The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 119 - Pemanasan : Richard VS Rever


__ADS_3

Malam semakin gelap, bulan yang berbentuk sabit sebentar lagi akan tepat berada di atas mereka semua, mereka yang saat ini masih berdiri tertegun melihat sosok iblis bertubuh manusia datang menyerang, iblis yang kedatangannya bisa menjadi petaka bagi mereka yang melihatnya.. Hampir, jika saja...


"Ti-tidak mungkin! Orang itu, siapa dia sebenarnya?" Eros melihat ledakan yang terjadi, ia juga tahu jika serangan petir hitam yang di keluarkan oleh Rever bisa membunuh siapapun yang terkena langsung serangan itu, tapi Eros terkesima melihat pria bermata merah yang datang menyelamatkan Kane dan bisa menghalau serangan Rever tanpa terluka.


Kesatria dan prajurit yang masih bertahan juga diam tak berucap, mereka semua takjub dengan kehebatan pria bermata merah yang ingin mereka tangkap sebelumnya.


Kane yang terlentang di bawah kaki Richard juga tak mengedipkan mata saat melihat pria yang ingin ia tangkap itu tidak terluka sama sekali bahkan tidak goyah meski mendapatkan tekanan luar biasa dari Rever yang hampir membunuhnya. "Kau.. Ba.. Baik-baik saja kah?" Tanya Kane tercengang melihat kondisi Richard setelah serangan.


Sementara itu, Luca Crollo yang melihat kemunculan Richard mengatakan sesuatu pada Rever. "Jadi dia.. Yang telah membongkar penyamaran mu selama 15 tahun ini?" Kata Rever merespon perkataan Luca Crollo yang mendekat.


Richard yang baru sadar jika sosok di depannya itu adalah Rever merasakan tegang sekaligus merasa bersemangat, jantungnya terpacu sangat cepat karena ia ingat betul bagaimana mengerikannya Rever saat di dalam labirin dan membuat ia terjatuh lalu terjebak dalam labirin selama satu tahun.


Itu adalah pertemuan pertama mereka, pertemuan pertama yang merubah kondisi Richard menjadi seperti sekarang. "Sial.. Aku baru keluar dari labirin dan sekarang harus menghadapi iblis kuat." Richard bergumam, sambil tersenyum puas.


Mata mereka bertemu, Rever menatap mata merah darah Richard dengan tatapan tajam penuh dengan intimidasi. Gelombang aura besar di rasakan oleh hampir semua orang yang ada di tempat ini sekarang, pertarungan dimulai dengan tabrakan aura luar biasa yang membuat prajurit merinding sampai prajurit yang bermental lemah, mereka pingsan satu persatu.


"Oi.. Ada apa denganmu!?" Salah satu kesatria melihat prajurit yang memegang pedang pingsan karena tak bisa menahan tekanan yang begitu besar, tak hanya satu tapi dua, tiga, empat dan lima... Total prajurit yang pingsan tiba-tiba karena tekanan berat dan pekat dari aura Rever dan Richard ada delapan orang.


"Yang benar saja!?" Eros melihat sekitar, ia berkeringat kala melihat satu persatu prajurit tumbang tak sadarkan diri.


Sementara itu Richard tersenyum, ia tercengang bukan karena takut. Tapi karena ia mengingat kembali apa yang telah terjadi dengannya setahun yang lalu kala semua kesatria suci dikalahkan dengan mudah oleh Rever. Adrenalin Richard terpacu sehingga ia tak bisa menenangkan dirinya seperti dia melawan semua monster dan iblis sebelum Rever. "Sial.. Hehe, aku terlalu tegang!" Gumamnya.


"Tuan.. Orang itu berbahaya. Dia bisa jadi ancaman sebelum hari kiamat datang." Luca Crollo bahkan mengakui kekuatan Richard, setelah hampir mati dua kali karena terkena pukulan telak. Ia cukup beruntung karena bisa dipulihkan oleh Rever mengingat kekuatannya sangat di sukai oleh Rever.


"Apa kau tahu informasi dari orang itu?" Rever bertanya pada Luca Crollo sambil terus menatap dan waspada dengan Richard karena ia tahu, lengah sedikit saja maka itu akan berakibat fatal untuknya saat ini.


"Tidak tuan.. Mengingat dari perlakuan kesatria pada pria itu sepertinya dia bukan bagian dari kesatria kerajaan. Aku juga baru bertemu dengannya malam ini, jika bukan dia mungkin penyamaran ku saat ini belum terbongkar." Kata Luca Crollo.


