
Di tengah-tengah kuburan massal yang telah mereka buat. Salah satu kesatria suci terlihat duduk dan memegang kedua tangannya, seperti orang yang sedang berdoa.
Meski membutuhkan waktu yang agak lama dari perkiraan, akhirnya para kesatria suci berhasil menguburkan semua penduduk desa yang telah dibunuh oleh iblis dan telah dirubah menjadi zombi.
Setelah melakukan tugas melelahkan itu, salah satu kesatria sedang khusyuk melakukan doa, hal yang ia harus lakukan karena itu adalah kepercayaannya. Sementara yang lain terlihat duduk sambil menunggu kesatria itu menyelesaikan ritualnya.
"Tuan Arthur.. Di depan sana, sedang terjadi perang antara kesatria kerajaan Celestial dengan para iblis."
Di saat mereka sedang menunggu salah satu kesatria yang melakukan semacam ritual itu, salah kesatria kerajaan Inggram yang mengintai di depan datang melapor kepada mereka semua.
"Bagaimana situasinya?"
"Perang itu terlihat sengit tapi sepertinya para kesatria Celestial bisa bertahan."
"Baguslah kalau begitu." Arthur mengelus dada sambil memperhatikan rekannya yang masih duduk di tengah kuburan massal penduduk.
Sepertinya di depan sana, telah terjadi perang antara kesatria kerajaan Celestial dengan pasukan iblis yang berniat menyerang kota Gouda. Arthur sebenarnya ingin segera menuju ke tempat itu tapi ritual yang dilakukan salah satu rekannya belum selesai dan karema itu dia harus bersabar menunggu sampai rekannya selesai melakukan ritual doa kepada semua penduduk yang telah meninggal.
"Ne.. Ne.. Arthur, apa yang sedang di lakukan orang itu?" Rebecca menarik jubah Arthur dan menunjuk rekannya yang masih terlihat duduk sambil memejamkan mata.
Arthur menoleh ke arah Rebecca. "Dia sedang berdoa.. Itu adalah ritual kematian dari dunia tempatnya berasal."
"Huadehh." Smits hanya bisa menghela nafas karena bodan menunggu.
"Tch.. Aku pikir dengan meninggalnya Richard, maka tidak ada lagi orang yang merepotkan tapi ternyata masih ada orang aneh lain di kelompok ini."
"Rinto.. Jaga bicaramu." Diana menegur Rinto saat melihat Ekspresi sedih Ivy yang mendengar perkataan Rinto tentang Richard.
"Kenapa? Ada yang salah!! Memang benar kan? Rinto bersikeras.
"Sudah.. Sudah.. Hehe. "Gildarts melarai.
Di tengah keributan mereka, Leo mendekati Arthur sambil memegang pundaknya.
"Arthur..."
"Leo.. Ada apa?"
"Aku masih tidak mengerti tentang orang itu." Kata Leo melihat ke arah rekannya yang masih duduk sambil berdoa.
"Dia tidak hanya membuang-buang waktu kita di sini, tapi selama ini dia hanya berbicara denganmu, dia juga hanya mendengarkanmu. Apa tidak apa-apa jika di biarkan seperti itu?" Kata Leo.
"Haah.. Aku juga berpikir seperti itu. Aku sudah sering menasihatinya tapi dia selalu saja mengelak. Katanya dia malu berbicara dengan kalian semua." Balas Arthur.
__ADS_1
"Ahh.. Sudahlah, lagi pula dia juga cukup hebat.." Leo menghela nafas.
Tak lama kemudian, kesatria yang memakai zirah hitam itu berdiri. Ia berbalik sambil menenteng pedang besar di pundaknya. Kesatria itu mendekati Arthur dan berbisik pada Arthur.
"Yossss.. Sudah selesai." Kata Arthur saat menerima bisikan dari kesatria berziarah hitam itu.
"Saatnya kita melanjutkan perjalanan." Arthur melanjutkan sambil menunjuk jalan.
Seketika mereka semua berdiri dan berjalan ke arah kendaraan mereka.
"Haduehh.. Akhirnya selesai juga." Smits berdiri dari tempatnya.
