria sihir dan menyerang ku. Kata mereka, itu adalah perintah dari Kanselir sihir?" Oana menjadi semakin penasaran, karena selama ini dia tidak mengerti masa lalu dan mengapa ia bisa dilarang untuk datang kembali ke kota Lockdown padahal menurut cerita dari Parthe, Oana pernah menginjakkan kaki di kota ini ketika dia masih kecil.
"Aku tidak tahu, yang pasti aku hanya ingat saat Parthe membawamu pergi dari tempat ini dan membuatmu berjanji agar tidak lagi menginjakkan kaki di kota ini." Jelas Aliyah secara singkat dan jelas.
"Aku masih tidak mengerti, padahal di tempat ini ada sekolah sihir terbaik. Kenapa Beliau malah melarang aku ke sini!?" Gumam Oana pada dirinya sendiri.
"Entahlah.. Mungkin dia tidak ingin jauh darimu Oana.. Dan dia ingin menurunkan pengetahuan sihirnya padamu." Balas Aliyah sambil melirik Oana. Jawaban singkat itu pun membuat Oana diam dan sedikit menghilangkan rasa penasarannya.
Setelah berjalan dan melewati beberapa ruangan, akhirnya sampailah mereka pada satu pintu. Dibalik pintu itu tersimpan banyak item-item sihir yang telah dikembangkan oleh Aliyah dan juga timnya selama ia menjadi salah satu pengajar dan peneliti sihir di sekolah sihir Hogward.
"Ini tempatnya!" Kata Aliyah sambil memegang gagang pintu. Ketika ia membuka gagang pintu itu, Aliyah terkejut karena dia menemukan orang lain yang tidak asing berada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Sementara itu, masih di dalam kota.
Ruangan rahasia yang berada tak jauh dari kediaman kanselir sihir.
"Sepertinya sudah saatnya kita akhiri." Kata Kanselir sihir. "Sekromentus..!" Kanselir sihir berbalik melihat ajudan setianya yang berdiri tepat di belakangnya. Seorang pria tua berjenggot dan berkumis putih yang cukup tegap dan memiliki kekuatan besar. Sosok yang disangka oleh para kesatria suci sebagai Kanselir sihir.
"Siap perintah!" Balasnya.
Sementara yang lain berbalik melihat ke arah kanan, tepat dimana Sakromentus berjalan menuju ke depan gadis yang terikat pada sebuah tiang dengan tubuhnya hanya dilapisi kain tipis. Gadis itu penuh luka, kulitnya kering dan kriput, tatapan matanya yang kosong seakan menjadi isyarat jika dia ingin segera mati dari pada berada dalam belenggu menyesatkan ini. Entah telah berapa lama ia terikat seperti seorang budak tak berdaya yang menjadi korban kekejian.
Saat Sakromentus berada tepat di depan gadis lusuh yang terikat itu. Ia memegang dahi gadis itu sambil merapalkan sebuah mantra sihir. Saat itu juga gadis itu kemudian membuka matanya lebar-lebar dan mulai berontak karena rasa sakit yang tidak bisa ia tahan. Ia menjerit seeakan-akan kematian telah memanggilnya, gadis itu menjerit tapi tak mengeluarkan air matanya. Bukan karena menahan tangis, tapi karena air matanya sudah kering dan tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan kecuali darah.
"Setelah wanita itu meninggal.. Aku ingatkan agar penggantinya segera di bawah ke tempat ini besok!" Tegas Kanselir sihir. "Segera amankan subjek berikutnya, bagaimanapun kita tetap membutuhkan pengorbanan untuk kesejahteraan kota ini." Lanjut Kanselir sihir melihat jeritan gadis itu didepannya.
Tak lama setelah itu, sebuah lambang sihir tercipta dari lantai. Garis sihir itu berbentuk lingkaran dengan gadis menjerit itu yang menjadi porosnya, cahayanya semakin terang dan disaat bersamaan gadis malah tambah menjerit kesakitan. Ia meminta tolong, bukan untuk menghentikan mantra yang diucapkan oleh Sakromentus, tapi ia berteriak dan meminta untuk segera dibunuh.
Sementara ritual berdarah itu berlangsung, suara teriakan dan gelombang pertarungan yang sangat Sengit juga sedang terjadi di luar kota, hal yang tak bisa dirasakan oleh mereka yang saat ini masih terlelap nyaman dan aman di dalam kota.
Pertarungan masih terjadi, sampai saat ini. Kota Lockdown masih mempertahankan reputasinya sebagai kota dengan sistem pertahanan kuat dengan tidak membiarkan satu monster atau iblis berhasil menerobos pertahanan mereka.
Apa lagi, belum ada korban yang jatuh dari pihak para kesatria sihir yang bertahan karena kubah pelindung yang melindungi kota bekerja sebagaimana mestinya. Mereka aman sambil terus menyerang dari dalam menggunakan sihir jarak jauh ke arah monster dan iblis yang tetap berdatangan sampai hari saat ini.