Sementara itu, tak jauh dari kastil tempat ledakan aura bertemu. Di bawah pohon lebat, dimana Woli dan Irish berada.


"Apa??? Kesatria Ignis?"


"Hehe.. Iya betul. Orang yang telah menyelamatkan kita adalah tuanku, Richard.." Woli mengangkat jempolnya ke arah Irish, ia terlihat sangat senang meski momennya tidak terlalu tepat.


"Wahh.. Keren, waahh.. Aku diselamatkan oleh kesatria suci!? WAAHHH..!" Wajah Irish berbunga kala ia mengetahui jika orang yang menyelamatkan dirinya adalah salah satu kesatria suci yang melegenda sebagai kesatria yang ditakdirkan membawa perdamaian pada daratan Neverland.


"Hehe.. Aku sudah bilang kalau dia belum mati, intuisi manusia serigala tidak pernah meleset!" Woli membangga-banggakan dirinya. Lalu ia kembali tertunduk. "Tapi tetap saja, jika melihat kondisimu saat ini.. andai saja aku bisa datang lebih cepat!" Woli tetap menyalahkan dirinya atas apa yang telah menimpa Irish


"Aku senang." Irish tersenyum.. "Aku senang kamu datang menyelamatkanku dan aku juga senang karena Woli bisa bertemu dengan kesatria Ignis." Lanjutnya.


Di saat bersamaan.. Mereka berdua merinding kala merasakan dua aura meledak secara bersamaan. "Huh! Tu-tuan Richard." Woli sedikit khawatir. "Kenapa.. Kenapa tuan Richard kembali ke kastil itu? Padahal dia sudah menyelamatkanku dan Irish." Woli melihat ke arah kastil.


"Maaf.. Aku sedikit egois. Aku mengatakan padanya jika adik ku saat ini berada di tempat salah satu kesatria bernama Eros." Irish menunduk, ia terlihat cemberut dan menyesal karena ucapannya itulah yang membuat Richard kembali ke kastil.


"Ahh.. Belle? Sialan kesatria itu. Dia sudah membuat Irish seperti ini dan sekarang dia juga menyandera Belle..!"


"Woli.. Tenanglah. Aku tidak tahu keberadaan Bell tapi aku rasa kesatria bernama Eros itu tidak punya niat buruk." Irish mengangkat wajahnya dan menatap Woli.


"Aku akan mencari Belle.." Saat Woli berdiri, ia kembali merasa nyeri atas luka yang ia derita di sekujur tubuhnya.


"Hem hehe.. Tetaplah di sini Woli, percayalah pada tuan Richard."


"Irish... Iya." Woli tersenyum canggung, dalam Hati ia sedikit ragu dan ingin membantu tapi tubuhnya sudah tidak bisa bergerak sebagaimana mestinya, ia butuh istirahat saat ini.


Kembali ke kastil.. Lebih tepatnya di taman depan kastil. Meski diam tapi sejatinya pertarungan mental telah terjadi sejak pertama mata mereka saling menatap.


"Oi.. Kau tidak papa!" Eros melihat kesatria yang ada di sebelahnya goyah kehilangan keseimbangan, ia muntah karena tak sanggup bertahan lebih lama di tengah tekanan yang sangat berat ini.


"Mereka berdua.. Siapa yang akan menyerang lebih dulu!" Kata Eros mengamati Richard dan Rever. Eros benar-benar tertegun karena baru kali ini dia bisa melihat orang lain yang bukan kesatria agung mampu berdiri di depan iblis level 6 dosa besar tanpa guncangan mental.


"Manusia ini tidak goyah! Siapa dia? Kenapa baru muncul sekarang?" Rever bertanya dalam hatinya.


"Bagaimana tuan Rever? Apakah anda akan melawannya?" Luca Crollo bertanya, lalu Rever merespon dengan dingin. "Tidak.. Belum saatnya, lagi pula pria itu bukan ancaman. Aku sudah cukup merasakan imperium besarnya, dia memang punya potensi tapi aku masih bisa mengatasinya jika aku mengerahkan seluruh kekuatanku." Gumam Rever dengan sangat percaya diri.


"Lebih baik kita pergi dan mengatur rencana agar tuan Behemouth bisa segera keluar dan muncul di wilayah ini. Sangat di sayangkan sampai saat itu tiba, justru penyamaran mu terungkap." Lanjut Rever.


