The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 143. Pesta Perpisahan


__ADS_3

Di salah satu gedung penelitian sekolah sihir Hogward, tak jauh dari gedung penelitian yang ditempati oleh Aliyah dan Oana.


Terdapat lebih dari satu gedung penelitian di sekolah sihir Hogward. Alasannya sederhana, karena ada banyak peneliti sihir berbakat yang tinggal dan menetap di kota Lockdown. Semua fasilitas lengkap dibangun untuk kepentingan kota Lockdown sendiri, jadi sangat wajar jika otoritas kota membangun fasilitas-fasilitas seperti gedung penelitian sihir.


Di salah satu gedung, seorang pria tua berjalan cepat. Melirik ke kanan dan ke kiri. Dibelakangnya mengikuti dua pria lain yang berpakaian sama dengan pria tua tersebut.


Mereka bertiga melihat ke arah gedung berwarna putih. Tidak bertingkat, terlihat seperti bangunan tua dibandingkan dengan gedung-gedung yang lain.


Tiga langkah sebelum mereka mencapai pintu bangunan tua itu. Tiba-tiba saja pintu terbuka. Ketiga pria yang melihat sosok berjubah hitam keluar dari bangunan tak terkejut. Mereka sepertinya mengetahui siapa pria tersebut. "Saint Jose." Seseorang diantara mereka bertiga menyapa.


"Rekan-rekan.. Dan Professor Asking." Pria itu menyapa, tertunduk sopan.


"Saint Jose, bagaimana? Apakah sudah siap?" Professor Asking menatap dengan wajah serius, berharap agar segala sesuatu yang akan dia lakukan hari ini berjalan sesuai rencana.


"Tentu saja Professor, Kita hanya membutuhkan proton untuk memulai semuanya." Lugas Saint Jose, ia tersenyum puas.


Professor Asking mengangkat tangan kanannya ke depan dan memperlihatkan pada Saint Jose proton yang ia ambil beberapa saat yang lalu di ruang penyimpanan tak jauh dari tempat mereka saat ini.


"Jadi, bagaimana Professor? Apakah Anda berhasil meyakinkan Aliyah?"


"Sayang sekali, kau tahu sendiri bagaimana keras kepalanya wanita itu." Professor Asking menjawab datar, lalu melanjutkan langkah bersama Saint Jose yang bertanya padanya. "Ahh.. Sayang sekali. Padahal dia adalah wanita berbakat." Ucapnya sekali lagi. Mereka berempat masuk ke dalam bangunan.


Tak jauh dari bangunan tua itu.


Dalam bangunan lain, masih bertempat di komplek penelitian sekolah Hogward.


Aliyah terbaring dan tak sadarkan diri setelah ia tiba-tiba saja pingsan. Saat ini ia terbaring di atas sofa empuk yang berada diruang penyimpan alat sihir. Tempat di mana seharusnya Aliyah membantu Oana.


Oana termenung, ia tak tahu di mana alat sihir yang ia cari berada. Sudah lewat beberapa jam sejak ia mencari alat sihir yang dapat menemukan orang itu. Orang yang ia cari atas wasiat penyihir agung yang tak lain adalah gurunya, siapa lagi jika bukan kesatria Ignis.


Oana terjebak dalam pikiran dan perasaan buruk yang terus ia rasakan sejak pertama kali ia masuk ke dalam kota ini. Ia merasa tak asing. Ia juga merasakan bahaya yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.


Oana duduk pada satu kursi yang di depannya terdapat meja. Ia duduk dan merebahkan kepala beralaskan kedua tangan yang ia lipat di atas meja. Ia memejamkan mata sejak tadi. Meski matanya terpejam, tapi pikirannya masih aktif. Memikirkan hal-hal yang menganggu sejak awal ia tiba di kota ini.


Suara gerakan membangunkan Oana, ia melirik ke arah Aliyah yang saat ini beranjak dari sofa. Melihat Aliyah yang telah sadar seperti itu, Oana bergegas mendekat dan memegangi lengan Aliyah yang masih sempoyongan. "Nyonya Aliyah, bagaimana keadaan anda? Apakah anda baik-baik saja?"


Aliyah melirik Oana dan membalas. "Oana, apa yang terjadi? Apakah aku pingsan?" Aliyah bingung dengan dirinya sendiri, pasalnya bukan pertama kali ia mengalami hal ini.