Sementara itu, di wilayah selatan kota Lockdown. Tempat yang telah luluh lantah akibat pertarungan hebat yang sedang terjadi.
"Hei, lihat itu..!" Rebecca menunjuk ke depan, tepat ke arah api membara yang terbang menuju Bellzebub.
Para kesatria suci melihat sosok asing yang terbakar hebat meluncur bagaikan meteor. "Orang itu!?" Ucap Pege yang mengenalnya.
Suara gemuruh terdengar memenuhi langit akibat dari gesekan angin dengan api dari tubuh Richard yang datang dengan kecepatan suara menuju Bellzebub.
Dari jauh, rombongan yang telah selamat dari pembantaian melihat cahaya yang cukup terang dari langit di arah selatan. "Huh! Apa itu?" Tanya Kakek Dwarf yang melihat pemandangan menyala itu. Nora yang juga berada di rombongan berbalik, ia melihat kobaran api yang menyala sambil mendekapkan kedua tangannya di dada seakan berdoa.
Lalu di tempat kejadian perkara..
Sesaat kemudian, ledakan besar terjadi di atas langit. Gelombang cahaya yang diakibatkan ledakan itu menyebar luas hingga menyebabkan beberapa monster terbang dan iblis yang memenuhi langit terbakar habis, ledakan itu juga menarik perhatian kesatria sihir yang sedang berjuang di gerbang selatan.
Ledakan itu terjadi akibat pertemuan antara api dan juga petir hitam yang cukup besar menyambar secara tiba-tiba. Suara dari petir hitam itu terdengar keras, berbeda dari suara gemuruh langit pada umumnya.
Melihat ledakan petir dan aura yang muncul tiba-tiba, Smits mengerutkan dahi dan tersenyum. "Hehhhh.. Rever!" Ucapnya menyaksikan tabrakan dua imperium besar yang terjadi di langit.
"Chi.. Kenapa kau ada di tempat ini? Rever?" Kata Bellzebub yang sangat kesal atas kemunculan Rever Block sang dosa kemarahan.
Benar..
Kilat hitam yang muncul tiba-tiba adalah pertanda kekuatan dari sang dosa kemarahan.
Rever yang membentangkan sayapnya tak mengatakan apa-apa, saat ini pandangannya hanya melihat ke arah bawah. Tempat dimana Richard terjatuh akibat hantaman petir besar yang menahan dan mementahkan serangan apinya.
Richard terdorong cukup jauh, ia terjatuh dan menghantam tanah sangat keras hingga menciptakan lubang cukup besar di bawahnya.
Sekarang kawasan pemukiman semi permanen ini sudah rata dengan tanah, yang terlihat hanya hamparan tanah yang sangat luas. Bangunan dan pepohonan sekitar sudah tumbang dan rata dengan tanah. Itu adalah akibat dari pertarungan yang terjadi sejak beberapa jam yang lalu.
Sampai saat ini..
Sepertinya pertarungan belum mencapai puncaknya, apa lagi setelah iblis kuat lain memunculkan dirinya.
"Chi... Oi Rever, siapa yang menyuruhmu datang ke tempat ini hah?" Bellzebub mengomel sementara Rever dengan tenang terus melihat ke arah Richard yang tersungkur jauh di bawahnya.
Di sisi lain, para kesatria suci sedikit bergetar kala mengetahui jika iblis yang pernah mengalahkan mereka 2 kali secara telak muncul kembali. Iblis itu terlihat berbeda, ada beberapa bekas luka dan yang paling mencolok salah satu lengan iblis itu telah putus akibat dari pertarungan besar.
"Oioi.. Meskipun sudah lama tidak bertemu tapi aura iblis itu masih saja menganggu ku!" Ucap Smits spontan saat merasakan aura luar biasa dari Rever.
"Kira-kira siapa yang berhasil membuat Iblis sekuat itu kehilangan lengannya! Hmm.. Aku harap bisa bertemu dengan orang itu." Kata Rebecca yang menyipitkan mata sambil mengangkat tangan ke dahinya, dia salah fokus dan terus melihat luka bakar yang ada di tubuh Rever.
__ADS_1
Rever Block, setelah pertarungan sengit yang terjadi beberapa waktu lalu kembali terlihat bugar dan semakin kuat. Aura yang keluar dari tubuhnya menjadi tanda jika saat ini dia tidak lagi menganggap remeh Richard yang telah ia hentakkan dengan kekuatan penuh di awal kemunculannya.
Sebenarnya, para iblis level atas bisa saja menumbuhkan kembali bagian tubuh mereka yang terluka atau terputus tapi karena api yang dikeluarkan oleh Richard berbeda dari api biasa, hal itu membuat bagian tubuh Rever tak bisa beregenerasi secara total.