"Maafkan aku tuan.." Luca Crollo menunduk karena tak bisa mempertahankan posisinya sebelum kemunculan salah satu ancaman kiamat lain.


Setelah mengatakan itu, sebuah portal terbuka di belakang mereka. Rever menurunkan intensitasnya dan berbalik arah menuju portal bersama dengan Luca Crollo yang mengekor dari belakang. Meski sangat mengintimidasi tapi bagi Rever, pria bermata merah yang ada di depannya bukan ancaman besar karena Rever menganggap hanya ada satu ancaman yaitu para kesatria suci.


"Heh.. Sepertinya tidak akan terjadi pertarungan!" Kata Eros yang melihat Rever berbalik menuju portal yang terbuka.


Sedangkan Kane tercengang karena Richard berhasil lepas dari perhatiannya setelah dari tadi dia memeluk dan memegang kaki kiri Richard dengan erat. "Bagaimana dia bisa bergerak tanpa aku sadari." Ucapnya kala melihat Richard yang saat ini menghadang Rever tepat di depan portal.


Richard menyerang, tubuhnya bergerak secara spontan karena adrenalin yang memicu semangatnya untuk bertarung dengan lawan kuat seperti Rever. Sontak Luca terkejut melihat Richard muncul di depan mereka saat ini, lalu sesaat kemudian.


Pukulan tangan kanan dilayangkan Richard pada Rever.. Hantaman itu memicu kejut yang membuat angin terhempas dan menerbangkan debu dari tanah serta dedaunan kering yang ada di sekitar.

__ADS_1


Semua orang terkejut karena hal itu, mereka melotot kala melihat Rever menangkis tinju berat yang diarahkan padanya. "Hebat!!" Richard tersenyum, ia sangat puas. "Seperti yang diharapkan dari iblis level atas." Gumamnya menatap tajam.


Dengan cepat Rever bereaksi dengan menggerakkan kaki ke atas lalu mengayunkan tendangan ke arah kepala sebelah kiri dari Richard. Sangat cepat hingga Richard terdorong ke samping kanan, tapi ia tak terjatuh dan masih berdiri karena berhasil menangkis tendangan cepat itu dengan dua tangan yang menutupi kuping kirinya.


"Aaaa.. Apa itu barusan!" Eros beserta kesatria lain kembali dibuat takjub.


Sementara itu Richard berdiri setelah memperbaiki kuda-kudanya. "Huh... Hampir saja!" Ucapnya.


Rever berbalik ke arah Richard, ia menatap Richard dengan tatapan rendahnya. "Hoi.. Manusia, jangan sombong.. Sadari posisimu!" Setelah melakukan itu, ia menerjang dan mengarahkan pukulan, Richard yang bereaksi menunduk ke kebelakang lalu salto dan melompat ke atas.


Rever yang berlalu kemudian berbalik, ia juga melayang ke arah Richard yang saat ini berada di udara. Seketika.. Pergerakan mereka menjadi sangat cepat dan pertarungan pun terjadi. Hentakan demi hentakan yang terlihat merupakan dampak dari saling pukul dan adu kekuatan yang terjadi antara mereka berdua.


"Gawat! Tuan Rever marah! Jika sudah begini orang itu pasti akan mati. Khikhikhi." Luca Crollo berdecit.


Lalu dari arah pertarungan. "Sadari dirimu manusia rendahan!" Rever mengeluarkan sepasang sayap hitamnya dan melaju menghantam Richard dengan tinju yang kemudian dapat di tangkis oleh Richard dengan dua tangan. Pertarungan mereka terlihat imbang dimata para kesatria yang melihat. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan pertarungan dahsyat itu.


"Os gladio." Rever mengeluarkan tulang panjang yang tajam, lalu ia gunakan tulang itu sebagaimana pedang dan langsung menyerang Richard.


"Hem.. Jika kau menggunakan tulang, maka aku menggunakan pisau dari taring monster." Gumamnya mengeluarkan pisaunya lalu menangkis tebasan Rever.


Mereka melanjutkan pertarungan dengan adu senjata, percikan api dari gesekan senjata mereka tercipta. Percikan itu sekilas terlihat seperti sebuah percikan kembang api saking panasnya gesekan senjata yang terjadi.


