
Di bagian tengah benteng..
Sebastian dan Ain yang sedang melayang di sampingnya tiba-tiba berhenti, mereka berdua menganga saat melatih sebuah bola api raksasa jatuh dari langit mengarah ke arah kastil berada.
"Ain, itu..!!!"
"Sepertinya itu.. Adalah serangan kedua." Ucap Ain gemetar.
"Si-sial.. Dari mana datangnya... Sial.." Sebastian Austin terus mengumpat, itu satu-satunya hal yang bisa dia lakukan saat ini.
Sebastian berlutut.. Ia hanya bisa menyaksikan bola api panas itu, bersama dengan Ain yang juga terpaku kaku tak percaya.
"Sial.. Sial... Siaaaallll.. Mereka mempermainkan kita." Sebastian bersujud ke tanah memukul tanah layaknya orang yang sedang berputus asa.
Di tengah keputusasaan.. Cahaya biru menyala.
"Sebastian.. Lihat!!" Ain menujuk ke arah bola api raksasa.
"Ha! Itu.." Kata Sebastian.
"Itu adalah sihir tingkat tinggi.. Jangan-jangan, bantuan."
Melihat harapan itu, Sebastian bangkit. "Ain.. Ayo!!" Ia kembali berlari menuju kastil karena melihat sebuah harapan.
Di kastil benteng ampt, wilayah utara..
Kastil porak-poranda.. Api membakar bangunan, beberapa rumah di sekitar tempat itu hancur, pohon tumbang dan jalan terlihat retak parah. Suara pertarungan masih menggema antara kesatria yang masih hidup dengan pasukan monster yang sudah berada di depan kastil.
"AYOOO.. KALIAN SEMUA! JANGAN TAKUT.. NYONYA LINDA BERSAMA DENGAN KITA!!" Pistris berteriak membangkitkan semangat juang para prajurit dan kesatria yang tersisa.
Seketika suara keras para kesatria terdengar nyaring.. Sementara itu penduduk yang masih berada di tempat itu berlindung di belakangnya para kesatria. Beberapa penduduk yang merupakan laki-laki bahkan memungut senjata prajurit yang telah mati dan ikut bertarung.
Itu karena.. Saat ini mereka masih punya harapan untuk hidup.
30 menit sebelum matahari terbit..
"Sial.. Kastil sudah runtuh.." Lusio bersembunyi di balik pohon sambil menggendong Ilume yang belum sadarkan diri.
Lusio melihat para kesatria yang sedang berjuang mati-matian mempertahankan warga yang masih hidup. Lusio dengan sisa tenaganya, saat ini hanya memikirkan kematian karena jalan keluar dari pulau sudah tertutup reruntuhan.
"Percuma.. Benteng ini sudah berada dalam kendali musuh." Benak Lusio.
Sementara di atas langit benteng ampt..
"Menarik sekali, besar juga nyalimu manusia." Balphegor melihat Linda.
Wanita berambut hitam pekat itu.. Memakai jubah hitam yang menutup tubuhnya dari atas sampai bawah. Sebuah jubah sihir kerjaan Nusantara.. Matanya bulat dengan bulu mata yang cukup lentik, tinggi badannya sekira 165 cm, saat ini wanita itu berusia 41 tahun.
"Hahahaha.. Dasar kakek peot." Ucapnya.
Aura mereka berdua terasa berbeda, mereka saling menyerang.. Serangan tak kasat mata untuk menjatuhkan mental masing-masing. Tapi.. Sepertinya pertarungan aura itu berakhir imbang.
"Sungguh aura yang sangat besar.." Pistris melihat dari bawah sambil menelan ludah.
Mereka berdua masih tak bergerak.. Lalu.
__ADS_1
"Vetus inspiratione." Balphegor menyerang terlebih dahulu dengan tangan kirinya yang mengeluarkan butiran api beruntung ke arah Linda.
Dengan sigap.. "Anulum aqua.." Linda membalas dengan sihir airnya.
Mereka berdua terbang ke segala arah sambil saling serang menggunakan sihir. Pertarungan mereka di atas langit seperti sebuah pertunjukan kembang api.. Ledakan terdengar terus menerus..
"He-hebat sekali!!" Ucap Pistris yang melihat pertarungan itu.
"Vetus inspiratione.." Lagi Balphegor menyerang beruntung
Linda tiba-tiba menghilang..
"Hah! Cih, sihir ruang kah!?" Ucap Balphegor.
Balphegor memperkuat pertahanannya dan bersiap untuk serangan kejutan. Dia menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberatan Linda saat ini.
"Di atas.." Ucapnya menengok ke atas.
Sebuah serangan sihir es berbentuk tombak menyerang Balphegor dari atas.. Balphegor menghancurkan serangan itu dengan sihir api miliknya.
"Dasarr manusia.. Jangan bersembunyi!! Keluar kau.."