Bukan tanpa alasan Aliyah bingung dengan dirinya sendiri. Pasalnya ia tidak mengidap penyakit apa-apa selama ini. Bahkan sejak ia pingsan untuk permata kali, ia sudah memeriksakan kondisinya ke penyihir medis dan hasilnya dia tidak sedang sakit.


Yang membuat Aliyah tambah bingung adalah mimpi yang selalu datang kala ia jatuh pingsan. Mimpi itu adalah mimpi yang sangat buruk, ia lihat tanah kelahirannya porak-poranda dan hancur. Ia juga melihat sahabat sejawatnya meninggal. Mimpi yang tidak masuk akal itu tak pernah ia anggap serius. Baginya itu hanya mimpi sebagai tanda jika ia merindukan rumah, sahabat dan tanah kelahirannya.


"Terjadi lagi.." Ucap Aliyah memegang kepalanya. Ia terlihat kepayahan. "Loh.." Aliyah melihat jendela, ia cukup terkejut melihat langit biru "Sudah pagi!" Ucapnya lantang saking terkejutnya.


"Oana berapa lama aku pingsan?" Aliyah melihat Oana panik.


"Eh, beberapa jam. Aku tidak yakin Nyonya, sepertinya cukup lama karena hari sudah sore saat ini."


"Apa? Sore?" Aliyah bergegas, ia bangkit setelah mengumpulkan tenaga beberapa saat. Ia berjalan cepat ke luar ruangan. "Oana maaf, ada yang harus aku lakukan sekarang. Aku akan membantumu setelah ini." Ucapnya lalu menutup pintu ruangan.


Ia berjalan menyusuri lorong gedung. Menuju tangga yang tembus ke lantai dasar. Ia cemas setelah beberapa saat yang lalu mengingat kejadian yang terjadi semalam. Di saat ia beradu pendapat dengan Professor Asking tentang penggunaan proton.


"Gawat.. Perasaan ku tidak enak soal ini." Ucapnya harap cemas.


Tidak ada waktu untuk Aliyah memikirkan mimpi yang terus datang padanya saat ia pingsan. Ia terlalu sibuk memikirkan tentang temuan - temuannya bersama dengan peneliti sihir yang lain. Seperti saat ini misalnya, ia benar-benar khawatir tentang rencana Professor Asking dan Saint Jose menggunakan proton untuk membuat alat sihir yang dapat membuka portal dimensi.


Lalu, di lain tempat. Berada di luar kota Lockdown. Tak tampak lagi wajah lesu dan kesedihan. Tak cukup sehari, keceriaan para pencari suaka kembali. Setelah mereka semua melewati malam mencekam karena serangan klan iblis.


Musik berdawai, tarian dan nyanyian-nyanyian yang di lantunkan oleh para pencari suaka di sekitar kota memecah kebuntuan. Mereka tampak bersenang-senang seolah tak pernah melewati malam pembantaian. Mereka melupakan kisah pilu, melupakan kehilangan orang yang mereka cintai dan bersenang-senang tanpa beban. Mereka semua bersuka cita.


Makanan pesta tersaji sangat banyak. Sangat cukup untuk mereka semua yang selamat dari malam penyerangan yang belum lama ini terjadi.


Ada dua hal yang mendasari pesta ini terjadi. Pertama karena mereka semua mendapatkan bantuan pangan dan kebutuhan lain langsung dari kanselir sihir. Kedua karena hari ini, salah seorang nope diantara mereka telah terpilih sebagai orang beruntung yang akan masuk ke dalam kota Lockdown. Orang itu akan dijadikan penyihir dan akan dibimbing langsung oleh kanselir sihir. Orang itu adalah Nora.


Para pencari suaka seperti mereka sangat memiliki kepedulian yang tinggi terdapat sesama mereka. Kepedulian yang tinggi itu tumbuh atas dasar persamaan nasib yang mereka hadapi.Sebagai korban perang yang terusir dari negeri mereka masing-masing. Lalu menetap dan mencari perlindungan di lembah kota Lockdown.