Sesaat kemudian Richard sedikit lengah di tengah pertarungan sengit, ia menunduk untuk menghindari tendangan Rever tapi tendangan itu malah mengarah ke bawah dengan tumit dari Rever mengenai bahu kiri Richard yang menyebabkan ia terjatuh ke bawah dengan cepat dan menghantam tanah, hantaman yang keras itu menyebabkan retak dan bilang yang cukup dalam.


Satu kesempatan untuk menyerang tak di sia-siakan oleh Rever, dengan kepakan sayap ke bawah ia menyusul Richard dan langsung memukul Richard beberapa kali. Setiap pukulan yang menghantam Richard disertai dengan getaran tanah yang hebat.


Pada satu momen saat Richard terdesak karena pukulan itu, ia memegang tangan kanan Rever dan melempar Rever ke udara. Dengan segala kekuatannya, ia bangkit kembali. "Sial.. Huh.. Uh huh.." Richard mengeluarkan darah akibat pukulan itu.


Rever melayang di atas langit melihat ke bawah setelah ia berhasil di lempar oleh Richard. Richard yang sempat terdesak lalu menerjang dengan cepat menggunakan dorongan api pada kakinya seperti dorongan roket yang meluncur ke angkasa. Ia menerjang dengan pisau/belatinya tapi Rever menghindar kebelakang, Richard mengangkat kaki dan berbelok dengan manuver luar biasa. Rever tak bisa membaca gerakan itu dan diapun terdesak hingga belati yang di pegang oleh Richard menggores pipi kanannya.


Mereka berdua menjaga jarak.. Richard melayang dengan api di kedua kakinya sedangkan Rever melayang dengan kepakan sayap hitamnya.


"He-hebat sekali.."


"Luar biasa.. Orang itu."


"Wahh."


Para kesatria yang menyaksikan terlihat sangat bersemangat.


"Manusia!!! Kau harus membayar darah yang menetes ini." Rever meledak, ia meningkatkan kekuatannya. Seperti gelarnya, semakin ia marah maka semakin kuat pula dirinya.


Para kesatria yang merasakan hal itu kembali terdiam sementara Richard tersenyum. Bersamaan dengan senyum itu, ia terhempas ke bawah dengan tendangan keras setelah Rever menyerang sebelum Richard bereaksi. Ia terhempas ke bawah dan sebelum menyentuh dan menghantam tanah ia kembali di tinju oleh Richard tepat di perut dengan keras setelah Rever berpindah tempat dari atas ke bawah dengan kelincahannya.


Richard terdesak, ia kehilangan keseimbangan. "Interfectorem fulgurel nigrum." Rever menyerangnya dengan petir hitam miliknya, setelah lingkaran sihir muncul di telapak tangannya. Petir itu mengenai Richard yang melayang kehilangan keseimbangan, ia pun terjatuh dengan tubuh yang mengeluarkan asap karena terkena petir hitam.


Ia terjatuh, sebelum sampai di tanah ia memperbaiki posisi sehingga ia berhasil mendarat dengan kedua kakinya. "Sial.. Dia tambah cepat." Gumam Richard.


"Huh!!" Richard terkejut setelah melihat Rever kembali menyerangnya, ia menghindar ke kiri setelah itu mengarahkan belatinya tepat di perut Rever dengan tangan kanan yang ia tarik dari arah kiri dengan cepat.


Rever menangkis dan memegang tangan kanan Richard dengan tangan kirinya lalu mengeluarkan tulang tajam dari telapak tangan kanannya dan mengarahkan tulang tajam itu langsung ke kepala Richard.


"Brachiumig." Api menyala pada telapak tangan Richard yang di pegang oleh Rever, spontan karena panas Rever melepaskan genggamnya dan mundur ke belakang setelah Richard hampir memukul wajahnya dengan tinju api.


"Tch!!" Rever mengumpat, ia tak pernah bertarung seperti ini. Terakhir kali ia bertarung habis-habisan seperti ini kala menghadapi Rein dan Snijder. Dua orang kesatria agung yang membuat ia terluka 5 tahun yang lalu saat ia muncul kembali setelah 10 tahun sebelumnya dikirim kembali ke Darksideland setelah semua kesatria suci berkorban untuk menutup kembali segel dimensi yang memisahkan kedai daratan.


"Hampir saja.. Ahh. Sial aku terlalu tegang. Aku terlalu menikmati pertarungan ini.. Sial, hehe." Richard dengan tatapan mata merah darah tersenyum. Ia terlihat sangat senang, matanya seperti monster yang haus akan pertarungan.


