The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 145. Akhir Dari Pesta Perpisahan


__ADS_3

Penghujung senja tiba, dimana cahaya bulan perlahan menggantikan peran dari cahaya matahari. Meski tak seterang matahari, tapi cukup untuk menerangi hamparan lembah kota Lockdown dalam gelapnya malam. Setidaknya semua orang masih bisa memandang wajah satu sama lain meski dengan jarak yang cukup dekat.


Oleh karena itu, bantuan cahaya dari para penyihir sangat membantu penerangan. Selain itu, obor api juga mulai dinyalakan pada banyak tenda dan bangunan semi permanen yang kembali berdiri setelah porak-poranda akibat serangan malam sebelumnya.


Setelah melewati banyak drama perpisahan dengan orang-orang yang peduli dan berharap padanya. Nora masuk ke dalam kota melewati gerbang kota Lockdown tanpa pemeriksaan apapun. Ia di dampingi oleh Master Clivard dan beberapa kesatria sihir bawahannya.


Nora berbalik ke belakang, melihat Ibu dan keluarga lembah kota Lockdown. Ia tersenyum lirih meneteskan air mata. Sementara dari kejauhan, Ibunya ikut tersenyum sambil mengusap air mata yang tak bisa ia bendung. Itu akan menjadi momen terakhir mereka bertatap muka, walau dari kejauhan.


Nora melangkah perlahan, ia tepat berdiri dihadapan gerbang besar yang hanya terbuka untuk mereka kaum penyihir. Nora tak pernah membayangkan seperti apa isi kota, namun kini sebentar lagi akan masuk ke dalam kota. Saat ini ia berada dekat dan melihat langsung gerbang kota yang orang-orang dalam kaumnya idamkan terbuka tepat di depan matanya.


Gerbang itu terangkat naik. Bola mata Nora melihat ke bawah mengikuti alur gerbang yang mulai bergerak itu. Matanya semakin naik hingga sejajar ke depan. Lalu sesaat congkak ke atas. Gerbang tepat berada di atas kepalanya. Nora gemetar tak percaya, ia benar-benar masuk ke dalam kota Lockdown.


"Masuklah.." Ucap Master Clivard melangkah terlebih dahulu melewati gerbang.


Nora melangkah pasti, tak gentar. Sesampainya di dalam ia menganga takjub dengan bangunan menjulang tinggi. Nora mengangkat kepalanya, ia melihat begitu banyak bangunan tinggi. Meski cukup jauh dari tempatnya saat ini berdiri tapi bangunan yang tingginya tidak seperti bangunan-bangunan yang pernah dilihat olehnya itu terlihat cukup jelas.


Nora tak berhenti takjub atas apa yang dia lihat. Keramaian dari cahaya-cahaya pemukiman, bangunan menarik yang belum pernah dia lihat, sihir dan berbagai macam keanehan. Kota Lockdown seperti sebuah peradaban maju yang tak pernah bisa Nora bayangkan.


"Selamat datang di kota Lockdown."


Nora berbalik, melihat Master Clivard dengan mata berbinar bahagia. Ia tak bisa menyembunyikan betapa ia sangat senang bisa melihat hal-hal ajaib yang hanya bisa dia temukan dalam mimpinya sekarang bisa ia lihat dengan mata kepalanya.


"Ayo, ke arah sini. Tempat ini adalah bagian luar kota. Kita akan masuk ke distrik terdalam kota. Bertemu dengan kanselir sihir." Master Clivard menunjuk sebuah kereta.


Perlahan Nora mengikuti. Ia melewati banyak kesatria sihir penjaga gerbang. Ada banyak dan semua sedang mengarahkan pandangan pada Nora. Yang tidak Nora sadari adalah kenyataan bahwa saat ini ia ditatap sinis oleh mereka para kesatria sihir yang terdoktrin sejak mereka kecil jika nope adalah musuh yang tak pantas menginjakkan kaki ke dalam kota Lockdown.


Nora melangkah, beberapa langkah kecil yang ia ambil sudah cukup membuatnya sampai di depan sebuah kereta. Nora menatap ke depan, ia tak melihat kuda atau apapun yang dapat menarik kereta tersebut.


