The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 68 - Rencana Licik


__ADS_3

"Astharot.."


Mendengar namanya di sebut, iblis itu bersimpuh di depan Lucifer yang tengah duduk tenang di kursi tahta yang terbuat dari kumpulan tengkorak para kesatria yang kalah dalam perang mempertahankan pulau Irian.


"Siap tuanku." Ucapnya menunduk.


"Ada kabar terbaru dari Diablo?" Lucifer menggaruk-garuk keningnya, mungkin ia sudah tidak sabar ingin segera mengambil alih seluruh wilayah kerajaan Nusantara.


"Saat ini, Diablo masih berlayar menuju pulau Jatra tuan."


"Aku bosan.. Aku sudah tidak sabar ingin melihat pandangan kesengsaraan, tatapan dimana tidak ada lagi harapan tersisa." Umpatnya sembari membayangkan hal-hal tersebut.


"Tuanku.. Mohon maaf. Bersabarlah sedikit lagi." Salah satu Iblis yang berada di ruangan itu mendekat dan berlutut, sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh Astharot.


"Aku mengagumi caramu meramu strategi, tapi ini sudah terlalu lama. Aku sudah tidak sabar.." Lucifer nampaknya gelisah, sebagai iblis yang ambisius. Ia ingin segera mempersembahkan kemenangan pada raja iblis.


"Aku tau tuan, anda adalah yang terhebat, tapi pasukan yang mengarah sebanyak 100.000 itu ke pulau cebes tak bisa diremehkan. Apa lagi yang memimpin mereka adalah seorang kesatria agung." Iblis gemuk itu berdiri sambil mengusap kumis tebalnya.


"Itu merupakan sebuah blunder besar, membiarkan ibu kota kerajaan tanpa pertahanan. Memang, jika manusia sudah tamak maka mereka tidak lagi berpikir secara jernih." Tegasnya sekali lagi.


"Baiklah.., aku selalu suka cara licik mu. Hahahaha." Lucifer tertawa puas.


"Ada satu hal lagi tuanku.. Sepertinya dari hasil pertemuan ke 12 raja, menurut informan terpercaya. Kabarnya mereka sedang menyiapkan pasukan gabungan lagi untuk di kirim ke ibu kota kerajaan Nusantara." Astharot tunduk sambil mengatakan hal yang seharusnya dia tidak tau karena bagaimanapun pertemuan itu terjadi di dunia arwah.


"Tenang saja tuanku.. Mereka tidak akan sempat. Kita sudah akan menguasai ibu kota kerajaan bahkan sebelum mereka berlayar menuju pulau Jatra." Iblis gemuk itu kembali mengemukakan pendapatnya.


"Hahahahaha.. Aku tidak peduli. Lebih banyak musuh maka lebih banyak yang bisa aku bunuh." Lucifer menganggap enteng masalah itu. Hal yang wajar mengingat ia adalah iblis paling sombong di antara yang lain.


"Ya tentu saja tuanku. Andalah yang terhebat.. Terpuji lah wahai iblis yang akan di anugerahi laknat, terpuji lah." iblis gemuk itu membuat para pengikut Lucifer yang lain bersuara dan suara itu bergemuruh di sepanjang ruangan tahta di suatu kastil yang terdapat di wilayah pulau irian.


Sementara itu, di tengah laut dengan ombak yang relatif tidak terlalu mengganggu dan angin kencang yang semakin membuat layar kapal laut armada besar pasukan Rein Wijaya melaju cepat tanpa ada hambatan.


Di kapal paling depan, Rein yang hanya menggunakan pakaian biasa tanpa membawa senjata apa-apa melihat sebuah perahu yang berukuran sedang dari arah berlawanan mendekat.


Saat perahu itu berpapasan dengan kapal besar yang digunakan Rein, ia memberi perintah agar perahu berukuran sedang itu menurunkan jangkar.