"Tch.. Benar-benar merepotkan." Gumam Rinto.
"Sudah.. Sudah.. Hehe." Gildarts mengambil peran.
Mereka semua akhirnya melanjutkan perjalanan. Di atas kuda Arthur berbicara dengan salah satu kesatria Inggram.
"Berapa jauh tempat ini dari tempat peperangan yang terjadi?"
"Tidak terlalu jauh, sekitar 20 menit lagi kita akan segera melihat mereka." Kata seorang kesatria Inggram.
Sementara itu.. Jauh di arah timur daratan Neverland.
"Brengsekk, apa yang sebenarnya iblis itu pikirkan!" Depone memukul meja hingga hancur di sebuah tenda yang terletak di pelabuhan kota Kander.
Pasukan itu sebagian adalah monster dan sebagian lagi adalah iblis level rendah. Dari hasil pengintaian pasukan pertahanan pelabuhan kota Kander, bahwa iblis yang mereka hadapi di pulau irian sebelumnya tidak terlihat berada di antara pasukan itu.
Iblis yang mereka maksud adalah Lucifer dan 5 iblis kuat bawahannya. Hal itu membuat Depone sebagai kesatria yang memimpin pasukan pertahanan bingung dan tak bisa menebak pergerakan apa yang akan di lakukan oleh pasukan iblis itu.
"Tuan Depone.. Sebaiknya kita serang mereka terlebih dahulu. Ini adalah kesempatan emas kita!" Pria tua berjenggot putih itu berdiri dari tempat duduk sambil menyuarakan ide penyerangannya.
"Tidak.. Tunggu sebentar tuan Arie.. Anda tidak tau apa yang terjadi di pulau irian saat kami menyerang mereka. Itu.. Itu benar-benar menghancurkan formasi kami." Jons, kesatria dari kerajaan Dongion ikut bersuara.
"Sayang sekali tuan Arie, tapi apa yang di katakan tuan Jons itu benar.. Kita tidak tau apa yang di rencanakan oleh para iblis sialan itu." Salah satu kesatria lain membenarkan apa yang di katakan oleh Jons.
"Tch.. Setakut itu kah kalian setelah dikalahkan oleh iblis." kesatria besar Arie mengumpat kesal.
Kesatria Besar Arie Latus adalah kesatria kerajaan Nusantara yang memimpin pasukan di kota Kander ini. Meski usianya sudah kepala lima tapi ia tetap sangar dan gahar jika sedang bertarung dengan lawannya.
"Mohon maaf.. Tuan Arie. Apa yang di katakan oleh mereka berdua ada benarnya." Depone menunduk di depan Arie.
Meski posisi Depone saat ini berada di atas Arie tapi ia masih menunduk karena menghormati Arie sebagai kesatria yang lebih senior darinya.
__ADS_1
"Tch.." Arie membuang pandangannya.
Di tengah pembicaraan mereka, seorang prajurit masuk ke dalam tenda dan memberikan informasi kepada mereka semua.
Informasi itu tentang 100.000 pasukan yang saat ini berlayar menuju ke pelabuhan kota Upang, letaknya berada di sebelah barat pulau cebes dan pasukan itu kemudian akan menuju ke kota Kander melalui jalur darat setelah pasukan itu tiba di pelabuhan kota Upang.
Pasukan itu dipimpin langsung oleh kesatria Agung kerajaan Nusantara Rein Wijaya.
"Hah!
"100.000!?"
"Tuan Rein."
"Wah.. Sebanyak itu.
Para kesatria yang berada dalam tenda itu mulai riuh.
"Apa yang di pikirkan oleh baginda raja. Kenapa mengirim sebanyak itu pasukan ke tempat ini!," Depone mengerutkan dahi karena bingung dengan keputusan raja Jolang.
Sementara itu..
Di tempat yang tak pernah tersentuh oleh cahaya matahari.. Tempat dimana tak ada tawa dan kebahagiaan.. Sebuah tempat oleh para iblis mereka sebut sebagai rumah..
Tempat itu berupa daratan yang bernama..
Darksideland..
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
'
-Bersambung-