"Silahkan naik." Master Clivard memegang tangan Nora.


Nora yang tampak bingung menatap penuh tanda tanya. Melihat hal itu, Master Clivard tersenyum. "kereta ini bergerak dengan sihir, jadi tidak perlu kuda untuk menariknya." Ucapnya seakan tahu maksud dari wajah bingung Nora.


"Woahh.." Raut wajahnya kembali bersinar takjub. Belum juga ia bisa mengatasi rasa takjubnya begitu melihat berbagai hal ajaib di depan sana. Sekarang ia kembali harus memperlihatkan wajah bahagianya begitu dia naik ke sebuah kereta ajaib lainya.


Nora dengan segala kebahagiaan di hatinya, dengan besarnya harapan yang ada di pundaknya. Ia melangkah pasti, membesarkan hati untuk bertemu sang pelindung lembah kota Lockdown.


Sementara itu, di bawah pudarnya cahaya bulan. Mereka para nope atau pencari suaka telah membubarkan diri dari kerumunan pesta yang berakhir begitu Nora masuk ke dalam kota Lockdown.


Bisa dibilang, puncak dari pesta ini adalah keberangkatan Nora menuju gerbang. Setelah serangkaian formalitas yang terjadi saat pesta, lalu ditutup dengan berjalannya Nora menuju gerbang kota bersama para kesatria sihir. Pesta perpisahan hari ini benar-benar selesai.


Ibunya masih saja bersedih. Ia sedih dan bahagia melihat anaknya masuk ke dalam kota. Perasaan campur aduk itu membuat ia meneteskan air mata sembari tersenyum. Ia tak sendiri, para wanita tua di kelompok mereka mencoba menghibur dan menemani. Mereka adalah para Ibu yang anaknya terlebih dahulu masuk ke dalam kota. Dengan harapan yang sama, harapan pilu yang tak akan pernah terwujud.


Situasi berubah sesaat setelah malam semakin matang. Cahaya bulan yang begitu terang menghilang seketika. Beruntung masih ada obor api yang menyala dalam kegelapan malam di berbagai tenda dan bangunan semi permanen.


Cahaya bulan tertutup oleh awan hitam yang menggumpal di langit. Sepertinya mendung, tapi tak ada tanda-tanda turunnya hujan. Tidak ada suara gemuruh guntur atau sambaran petir. Angin yang menerbangkan debu juga termasuk angin sepoi-sepoi yang tidak mungkin mendatangkan badai.


Suara sunyi dan senyap. Hanya terdengar obrolan kecil dari para pencari suaka yang sedang berkelompok kecil setelah membubarkan diri dari pesta perpisahan yang baru saja terjadi. Membicarakan hal-hal yang hanya mereka saja yang tahu.


Tidak seramai saat pesta sedang berlangsung sore menjelang senja beberapa saat yang lalu. Juga tidak seramai kemarin malam.


Sepertinya, pembantaian kemarin malam membuat populasi pencari suaka di lembah ini berkurang drastis bahkan hingga setengahnya. Sangat wajar jika malam ini tidak seramai kemarin malam.


Berbicara tentang pembantaian yang terjadi kemarin malam, terlihat pula beberapa keluarga mendoakan kematian anggota keluarga mereka. Dengan tradisi yang mereka bawa dari kampung halaman. Mereka Berdoa untuk para korban.


Ada pula yang kembali meratapi kehilangan. Bersedih dan menangis. Sepertinya seusai pesta masih banyak orang yang kembali mengingat momen mengerikan itu. Apa lagi kejadian itu belum terlalu lama, bahkan baru terjadi.


"Red.. Tidurlah di tenda milik ku! Kau bisa melanjutkan perjalan mu besok." Kakek Dwarf yang berjalan pincang menoleh ke arah tenda yang baru saja selesai ia bangun kembali dengan bantuan alat dari para kesatria sihir.


"Mereka semua melakukan ini untuk apa?" Tanya Richard yang melihat beberapa kesatria sihir yang masih berada di lembah.


Sepertinya tidak semua kesatria sihir ikut masuk ke dalam kota Lockdown. Masih ada beberapa kesatria sihir yang berkeliaran di lembah, lalu lalang sedang membereskan beberapa barang.