Rein bersama dengan beberapa kesatria yang lain mendekat ke arah perahu itu menggunakan sekoci kecil untuk memeriksa muatan dari perahu berukuran sedang itu.


Saat ia tiba dan mulai naik ke atas perahu, ia melihat seorang kesatria wanita yang sigap berdiri tegap dihadapannya.


"Ah.." Rein bergumam kala melihat wanita itu.


"Tuan.. Saya adalah Suica kesatria dari kerajaan Inggram yang di tugaskan oleh tuan Depone untuk mengantar para kesatria lain yang terluka dalam perang memperebutkan pulau Irian, untuk segera menuju ibu kota kerajaan." Ucapnya melengkapi pertemuan pertama mereka.


"Oh, Nona Suica." Rein tersenyum canggung dengan posisi sigap dan tegap yang diperlihatkan oleh Suica.


"Maaf tuan, jika saya boleh tau siapa nama anda? Apakah anda yang memimpin armada ini?" Suica jelas mengetahui tentang 100.000 armada laut yang menuju pulau cebes.

__ADS_1


"A.. Maaf, saya lupa memperkenalkan diri. Panggil saja saya Rein. Hehe." Kata Rein.


Suica terkejut karena pria yang tampak lusuh mengenakan pakaian biasa di depannya adalah Rein Wijaya, kesatria agung kerajaan Nusantara. Tanpa pikir panjang ia lalu berlutut, karena bagaimanapun posisi kesatria agung adalah posisi tertinggi di kalangan para kesatria yang lain.


Sedangkan Rein, melihat hal itu ia malah tidak enak dan merasa sungkan hingga ia akhirnya menyuruh agar Suica bangkit. Bagi Rein, formalitas dan tata krama para kesatria sangat mengganggu dan merepotkan.


Akhirnya, perkenalan singkat itu berlanjut dengan percakapan serius tentang isi dan muatan perahu yang di gunakan oleh Suica.


Bukan tanpa alasan, sebagai seorang kesatria agung Rein merasa ada yang ganjal dengan perahu yang saat ini dinaiki olehnya. Bisa di bilang intuisi yang muncul tiba-tiba ini kadang benar tapi tak jarang juga salah.


Sebagai orang yang memimpin, tentu saja Suica menyambut baik maksud Rein untuk memeriksa semua penumpang perahu, mulai dari barang hingga para kesatria yang terluka. Semua tak luput dari pandangan jeli dari seorang Rein Wijaya.


Sampai akhirnya tiba lah ia dalam suatu ruangan yang terletak pas di bawah kemudi kapal. Sebuah ruangan yang bisa dibilang agak mewah dari ruangan yang lain dan hanya ada satu orang yang berbaring dalam ranjang di ruangan itu.


Orang itu adalah Lingard, kesatria besar sekaligus atasan Suica yang hanya bisa berbaring karena kedua kakinya buntung.


Saat Rein masuk ke ruangan itu, Lingard yang melihat tentu saja mencoba bangkit sebisa mungkin sebagai penghormatan kepada Rein karena Lingard mengenal dan tau posisi dari seorang Rein Wijaya.


"Ah tuan Rein." Kata Lingard.


Rein merespon dengan kembali membiarkan Lingard berbaring karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk hormat sebagai formalitas para kesatria.


"Dengan siapa saya bicara saat ini?" Ucap Rein, ia terlihat serius.


"Ah.. Saya Lingard kesatria besar dari kerajaan Inggram."


Perkenalan singkat itu menjadi awal dari perbincangan panjang seputar hal yang terjadi pada penyerangan di pulau Irian kurang lebih 2 bulan yang lalu.


Tanpa Rein sadari, perjalanan mereka di lautan sudah berlangsung lebih dari dua minggu, jika cuaca masih seperti saat ini kemungkinan mereka akan tiba di pelabuhan kota Upang besok sore dan akan menempuh perjalanan darat menuju kota Kander melalui perjalanan darat.