Eros yang melihat tak habis pikir. "Siapa orang itu.. Dia tersenyum, dia tersenyum melawan Rever sang dosa kemarahan!" Gumamnya.


"Aku mangakuimu manusia... Hahahaha!" Rever tertawa. "Sekarang aku akan memperlihatkan keputusasaan pad..." Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Richard langsung menghantam perunya dengan tinju api.


Rever terdesak. "Sialan!" Dan Richard kembali menyerang.. Kali ini serangan bertubi-tubi, Rever terkena serangan fatal, total ada sepuluh pukulan beruntun yang mengarah ke perut dan wajahnya lalu pukulan terakhir yang Richard layangkan membuat ia melayang terdorong ke belakang menghantam kastil dan membuat tembok bangunan kastil yang ia hantam runtuh.


"Tuan Rever!!!" Luca Crollo berteriak begitu melihat Rever terpental tanpa bisa melawan.


Richard tidak berhenti, ia mengeluarkan api yang kemudian memenuhi kedua tangannya lalu mengarahkan tangannya itu ke arah Rever terlempar. Seakan tahu Rever akan bangkit, Richard siaga dan saat reruntuhan itu bergerak karena Rever yang bangkit sambil menatap dengan marah.


Saat itu juga Richard langsung menyerangnya. "Maxime miris tragoediis.... Arrgggggg!" Richard menyerang dengan nyala api yang membakar semua bangunan termasuk Rever yang baru saja bangkit dari reruntuhan. "Arrgggggg..... Mati kau iblis!!! Makan api ini!!" Teriaknya yang terus mengeluarkan api dari kedua tangannya.


Para kesatria yang berada cukup jauh dari pertarungan itu merasakan hawa panas yang membuat mereka berkeringat. Bahkan zirah yang mereka kenakan menjadi panas dan membuat mereka kesakitan.


"Oi oi.. Orang itu!" Kane yang berjalan sempoyongan mendekat ke arah Eros, ia tak mengira jika pria bermata merah itu bisa memojokkan Rever seperti ini.


"Ah tuan Kane, bagaimana keadaanmu?" Eros memegang Kane yang terluka cukup parah karena melawan Rever.


"Aku tidak papa, tapi.. Orang itu, dia bisa memojokkan Rever atau mungkin saja saat ini dia bisa mengalahkan Rever." Tegas Kane.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, langit malam berubah dengan adanya kumpulan awan hitam yang bergemuruh. Awan hitam itu menutupi bulan sabit dan bintang hingga malam menjadi lebih gelap dari sebelumnya.


Dari arah reruntuhan terdengar suara."Sihir tingkat atas... Hukuman bentuk kedua... Quod poenam."


Bersamaan dengan hal itu, awan hitam yang bergemuruh mengeluarkan kilat hitam.. Itu adalah serangan petir hitam yang pernah Rever gunakan untuk melumpuhkan seluruh kesatria suci saat mereka bertemu sebelum para kesatria suci mencapai Ibu kota kerajaan Celestial.


Serangan petir hitam raksasa yang muncul dari awan hitam di langit mengarah tepat ke bawah dimana Richard berada.. Richard terkejut dan terlambat bereaksi hingga ia terkena serangan itu.. Serangan kuat itu membuat area sekitar menjadi hancur berantakan, sangat cepat hingga para kesatria hanya bisa menganga.


Bersamaan dengan hal itu, Api yang dikeluarkan oleh Richard padam dan setelah serangan petir itu hilang tubuhnya kembali mengeluarkan asap hasil dari sengatan petir hitam. Ia berdiri tertunduk dan tak bergerak, mematung dengan luka serius yang nampak dari ekspresi wajahnya. Beberapa tubuhnya juga mengalami lebam akibat serangan yang sangat fatal itu.


"Sialan... Manusia..!" Rever terbang, ia terlihat sangat marah. Matanya menyala bersamaan dengan petir hitam yang ia keluarkan sementara tubuhnya terluka dan melepuh akibat dari serangan api yang dikeluarkan Richard.


Bisa dibilang mereka berdua terkena luka yang sama saat ini, Richard terluka karena petir sedangkan Rever terluka karena api.