"Tentu saja menolong kami.. Lihatlah. Tempat yang sudah hancur porak-poranda sekarang bisa kembali kami tempati seperti sedia kala." Ucap kakek Dwarf menjawab pertanyaan spontan yang keluar dari mulut Richard.


Richard yang mendengar itu tak menggubris, ia kembali melihat sekitar. Sedang mengamati dengan seksama. "Kesatria sihir? Kanselir sihir? Dan suara jeritan yang aku dengar saat semua iblis di musnahkan. Ada apa dengan ini semua?" Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Richard berjalan menjauh dari kakek Dwarf, ia melihat beberapa kesatria sihir sedang merapikan tenda mewah yang mereka tempati sejak pagi tadi. Kesatria sihir itu membereskan berbagai alat yang mereka bawa dari dalam kota ke luar kota pagi tadi untuk membantu memulihkan lembah kota Lockdown.


Richard mendekat perlahan. "Hei Red, kau mau kemana?" Tegur kakek Dwarf melihat Richard menjauh darinya.


"Maaf aku ada urusan." Ucapnya menghilang dalam kegelapan.


Kakek Dwarf terkejut, hanya sekejap saja. Ia sudah kehilangan Richard dari pandangannya. "Kemana anak muda itu? Hmm, dia benar-benar anak muda yang aneh."


Beberapa kesatria sihir terlihat sibuk, menggunakan sihir untuk memindahkan berbagai alat dan berbenah untuk segera masuk ke dalam kota. Richard mengendap tanpa diketahui, bersama dengan seseorang yang selalu saja mengekor padanya.


"Jika kau masih mengikuti ku! Aku akan memukul mu." Ucapnya pelan tapi tegas. Hal itu membuat Woli keluar dari bayangan dan menampakkan dirinya. Salah satu skill yang hanya dimiliki oleh shed jenis manusia serigala.


"Tapi tuan.." Ucapnya memelas. Menatap penuh kasih bagai anak kucing minta makan pada tuannya.


"Diam disini.." Tegas Richard.


Mereka berdua bersembunyi di balik bangunan semi permanen tak jauh dari tempat para kesatria membereskan barang-barangnya.


Terlihat jika saat ini mereka sedang membicarakan sesuatu. Tapi karena jarak dari tempat Richard saat ini dengan tempat para kesatria sihir belum terlalu dekat. Richard tidak bisa mengetahui pasti apa yang sedang mereka bicarakan.


"Aku harus lebih dekat." Ujarnya penuh penasaran.


"Mereka sebentar lagi akan masuk ke kota tuan. Kata seorang diantara mereka, jika subjek inti sihir sudah dalam perjalan menuju kediaman kanselir sihir." Woli membalas gumam Richard.


"Apa? Apa maksudnya itu?" Richard menatap Woli penuh makna.


Woli dengan nada datar berkata jika dia bisa mendengar dengan jelas apa yang para kesatria sihir itu ucapkan. Pendengarannya sebagai manusia serigala cukup jauh, ia bisa mendengar berbagai hal dari kejauhan bahkan hingga radius 5 kilometer jika ia sedang fokus.


Richard terkejut. Mengetahui hal itu tentu saja Richard memanfaatkan pendengar Woli dan terus memberikan informasi padanya tentang apa yang sebenarnya para kesatria sihir itu bicarakan.


Namun tidak ada informasi mengenai Nora ataupun informasi yang sangat ingin Richard ketahui. Beberapa saat kemudian, seorang kesatria sihir wanita mendekati para kesatria sihir yang lain.


"Wanita itu." Meski cukup gelap karena tidak adanya cahaya. Penglihatan terlatih Richard bisa melihat dengan jelas jika wanita yang muncul tersebut adalah Neyah. Salah satu kesatria sihir yang ia temui sebelumnya.


Mereka lalu beranjak pergi begitu Neyah menyapa mereka. Richard mengambil kesempatan untuk mendekat, dengan keahlian berburu ia menghilangkan aura keberadaannya. Masih penuh penasaran, ia mengikuti dengan diam.