Api yang membakar tubuh Rever beberapa hari yang lalu adalah api yang telah Richard dapatkan dari hasil bertahan hidup selama setahun berada di dalam labirin yang penuh dengan monster kuat. Api itu semakin panas seiring dengan perkembangan dari pertarungan demi pertarungan yang dialami oleh Richard hingga puncak dari perkembangan kekuatannya saat dia mendapatkan sebuah kekuatan besar yang sama dengan imperium miliknya. Ia mewarisi kekuatan dari salah satu pilar Neraka bernama Ifrit, hal itu membuat imperium api Richard semakin kuat tanpa ia sadari.
Dan hal itu juga yang membuat dia bangkit tanpa terluka saat ini, meski telah mendapatkan serangan fatal dari petir hitam yang cukup besar milik Rever Block sang dosa kemarahan.
"Oi, minggir orang itu adalah makan malamku!" Bellzebub memegang pundak Rever.
Tiba-tiba.. Urat wajah Rever keluar. Itu adalah tanda jika dia mulai marah dan imperiumnya kembali meningkat drastis.
"Reeeedddddddddd...." Teriak Rever dengan lantang dari atas saat melihat Richard bangkit.
Mendengar hal itu, Richard mengangkat wajahnya dan menatap Rever dengan mata merah yang menyala. Api yang sempat padam ditubuhnya kembali menyala secara perlahan, menandakan jika ia sedang mengumpulkan imperium karena merasakan hawa membunuh yang luar biasa dari Rever. Perlahan ia bangkit dan mulai menegakkan tubuhnya sambil menatap Rever yang berada di atas langit.
Sementara itu, kesatria suci yang lain hanya bisa melongo kala melihat benturan aura dari arah depan. Benturan aura itu berasal dari Rever dan juga orang asing yang tidak mereka kenal. Setidaknya untuk saat ini, mereka tidak bisa lagi mengenali Richard yang penampilannya telah berubah. Bukan hanya penampilan, tapi juga aura dari imperium yang selama ini mereka kenal dari Richard telah berbeda.
"Orang itu!? Ucap Pege yang tertegun.
"Heh!" Ivy memandangi Richard dari jauh, merasa jika orang yang saat ini mengeluarkan imperium besar itu bukanlah orang asing. Ivy merasa jika dia mengenal orang yang saat ini sedang menatap Rever tanpa rasa takut itu
"Reeedddddd... Kita bertemu lagi huh!?" Ucap Rever dengan lantang.
Dari arah lain. "Red!?" Gumam Ivy yang mendengar ucapan Rever.
Richard tidak merespon, ia tetap berdiri tanpa menurunkan tingkat kewaspadaannya terhadap musuh kuat yang saat ini melayang di atasnya.
"Hahahaha... Lihat apa yang kau lakukan padaku Redddd, aku benar-benar meremehkan mu waktu itu." Lanjut Rever, masih berbicara dengan lantang. Suaranya menggema di tengah dentuman-dentuman sihir yang terjadi akibat pertarungan kesatria sihir dan para pasukan iblis.
"Chi.. Kau menganggu makan malamku!"
"DIAM!!!!" Ucap Rever pada Bellzebub. "Aku kesini atas perintah raja Iblis, aku ke sini untuk menghentikan tingkah bodoh mu.." Ucapnya pada Bellzebub.
"Chi.." Bellzebub cukup kesal dengan perkataan Rever padanya.
Pada umumnya, kekuatan antara para iblis dosa besar tidaklah berbeda jauh. Bellzebub tak bisa menolak apa yang dikatakan oleh Rever bukan karena Rever lebih kuat atau bukan karena Rever adalah atasannya. Hanya saja bagi para iblis, perintah dari raja mereka adalah hal yang mutlak. Perkataan Rever yang menyebut tentang perintah dari raja iblis itu sudah cukup membuat Bellzebub tak bisa menolak apa yang dilakukan oleh Rever saat ini.
"Tetaplah pada rencana awal Bellzebub.. Segera hubungi bawahan mu yang saat ini sudah berada di dalam kota Lockdown. Ingat raja iblis sangat mengharapkan keberhasilan mu..." Tegas Rever. Meski yang ia ajak berbicara adalah Bellzebub tapi tatapan matanya tidak pernah lepas dari sosok yang telah membuatnya sekarat beberapa hari yang lalu. Sosok itu juga masih terus menatapnya, mata menyala itu terus menatap tanpa berkedip ke arahnya.
"Chi... Tanpa kau ingatkan pun aku akan tetap memberikan kemenangan pada rajaku. Malam ini, kekacauan malam ini hanyalah makanan pembuka untuk para bawahan ku yang lapar.. Kemenangan sesungguhnya akan di raih besok, pada saat matahari mulai terbenam. Chichichichichi.. Besok adalah makanan utama, tepat ketika Smellow berhasil mematikan sistem pertahanan kota Lockdown dari dalam.. Chichichichichi" Ucap Bellzebub dengan sangat yakin.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
__ADS_1