"Khe. Khikhikhi.. Seharusnya aku tidak mengkhawatirkan tua Rever. Seperti reputasinya sebagai yang terkuat dari 6 dosa besar.. Khikhikhi.. Semakin ia marah maka semakin ia kuat." Gumam Luca Crollo melihat pertarungan yang terjadi.


"Ada apa manusia? Hanya sampai di sini kah?" Rever berteriak, saat ini ia semakin bergairah karena bisa bertarung dengan Richard. Rever yang saat ini tampak lebih kuat, tubuhnya dipenuhi kilat hitam dan langit juga masih bergemuruh.


Richard kehilangan keseimbangan, di saat akan terjatuh ke depan ia membuka mata. Lalu menerjang dengan cepat ke arah Rever memegang belatinya. "Panas membara, Api suci pembunuh iblis : Calidus ignisinfernum." Belatinya terbakar bersama dengan tubuh Richard, ia menerjang seperti meteor dan saat mencapai Rever ia menebas, Rever bereaksi dengan cepat tapi....


Ledakan terjadi dan api menyambar, Richard berhasil memotong lengan kiri Rever dengan tebasan api panasnya. Lengan Rever yang terpisah itu terbakar dengan cepat hingga menjadi abu sesaat kemudian Rever menendang Richard yang masih melayang, Richard meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi dan menghantam tanah.


"Arrgggg!!!" Rever kesakitan, memegang lengan kirinya. Ia kesakitan karena merasakan panas luar biasa.


"Brengsek....!! ARRGGGGGGG." Rever berteriak, matanya kembali bercahaya dan sebelum Richard bangkit ia kembali menyerang dengan sihir petir hitamnya. "Sihir tingkat atas... Hukuman bentuk kedua... Quod poenam."


Seketika petir hitam besar yang bergemuruh menghantam Richard yang masih tersungkur di atas tanah. Petir itu menyambar dari langit dengan sangat cepat dan meledakkan tanah beserta Richard yang terbaring di atasnya.


"Gila.. Ini pertarungan yang gila." Eros hanya bisa mengatakan hal itu, kala melihat hal yang baru saja terjadi.


"Aarrgghhhhh... Panas, panas.. Argggg." Rever memegang tangan lengan kirinya yang telah terpotong, ia masih bisa merasakan api yang membakar lengannya menjadi abu sejak tadi.


Karena kesakitan, ia turun perlahan hingga kakinya menginjak tanah. Ia berlutut dan terus merasakan panas yang semakin lama membuat ia semakin kesakitan. Luca Crollo yang melihat hal itu mendekat. "Tuan.. Tuan, kau tidak papa!?" Luca Crollo pin terlihat khawatir kala melihat ekspresi Rever saat ini, bahkan di pertarungan 5 tahun yang lalu menghadapi 2 orang kesatria agung sekaligus, ia tidak mengalami hal yang saat ini Rever alami.


"Arrgg.. Sial, sial aku terlalu meremehkan orang itu!" Mata Rever tak berkedip, ia terus menatap ke arah Richard yang masih belum bangkit akibat serangan petir hitam yang mengenainya.


Ia ingat sesaat sebelum tangannya berhasil di tebasan dengan tebasan api yang sangat panas. Ia ingat saat ia berhasil menghindar dengan gerakan cepat dari kecepatan kilat hitamnya tapi Richard memutar badan dengan dorongan api di kakinya sehingga Richard berhasil mengenai lengan kirinya hingga teropong.


"Padahal aku sangat yakin aku bisa menghindari serangan itu.. Sial, arrggg.. Panas, panas!!!" Rever berlutut memegang lengan kirinya.


Apa yang Rever katakan ada benarnya, ia telah menghindar dengan sempurna tapi gerakan Rever sudah di prediksi oleh Richard karena indera yang ia memiliki telah jauh berkembang dari makhluk manapun.


Rever berdiri memegang lengan kirinya, ia berniat menyelesaikan pertarungan ini. Ia berniat membunuh Richard, apa lagi setelah Richard terkena serangan petir hitam raksasa 2 kali berturut-turut sudah tampak lesu dan tak bisa bangkit lagi.


Tapi, di luar dugaannya.. Ketika Rever berjalan mendekat, Richard malah berdiri, meski sempoyongan tapi ia tersenyum dengan tubuh yang masih mengeluarkan asap dampak dari petir hitam yang menyambar dirinya. Ia tersenyum ke arah Rever dengan mata merah yang menatap tajam.. "Ayo kita lanjutkan!" Ucapnya lirih.


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2