Perlahan namun pasti Richard menunduk sambil melangkah pelan. Melihat ke depan sambil sesekali memperhatikan langkah kalau-kalau ada krikil yang mengganggu langkah kakinya. Menghindari remah-remah pasir dan tangkai pohon tumbang yang dapat menimbulkan suara ketika ia melangkah.


Para kesatria sihir itu menuju ke gerbang kota. Di depan gerbang kota Lockdown, terdapat cahaya terang yang menyinari bangunan besar. Bangunan besar itu merupakan sebuah pos jaga. Tempat para kesatria sihir memantau dan mengawasi para nope dan ancaman dari luar kota Lockdown.


Tepat di atas bangunan itu terdapat menara menjulang tinggi. Sebuah menara tempat lain untuk kesatria sihir memantau dan menjaga gerbang kota dari atas tembok besar yang melindungi kota.


Cahaya terang di dekat bangunan itu cukup mengganggu bagi Richard yang sangat ingin mendekat tanpa diketahui. Richard menyadari bahwa ia akan ketahuan jika maju lebih dari saat ini. Dia diam memperhatikan, cukup banyak kesatria sihir yang berjaga, sementara yang lain masuk ke dalam bangunan besar itu.


Bangunan besar itu tepat berada di samping gerbang kota yang sudah tertutup kembali setelah Nora dan beberapa kesatria sihir masuk sesaat yang lalu.


Gerbang kota hanya bisa di buka menggunakan mantra sihir khusus. Hanya penyihir penjaga kota yang tahu mantra sihir tersebut. Tanpa penjaga gerbang, maka gerbang kota tak akan mungkin terbuka walau dihantam dengan kekuatan sihir sekuat apapun. Sudah teruji dengan berbagai serangan dari klan iblis atau dari kerajaan-kerajaan yang mencoba menyerang kota di masa lalu.


Richard masih memperhatikan, dia menunduk sambil berlindung di belakang batu besar. Ia Coba mencari kesempatan yang tepat untuk bisa mendekat lebih jauh. Rasa penasarannya cukup besar mengingat ia sangat mengetahui jika pesta yang dilangsungkan sore tadi mempunyai maksud lain dari pada sekedar pesta untuk mengantarkan kepergian Nora.


Ia sangat yakin. Ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya begitu yakin.


Dari depan, seorang wanita terlihat keluar dari bangunan bersama beberapa kesatria lain. Sepertinya mereka sedang mengarah ke pemukiman lembah. Richard melihat sebuah kesempatan, apa lagi dia mengenal wanita yang baru saja keluar itu.


"Dengan begini pasokan energi kota dapat kembali terisi." Ucap salah seorang kesatria diantar mereka berempat.


"Neyah.. Sudahlah. Kau tidak usah bersedih."


"Aku.. Aku tidak bersedih." Ujarnya datar.


Mereka berempat berjalan kembali menuju ke arah pemukiman.


Neyah cukup sulit menerima kenyataan. Sifatnya sedikit berbeda dari para kebanyakan kesatria sihir. Ia tahu semua kebohongan yang terjadi, serta kenyataan pahit dibelakangnya.


Kebaikan hatinya sering kali membuat ia tak ingin melakukan semua yang baru saja ia lakukan. Meski begitu, ia juga mencintai kota Lockdown dan tak punya pilihan lain selain melaksanakan semua perintah kanselir sihir. Yang bisa Neyah lakukan adalah menutup perasaan bersalahnya kepada para nope dan terus melakukan tugasnya untuk menjaga kota Lockdown.

__ADS_1


Seorang diantara mereka berempat memegang tongkat. Dengan mantra sihir tongkat itu bercahaya, layaknya senter yang menerangi jalan mereka di kegelapan.


Sementara itu dari belakang, walau terdengar tapi Richard berhasil mendengar kembali apa yang mereka bicarakan meski tanpa bantuan Woli. Richard mengikuti dengan perlahan, ia begitu dekat tapi tidak satupun dari para kesatria sihir itu sadar akan keberadaan Richard.


"Neyah.. Stop. Berhenti memasang wajah murung seperti itu. Kau selalu saja bermuka masam saat kita mengadakan pesta perpisahan untuk nope." Tegas seorang diantar mereka berempat.