Sungguh perjalanan yang panjang, tapi beruntung karena pasukan iblis sama sekali tidak bergerak menyerang kota Kander hingga saat ini.


"Jadi begitu rupanya." Rein mengelus janggut sambil mendengar dengan seksama apa yang terjadi kepada Lingard dan pasukan aliansi saat menghadapi Lucifer di pulau Irian.


"Memang benar, kalian tidak bisa berbuat apa-apa. Apa lagi melawan 2 sekaligus iblis bergelar dosa besar seperti Lucifer dan Rever." Rein melanjutkan.


"Aku cukup beruntung masih hidup saat ini. Jika bukan karena tuan Depone, mungkin aku sudah mati." Ucap Lingard melihat kedua kakinya yang buntung.


Dari awal percakapan mereka berdua, Rein dengan seksama terus memperhatikan Lingard pasalnya ia yakin bahwa ada hal aneh dari diri Lingard yang membuat batinnya terganggu hanya saja ia tidak yakin karena sejak tadi Lingard sama sekali tidak berkata bohong dan tidak ada gerak gerik mencurigakan.


"Depone kah? Ya.. Dia memang hebat." Kata Rein mengingat kembali sosok Depone, salah satu kesatria yang pernah ia bimbing.


"Tuan Rein, maaf memotong tapi sebaiknya anda melanjutkan perjalanan. Jika tidak ada halangan maka anda akan tiba lebih cepat di pelabuhan kota Upang." Suica menyarankan.


Benar, karena sudah agak lama Rein menunda perjalanan mereka demi memeriksa perahu yang dihuni oleh para kesatria yang terluka ini. Rein juga sudah melihat kondisi Linda yang masih tidak sadarkan diri di ruangan yang berbeda.


Alasan Rein untuk mengulur waktu adalah perasaan tidak enak yang ia rasakan saat menaiki perahu berukuran sedang ini.

__ADS_1


"Mungkin saja aku salah." Benaknya.


"Baiklah, kalau begitu aku keluar dulu tuan Lingard." Ucap Rein.


Lingard sigap memberikan postur hormat meski ia terbaring di atas ranjang.


Rein berjalan keluar dan naik kembali ke dek kapal. Ia masih tidak yakin, tapi tidak ada hal yang janggal. Benaknya bingung, hingga akhirnya dia meyakinkan diri bahwa hal yang mengganggu dirinya bukanlah apa yang ada di dalam perahu ini, tapi yang mengganggu dirinya adalah pasukan iblis yang sampai saat ini belum juga menyerang pelabuhan kota kander.


"Semoga kau selamat sampai tujuan,.. Ah, tidak usah khawatir, di tengah perjalanan kami sudah mengalahkan semua monster dan iblis yang menguasai beberapa desa. Kau bisa tiba di ibu kota begitu perahu sandar di pelabuhan." Kata Rein.


Tentu saja, pasukan yang berjumlah 100.000 orang dapat dengan mudah mengalahkan pasukan kecil dari monster dan iblis yang terlihat sepanjang mereka melakukan perjalanan dan singgah di beberapa pulau untuk mengangkut keperluan.


"Baik tuan. Terima kasih.." Suica berlutut.


Rein tersenyum lalu turun ke sekoci kecil untuk selanjutnya kembali pada kepal besar yang berada di seberang perahu itu.


"Bentangkan kembali layar." Ucap Suica begitu Rein sudah cukup jauh daru perahunya.


Kembali ke dalam ruangan tempat Lingard berbaring. Terlihat ia sedang tersenyum, senyum penuh arti yang sedikit agak menyeramkan.


"Rintangan pertama terlewati, tunggu saja tuan Lucifer.. Sebentar lagi aku akan sampai di ibu kota." Gumamnya.


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'

__ADS_1


'


-Bersambung-


__ADS_2