Serangan yang sama tiba-tiba datang dari arah depan Balphegor. Tapi lagi-lagi ia berhasil menahan serangan itu dengan sihirnya
Sementara itu..
"Kekuatan yang sangat gila." Lusio yang masih bersembunyi terlihat kagum melihat pertarungan yang terjadi saat ini di atas langit.
Lalu di depan kastil..
"Sial.. Mereka terus berdatangan!" Salah satu kesatria terlihat sudah mencapai batas.
"Jangan mengeluh.. Bahkan jika harus mati, Keluarkan semua tenaga kalian!!" Moro berteriak.
Bunyi hantaman senjata terdengar.. Peperangan terasa masih panjang..
10 menit sebelum matahari terbit...
"Calor peccatum.." Lingkaran sihir besar bercahaya di telapak tangan Balphegor.
"Apa ini!?" Benak Linda.
"Di situ kau rupanya!? Igne irae." Balphegor berhasil mendeteksi keberadaan Linda dan menyerang dengan serangan kuatnya.
"Vehementissimo imbri."
Hantaman lagi-lagi tak terhindarkan..
Lalu Linda kembali menghilang dan kali ini dia tepat berada di belakang Balphegor. "Hah!! Tid.." Kata Balphegor
Lalu Balphegor terlempar jauh ke arah selatan karena serangan mendadak dari Linda. Dengan kecepatan yang cepat, Linda mengejar Balphegor.
Balphegor berhasil menyeimbangkan kembali tubuhnya. Terlihat luka di bagian perut sebelah kirinya akibat serangan dari Linda.
"Siall.. Kuat juga wanita itu."
__ADS_1
"Yo.!!!" Linda saat ini berada di belakang Balphegor.
"Hah! Sejak kapan."
"Magia creaturae : Aquila Ventus." Kata Linda.
"Aahhhh." Balphegor kembali terlempar karena serangan sihir angin yang di keluarkan oleh Linda.
Balphegor terlempar ke tempat semula yaitu ke arah kastil dan terjatuh di tengah-tengah peperangan antara kesatria dan pasukan iblis.
Hantamannya cukup keras hingga membuat tanah berlubang.
"it-itu iblis." Ucap salah satu kesatria yang melihat Balphegor.
Dengan sihir ruang.. Linda Tiba-tiba berada di depan Pistris.
"Nyonya Linda..!!" Pistris mendekat.
Sementara Linda berjalan mendekat ke arah Balphegor yang masih belum bergerak.
"Adedehh.. Huh.. Ternyata cuma segitu. HAHAHAHA! Yang besar cuma bicaramu saja." Kata Linda memprovokasi Balphegor yang mengeluarkan banyak darah.
Balphegor tersenyum.. "Refectionem.." Ucapnya.
"Hah!!" Linda mundur dengan cepat tapi.. Pistris yang bersama dengannya masih berada di depan Balphegor yang mengeluarkan sihir aneh.
"Manusia hiu.. Awass!!!"
"Oriflameeee..." serangan sihir api menyerang Pistris yang belum beranjak dari tempat itu.
Linda menghilang, seketika berada di depan Pistris dan menghalau serangan Balphegor..
"Stimulum.." Balphegor mengeluarkan sihir dengan cepat.
Linda yang saat ini menghalau serangan pertama dari Balphegor terkejut dengan serangan kedua yang datang secara tiba-tiba.. Saat itu juga,
"Nyonya Linda.." Pistris terkejut melihat darah keluar dari mulut Linda akibat terkena serangan sihir dari Balphegor.
"Si-sial." Ucap Linda tersungkur akibat luka yang ia derita.
"Hahahahaha.. Sekarang siapa yang tertawa!" Balphegor terbang kembali ke atas sambil mengepakkan sayap kalelawarnya.
Linda menengok ke atas.. "Si-sihir regenerasi kah!?" Ucapnya melihat tubuh Balphegor kembali seperti semula bahkan setelah terkena serangan kuat darinya.
Langit yang tadinya gelap.. Perlahan mulai bercahaya, sumber cahaya berasal dari timur.. Sepertinya matahari mulai menampakkan dirinya.
"Kau membuang-buang waktuku. Sekarang saatnya kalian semua mati." Ucap Balphegor melihat matahari terbit.
Balphegor bersiap menyerang.. Dia menggunakan semua kekuatannya untuk menyerang dan membunuh para kesatria dan penduduk yang berada di bawahnya dalam sekali serang
"Sancta virgo.."
Sebuah serangan menghangam dari arah belakang dan membuat Balphegor terkejut.
Semua yang berada di tempat itu melihat ke arah serangan itu datang.. Ternyata yang menyerang Balphegor adalah Sebastian bersama dengan Ain yang saat ini berlari ke arah mereka.
__ADS_1
-Bersambung-