"Kau tahu kan.. Pengorbanan diperlukan. Jika tidak begitu maka kota Lockdown tidak akan bisa bertahan sampai saat ini." Sambungnya menasehati Neyah yang sejak pesta merajuk.


Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba saja salah seorang kesatria sihir terpental cukup jauh.


Sisanya terkejut. Mereka bertiga memasang kuda-kuda bertahan dan memperhatikan sekitar. Cahaya padam karena orang yang baru saja terpental jauh dan tak sadarkan diri itulah yang menggunakan sihir cahaya pada tongkatnya.


Dalam kegelapan, mereka bertiga saling membelakangi. Memandang dan siaga.


"Siapa di sana?" Ucap Neyah berteriak.


Tak sempat mereka bertiga bereaksi. Serangan lain yang menerjang membuat mereka tersentak dan jatuh ke tanah. Formasi yang mereka buat untuk bertahan goyah.


"Neyah..." Nerwen berteriak saat melihat adiknya di culik oleh seseorang. Cukup gelap dan ia tak sempat menyelamatkan Neyah.


Neyah pun tak bisa bergerak. Kedua lengannya di kunci sangat kuat, ia tak bisa melawan. Sesaat sebelum ia berteriak, ia pingsan dengan pukulan keras pada bahu kanannya.


"Neyahh.. Lepaskan adik ku!" Nerwen bergerak cepat. Bersiap menyerang.


Lalu.. Semburan api yang sangat panas mengalihkan perhatiannya. Tak lama setelah semburan api itu padam. Neyah dan penculiknya menghilang, tak terlacak.


Waktu yang sama,..


Distrik pertama kota Lockdown yang biasa juga di sebut sebagai alun-alun kota Lockdown. Secromentus memulai pencariannya. Ia berdiri tepat di depan aula kebaktian sihir, sebuah gedung tempat para dewan konsulat sihir berkumpul dan membahas berbagai kebijakan politik bersama dengan kanselir sihir.


Gedung tertinggi yang ada dalam kota Lockdown. Sebuah tempat yang pas untuk Sacromentus mengaktifkan sihir visi. Sebuah sihir untuk mengetahui atau melacak apapun yang ditargetkan oleh penggunanya.


Semakin tinggi tempat sihir itu diaktifkan, maka semakin luas jangkauan dari sihir tersebut. Berbekal aura dari Anne Drigory dan Emma Drigory yang sudah ia ketahui sebelumnya. Sacromentus memulai pencariannya.


Hanya dengan satu lompatan cepat, Sacromentus sudah berdiri tagek di atas gedung aula kebaktian sihir. Wajah tuanya menatap tajam ke depan, lalu menutup mata dan melafalkan mantra. "Amplificationem magicae: vision expansionem"


Ia mengangkat tangan, lalu lingkaran sihir mulai terbentuk. Lingkaran sihir itu awalnya kecil, tapi lama kelamaan membesar dan terus membesar. Sekarang lingkaran sihir itu hampir menutupi semua langit kota Lockdown.


Setelah sihir itu aktif. Sacromentus yang menutup mata mulai merasakan semua aura dan mengetahui apa saja yang terjadi di sekitarnya tanpa melihat. Ia mulai mencari aura yang setidaknya sama dengan aura Anne Drigory dan Emma Drigory.


Sacromentus terlihat berkonsentrasi. Beberapa saat berlalu tapi ia tak menemukan apa yang ia cari. Tak puas, ia lalu kembali memperluas jangkauan sihirnya. Lingkaran sihir yang menutupi langit kembali melebar dan semakin besar.


Beberapa saat kemudian. Sacromentus membuka mata. Berbalik ke arah kiri. "Sekolah sihir Hogward." Gumamnya. Seketika ia menghilang. Tujuannya adalah sekolah sihir Hogward.


Sihir visi yang Sacromentus aktifkan lenyap begitu ia yakin telah menemukan pancaran aura yang sama dengan yang ia cari. Sementara itu, dari arah sekolah sihir Hogward. Tempat yang sedang dituju oleh Sacromentus. Tepatnya Komplek penelitian sihir. Pada salah satu gedung di dalam ruangan tersebut. Terdapat wanita yang memiliki aura yang sama dengan aura Anne Drigory dan Emma Drigory. Wanita itu adalah Oana.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2