Bahkan jika hanya ada satu orang diantara ratusan orang yang mencari suaka pada kota Lockdown yang dapat masuk ke dalam kota. Mereka semua akan turut senang dan bergembira, setidaknya orang yang masuk ke dalam kota itu bisa membantu mereka kelak.. Membantu generasi muda dengan harapan jika orang yang masuk ke dalam kota bisa meyakinkan kanselir sihir untuk memberikan perlindungan bagi mereka semua di dalam kota dan membiarkan para keturunan mereka masuk ke dalam kota.


Sudah ada beberapa orang yang berhasil masuk ke dalam kota sebelum Nora. Mereka semua adalah orang-orang terpilih yang memenuhi syarat untuk menjadi murid langsung kanselir sihir.

__ADS_1


Tidak ada yang tahu ciri-ciri atau syarat untuk bisa masuk sebagai nope ke dalam kota Lockdown. Semuanya dipilih berdasarkan keputusan kanselir sihir. Satu-satunya hal yang pasti adalah semua yang terpilih merupakan wanita muda.


Selebihnya sama. Tak memandang ras, tak memandang bentuk tubuh, tak memandang bentuk wajah dan tak memandang keturunan. Wanita muda itu terpilih secara acak. Setidaknya itulah yang para pencari suaka itu tahu tentang hal ini.


Alasan lain kenapa mereka bisa berpesta semeriah ini saat ada salah seorang diantara mereka yang terpilih untuk masuk ke dalam kota adalah perintah langsung kanselir sihir.


Mereka diperintahkan untuk bersenang-senang. Mereka dihidangkan makanan-makanan enak yang belum pernah mereka makan, mereka diberikan minuman keras paling enak. Sangat banyak untuk memenuhi hasrat mereka. Semata-mata untuk mengadakan pesta. Pesta untuk melepas salah seorang diantara mereka. Pesta atas terpilihnya salah seorang diantara mereka, terpilih untuk berada di sisi kanselir sihir.


Meriah, suara dawai bercampur nyanyian terdengar riuh. Tak merdu, yang penting bisa membuat gaduh. Mereka semua menyantap makanan dengan lahap. Tertawa sambil menangis. Tertawa akan apa yang mereka rasakan saat ini dan menangis atas kehilangan yang meraka rasakan.


Mereka membaur satu sama lain, tak ada perbedaan. Meski populasi mereka berkurang setengahnya karena pembantaian malam sebelumnya. Tapi, kemeriahan tetap terasa.


Diantara mereka semua, sang tokoh utama penyebab pesta ini berlangsung berjalan sambil menjajakan makanan yang ia bawa dengan mampan pada kedua tangannya. Tak lain adalah Nora.


Meski bersedih akibat kehilangan kakaknya, tetap saja ia tak bisa membendung bahagia hari ini. Saat semua orang berpesta untuk dirinya yang sebenar lagi bisa masuk ke dalam kota Lockdown.


"Tuan Miu.. Ayo silahkan ambil roti dagingnya."


"Ini untuk anda Giro."


Betapa senangnya Nora membagikan makanan dan minuman. Ia tersenyum kepada siapa saja yang ia temui dan menyapa siapa saja yang ia lihat di pesta hari ini.


"Heii semuanya. Lihat. Itu dia tokoh utamanya." Seseorang berteriak sambil menunjuk ke arah Nora.


Nora tersenyum bahagia.


"Bersulang untuk Nora.." Ucap pria lain dengan suara lantang.


"Yayyy.." Semua orang mengangkat gelas dan melihat ke arah Nora. Mereka semua terlihat bahagia.


Tak jauh dari kemeriahan itu, Richard mengamati sambil memegang gelas berisi anggur merah. "Aneh bukan?" Richard berbalik ke arah suara yang ia dengar.


"Kakek Dwarf." Ucapnya pelan.


"Kau mungkin aneh melihat pemandangan ini. Tapi seperti inilah yang terjadi jika kanselir sihir mengumumkan seorang diantar kami dapat masuk ke dalam kota Lockdown." Richard tak merespon ucapan kakek Dwarf. Ia kembali berbalik melihat ke arah kerumunan orang menari sambil mabuk-mabukan.


"Kau tahu Red.. Nora bukan satu-satunya orang yang dipanggil untuk masuk ke dalam kota oleg kanselir sihir. Sudah ada beberapa orang sebelumnya yang masuk ke dalam kota. Meski tak pernah terdengar lagi kabar mereka, tapi kami sangat berharap jika mereka semua yang masuk ke dalam kota dan menjadi murid kanselir sihir bisa membujuk kanselir sihir untuk membiarkan kami semua masuk. Sebuah harapan bias yang masih kami impikan sampai saat ini. " Kakek Dwarf tak berhenti bicara.


"Harapan yang kuat selalu jadi obat untuk bangkit." Ucap Richard yang tahu betul situasinya.


Kakek Dwarf menoleh. "Ya.. Begitulah. Bagi kami semua. Nora dan para nope terpilih adalah harapan. Harapan untuk anak cucu kami." Sambungnya.


Meski terlihat meriah, tak satupun kesatria sihir ikut larut dalam pesta itu. Mereka semua hanya mengamati dari jauh. Tugas mereka hanya menjaga dan menyediakan makanan bagi para nope. Mereka tidak berbaur, tapi mereka menolong para nope.


Jika bukan karena mereka, para nope tidak akan berpesta secepat ini. Dengan sihir, mereka membangun kembali tenda-tenda dan bangunan semi permanen hanya dalam waktu yang singkat. Mengobati yang terluka dengan sihir dan mengubur semua mayat-mayat bekas pembantaian yang terjadi semalaman. Dengan sihir, mereka benar-benar menyulap area pertempuran dan pembantaian yang porak-poranda menjadi tempat yang terlihat sebelum penyerangan itu terjadi.


Tak jauh dari tempat pesta, di dalam sebuah tenda mewah. Master Cliverd bersama para bawahannya sedang duduk, mereka menikmati anggur merah kelas atas yang rasa dan kualitasnya lebih tinggi dibanding dengan apa yang mereka berikan kepada para nope untuk berpesta.


"Hwahaha.. Para nope itu terlihat bodoh." Seseorang tertawa sembari meneguk anggur merahnya.


"Mereka bisa sebahagia itu hanya karena makanan sisa yang kita berikan pada mereka. Hanya dengan sihir sederhana, makanan yang hampir busuk itu bisa kita buat terlihat enak di depan mereka semua. Walaupun itu hanya ilusi semata."


"Dasarrr nope.. Hwahahaha."


Para kesatria sihir terdengar mengolok-olok para nope yang saat ini berpesta. Mereka semua begitu merendahkan para nope.


"Mau bagaimana lagi. Aku sebenarnya sangat muak melihat mereka semua tertawa seperti itu. Tapi, ini adalah perintah kanselir sihir." Master Cliverd bergumam, ia menggerak-gerakkan gelas kaca lalu menghirup aroma anggur merahnya.


Kembali ke arah pesta berlangsung, ya pesta.


Pesta yang seharusnya berakhir bahagia ini, sebentar lagi akan berakhir mengerikan. Setidaknya hal itu tidak disadari oleh mereka semua.


Nora yang sejak tadi berkeliling menjajakan makanan di kerumunan terlihat mendekat ke arah Richard dan kakek Dwarf. "Kakek, tuan Red. Silahkan makanannya." Ucapnya tersenyum ceria.


"Maaf aku tidak lapar." Tegas Richard yang mencium bau aneh.


"Tuan Richard, aku tak tahu apa kau juga mencium bau menyengat ini. Tapi sepertinya makanan yang di bawah oleh Nora benar-benar busuk." Woli mendekat lalu berbisik pada Richard.


Richard melirik Woli. "Manusia serigala ini, dia masih saja tak mau pergi dariku." Gumamnya dalam hati. "Tapi yang dia katakan benar juga. Bahkan anggur yang aku pegang ini juga sedikit asin di lidah ku." Richard mengerutkan dahi, tampak tak yakin.

__ADS_1


"Tuan Richard.." Teguran Nora membuat Richard berhenti memikirkan hal janggal yang diutarakan Woli padanya.


Berkali-kali sudah Richard menyuruh Woli menjauh tapi tetap saja dia kekeh ingin mengikuti Richard kemana pun Richard pergi.


Sebagai shed manusia serigala yang terkenal dengan penciuman tajamnya. Woli yang sangat Rakus terhadap makanan enak terlihat tak berselera dengan makanan-makanan yang ada dan melimpah di depannya. Ia mencium bau busuk yang tidak enak, hal itu malah membuat dia menjauh dari kerumunan pesta.


Jika kawasan lembah kota Lockdown sedang gaduh alan pesta sore hari. Maka berbeda dengan situasi tegang yang ada di dalam kastil kanselir sihir.


Tepat di ruang tengah kastil sederhana kanselir sihir. Para kesatria suci yang sedari tadi menunggu jawaban dengan seksama mendengarkan kisah masa lalu penyihir dan tentu saja menunggu penjelasan tentang apa yang akan kanselir lakukan dengan anne.


Walaupun kanselir sihir sudah menjelaskan panjang lebar kepada mereka tentang kondisi anne, sepertinya mereka belum puas. Khususnya, Smits yang masih tidak yakin dengan intuisinya.


"Aku sudah mengatakan semuanya pada kalian. Tidak ada lagi yang ingin kau katakan sekarang." Tegas Kanselir sihir.


"Ini bukan sesuatu yang aku harapkan.. Walaupun aku malas untuk melakukan ini. Jadi aku mohon sudahi basa-basinya." Tegas Smits tak gentar menatap kanselir sihir.


Kesatria suci yang lain melihat ketegangan diantar mereka berdua semakin menjadi- jadi. "Smits.. Bukan kah sudah cukup!" Ucap Ivy khawatir akan terjadi pertikaian.


Kanselir sihir menatap tajam. Tak lama kemudian ia tertawa terbahak-bahak. "Whahahahahah, sudah lama aku tidak melihat tatapan seperti itu anak muda." Ucapnya sambil memegang perut. "Kau lucu sekali." Katanya sekali lagi.


"Aku sedang tidak melawak disini. Jadi diam jangan melihatku seperti itu nenek tua." Ucapan serius dengan mata tajam itu membungkam kanselir sihir.


"Smits!" Ivy bersiap jika saja situasi tenggang ini akan mengarah pada sebuah pertarungan.


Pun dengan para pengikut kanselir sihir yang juga berada di ruangan itu. Hening sesaat sampai pada saat suara langkah mengalihkan perhatian mereka.


"Anne.." Rebecca melihat wanita yang berjalan mendekat, bersama dengan Gerald.


"Hai semuanya. Maaf membuat kalian khawatir." Ucapnya tertunduk malu.


Sapaan halus itu mengubah situasi tegang, mencairkan suasana yang hampir meledak.


Rebecca dan Ivy mendekat ke arah Anne, mereka memeluk Anne dan memeriksa kondisi Anne. Memastikan jika Anne baik- baik saja dan tidak terluka.


"Aku baik-baik saja." Ucap Anne.


"Ibu sudah merawat ku dengan baik. Maaf menyusahkan kalian, karena kutukan ku itu. Aku malah menyeret kalian kesini." Kata Anne yang meyakinkan Smits.


Kanselir dengan wajah datar berjalan ke luar ruang tengah. "Aku sudah mengatakan apa yang ingin kalian dengarkan. Jika tidak percaya, silahkan tanya sendiri pada Anne." Ucapnya melangkah, lalu melanjutkan. "Aku ada urusan penting, jika urusan kalian dengan Anne selesai. Silahkan tinggalkan kota ini." Kanselir sihir berlalu meninggalkan Anne dan para kesatria suci.


Smits tertegun. Ia tak yakin, tapi ia tak bisa mengelak jika orang yang ada di depannya saat ini benar-benar Anne. Meskipun ia masih tidak yakin dengan kenyataannya, tapi Anne yang saat ini menyapa mereka memang benar-benar Anne. Setidaknya itu yang dia rasakan.


Kanselir Sihir bersama beberapa bawahan dan pengawal pribadinya berjalan meninggalkan ruangan tengah. "Kanselir, sebentar lagi subjek inti sihir akan diamankan." Ucap salah seorang bawahannya.


"Segera bawa subjek ke ruang pertahanan sihir. Kita akan membutuhkannya untuk mengisi ulang tenaga kota yang sebenar lagi akan habis."


"Siap laksanakan kanselir."


"Bagaimana dengannya? Apa sudah bisa menembus pertahanan miliknya?" Kanselir bertanya pada bawahannya yang lain.


"Sepertinya kita akan bisa memasuki alam bawah sadarnya malam ini Kanselir." Balas bawahnya.


"Anne Drigory.. Sialan. Jika bukan karena sihir Emma. Aku akan menjadi abadi. Mungkin juga aku akan mengalahkan raja iblis dengan imperium besar saat itu." Ucapnya mengingat masa lalunya.


_


_


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2